Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 114 : Amelia Sekar Kedaton


__ADS_3


Krisna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah ruas-ruas jalan kota yang terlihat sedikit lebih lenggang di malam hari ini. Tidak ingin bermalam di hotel seperti sang bos, lelaki itu memilih untuk kembali ke kediamannya. Ia berpikir, jika terlalu dekat dengan Dewa, pikiran liarnya akan semakin menjadi-jadi.


Lelaki itu paham betul dengan apa yang dilakukan oleh Dewa di dalam kamar yang sudah ia booking dari jauh-jauh hari saat rencana resepsi pernikahan diutarakan oleh oma Widuri. Pastinya melakukan sesuatu di mana tidak sedikitpun ia memberikan jeda kepada sang istri untuk mengenakan pakaian, dan mungkin membiarkannya tetap bertelanjang di bawah selimut. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di rumah saja.


"Sial, mengapa aku jadi membayangkan sesuatu yang Dewa dan Mara lakukan di dalam kamar hotel? Aaaaarrrghh... Aku sudah menjauh dari keberadaan mereka, tapi mengapa pikiran-pikiran kotor masih saja menggodaku?!"


Sembari memukul setir kemudinya, Krisna sedikit berteriak frustrasi dan mengacak rambutnya kasar. Ia merasa cobaannya menjadi lelaki yang lebih baik sungguh sangat berat. Karena hal-hal kotor mengenai s*x seperti ini masih saja sering menggoda pikirannya. Tak mengherankan jika membuatnya menjadi uring-uringan sendiri dan pada akhirnya miss soap atau miss body lotion lah yang menjadi muaranya. Ia gunakan kedua benda itu untuk menuntaskan semua hasrat yang bergejolak di dalam dada.


"Rupa-rupanya aku memang harus segera menikah. Jika terlalu lama melajang seperti ini, aku pasti akan sering uring-uringan sendiri dan ooohhhh...." Krisna sejenak menjeda ucapannya dan melirik ke arah lipatan pahanya. "Aku takut jika benda pusaka milikku ini tiba-tiba berkarat dan tidak akan berfungsi lagi!"


Mata Krisna yang sebelumnya terasa sedikit berat karena hari ini pekerjaannya begitu banyak seakan kembali dalam mode normal saat lelaki itu sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Benda pusaka berkarat seakan menjadi momok bagi perjaka tua itu jika sampai saat ini ia belum juga berhasil melepas masa lajangnya.


Krisna menggeleng-gelengkan kepalanya berupaya untuk mengusir semua pikiran buruk yang tetiba hadir di dalam otaknya. "Apa iya aku harus menggunakan formalin? Agar benda pusaka milikku ini bisa awet dan tidak berkarat?"


Semakin larut dalam pikiran unfaedah itu, Krisna makin seperti lelaki gila saja. Saking sibuknya bergulat dengan pikirannya sendiri, ia sampai lupa mengambil arah belok kiri di persimpangan jalan yang akan mengantarkannya ke kediamannya.


"Astaga! Ini jalan mana yang aku ambil? Mengapa bukan seperti ruas jalan yang sering aku lewati?"


Krisna mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Area perkampungan yang jauh berbeda dengan area perumahan elite seperti tempat tinggalnya. Namun lelaki itu tiba-tiba menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba tatkala pandangannya menangkap sesosok gadis muda yang tengah mengayuh sepedanya di malam hari seperti ini.


"Sekar?"


Krisna mulai menginjak pedal gas mobilnya secara perlahan dan mulai membuntuti gadis yang baru beberapa saat ia kenal tadi. Ketika laju mobilnya sampai di sisi gadis itu, buru-buru ia menurunkan kaca mobil. Benar saja, gadis itu memang gadis pembawa sayur sup di hotel tadi.


"Sekar!"


Sekar menoleh ke arah sumber suara. Gadis itupun juga sedikit terkesiap tatkala melihat sosok lelaki yang sempat menjadi pahlawan untuknya. "Tuan?"


Krisna menginjak pedal rem kendaraannya. Ia buka pintu mobil, dan turun untuk menghampiri gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan di malam-malam seperti ini, Sekar?" ucap Krisna tatkala tubuhnya sudah berada di dekat gadis pembawa sayur sup itu.

__ADS_1


Sekar hanya mengulas sedikit senyumnya. "Saya sedang berada di jalan untuk bisa tiba di rumah, Tuan!"


Dahi Krisna sedikit mengerut. "Kamu tinggal di sekitar sini?"


"Iya, Tuan. Saya memang tinggal di sekitar sini. Rumah saya ada di ujung gang itu." Sekar menatap lekat tubuh lelaki yang berdiri di hadapannya ini. Kini giliran dahinya yang sedikit mengerut. "Apa yang Tuan lakukan di sini? Apakah Tuan juga tinggal di sekitar sini?"


Krisna hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jika teringat bahwa dia lupa mengambil arah belok kiri di persimpangan jalan yang ia lalui tadi, sungguh ia hanya bisa menahan tawa di dalam hati.


"Aaaaaahhh iya benar, rumahku memang tidak jauh dari sini! Apakah rumahmu masih jauh?"


Krisna mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kawasan yang cukup sepi dan sedikit gelap. Seketika membuat lelaki itu bergidik ngeri tatkala membayangkan bagaimana bisa gadis belia ini mengayuh sepeda menembus pekatnya malam di kawasan seperti ini. Bukankah kawasan seperti ini semakin memberikan peluang para makhluk tak kasat mata untuk mengganggunya? Atau jika bukan makhluk tak kasat mata, mungkin para penjahat seperti perampok, pembegal, atau penjambret yang melancarkan aksinya untuk mencari mangsa.


Sekar menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan, hanya berjarak beberapa rumah lagi dari sini, saya akan sampai di rumah."


"Kalau begitu, ayo aku antar!"


Sekar hanya dapat mengernyitkan kening sebagai isyarat bahwa gadis itu sedikit keheranan dengan apa yang diucapkan oleh Krisna. "Maksud Tuan bagaimana? Saya mengendarai sepeda sedangkan Tuan mengendarai mobil, lalu bagaimana caranya Tuan mengantar saya?"


Krisna hanya mengulas senyum tipis di bibirnya. "Tunggu sebentar."


"Ayo aku antar!"


"Tuan mau memboncengkan saya?"


Tidak ingin kebersamaan dengan gadis ini berlalu begitu saja, dan karena ada sesuatu yang berusaha ia sembunyikan, lelaki itu menggelengkan kepalanya. Buru-buru ia menarik sepeda yang sebelumnya di pegang oleh Sekar. "Akan aku tuntun sepeda ini sedangkan kita berjalan. Bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?"


Sekar terkikik lirih. "Apakah Tuan tidak dapat mengendarai sepeda? Sehingga Tuan memilih untuk menuntun sepeda ini daripada menaikinya?"


Krisna tersentak. Bukan dia tidak bisa mengendarai sepeda, namun lelaki itu memiliki sebuah trauma dengan sepeda. Ketika kecil ia pernah mengalami kejadian buruk yang ada kaitannya dengan sepeda. Kala itu ia dan sang ayah tengah bersepeda pagi di kawasan perkebunan sayur. Namun naas, di saat keduanya tengah menikmati suasana pagi di dataran tinggi yang masih terasa begitu sejuk asri, tetiba ada sebuah mobil pickup pembawa sayur menabrak sepeda yang dikendarai oleh sang ayah. Dan pada akhirnya, kecelakaan tragis yang ia alami itu, membuat sang ayah pergi untuk selamanya, dan ia sendiri mengalami patah tulang kaki.


"Tuan!"


Sekar sedikit menepuk bahu Krisna yang terlihat hanyut dalam pikirannya sendiri. Yang dilakukan oleh gadis itu sukses membuat Krisna terperanjat dan bangun dari lamunannya.

__ADS_1


"Ya?"


"Apa yang sedang Tuan pikirkan? Mengapa Tuan malah melamun seperti itu?"


Krisna menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "Aaahhhh tidak ada apa-apa. Ayo kita jalan!"


Keduanya mulai mengayunkan langkah kaki mereka. Melangkah perlahan, mengikis jarak yang masih tersisa untuk mengantarkan sang gadis tiba di kediamannya.


"Apakah kamu tidak merasa takut sendirian mengendarai sepeda di malam hari seperti ini?" Krisna bertanya mencoba untuk memecah keheningan yang tercipta.


Sekar tersenyum simpul sembari pandangannya nyalang ke depan. "Tanggung jawab terhadap ibu saya seakan membunuh semua rasa takut itu, Tuan. Jadi sedikitpun saya tidak merasa takut."


"Tanggung jawab? Maksudmu, kamu adalah anak tunggal dan hanya kamu yang menghidupi ibumu?"


Krisna benar-benar tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Lelaki itu ingin sekali mengenal gadis ini lebih jauh lagi.


Sekar mengangguk pelan. "Seharusnya, kehidupan ibu ditopang oleh suami barunya, namun keputusan ibu untuk menikah lagi selepas ayah pergi untuk selamanya, ternyata hanya merupakan sebuah jalan pembuka bagi ibu saya menuju kesengsaraan."


Krisna sedikit terkejut. "Kesengsaraan? Maksudmu?"


Pertanyaan Krisna sedikit terjawab tatkala langkah kakinya terhenti di pelataran sebuah rumah kecil yang terlihat begitu sederhana. Samar, ia mendengar suara gaduh dari dalam rumah itu.


Brak... Brak ... Brakkkkk!!!!


"Aaaaarrrghh.... Aku tidak mau tahu, aku akan menjual rumah ini untuk melunasi hutang-hutangku!"


"Tidak Mas. Rumah ini rumah milik Sekar, peninggalan dari ayahnya. Kamu tidak berhak menjual ini!"


Kedua mata Krisna terbelalak. Sorot mata yang sebelumnya menatap lekat rumah sederhana yang ada di hadapannya ini, kini ia geser untuk menatap gadis yang berdiri di sisi sepeda yang ia tuntun.


Tanpa permisi, setetes bulir bening dari pelupuk mata gadis itu lolos begitu saja. "Ternyata lelaki itu belum juga berhenti mengincar rumah peninggalan ayah!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2