Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 90 : Tertipu


__ADS_3


"Aku mau lagi Mas!"


Entah sudah berapa banyak es krim yang masuk ke dalam mulut Mara yang masih saja membuat wanita itu belum merasa puas. Saking antusiasnya menikmati es krim yang di belikan oleh Dewa di indoJuli, membuat wanita itu tidak sadar jika mulutnya belepotan dengan es krim yang ia nikmati.


Dewa yang fokus dengan kemudinya hanya bisa tergelak. Ia baru tahu, ternyata istrinya ini begitu hobi memakan es krim. Dewa menghentikan laju mobilnya tatkala lampu lalu lintas menyala merah. Ia menatap lekat wajah istrinya ini.


"Coba dekatkan wajahmu kemari Sayang!"


"Ada apa Mas?"


"Kemarilah!"


Masih sembari membawa cone es krim di tangan kanannya, Mara mendekatkan wajahnya ke arah Dewa dan tetiba...


Cup....


Sebuah kecupan intens, Dewa daratkan di bibir Mara. Melihat bibir sang istri yang belepotan dengan es krim, membuat Dewa merasa gatal. Gatal ingin membersikan sisa-sisa es krim itu dengan bibirnya.


"Mas! Kamu ini selalu saja melakukan di luar ekspektasiku."


Dengan bibir sedikit mengerucut, Mara melayangkan protes kepada suaminya ini. Karena selalu saja seperti ini, sang suami menyerangnya dengan tiba-tiba.


Dewa semakin tergelak. Wajah sang istri yang belepotan dengan es krim malah seperti menambah kesan menggemaskan. "Kamu kok suka sekali dengan es krim ini sih Sayang? Apa gigi kamu tidak ngilu?"


"Tidak Mas. Aku justru senang sekali bisa menikmati es krim dalam jumlah banyak seperti ini. Aku jadi teringat saat-saat dulu waktu kecil."


Dahi Dewa sedikit mengerut. Sepertinya ada sebuah cerita yang belum ia ketahui tentang es krim dan juga cerita masa kecil istrinya ini. "Memang ada apa Sayang? Ada cerita apa antara kamu dengan es krim ini?"


Tatapan mata Mara sedikit menerawang. Ia teringat masa-masa kecil dimana kedua orang tuanya kesulitan untuk membelikan es krim itu untuknya. "Dulu bagiku es krim merupakan salah satu makanan mewah yang jarang sekali bisa aku nikmati Mas. Aku harus menyisihkan sebagian uang jajanku terlebih dahulu sebelum aku bisa membeli es krim ini. Namun, hari ini aku sangat bahagia. Karena bisa menikmati es krim ini dalam jumlah yang cukup banyak."


Mendengarkan cerita dari sang istri membuat hati Dewa sedikit tersentil. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa kehidupan sang istri dulunya begitu menyedihkan. Dewa meraup udara dalam-dalam berusaha mendapatkan oksigen untuk memenuhi rongga dadanya yang terasa sesak. Sungguh kehidupan yang begitu kontras antara kehidupannya dengan kehidupan istrinya ini.


"Sudah ya Sayang, jangan bersedih lagi. Mulai hari ini kamu akan bisa menikmati es krim sebanyak yang kamu mau."'

__ADS_1


Raut wajah Mara terlihat berbinar seketika. "Benarkah seperti itu Mas? Dan apakah kamu tidak ingin mencicipi es krim ini?"


Dewa menggelengkan kepalanya. "Habiskan saja Sayang. Aku membelikan es krim itu khusus untukmu. Jadi boleh kamu habiskan semua."


"T-tapi jika terlalu banyak, aku takut menjadi gendut. Dan pasti jika aku gendut, rasa cintamu untukku juga akan berubah."


Mendengar ucapan sang istri yang menggelitik telinga ini seketika membuat Dewa terbahak. Ia cubit hidung dan pipi sang Mara dengan gemas. "Kamu bicara apa sih Sayang? Aku justru lebih senang jika badan kamu sedikit lebih berisi. Itu artinya kamu terlihat semakin montok. Dan aku suka itu." Tangan Dewa terulur untuk menyentuh dua bukit kembar milik sang istri yang padat nan sintal itu. Ia sedikit memberikan remasan di sana. "Apalagi ini. Aku lebih menyukai jika benda ini lebih montok. Pasti akan semakin menyenangkan jika diremas-remas dan juga.... dihisap!"


"Aaaaaaaaa.... Mas Dewa!!! Dasar mesum kamu Mas!"


"Hahaha haahaahaa!"


Dewa kembali melajukan mobil yang ia kendarai. Membelah jalanan Jogja lintas selatan menuju kota Bogor untuk mengawali takdir mereka sebagai sepasang suami istri. Gelak tawa keduanya memenuhi perjalanan mereka ini. Yang pasti dapat membunuh segala rasa bosan yang mengiringi perjalanan panjang mereka ini.


***


Bogor...


Puspa menepikan motor matic yang ia kendarai tepat di pelataran sebuah ruko yang letaknya di pusat kota. Di belakang punggungnya juga sudah duduk dengan anteng, sang ibu yang juga turut menatap dengan lekat bangunan ini. Kedua bibir mereka tiada henti menyunggingkan senyum merekah. Karena bagi keduanya, Anton dan juga Rizal termasuk dua orang lelaki yang bisa begitu mereka andalkan untuk membuat konsep salon dan spa seperti ini.


"Waaaoowwww ruko ini nampak begitu bagus dari luar Bu. Lihatlah, ini benar-benar sesuai dengan keinginan Puspa. Salon dan Spa ini menggunakan namaku, pasti akan sukses besar," ucap Puspa dengan raut wajah yang berbinar saat namanya dijadikan nama untuk salon dan spa ini.


"Ayo kita masuk Bu. Aku sudah tidak sabar ingin melihat-lihat semua peralatan salon dan spa yang ada di dalam sana," ajak Puspa yang seakan sudah tidak sabar untuk melihat aset-aset berharga yang berada di dalam ruko ini.


"Dengan uang tiga milyar yang Ibu beri kepada Anton dan juga Rizal, Ibu yakin peralatan-peralatan salon dan spa di dalam sana pasti mewah-mewah Pus. Dan sesuai dengan kelas orang-orang yang akan menjadi pelanggan setia salon dan spa milik kita ini."


"Ya, itu benar sekali Bu. Kita harus bersiap-siap untuk berinteraksi dengan kalangan orang-orang kaya. Dengan begitu status sosial kita juga semakin tinggi."


Tanti mengangguk mantap. "Itu benar sekali Pus. Ibu benar-benar tidak menyangka jika saat ini, kita menjadi salah seorang pengusaha salon dan spa yang akan semakin kaya raya. Dan ini semua juga berkat anak pembawa sial itu. Meskipun pembawa sial namun ternyata dia juga memberikan banyak keuntungan untuk kita."


"Hahahaha itu benar sekali Bu. Saat ini hidup Mara pasti sudah sangat menderita berada di dalam penjara cinta juragan Karta. Aku tidak membayangkan, pasti saat ini kehidupannya begitu menyedihkan karena setiap hari ia harus melayani kebutuhan juragan tua bangka itu."


"Hahahaha... Biarkan saja dia seperti itu Pus. Anggap saja sebagai salah satu penebus kesalahan ayahnya yang sama sekali tidak bisa membahagiakan Ibu dengan materi yang berlimpah ruah." Tanti mencoba mengatur nafasnya karena terlalu banyak tertawa. "Ya sudah, mari kita ke dalam. Kita lihat, ada apa saja di dalam sana."


"Ayo Bu!"

__ADS_1


Kedua ibu dan anak itu berjalan beriringan untuk memasuki area dalam ruko. Setelah pintu terbuka, keduanya mulai menyusuri setiap sudut ruangan yang berada di dalam ruko ini.


"Bu.... Mengapa ruangan ini kosong tidak ada isinya sama sekali?" Puspa bertanya dengan nada sedikit cemas.


Wajah Tanti juga tidak kalah pias. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang. "Coba kita lihat di lantai atas Pus. Barangkali semua peralatan salon dan spa berada di lantai atas."


Puspa mengangguk. Keduanya mulai meniti anak-anak tangga yang akan membawa mereka ke lantai dua. Hingga telapak kaki mereka tiba di lantai dua ini pun, juga sama. Semua sudut ruangan juga terlihat kosong melompong, tidak ada isinya sama sekali.


"Apa-apaan ini Bu? Di lantai dua pun juga kosong. Jangan-jangan.... Kita kena tipu Bu!"


Tanti menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Ini pasti hanya kesalahan teknis Pus. Tidak mungkin kita ditipu!"


"Tapi ini apa Bu? Ruko ini bahkan kosong sama sekali!"


"Sebentar, sebentar. Bukankah kemarin Anton mengatakan bahwa akan ada yang kemari untuk memberikan sertifikat ruko ini? Meskipun ruko ini kosong namun setidaknya ruko ini tetap menjadi milik kita Pus. Jadi ruko ini bisa menjadi sumber investasi kita!" Meskipun hatinya sedikit gundah gulana, namun ia tetap mencoba untuk tenang. "Ayo kita kembali turun, barangkali orang yang dikatakan oleh Anton sudah menunggu kita di bawah untuk memberikan sertifikat!"


Tanti dan Puspa kembali ke ruang bawah. Dan benar saja, bahwa sudah ada seorang lelaki berbadan sedikit tegap yang menunggunya.


"Anda pasti kemari untuk memberikan sertifikat ruko ini kan?" ucap Tanti langsung menembak maksud dan tujuan lelaki berbagai tegap itu.


Dahi lelaki itu sedikit mengerut. Ia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Tanti. "Sertifikat? Sertifikat apa ya Bu?"


"Kok sertifikat apa? Ya jelas sertifikat ruko ini!" timpal Tanti dengan nada sedikit tinggi.


Lelaki itu terkesiap karena benar-benar tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh wanita di depannya ini. "Tapi maaf Bu. Setahu saya proses sewa menyewa bangunan, tidak harus menggunakan sertifikat. Dan perjanjian sewa di atas hitam di atas putih saja sudah cukup. Jadi tidak harus menggunakan sertifikat."


Kedua bola mata Tanti dan Puspa sama-sama terbelalak dan membulat sempurna. "Apa? Sewa? Bukankah ruko ini sudah saya beli? Mengapa kamu mengatakan hanya sewa menyewa?"


Lelaki itu mengulas sedikit senyumnya. "Maaf Bu, tidak ada perjanjian jual beli terhadap ruko ini. Dari pak Anton, ruko ini dan kedua ruko yang berada tidak jauh dari sini hanya disewa selama dua bulan ke depan. Jadi tidak ada proses jual beli di sini!"


Rasa pening tiba-tiba menyerang kepala Tanti. Kepalanya seakan dipukul-pukul oleh sebuah palu yang terasa begitu menyakitkan. Tubuhnya juga tetiba oleng dan limbung, hingga akhirnya ia terduduk di atas lantai.


"Ibu!!!!!" teriak Puspa tatkala melihat sang ibu sudah terduduk lemas di atas lantai.


Air mata Tanti tetiba mengalir deras. Wanita paruh baya itu memijit-mijit kepalanya yang terasa begitu berat. "Kita ditipu Pus. Kita ditipu oleh Anton dan juga Rizal! Uang tiga milyar kita raib dibawa oleh dua manusia penipu itu! Kita jatuh miskin Pus! Kita jatuh miskin!"

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2