
"Apa maksud kalian? Mengapa Mara bisa sampai hilang?"
Rahang lelaki berusia lanjut itu mengeras. Tangannya mengepal kuat, seakan menegaskan jika saat ini ia dikuasai oleh api amarah yang berkobar.
"Kami tidak tahu Kangmas. Pada saat itu kami sedang berada di kamar mandi, namun saat kami kembali Mara sudah tidak ada, Kangmas!" ucap Yati berupaya untuk membela diri.
Karta memijit kepalanya yang terasa pening. "Apa kalian ini merasakan ingin buang air kecil ataupun buang hajat secara bersamaan? Sampai-sampai kalian bersamaan pula berada di dalam kamar mandi?"
Karta tidak habis pikir jika para istrinya ini merasakan hasrat ingin buang air kecil ataupun buang air besar secara bersamaan. Yang membuat lalai akan kewajiban mereka untuk menjaga dan mengawasi calon istri keempatnya.
Yati, Harti dan Nining saling melempar pandangan. Seakan dipenuhi oleh kekalutan jawaban apa yang harus mereka berikan kepada Karta.
"Kangmas, bukankah sudah sejak dulu kami ini selalu bersama-sama? Jadi merupakan hal yang wajar bukan jika kami merasakan hasrat untuk buang air bersama-sama pula?"
Meskipun ucapannya ini terdengar tidak masuk akal, Harti mencoba untuk memberikan dukungan untuk wanita yang sama-sama menjadi istri suaminya ini. Sedangkan Karta semakin dibuat pusing dengan jawaban dua istrinya ini.
"Apakah ada yang sedang kalian sembunyikan dariku?" Karta tiba-tiba bertanya dengan nada mengintimidasi.
Wajah Harti dan Yati mendadak pias. Mereka merasa jika saat ini posisi mereka dalam keadaan bahaya. Kedua wanita itu bergidik ngeri membayangkan jika sampai sang suami mengetahui apa yang telah mereka rencanakan diam-diam itu. Berbeda dengan Yati dan Harti, Nining yang merupakan istri pertama Karta justru memasang wajah santai. Ia sama sekali tidak takut ataupun khawatir jika sampai suaminya ini mengetahui apa yang telah ia rencanakan.
Karta menelisik satu persatu wajah istrinya ini. Dari ketiga wajah istrinya ini, wajah Nining lah yang nampak begitu tenang, berbeda dengan Yati maupun Harti.
"Ning, apa kamu mencoba menjadi penghianat untuk suamimu sendiri? Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Pramono terhadapku? Yang sudah sejak dulu menjadi orang kepercayaanku?"
Nining hanya tersenyum simpul. Wanita itu sama sekali tidak takut ataupun khawatir tentang apa yang akan menimpanya. "Iya Kangmas, aku lah yang sudah merencanakan ini semua. Aku lah yang sudah merencanakan untuk bisa membawa gadis itu keluar dari rumah ini."
Karta menatap tak percaya wajah istrinya ini. Bahkan kedua bola matanya terbelalak, nyaris keluar dari tempatnya berada. "Apa-apaan kamu Ning? Mengapa kamu melakukan itu semua? Kamu paham bukan, jika sejak dulu aku begitu menginginkan Mara untuk menjadi istriku? Dan sekarang, tinggal satu langkah lagi, aku berhasil menikahi Mara, kamu seenaknya menggagalkan ini semua? Apa yang ada di dalam otakmu Ning, apa?"
Nafas Karta terdengar memburu dan terengah-engah. Kobaran emosi dalam dadanya nampak begitu jelas membakar seluruh ruang dalam hati lelaki tua itu. Menimbulkan gejolak amarah yang mungkin akan sulit untuk dipadamkan.
"Apa kamu khawatir jika aku menikahi Mara, aku akan memberikan harta kekayaanku lebih banyak untuk gadis itu? Sehingga mendorongmu untuk merencanakan ide gila ini, hah?" Karta masih menatap wajah Nining dengan sorot mata tajam, layaknya burung elang yang tidak sedikit pun membiarkan mangsanya untuk bergerak. "Jawab pertanyaanku Ning! Jawab!"
Nining menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Meskipun nyalinya sedikit menciut, namun wanita itu yakin, setelah ini sang suami akan berhenti untuk mengejar-ngejar Mara.
"Bukan tentang harta warisan Kangmas. Ini lebih dari sekedar harta. Ini menyangkut masa depan serta kebebasan gadis itu."
__ADS_1
Karta tersenyum sinis mendengar ucapan Nining. "Kamu berbicara tentang masa depan. Bukankah kamu tahu jika di sini, masa depan gadis itu bisa terjamin, hah?"
"Tapi bukanlah masa depan seperti itu yang dia mau Mas. Jiwa gadis itu masih bebas dan pastinya ia tidak ingin terpenjara di tempat ini, dengan menjadi istri Kangmas."
"Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu melakukan ini semua kepadaku Ning." Karta mulai mengayunkan langkah kakinya untuk menjauh dari tubuh Nining. "Aku tidak perduli. Akan aku kerahkan semua anak buahku untuk mencari gadis itu. Dan jangan coba-coba kamu untuk menghalangiku!"
"Tunggu Mas!" teriak Nining, saat kaki Karta hampir sampai di teras depan.
Karta menghentikan langkah kakinya. Tanpa membalikkan badannya, lelaki itu mencoba untuk menanggapi panggilan Nining. "Apa lagi yang kamu mau setelah kamu hancurkan rencanaku, hah?"
"Mas, apakah kamu tidak ingat jika anak-anak dari ketiga istrimu ini perempuan semua? Coba bayangkan jika salah satu ataupun salah berapa dari anak-anak perempuanmu itu mengalami nasib yang sama dengan nasib Mara. Apakah kamu sebagai seorang ayah akan membiarkannya begitu saja?"
Karta tak bergeming sedikitpun. Ia masih berdiri mendengarkan ucapan istrinya ini.
"Jangan hanya karena gadis itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi yang bisa membelanya, sampai membuat kamu tega melakukan itu semua, Mas. Kasihan gadis itu. Seorang gadis yang tidak tahu apa-apa yang telah menjadi korban ambisi dan keserakahan dari ibu dan saudara tirinya."
Nining tidak sanggup lagi menahan bulir kristal bening yang telah berkumpul di pelupuk matanya. Tak perlu menunggu lama, bulir-bulir itu jatuh satu persatu.
Ucapan Nining, sukses menampar hati Karta. Kobaran api amarah yang sempat menguasai hati Karta, perlahan mulai mereda. Lelaki itu masih saja terdiam, terpaku.
***
"Akhirnya Mara menghubungi saya Pak! Dia sudah berada di dalam perjalanan menuju kota ini. Dan sebentar lagi, kita bisa bertemu dengannya."
Wajah Pramono nampak berbinar, tatkala menerima sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Sebelumnya, ia meragu, nomor siapakah itu. Dan ketika ia berbicara melalui sambungan telepon seluler itu, ia paham jika Mara lah yang menelponnya.
"B-Benarkah?"
Hati Baskara mengharu biru mendengar sebuah kabar jika sang putri sedang berada di dalam perjalanan menuju ke kota ini. Itu berarti, sebentar lagi ia akan bisa kembali berkumpul dengan sang putri.
Pramono menganggukkan kepalanya. "Betul Pak. Paling lambat besok sore, Mara pasti sudah sampai di kota ini."
"Mas Pram!"
Suara seorang wanita yang berada di ambang pintu, mengalihkan perhatiannya. Ia membalikkan badan dan terlihat seorang wanita cantik berjalan menghampirinya.
"Arimbi? Kamu datang untuk membawakan kami makanan lagi?"
__ADS_1
Wanita yang bernama Arimbi itu hanya mengangguk pelan sembari tersenyum manis. "Tidak masalah Mas. Aku benar-benar ikhlas melakukan ini semua untukmu."
Pramono berdecak lirih. "Besok-besok kamu jangan melakukan hal-hal semacam ini lagi. Pergunakan gajimu dengan bijak. Jangan sampai kamu merasa kekurangan di perantauan seperti ini."
"Mas Pram tenang saja. Gajiku di bagian cutting PT WUW lumayan besar, jadi aku masih bisa menyisihkan uang untuk aku jadikan sebagai simpanan."
"Terimakasih banyak Rim. Setelah Mara tiba di kota ini, aku akan segera mencari pekerjaan. Dan pastinya mencari kontrakan baru. Tidak mungkin kan, jika aku tinggal satu kontrakan dengan Mara?"
Bibir Arimbi sedikit mencebik. "Jangan coba-coba kamu melakukan hal itu Mas. Kamu ini calon suamiku."
Pramono hanya terkekeh geli. Ia acak rambut perempuan yang ada di hadapannya ini. "Iya, calon istriku. Mana mungkin aku tinggal satu kontrakan dengan Mara."
Arimbi Sulistyowati, gadis berumur 24 tahun yang tak lain adalah kekasih Pramono. Arimbi berasal dari satu daerah yang sama dengan Pramono. Mereka saling jatuh hati satu sama lain tatkala keduanya tanpa sengaja dipertemukan dalam sebuah acara pergelaran musik keroncong di desa mereka. Dan sejak saat itu mereka memiliki sebuah hubungan yang serius.
"Oh iya. Di tempatku bekerja ada lowongan pekerjaan. Barangkali kamu bisa menawarkannya kepada Mara, Mas. Namun hanya lowongan untuk menjadi cleaning service. Meskipun hanya sebagai cleaning service, namun gajinya cukup besar Mas. Karena pemilik PT WUW ini terkenal begitu baik kepada karyawan-karyawannya. Ya, meskipun sedikit dingin orangnya."
"Coba nanti aku sampaikan ke Mara, Rim. Barangkali ia mau untuk mengisi lowongan itu."
Pramono mengambil satu bungkus bubur yang dibawa oleh Arimbi. Ia buka bungkusan itu dan mulai menyuapi Baskara dengan telaten.
"Bapak harus segera sehat, agar bisa menjalani hari-hari bahagia Bapak dengan Mara."
Lolos sudah setetes air mata Baskara dari kedua netranya. Air mata syukur karena ia dikelilingi oleh orang-orang baik. "T-terima kasih Pram. Terimakasih."
.
.
. bersambung...
Hai-hai para pembaca tersayang... Alhamdulillah kita sudah sampai di part 50. Bagaimana? Masih mau lanjut? Tentunya masih dong ya..😅😅
Ada kejadian-kejadian apalagi di kota ini? Apakah Mara dan Dewa akan kembali bertemu dan memulai kisah asmara mereka? Atau... Apa malah Mara bertemu dengan lelaki lainnya? Hehehe heeehee tetap ikuti kelanjutan ceritanya ya kak 😘😘
Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...
Salam love, love, love❤❤❤
__ADS_1