
"Nah Mara, karena kamu adalah pengganti cleaning service yang sebelumnya, maka tugas kamu adalah membersihkan ruangan para petinggi di PT ini. Ingat ya, hanya ruangan para petinggi di kantor ini. Jadi hanya kebersihan ruangan itu yang menjadi tanggung jawabmu selain ruangan itu, bukanlah tanggung jawabmu."
Ibu Nelli yang merupakan salah satu senior bagian cleaning service kantor ini, menjelaskan dengan rinci tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh Mara. Karena sudah senior, tugas bu Nelli hanya mengawasi dan memastikan anak buahnya sudah bekerja dengan baik sesuai dengan SOP.
Mara yang mendengar penuturan panjang lebar dari ibu Nelli itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik Bu. Saya akan bekerja dengan baik."
"Bagus. Melihat semangatmu yang seperti ini, aku yakin tidak memerlukan waktu yang lama kamu bisa beradaptasi di tempat ini."
"Semoga saya benar-benar bisa bekerja dengan baik, Bu."
"Ah iya, hampir saja aku lupa Ra. Ketika kamu membersihkan ruangan bos, aku harap kamu tidak sedikitpun menyentuh barang-barang yang ada di atas meja bos-bos kita. Meskipun terlihat berantakan, biarkan saja. Karena jika kamu menyentuhnya justru bisa menjadi bumerang untukmu. Kamu hanya memastikan bahwa ruangan bos kamu itu bersih, dan terhindar dari debu."
"Baik Bu."
"Ya sudah, sekarang mulailah bekerja."
Setelah mendapatkan briefing dari bu Nelli dan mendapatkan seragam khusus, Mara mulai melangkahkan kaki menuju ruangan bos besar yang berada di lantai paling atas. Dengan membawa sebuah carry caddy yang berisi lengkap alat-alat kebersihan, gadis itu terlihat begitu bersemangat untuk mengawali pekerjaan pertamanya ini. Tidak lupa, senyum yang merekah dan suasana hati yang gembira, seakan menjadi salah satu suplai semangat bagi gadis itu menjalani hari-harinya di kota perantauan ini. Dengan sebuah harapan, kehidupannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
***
"Bagaimana Wa, apa kamu setuju menggunakan Melly sebagai model untuk iklan produk terbaru kita?"
Sembari mengarahkan laju mobil yang ia kendarai ke pelataran kantor, Krisna mencoba untuk meminta pendapat sang bos tentang model yang akan mereka pakai untuk menjadi brand ambassador produk lingerie terbaru yang diproduksi oleh perusahaan Dewa. Krisna khawatir jika dirinya tidak melibatkan sang bos dalam memutuskan hal ini, akan berdampak buruk di kemudian hari jika seandainya pekerjaan Melly tidak begitu baik.
"Terserah kamu saja Kris. Aku serahkan perihal model produk terbaru kita langsung kepadamu."
"Baiklah, aku akan menggunakan Melly untuk menjadi brand ambassador produk lingerie terbaru kita. Hmmmmm apakah kamu mau ikut melihat sesi pemotretannya?"
Sebagai salah satu sahabat dan asisten yang baik, Krisna mencoba menawarkan sesuatu yang ia anggap begitu mengasyikkan untuk sang bos yang tengah dirundung duka ini. Ia merasa Dewa akan sangat senang jika diajak melihat sesi pemotretan model cantik yang hanya berbalut lingerie yang pastinya akan sangat memanjakan mata.
Bagaimana tidak memanjakan mata jika dengan bebas mata mereka bisa dengan bebas melihat lekuk-lekuk tubuh sang model yang pastinya akan terlihat sangat menggairahkan.
Dewa hanya menanggapi malas celotehan asisten pribadinya ini. "Tidak. Aku tidak akan ikut melihat sesi pemotretan itu."
Dahi Krisna sedikit mengerut. "Hei, tapi kenapa Wa? Kenapa kamu tidak mau ikut melihat sesi pemotretan itu? Padahal sejak dulu kamu begitu senang bukan jika aku mengajakmu untuk melihat secara langsung sesi pemotretan model-model produk kita?"
"Itu dulu. Untuk sekarang aku benar-benar tidak tertarik akan hal itu."
__ADS_1
Krisna tiba-tiba bergidik ngeri. Bulu kuduknya seakan berdiri mendengar Dewa mengucapkan hal itu. "Tunggu, tunggu, tunggu. Jangan katakan kalau saat ini kamu benar-benar menjadi penyuka sesama jenis Wa. Sama seperti yang pernah dikatakan oleh Mara."
Deg!
Mara... Nama gadis yang akhir-akhir ini membuat duda itu dilanda oleh duka dan nestapa yang begitu mendalam. Membuat tidurnya tidak nyenyak, makannya terasa tidak enak dan pikirannya begitu kacau.
"Mara... Ada di mana sekarang gadis itu? Jika benar dia hidup bersama Pramono, seharusnya saat ini dia ada di kota ini."
Pandangan Dewa menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang. Dalam keadaan seperti ini pun, hanya nama gadis itulah yang ia ingat. Ia benar-benar merasa separuh jiwanya telah menghilang.
Pletak...
Kali ini Krisna memberanikan diri untuk menjitak kepala sang bos. Rupa-rupanya asisten pribadi Dewa itu teramat gemas dengan apa tingkah laku bos nya yang sedikit labil ini.
"Hei Wa. Bukankah sebelum kembali ke Bogor, berkali-kali aku sudah meminta kamu untuk mencari keberadaan Mara terlebih dahulu? Tapi mengapa sekarang kamu terkesan menyesali keputusanmu sendiri dengan tidak membawa Mara sampai kota ini?"
Dewa hanya mengendikkan bahu. "Entahlah. Aku... Aku juga tidak paham dengan apa yang aku rasakan... Aku..."
"Kamu terlalu dibutakan oleh sebuah cerita yang belum pasti kebenarannya Wa. Aku heran, kamu seorang laki-laki terpelajar, kamu seorang bos besar penerus generasi PT WUW yang begitu terkenal ini. Tapi mengapa pikiranmu sangat sempit? Kamu percaya saja dengan informasi seseorang yang kamu sendiri pun tidak mengenalnya."
Dewa membuang nafas kasar. Semakin ia mencerna ucapan Krisna, rasa sesal itu semakin merongrong sudut hati terdalamnya.
"Hmmmmm entahlah. Aku benar-benar pusing memikirkan hal ini. Jauh lebih menguras pikiranku daripada mengatur strategi-strategi dalam meningkatkan penjualan produk kita."
Dewa hanya mengendikkan bahu. "Mungkin yang patut disalahkan adalah penjual nasi goreng."
Krisna terperangah. Ada hubungan apa antara penjual nasi goreng dengan kasus kesalahpahaman yang terjadi antara bos nya ini dengan Mara?
"Maksud kamu apa Wa? Mengapa kamu melibatkan penjual nasi goreng dalam hal ini?"
"Ya... Salahkan saja penjual nasi goreng. Dia sibuk bekerja untuk mencari sesuap nasi, tapi mengapa nasi yang sudah ia dapatkan malah ia jual? Bukankah itu sebuah kesalahan?"
Pletak!!!
Lagi-lagi Krisna menjitak kepala bosnya ini. "Somplak kamu Wa. Aku sudah begitu serius mendengarkan celotehanmu, kamu malah membuat sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu. Menyesal aku!"
Dewa hanya bersikap acuh. Ia membuka pintu mobil dan perlahan mulai melangkahkan kaki untuk menuju ruangannya.
"Selamat siang pak Bos!"
__ADS_1
"Selamat siang pak Bos!"
Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Dewa, mereka terlihat begitu ramah menyapa sang bos. Sembari menyunggingkan senyum manis di bibir mereka. Barangkali dengan berperilaku ramah di hadapan sang bos, gaji mereka bisa naik sepuluh persen.
"Siang!"
Masih dengan gesture sang pemimpin yang berwibawa, Dewa hanya menanggapi singkat sapaan karyawan-karyawannya ini.
"Sssstttt apakah kamu tahu, cleaning service yang baru saja masuk hari ini? Perempuan itu cantik sekali?"
"Iya... Aku baru sekali berpapasan dengan orang itu. Wuiihhh... Dia memang benar-benar cantik. Masih muda, supel dan body nya.... Waaoowww...."
Langkah kaki Dewa sejenak terhenti tatkala mendengar bisik-bisik dua lelaki cleaning service yang sedang membersihkan lantai loby. Dahi Dewa sedikit mengerut mendengar ucapan dua orang cleaning service itu saat memuji salah satu petugas cleaning service yang baru di kantor ini.
"Memang secantik apa cleaning service baru itu? Yang membuat mereka begitu heboh seperti itu?"
Dewa bermonolog dalam hati sembari melangkahkan kaki menuju lift untuk mengantarkannya ke ruangannya. Tak selang lama, lelaki itu sampai di depan ruang kerjanya.
Ceklek. .
Dewa membuka pintu ruangan Pandangan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang tengah membersihkan kaca ruangannya dengan posisi memunggunginya. Lelaki itu bergumam dalam hati, mengapa di jam-jam seperti ini petugas cleaning service itu membersihkan ruangannya? Padahal biasanya pagi hari petugas cleaning service itu melakukan pekerjaannya.
"Hei apa yang kamu lakukan? Bukankah saat ini bukan merupakan jam kerjamu? Tapi mengapa kamu memasuki ruanganku? Jangan-jangan kamu salah satu penyusup?"
Deg!!
Mara yang tengah sibuk membersihkan kaca ruangan Dewa sedikit terkejut tatkala suara bariton tiba-tiba terdengar di indera pendengarannya. Bukan terkejut karena lelaki itu menganggapnya sebagai seorang penyusup namun lebih dari itu.
Suara yang terdengar tidak asing di dalam telinganya yang beberapa hari terakhir ini justru terdengar sangat familiar. Perlahan, Mara memberanikan diri untuk membalikkan badannya.
Mara mendongakkan kepalanya. Kini pandangan matanya bersirobok dengan lelaki tampan yang masih berdiri di dekat pintu.
"T-Tuan Dewa...."
Dewa terperangah. Bibirnya menganga lebar dengan degup jantung yang kembali berdegup tiada beraturan.
"M-Mara......????"
.
__ADS_1
.
. bersambung...