Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 73 : Menikah


__ADS_3


Sinar matahari terasa sedikit redup siang hari ini. Pancarannya tidak begitu terik sehingga membuat siapa saja betah berlama-lama berada di tepi pantai seperti ini. Semilir angin laut yang berhembus kencang membuat nyiur bergoyang-goyang seiring dengan hembusannya. Puluhan burung camar terlihat menghiasi langit siang ini ditambah dengan gumpalan awan putih yang membentuk bulu-bulu domba seakan menjadi lukisan alam yang terbentuk dengan sempurna dari sang Maha penggenggam kehidupan.


Gemuruh suara ombak terdengar begitu jelas. Mereka bergulung-gulung memecah batu karang kemudian menghempaskan diri mereka ke bibir pantai, dan kemudian hanya menyisakan buih-buih air laut. Hamparan pasir putih terlihat begitu kontras dengan warna biru langit, seperti sebuah bingkai kehidupan yang nampak begitu indah.


Dewa dan Mara nampak serasi duduk bersandingan di atas pelaminan. Kedua manusia itu baru saja sah menjadi sepasang suami istri dengan mengikrarkan janji sehidup semati yang disaksikan oleh para tamu undangan. Tepian pantai yang di dekorasi sedemikian rupa dengan konsep warna putih terasa menambah kesan romantis bagi siapa saja yang berada di tempat ini. Berpuluh-puluh tangkai mawar putih juga seolah menjadi saksi, jika hari ini memang hari yang membahagiakan bagi keduanya karena mereka bisa saling memiliki secara utuh, apapun yang ada di dalam diri masing-masing.


Dewa tiada henti memandang wajah Mara yang duduk di sampingnya. Hari ini gadis asing yang ia temui beberapa waktu yang lalu sudah seperti jelmaan putri kerajaan saja. Dengan ball gawn warna putih, rambut yang ditata sedemikian rupa dengan sebuah mahkota kecil yang tersemat di atas kepalanya semakin membuat gadis itu terlihat cantik elegan.


Tidak jauh berbeda dengan Mara, Dewa dengan setelan tuxedo warna putih juga nampak semakin gagah bahkan terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Tidak ada yang terlihat dari sepasang manusia itu selain pancaran penuh binar-binar kebahagiaan yang semakin membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya ikut larut dalam bahagia itu.


Tidak tanggung-tanggung, Dewa menyediakan beberapa armada bus untuk mengangkut para tamu undangan yang lebih banyak berasal dari kota Bogor. Karyawan perusahaan dan pabriknya, dan semua relasi yang berasal dari kota itu. Tidak hanya itu saja, para tamu istimewa yang berasal dari berbagai penjuru daerah juga difasilitasi dengan akomodasi geratis mulai dari tiket menuju Jogja, hotel dan juga liburan selama tiga dua hari di kota ini. Benar-benar waow bukan? Ya penulis cerita sampai bingung apa lagi yang dijual untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan Dewa dan Mara ini 😅😅


"Mas, jangan melihatku seperti itu. Aku malu!"


Wajah Mara tertunduk malu, sedari tadi lelaki yang telah sah menjadi suaminya ini tiada henti memandang lekat wajahnya. Membuat detak jantungnya bekerja tiada beraturan yang semakin membuat semua keringat dinginnya keluar dari pori-pori kulitnya.


Dewa tiada henti menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Lelaki itu masih begitu takjub akan cara kerja sebuah takdir yang menggariskan bahwa setelah penghianatan yang ia terima dari sang mantan, ternyata Tuhan memberikan sebuah ganti yang jauh lebih segala-galanya.


Dewa menarik lengan Mara untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Lelaki itu menghujani sang istri tercinta dengan kecupan-kecupan lembut di keningnya.


"Hari ini kamu nampak begitu cantik Sayang. Kamu seakan menjelma menjadi seorang ratu yang begitu cantik yang pastinya dapat menghipnotis semua tamu undangan kita ini. Aaaaaahhh aku malah merasa lelaki hampir berkepala empat ini sepertinya tidak pantas untuk menjadi pendamping hidupmu."


Mara terkikik geli mendengarkan ucapan Dewa. Perlahan ia mendongakkan wajahnya dan membalas tatapan teduh suaminya ini dengan intens.


Cup...


Sebuah kecupan singkat Mara daratkan di pipi sang suami. "Kamu bicara apa Mas? Aku bahkan tidak mempermasalahkan usiamu. Aku mencintaimu tanpa alasan. Dan aku mencintaimu karena hatiku mengatakan bahwa kamu adalah yang terbaik untukku."


Dewa kembali tersenyum simpul. Gegas, ia meraih jemari tangan Mara dan mengecupnya dengan lembut. "Terimakasih Sayang. Terimakasih karena kamu telah menjatuhkan pilihanmu kepada duda berusia hampir kepala empat ini. Aku berjanji, seumur hidupku akan aku pergunakan untuk mencintai dan membahagiakanmu."


Mara mengangguk perlahan. "Aku percaya Mas. Aku percaya."


"Wa!"


Percakapan dua orang itu terpangkas saat seorang wanita berusia lanjut menghampirinya. Oma Widuri terlihat berjalan mendekat ke arah sepasang pengantin baru itu.


"Oma...." Dewa beranjak dari posisi duduknya kemudian memeluk erat tubuh oma Widuri. "Oma... terimakasih banyak untuk segalanya. Untuk semua yang telah Oma lakukan untuk kebahagiaan Dewa."


Dewa mengisakkan tangis di dalam dekapan oma Widuri. Lelaki yang sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu mendadak merasakan sebuah keharuan yang begitu luar biasa tatkala memeluk tubuh wanita yang sudah memasuki usia senja ini.


Oma Widuri pun tidak dapat membendung rasa haru yang terasa meletup-letup di dalam dadanya. Ia hanya bisa mengusap-usap punggung sang cucu dengan penuh sayang. "Selamat menempuh hidup baru, Wa. Oma percaya setelah ini, hanya akan ada kebahagiaan yang mengiringi langkah kakimu. Kebahagiaan itu datang melalui kehadiran istrimu ini." Oma Widuri melerai pelukannya. Ia usap air mata sang cucu yang sudah membasahi pipinya. "Air mata ini akan terganti dengan senyum dan tawa yang akan dihadirkan oleh Mara."


Dewa tersenyum sembari mengangguk. "Aamiin."


Oma Widuri menggeser tubuhnya. Dan.... "Cucu menantuku!"

__ADS_1


"Oma...."


Oma Widuri bergantian memeluk tubuh Mara dengan erat sama dengan apa yang ia lakukan terhadap Dewa. "Oma titip Dewa, Sayang. Tolong bahagiakan cucu Oma ini. Percayalah, bahwa cucu Oma ini adalah salah satu lelaki yang memegang teguh akan janji yang telah ia ikrarkan. Dan Oma yakin, dia akan membahagiakanmu seumur hidupnya dan hanya akan menjadikanmu satu-satunya wanita yang ia cinta."


"Mara percaya Oma, Mara percaya."


Oma Widuri mengecup kening sang cucu menantu. "Berbahagialah selalu Sayang!"


"Terimakasih Oma!"


"Ayah!"


Dengan kursi roda yang di dorong oleh Pramono, Baskara ikut mendekat ke arah anak dan menantunya berada. Dan kini, Dewa sudah berjongkok di hadapan sang mertua.


"Ayah titip putri Ayah kepadamu, Nak. Mengingat selama ini Ayah belum dapat membahagiakan Mara, Ayah berharap penuh kepadamu untuk bisa membahagiakannya. Ayah percaya bahwa kamu adalah lelaki baik yang tiada akan pernah menyakiti hati Mara."


Dewa mengangguk. "Dewa berjanji, Ayah. Dewa berjanji. Dan doakan Dewa, agar Dewa dapat menunaikan semua janji Dewa ini!"


"Mara... Putri Ayah..."


"Ayah..."


Mara menangis tergugu di dalam dekapan sang ayah. Memori otaknya seakan kembali memutar ulang jalan hidup yang pernah ia lalui bersama sang ayah. Garis hidup yang lebih sering dipenuhi oleh air mata kesedihan dan air mata luka, pada akhirnya justru mengantarkannya pada titik ini. Sebuah titik yang akan menjadi awal kebahagiaan untuknya.


"Maafkan atas semua kesalahan yang pernah Ayah lakukan kepadamu Sayang. Maafkan atas segala penderitaan yang pernah Ayah hadirkan di dalam kehidupanmu. Mara kecil yang seharusnya bisa hidup dalam sebuah kebahagiaan, namun justru kerak neraka lah yang ia rasakan. Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah."


"Ayah bersyukur memiliki seorang putri sepertimu Nak. Ternyata Tuhan maha baik. Meskipun Ayah bukanlah seorang ayah yang baik, namun ternyata Dia memberikan sebuah anugerah terindah melalui kehadiranmu." Baskara melepaskan pelukannya. Ia cium kening sang putri dengan lekat. "Mara kecil Ayah saat ini sudah menjadi seorang istri. Semoga kamu dapat menjalankan peranmu dengan baik Sayang."


"Aamiin Ayah..."


Pramono berdiri di depan Dewa. Setelah sempat terjebak dalam kesalahpahaman akhirnya hari ini keduanya dapat berdiri berhadapan dengan senyum lebar.


"Pram... Maaf atas segala kesalahpahaman yang pernah terjadi. Sungguh, aku benar-benar tidak mengetahui cerita yang sebenarnya."


Dewa memeluk tubuh Pramono. Lelaki itu dengan tulus mengucapkan permohonan maafnya atas kejadian beberapa waktu yang lalu terjadi.


"Tidak mengapa Pak. Lupakan saja. Saat ini saya titipkan adik saya kepada pak Dewa. Tolong cintai dan bahagiakan Mara seumur hidupnya."


Dewa mengangguk. "Aku berjanji Pram. Aku berjanji."


"Mas Pram..."


Pramono tersenyum simpul. "Adikku..."


"Terimakasih banyak atas apa yang pernah kamu lakukan untukku dan juga ayah Mas. Aku bisa bertemu dengan suamiku saat ini juga tidak lepas dari pertolongan mas Pram. Terimakasih Mas, terimakasih."


Pramono mengusap-usap punggung Mara dengan penuh sayang. "Setelah penderitaan yang kamu alami, semua ini pantas untuk kamu dapatkan Ra. Saat ini aku bisa tenang karena ada pak Dewa yang akan menjadi sayap pelindungmu. Dan aku percaya, bulik Paramitha akan turut berbahagia melihat semua ini."

__ADS_1


Mara mengangguk. "Semoga Mas. Semoga."


Di belakang tubuh Pramono, terlihat Krisna berdiri untuk menunggu gilirannya memberikan selamat kepada mempelai. Perjaka tua itu benar-benar tidak dapat menahan rasa harunya.


"Hei, apakah kamu tidak mau mengucapkan selamat untukku?" seloroh Dewa saat melihat asisten pribadinya ini hanya berdiri terpaku.


Krisna tersenyum simpul dan.... "Selamat Wa. Akhirnya lepas juga masa dudamu. Aku turut bahagia Wa."


Krisna seolah menjadi saksi hidup atas perjalanan cinta seorang Rangga Danabrata Dewandaru. Rasa haru itu tidak dapat ia bendung. Setelah mengalami sebuah penghianatan dari sang mantan istri, akhirnya bos sekaligus sahabatnya ini mendapatkan pelabuhan hatinya. Ia memeluk tubuh Dewa dengan erat.


Dewa menepuk-nepuk punggung Krisna. "Terimakasih banyak untuk semua yang telah kamu lakukan untuk kebahagiaanku Kris. Semoga setelah ini kamu akan bertemu dengan kebahagiaanmu."


Krisna melepaskan pelukannya. "Itu sudah pasti. Di acaramu ini, aku akan berupaya untuk mencari calon istri. Seperti apa yang pernah kamu ucapkan, barangkali ada salah satu tamu istimewamu yang mau untuk menjadi istriku."


Dewa tergelak. "Berusahalah Kris. Aku mendoakanmu."


Krisna menggeser tubuhnya. Ia berdiri di depan Mara dan.... "Selamat menempuh hidup baru, Cantik! Bahagia selalu untukmu!"


Hampir saja Krisna memeluk tubuh Mara namun buru-buru dicegah oleh Dewa. "Hei, jangan macam-macam kamu Kris. Tidak aku izinkan kamu untuk memeluk istriku. Awas saja kalau kamu nekad!"


Krisna berdecih sembari memutar kedua bola matanya malas. "Pramono saja boleh memeluk Mara, mengapa aku tidak boleh?"


Dewa hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak. Sekali tidak tetap tidak!"


Krisna menyerah. Niat hati ingin memeluk gadis dengan tubuh yang begitu sempurna ini akhirnya hanya menjadi angan-angan belaka. "Baiklah, aku tidak akan memeluk istrimu." Lelaki itu kembali menatap wajah Mara. "Cantik, bahagia selalu untukmu. Jika kamu diperlukan tidak baik oleh suamimu ini cepat bicara padaku. Aku akan selalu siap untuk menjadi sandaran hatimu."


Pletakk...


"Aaaaaahhh... Sakit Wa!"


"Jaga ucapanmu Kris! Aku tidak akan memperlakukan Mara dengan buruk. Jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk menjadi sandaran hati istriku."


Dewa menarik tubuh Mara dan memeluknya dengan posesif. "Sayang, jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh ucapan lelaki buaya darat ini. Itu akan sangat berbahaya Sayang."


Mara hanya tergelak melihat kelakuan dua lelaki dewasa ini. Dua lelaki yang selalu saja meributkan hal-hal sepele seperti ini. "Iya Mas, iya. Terimakasih banyak untuk doa-doanya mas Kris. Aku percaya bahwa mas Dewa akan memperlakukanku dengan baik."


"Ya sudahlah. Kalian nikmati saja hari ini. Aku akan bersiap menunggu tamu-tamu istimewa kalian. Semoga salah satu dari mereka ada yang mau menjadi istriku."


"Hahaahaa...."


.


.


. bersambung...


Part spesial akan hadir di part selanjutnya ya Kak.. Akan ada kejadian apa??? Hehehehe ditunggu yah....❤️❤️

__ADS_1


Jangan lupa dandan yang cantik ya Kak... Semua tiket ke Jogja sudah sampai di tangan kakak-kakak semua bukan?.. Tidak hanya tiket perjalanan, tapi juga liburan. Hihihihihi ...😘😘😘😘


__ADS_2