
Dug... Dug ... Dug...
"Mie dog-dog, mie dog-dog!"
Suara khas kentongan kecil yang berada di gerobak penjual mie dog-dog keliling mulai terdengar di sekitar toko kue milik Mara. Seorang lelaki dengan mendorong gerobak berwarna biru terlihat menghentikan laju gerobaknya dan mulai melepas lelahnya di bawah pohon mangga yang berada di seberang jalan toko kue milik Mara.
Mara yang tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa, dengan meletakkan kepalanya di paha Dewa sedikit terkejut dengan suara penjual mie dog-dog itu.
"Mas, itu jualan mie dog-dog ya?"
Dewa yang tengah mengusap-usap kening sang istri sembari memainkan gawai di tangannya hanya mengangguk pelan. "Iya Sayang, itu penjual mie dog-dog. Tapi kok tumben ya penjual mie dog-dog keliling di siang hari seperti ini? Biasanya sore bukan?"
Dahi Mara sedikit mengerut. Bahwa memang benar yang dikatakan oleh suaminya ini. "Iya juga ya Mas. Tapi sepertinya aku ingin sekali memakan mie itu."
Dengan gerak cepat, Mara menggeser tubuhnya dan kini ia dalam posisi terduduk di sisi Dewa. Yang dilakukan oleh Mara itulah yang membuat lelaki itu sedikit terkejut.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Mau beli mie dog-dog Mas. Tiba-tiba aku ingin sekali makan mie itu." Mara mengenakan alas kakinya dan bermaksud untuk segera menghampiri penjual mie itu. "Aku ke sana dulu ya Mas. Kamu tunggu di sini saja."
Baru satu langkah kaki Mara terayun, tanpa pikir panjang Dewa menarik lengan tangan sang istri. "Stop Sayang! Biar aku yang membelikannya untukmu!"
Dewa yang sebelumnya dalam posisi duduk di atas sofa, juga mulai menggeser tubuhnya untuk beranjak dari posisi duduknya. Dan kini calon papa itu berdiri di samping sang istri.
Seutas senyum manis terbit di bibir Mara. "Terimakasih banyak Mas. Katakan kepada penjualnya kalau aku ingin memakai cabai sepuluh."
Kedua bola mata Dewa terbelalak dan membulat sempurna. "Apa Sayang? Cabai sepuluh?"
Mara mengangguk girang dengan wajah berbinar. "Iya Mas, cabai sepuluh!"
"Sayang, jangan cabai sepuluh ya. Kasihan dedek di dalam perutmu. Bisa-bisa ia kepedesan. Atau bisa jadi nanti kamu diare."
Dewa tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya satu mangkuk mie dog-dog dengan cabai sepuluh. Pastinya makan mie itu sama dengan memakan mercon yang membuat mulut terasa meledak-ledak. Cabai dua saja lelaki itu sudah merasa kepedasan. Lalu bagaimana dengan cabai sepuluh?
Gegas, Mara menggelengkan kepalaku sebagai pertanda bahwa ia tidak menerima saran yang diucapkan oleh sang suami. "Tidak Mas. Aku maunya cabai sepuluh. Menjelang siang hari seperti ini sepertinya nikmat sekali menikmati satu mangkuk mie dog-dog dengan cabai sepuluh dan bisa membuat berkeringat."
"Ckkkccckkk jika kamu hanya ingin berkeringat, tidak harus dengan memakan mie dog-dog dengan cabai sepuluh Sayang. Ada salah satu cara yang jauh lebih aman, nyaman, dan membahagiakan," ucap Dewa sembari berdecak lirih.
__ADS_1
"Cara seperti apa itu Mas?"
Tubuh Dewa yang berjarak beberapa centimeter dari tubuh Mara, mulai terkikis tatkala lelaki itu menarik tubuh Mara untuk ia bawa ke dalam pelukannya.
"Kita bercinta sebentar. Setelah itu pasti kamu akan berkeringat dan hatimu akan dipenuhi dengan kebahagiaan, Sayang. Bagaimana? Kamu setuju bukan?"
Dengan menaik-turunkan alis mata, Dewa mencoba untuk menggoda sang istri. Niat hati memang menggoda, namun jika Mara menyetujuinya pastinya akan menguntungkan bukan? Sungguh, ada saja ide dari lelaki itu untuk membujuk sang istri agar mau diajak bercinta.
"Iihhh apa sih Mas? Semalam kita sudah loh. Bahkan sampai empat rounde. Masa iya siang ini mau kita ulangi lagi?"
"Loh, tidak ada salahnya kan Sayang? Kita ini suami istri, jadi bisa bercinta kapanpun yang kita mau. Ayo kita lakukan Sayang!"
Bibir Mara sedikit mengerucut. Bisa-bisanya sang suami membahas perihal bercinta di siang hari ini. "Aku maunya mie dog-dog Mas, bukan bercinta. Kalau kamu tidak segera beranjak dari tempat ini, biar aku yang menghampiri penjual mie itu Mas!"
Mara melepaskan dirinya dari tubuh Dewa, bermaksud untuk bersegera menghampiri penjual mie dog-dog keliling itu. Namun, lagi-lagi Dewa menarik tubuh Mara berupaya untuk menghentikannya.
"Iya Sayang, iya. Biar aku yang ke penjual mie itu ya. Kamu tunggu saja di sini. Oke?"
"Terimakasih suamiku!"
"Sama-sama nyonya Rangga Danabrata Dewandaru!"
Sementara itu tak jauh dari tempat Dewa mengantri untuk mendapatkan satu porsi mie dog-dog, seorang wanita dengan motor bebeknya terlihat tengah mengintai pergerakan Dewa. Sedari tadi ia tengah menyusun rencana siapa yang akan ia lukai. Setelah bergelut dengan angan-angannya sendiri, pada akhirnya ia memutuskan untuk mencelakai Dewa.
"Jika aku mencelakai istrimu belum tentu kamu akan menjadi milikku, Mas. Karena kamu pasti akan selalu setia berada di sisi istrimu itu. Namun, jika aku mencelakaimu dapat dipastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memilikimu. Jika kamu mati, aku akan ikut menyusul mati dengan cara bunuh diri dan setelah itu pasti kita akan bersatu di kehidupan selanjut nanti."
Setelah sibuk bermonolog lirih, akhirnya Dita memutuskan untuk mencelakai sang mantan suami. Dan keputusannya sudah bulat bahwa Dewa lah yang akan menjadi target yang ia incar.
"Aku terpaksa harus melakukan ini Mas. Sebenarnya aku tahu bahwa ini pasti akan sangat menyedihkan bagimu. Namun aku sudah kehabisan cara untuk bisa merebutmu kembali, dan inilah satu-satunya cara yang tersisa."
Dada Dita seakan bergemuruh saat melihat sang mantan suami hampir selesai dengan pesanan mie dog-dognya. Antara maju atau mundur masih saja berkeliaran di dalam otaknya. Namun pada akhirnya, ia semakin bersemangat untuk melakukan misi ini.
Dita menyalakan mesin motor yang ia naiki. Ia atur tuas transmisi manual yang berada di telapak kakinya, dan mulai berancang-ancang untuk menjalankan misinya.
"Berapa totalnya Mang?"
"Dua belas ribu saja Om."
__ADS_1
Dewa mengulurkan satu lembar pecahan seratus ribuan untuk penjual mie dog-dog itu. "Ini Mang."
"Ada uang pas saja Om? Saya tidak punya kembalian. Ini baru awal saya mulai berkeliling. Jadi belum ada kembaliannya."
"Ya sudah, kembaliannya kamu ambil saja, Mang. Semoga bermanfaat."
Mendengar ucapan Dewa, membuat hati penjual mie dog-dog itu bahagia tiada terkira. Itu artinya, ia mendapatkan uang senilai delapan puluh delapan ribu rupiah secara cuma-cuma.
"Terimakasih banyak Om. Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan dan kelancaran rezeki untuk Om."
"Aamiin."
Dewa mengayunkan kakinya untuk segera meninggalkan gerobak penjual mie dog-dog ini. Dengan senyum yang tiada henti terlukis di bibirnya, Dewa membawa sebuah Tupperware yang berisi mie dog-dog pesanan sang istri. Ia mendongakkan kepala dan menautkan pandangannya ke arah jendela ruangan pribadi Mara. Terlihat wanita itu tersenyum manis ke arahnya dengan raut wajah yang penuh harap. Berharap sang suami segera menghampirinya dan kemudian bisa segera menikmati mie pesananku itu. Dewa pun hanya membalas senyuman sang istri dengan seutas senyum yang tidak kalah manis pula.
Perlahan Dewa mulai menyebrang jalanan ini.
Satu langkah
Dua langkah
dan di langkah yang ketiga....
Brumm... Brummmm ...
"Tuan Dewa. Awaaaaasssss!!!!!!!"
Ckiiittt.....
Brak.... Brakk.... Brakkkkk!!!!
"Aaaaaaahhhhh!!!!"
Wanita yang tengah hamil enam bulan itu terkejut setengah mati saat mengetahui apa yang tersaji di ruas jalan yang berada tepat di depan toko kue miliknya ini.
"Mas Dewaaaaaaaa!!!!!!"
.
__ADS_1
.
. bersambung....😘😘😘😘