
Tak....Tak...Tak...
Suara sebilah pisau yang beradu dengan telenan kayu berhasil mengusik indera pendengaran wanita paruh baya yang tengah duduk santai di ruang tengah. Manik mata yang sebelumnya fokus pada benda pipih di genggaman tangannya, mulai bergeser dan bergulir menoleh ke arah asal suara itu. Wanita itu sedikit mendengus kesal dan gegas, ia bangkit dari posisi duduknya.
"Terus ... terus ... Selalu bikin berisik! Mengapa tidak sekalian kamu memakai gergaji untuk memotong wortel itu? Cuma potong wortel saja kok berisiknya minta ampun!"
Wanita itu berdiri dengan bersedekap dada. Sorot matanya terlihat membidik, menatap lekat wanita yang berada di dapur, yang tengah memotong wortel.
"Maaf Ma..."
"Maaf, maaf. Kamu itu benar-benar tidak becus jadi istri. Hanya memotong wortel saja sampai membangunkan orang satu kampung."
"Maaf..."
"Huh, kalau tahu istri yang dipilih oleh Ardi seperti ini, aku pasti tidak akan pernah merestui kalian."
"Tapi Ma ... apa Mama tidak ingat dengan apa yang telah aku lakukan untuk mas Ardi? Aku rela menjual rumah yang aku miliki untuk memodali usaha mas Ardi, tapi mengapa selalu saja bersikap buruk kepadaku?"
Wanita berusia paruh baya itu hanya tersenyum sinis. "Ya, ya, ya, aku tahu itu. Kamu memang telah berjasa ikut memodali usaha yang dirintis oleh Ardi, tapi tetap saja, kamu itu tidak lebih dari seorang menantu yang tidak bisa mengurus rumah tangga. Lihatlah, semua pekerjaanmu begitu berantakan. Bahkan hasil pekerjaanmu ini tidak lebih baik dari pembantu yang dulu bekerja di rumah ini."
"T-tapi Ma...."
"Aahhhh .... Sudah, lanjutkan saja apa yang kamu kerjakan. Aku mau ke kumpul sama ibu-ibu komplek. Ingat ya, setelah ini, nyapu, ngepel, nyuci, sama potong rumput depan. Rumput udah tinggi-tinggi kayak rumah gak berpenghuni saja!"
Wanita paruh baya yang masih terlihat modis itu melenggang pergi meninggalkan dapur. Sedangkan wanita yang memiliki gelar menantu dari wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum getir, selalu mendapatkan perilaku buruk seperti ini dari mertuanya.
Puspa ... Sejak perkenalannya dengan Ardi membuat gadis itu merasakan untuk kali pertama apa itu cinta pada pandangan pertama. Seorang lelaki berparas tampan, bertubuh atletis, dan terlihat begitu gagah seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa yang berkenalan langsung dengannya. Hal itulah yang dialami oleh Puspa, gadis yang tak lain adalah mantan saudara tiri Mara itu benar-benar telah hanyut ke dalam pesona lelaki bernama Ardi.
Setengah tahun menjalani masa-masa pacaran, bahkan hubungan keduanya sudah seperti sepasang suami istri pada akhirnya Ardi memiliki niat baik untuk memperkenalkan Puspa di hadapan keluarganya. Namun tanpa disangka, ternyata kehadiran Puspa ditolak mentah-mentah oleh Martha, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu kandung Ardi.
Saat itu, Puspa tidak tinggal diam. Ia melakukan berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan hati Martha. Hingga pada akhirnya, wanita itu memiliki sebuah cara yang ia rasa bisa untuk menarik hati sang calon mertua.
__ADS_1
Seperti sebuah kebetulan atau entah apa namanya, saat itu Ardi memiliki keinginan untuk merintis sebuah usaha yang bergerak di bidang percetakan. Dan Puspa menawarkan akan memberikan modal usaha dengan catatan Ardi bersegera menikahinya. Tidak tanggung-tanggung, Puspa menjual rumah yang tak lain merupakan satu-satunya aset yang ia miliki dan hasil penjualan rumah itu dengan senang hati seluruhnya ia berikan kepada Ardi.
Puspa memasukkan potongan wortel itu ke dalam panci yang di dalamnya sudah terdapat kaldu ayam dan juga potongan kentang. Setelah itu, seluruh bahan untuk membuat sup ayam, telah masuk ke dalam panci dan tinggal menunggu matang.
"Masak apa pagi ini Pus?"
Puspa yang masih sibuk berkutat dengan sayur sup-nya sedikit terkejut tatkala mendengar suara sang suami yang tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.
Puspa mengulas sedikit senyumnya sembari mencicipi sayur sup ini. "Masak sup ayam Mas."
Ardi yang sebelumnya memasang wajah yang berseri seketika berubah muram. Terdengar ia mendengus lirih. "Sup? Kamu masak sup lagi?"
"Iya Mas... Memang kenapa?"
"Kamu ini selain masak sup apa tidak bisa masak yang lain? Satu bulan ini perutku selalu kenyang dengan sup buatanmu itu. Kamu pikir aku tidak bosan?"
"Tapi baru ini yang bisa aku masak Mas ... aku tidak bisa memasak yang lainnya." lirih Puspa dengan kepala menunduk.
"Maafkan aku Mas ... Besok aku pasti akan mulai belajar untuk memasak selain sup."
"Aaahhhhh ... aku sudah terlanjur bosan Pus! Lebih baik aku makan di luar saja."
Tanpa memperdulikan wajah Puspa yang semakin sendu, Ardi gegas meninggalkan dapur ini. Dengan perut kosong karena sudah bosan dengan sup yang selalu dimasak oleh Puspa, lelaki itu memilih untuk makan di luar saja.
***
"Mari silahkan Mas, mau makan apa?"
Di sebuah warteg yang berada tidak jauh dari percetakan miliknya, Ardi mencoba untuk mencicipi hidangan yang disajikan oleh pemilik warteg ini. Biasanya warteg ini akan mulai ramai oleh para pembeli di jam-jam makan siang. Namun Ardi memilih untuk menyambangi warteg ini di jam delapan pagi, dan ia sangat beruntung karena ia seperti pelanggan VVIP yang bisa menikmati masakan yang baru saja matang ini.
Mata Ardi menatap takjub beraneka macam hidangan yang tertata dan terpajang rapi di etalase kaca yang sangat jarang bahkan tidak pernah ia temukan di rumah. Hampir semua masakan di warteg ini terlihat menggugah selera makannya. Dan ingin rasanya untuk ia cicipi semua yang ada.
__ADS_1
"Emmmmm ... di sini yang spesial apa ya Mbak?" ucap Ardi masih dengan lekat melihat-lihat menu yang ada di hadapannya.
Pemilik warteg ini tertawa renyah namun terdengar begitu seksi di telinga Ardi. "Semua yang ada di sini spesial Mas. Termasuk pemiliknya sendiri."
Ucapan pemilik warteg ini sukses membuat perhatian Ardi yang sebelumnya tertuju ke deretan menu, beralih ke arah wanita di hadapannya ini. Ardi seperti kesusahan menelan salivanya. Tatkala manik matanya menangkap dua gundukan sintal yang terlihat menyembul dari baju berkerah rendah yang ia kenakan.
Namun, memang dasar Ardi yang terkenal sebagai lelaki penakluk wanita, lelaki itu pun justru malah menanggapi godaan yang diucapkan oleh pemilik warteg ini.
"Seperti itukah? Jadi kamu juga spesial?" ucap Ardi dengan memberikan sebuah pertanyaan pancingan.
"Itu sudah pasti Mas. Saya memang spesial."
"Apa yang membuatmu spesial?"
Pemilik warteg ini hanya terkekeh pelan. "Jelas aku spesial, karena aku ini pandai memasak. Jika aku tidak pandai memasak, bagaimana mungkin warung milikku ini selalu ramai?"
"Aaaahhh... Amazing ... ini yang aku cari!"
"Benarkah?" Pemilik warteg itu hanya membalas pujian Ardi dengan kerlingan mata yang nampak semakin menggoda. Ia dekatkan tubuhnya di badan Ardi hingga dua buah gundukan daging sintal itu berhimpitan dengan lengan milik Ardi. "Cari hasil masakannya? Atau yang membuat masakannya?"
"Dua-duanya ... ya aku mencari dan ingin mencicipi dua-duanya!"
.
.
. bersambung...
Bonus foto alat tempur author remahan kulit kuaci ini 😅😅
__ADS_1