
"Selamat Datang cucu menantuku!"
Pekikan nyaring suara oma Widuri terdengar membahana memenuhi langit-langit ruang tamu tatkala melihat sang cucu menantu sudah tiba di kediamannya. Mara mendekat ke arah oma Widuri, mencium punggung tangannya dan memeluk tubuh wanita berusia senja itu dengan erat.
"Oma!"
Oma Widuri mengurai pelukannya dari tubuh Mara. Ia tersenyum simpul dan sekilas mengecup kening sang cucu menantu. "Bagaimana acara kamu di Puncak, Sayang? Menyenangkan?"
Mara melirik ke arah sang suami yang tengah berdiri di sisinya. Buru-buru Dewa meraih tangan sang oma dan kemudian mengecupnya.
"Pastinya sangat menyenangkan, Oma. Bahkan sangat, sangat, sangat menyenangkan."
Oma Widuri hanya menatap sinis wajah sang cucu yang berbinar-binar itu. "Aaahhhh iya harusnya aku tidak menanyakan hal itu Wa. Sudah dapat aku lihat dengan jelas dari wajahmu bahwa memang acara kalian di Puncak begitu menyenangkan." Oma Widuri yang sebelumnya begitu intens menatap wajah Dewa kini ia alihkan ke arah Mara. "Tapi aku merasakan hal yang lain dengan kamu, Sayang. Apakah kamu terlalu lelah dengan acaramu di Puncak?"
Mara tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang oma Widuri ahlinya membaca situasi. Bagaimana bisa ia tidak merasa kelelahan jika sejak tiba di Puncak hingga kembali ke rumah, sang suami terus menerus menggarapnya. Mengungkungnya dalam dekapannya seakan tidak membiarkan rambutnya mengering sama sekali.
"Emmmmm mas Dewa...."
"Aaahhhh... Seharusnya tidak perlu aku tanyakan Sayang, karena aku sudah tahu jawabannya. Jika seperti ini bulan depan bisa-bisa kamu akan segera hamil," sela oma Widuri memangkas ucapan Mara.
"Bukankah itu akan membuat Oma akan lebih bahagia? Bisa segera mendapatkan cucu menantu?" sambung Dewa dengan wajah yang berseri.
Oma Widuri tersenyum lebar. Memang mendapatkan cucu buyut merupakan satu hal terbesar yang menjadi keinginannya. Karena memang pada dasarnya hingga saat ini Indira, yang merupakan istri dari Wisnu sama sekali belum hamil. Padahal, sudah sepuluh tahun lebih mereka menikah.
"Aku doakan kamu benar-benar bisa segera hamil ya Sayang. Oma sungguh sudah sangat tidak sabar untuk bisa menggendong cucu buyut."
Mara menyunggingkan seutas senyum manis di bibirnya. "Aamiin, Oma. Oma bantu doa ya. Agar apa yang menjadi keinginan Oma bisa segera terwujud."
Oma Widuri menganggukkan kepalanya. "Itu sudah pasti Sayang. Oma akan senantiasa mendoakanmu."
"Tuan, Nyonya, kopernya biar saya yang bawakan!"
Pembicaraan oma Widuri dan juga Mara terpangkas tatkala mbok Darmi menghampiri mereka. Oma Widuri menoleh ke arah sang asisten rumah tangga dan...
"Mi, kenalkan ini adalah cucu menantuku. Dan kamu Sayang, kenalkan ini adalah mbok Darmi yang merupakan asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di sini," ucap oma Widuri memperkenalkan.
Mara tersenyum ramah. Ia meraih tangan mbok Darmi dan mengecupnya dengan lekat. Tanpa membuang banyak waktu, Mara memeluk tubuh asisten rumah tangga yang hampir memasuki usia paruh baya ini. "Hai mbok Darmi, saya Mara, istri mas Dewa. Saya sama sekali belum paham dengan kondisi di rumah ini. Itu artinya, mbok Darmi harus mengajari saya tentang apa saja yang harus saya lakukan di sini."
__ADS_1
Hati mbok Darmi menghangat seketika karena mendapatkan perlakuan seperti ini dari majikannya. Sungguh sebuah attitude yang begitu kontras dengan mantan istri tuannya yang dulu. Dulu jangankan untuk memeluk, berbicara yang sopan saja sangat lah jarang. Dulu mantan istri tuannya ini terlalu sombong, karena berpatokan pada kasta. Seringkali mantan istri tuannya ini berbuat semena-mena. Namun istri baru tuannya saat ini benar-benar terlihat sangat sopan dan rendah hati.
"I-Iya Nyah. Kita pasti akan berteman baik," ucap mbok Darmi sedikit gugup.
Mara mengurai pelukannya. "Terimakasih banyak Mbok. Namun jika boleh, mbok Darmi jangan memanggil saya nyonya. Panggil saya Mara saja."
"Tidak bisa Nyah, itu sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk memanggil nyonya."
"Tapi Mbok...."
"Sayang, sudah. Biarkan mbok Darmi memanggilmu nyonya. Bukankah memang benar bahwa kamu adalah nyonya Rangga Danabrata Dewandaru?" timpal Dewa.
Mara hanya bisa mengangguk pasrah. Sejatinya ia benar-benar merasa tidak nyaman dipanggil dengan sebutan nyonya namun mau bagaimana lagi.
"Nah Sayang, kalau ini adalah pak Kasim. Dia adalah salah seorang kepercayaan di rumah ini. Tugasnya macam-macam, security, tukang kebun, bahkan terkadang menjadi sopir pribadi Oma," lanjut oma Widuri yang kali ini memperkenalkan Kasim.
Hampir saja Mara meraih tangan pak Kasim untuk berkenalan. Namun tiba-tiba...
"Sayang, jabat tangan saja dengan pak Kasim. Tidak perlu mencium punggung tangannya dan awas jangan pakai acara peluk-pelukan juga."
Sebuah ultimatum Dewa layangkan kepada sang istri, bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan terhadap mbok Darmi. Sedangkan Mara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berdecak lirih. Dan pak Kasim hanya bisa menahan tawa di dalam hati melihat sang majikan begitu posesif terhadap istri barunya ini.
Pak Kasim menganggukkan kepalanya sebagai pertanda rasa hormat. "Saya Kasim Nyah. Tuan Dewa benar-benar pintar mencari istri. Istri yang sekarang terlihat jauh lebih cantik dan akhlaknya juga baik."
"Itu sudah pasti Pak. Aku benar-benar sudah menjadikan masa laluku sebagai pelajaran hidup. Jadi, aku tidak mungkin mencari istri seperti dahulu."
"Ya sudah, ajak istrimu ke kamar Wa. Dia pasti sangat lelah dan ingin segera beristirahat," titah oma Widuri kepada sang cucu.
"Baik Oma!"
"Aahhhh iya... Ingat ya, lusa adalah resepsi pernikahan kalian. Jadi persiapkan diri kalian untuk bertemu dengan relasi-relasi kita," sambung oma Widuri mengingatkan.
"Iya Oma!"
Dewa dan Mara berjalan bersisihan memasuki area dalam rumah besar ini. Mata Mara terbelalak sempurna dan bibirnya menganga lebar melihat keadaan rumah ini. Sebuah rumah yang luasnya tiga kali lipat dari rumah yang pernah ia tinggali di Jogja. Di dalam rumah ini banyak terdapat furniture bernuansa minimalis modern yang terlihat begitu menyejukkan pandangan. Penataan rumah ini juga terlihat begitu apik seakan menambah rasa betah untuk berlama-lama di di rumah ini.
Ceklek....
"Nah Sayang, ini adalah kamar kita. Semoga kamu suka ya," ucap Dewa setelah membuka pintu di salah satu kamar yang ada di dalam rumah ini.
__ADS_1
Netra milik Mara nampak berbinar. Melihat suasana kamar pribadinya. "Ya Tuhan, kamar ini besar sekali Mas."
Dewa hanya terkikik geli. Ia tarik lengan tangan sang istri untuk ia bawa ke dalam pelukannya. "Aku sengaja memberikanmu kamar yang besar dan luas, agar nanti ketika kita bercinta tidak merasa sempit dan bisa melakukannya di sudut manapun... Aduuduuuuhduhhh.... Sayang kok nyubit loh!"
Dewa memekik kesakitan tatkala Mara memberinya sebuah cubitan di perutnya.
"Mengapa yang kamu ingat hanya bercinta saja sih Mas? Dasar mesum."
Dewa meraih tangan Mara dan mengecup buku-buku jemarinya. Bahkan tidak hanya mengecup, lelaki itu juga melakukan sebuah perlakuan yang absurd terhadap tangan istrinya ini. Dewa menyapu jemari sang istri dengan lidahnya yang sukses membuat bulu kuduk Mara meremang seketika.
"Memang benar seperti itu kan Sayang? Kita bisa mempraktekkan bermacam-macam gaya bercinta di kamar ini. Tanpa basa-basi Dewa mulai membopong tubuh sang istri ala-ala bridal style, yang membuat wanita itu terkejut setengah mati. "Bagaimana? Apakah kamu mau? Kalau mau, ayo segera kita lakukan!"
"Aaaaaaaaa.... Mas Dewa.....!!!!"
Brak!!!!
Terdengar suara pintu terhempas dengan kasar. Oma Widuri yang sedari tadi mengamati apa yang dilakukan oleh kedua cucunya itu hanya bisa tersenyum simpul. Namun kelopak-kelopak kebahagiaan itu terasa menghujani hati oma Widuri. Wanita berusia senja itu begitu bahagia melihat kemesraan yang tercipta diantara keduanya.
Oma ikut berbahagia melihatmu bisa kembali tersenyum seperti itu Wa. Semoga kehadiran Mara benar-benar menjadi penawar akan luka yang pernah Dita torehkan di hatimu.
.
.
. bersambung....
Hai-hai Kakak-kakak tersayang... Bagaimana kabarnya? Semoga senantiasa sehat ya...❤❤ Mohon maaf akhir-akhir ini saya jarang sekali membalas komentar Kakak-kakak semua... Sekali lagi bukan sombong lho ya, akhir-akhir ini entah mengapa pekerjaan saya serasa jadi menumpuk sekali, hihihihihi 🙏🙏
Yang kemarin bertanya lamarannya siapa, hihihihihi inshaallah lamaran saya sendiri... Mohon doanya ya Kak.. Agar semua berjalan lancar. 😘😘
Lamaran sama siapa Thor?
Hihihihihi inshaallah dengan sosok Bryan yang ada di dalam novel Takdir Cinta, yang mengikuti cerita Takdir Cinta pasti tahu siapa itu Bryan 😅😅... Mohon doanya semoga sosok Juna ada di dalam diri Bryan di dunia nyata ya Kak...❤❤
Yang ingin tahu seperti apa sosok Bryan, boleh follow akun IG saya.... yulia_rasti 🤗🤗
Salam love, love, love😘😘
__ADS_1