Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 96 : Potret Kehidupan


__ADS_3


Hembusan angin khas daratan tinggi berhembus membelai pucuk-pucuk daun teh yang terlihat menghijau ini. Membuat mereka meliuk-liuk layaknya para penari yang tengah menggerakkan tubuh mereka seiring seirama dengan nada-nada yang ada.


Hembusan angin itu menerpa wajah Dewa dan juga Mara yang tengah larut dalam suasana pagi di Puncak Bogor ini. Sepasang suami istri itu masih setia berada di atas punggung kuda. Keduanya sesekali nampak menganggukkan kepala mereka tatkala berjumpa dengan beberapa penduduk yang melintasi tempat ini. Para penduduk itu terlihat berbondong-bondong pergi ke perkebunan untuk mengais rezeki menjadi pemetik daun teh dan siap dikumpulkan ke salah satu pabrik yang memproduksi teh celup.


Kebanyakan dari mereka adalah para kaum ibu-ibu yang terlihat begitu tangguh untuk membantu suaminya menjadi tulang punggung keluarga. Sungguh menjadi sebuah potret suasana pagi yang begitu menyentuh hati. Meskipun pekerjaan mereka cukup berat namun di raut wajah wanita-wanita tangguh itu tetap terpancar binar kebahagiaan yang begitu kentara.


Wajah penuh keikhlasan dan kerelaan, membantu sang suami menjalankan perannya agar dapur mereka tetap mengepulkan asap-asap kehidupan. Membuat periuk di dapur mereka tetap terisi oleh bulir-bulir beras yang dapat mereka gunakan untuk mengisi perut keluarganya yang pasti dapat menjadi sumber energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari mereka.


"Sayang, mengapa wajah kamu terlihat begitu sendu seperti ini?"


Dari samping wajah sang istri, Dewa melihat telaga bening milik istrinya ini sudah mengumpulkan titik-titik air yang siap untuk terjatuh. Lelaki itu nampak sedikit keheranan karena tiada angin, tiada hujan sang istri tetiba seperti memasang wajah yang dipenuhi kesedihan seperti ini.


"Melihat ibu-ibu yang tengah mencari rezeki dengan menjadi pemetik daun teh itu, mengingatkan aku pada ibu, Mas."


"Memang ada apa dengan ibu, Sayang?"


Dewa memang belum sepenuhnya tahu tentang cerita kehidupan mertuanya. Di kesempatan seperti ini, rasa-rasanya merupakan waktu yang tepat baginya untuk mengetahui semua seluk beluk yang berhubungan dengan kehidupan Mara dahulu.

__ADS_1


Mara menghela nafas dalam berupaya untuk melonggarkan dadanya yang terasa sedikit sesak. "Dulu sebelum meninggal, tepatnya setelah ibu berhenti menjadi sinden, ibu juga sempat menjadi buruh pengangkut kayu jati Mas!"


Dewa terperangah. "Sinden? Ibu seorang sinden Sayang?"


"Iya Mas, dahulu ibu merupakan seorang sinden." Tatapan Mara sedikit menerawang ke arah depan. Seakan memutar memory akan keseharian sang ibu semasa masih hidup. "Salah seorang sinden terkenal di tempat tinggalku. Karena terkenal, membuat teman-teman ibu menjadi iri, hingga pada akhirnya ibu di fitnah telah bermain api dengan salah satu seorang perangkat desa. Dan ibu pun memilih untuk berhenti dari pekerjaannya itu."


Dewa mencoba memahami perkataan Mara. "Tadi kamu mengatakan bahwa ibu menjadi buruh pengangkut kayu jati apakah itu maksudnya ibu memanggul kayu jati Sayang?"


Mara menggelengkan kepalanya. "Bukan Mas, bukan seperti itu. Ibu mengangkut tumpukan kayu jati itu ke gerobak kecil lalu ia bawa ke truk yang sudah menunggu di tepi jalan."


Hati Dewa ikut terenyuh mendengar sekilas cerita tentang ibu mertuanya ini. Tanpa sadar, setetes bulir bening juga terjatuh dari kelopak matanya. Dewa semakin mengeratkan lingkar lengannya di pinggang Mara, tentunya masih sambil mengendalikan tali kuda yang ia tunggangi.


Mara menganggukkan kepalanya. Perlahan, ia menyeka air mata yang membasahi pipi. "Iya Mas, aku percaya itu. Saat ini ibu pasti sudah berbahagia di dalam surga."


Dewa tersenyum simpul. "Kalau begitu tersenyumlah Sayang! Karena senyummu lah yang akan menjadikan hari-hariku jauh lebih indah."


Seutas senyum manis tersungging di bibir Mara. Entah apa yang terjadi, setiap ucapan yang keluar dari bibir sang suami selalu saja dapat menenangkan hati dan juga pikirannya. "Terimakasih banyak Mas!"


Dewa menghujani pucuk kepala Mara dengan kecupan-kecupan penuh sayang. "Nah kalau begini kan cantik! Membuatku semakin cinta kepadamu Sayang!"

__ADS_1


Mara terkekeh geli. Bisa-bisanya sang suami menggombal seperti ini. "Hmmmmm mulai lagi deh gombalnya!"


"Lihatlah Sayang! Itu adalah danau cinta yang akan kita tuju!"


Mara mengedarkan pandangannya ke arah telunjuk tangan Dewa. Terlihat genangan air yang lumayan luas yang di sisi-sisinya terdapat padang rumput yang menghijau. Kedua netra wanita itu begitu menatap takjub dengan apa yang ada di hadapannya ini. Bibirnya seakan menganga lebar menandakan bahwa ia begitu terkesima dengan apa yang tersaji di sekitar tempat ini.


"Mas.... I-ini indah sekali!"


"Ya, memang benar apa yang menjadi ucapanmu Sayang. Namun bagiku, tempat ini terasa lebih indah karena ada kamu."


Mara hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia tersipu malu dengan apa yang terucap dari bibir sang suami. "Mas.... Aku malu!"


.


.


. bersambung...


Part ini saya persembahkan untuk para wanita tangguh yang ikut berjuang keras untuk menjadi tulang punggung keluarga. Semoga keberkahan dan keselamatan senantiasa mengiringi langkah kaki wanita-wanita itu. Mungkin termasuk diri kita sendiri atau mungkin salah satu dari anggota keluarga kita....❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2