
Seorang wanita dengan mengenakan rok mini, blouse ketat berwarna putih, dan heels tinggi lima belas sentimeter, terlihat berjalan berlenggak-lenggok menyusuri area depan kantor PT WUW. Sesampainya di loby, ia membuka kacamata hitamnya dan kemudian ia selipkan di rambutnya.
"Hai Vera! Masih ingat kepadaku?
Vera yang merupakan salah satu resepsionis yang berada di loby kantor, sedikit mengerutkan kening. Melihat lekat-lekat wanita yang berdiri di depannya. Mengingat-ingat siapa gerangan wanita ini.
"Bu Dita?" pekik Vera tatkala memory otaknya kembali mengingat bahwa wanita ini adalah mantan istri sang bos.
Dita menyunggingkan senyum di bibirnya sembari mengangguk pelan. "Ya, aku Dita. Kamu masih ingat bukan? Atau aaaaaahhh.... apa kamu lupa kepadaku karena aku terlihat awet muda sekarang?"
Ingin rasanya Vera tertawa terbahak namun ia mencoba untuk menahannya. Bagaimana ia tidak terbahak. Saat ini paras cantik yang dulu selalu dibanggakan oleh mantan istri sang bos benar-benar telah pudar dan hanya menyisakan wajah terkesan tua. Garis-garis keriput pun juga sudah sedikit nampak, layaknya seorang wanita yang jarang sekali melakukan perawatan. Sangat jauh berbeda dengan istri baru sang bos, yang jika dilihat semakin hari semakin nampak cantik saja.
"Aaaaaahhh.... iya, bu Dita nampak awet muda. Sama persis dengan wanita berusia dua puluh lima tahunan." ucap Vera sedikit berbohong.
Dita tersenyum lebar. Dia berbangga hati dan berbangga diri mendapatkan pujian dari resepsionis kantor milik mantan suaminya ini.
"Apakah mas Dewa ada di ruangannya?" Dita bertanya sembari memainkan kuku-kuku jemari tangannya.
"Pak Dewa kebetulan sedang ada meeting bersama salah satu rekan bisnisnya, Bu. Mungkin sebentar lagi akan kembali."
Dita mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Aku akan ke atas untuk menunggu kepulangan mas Dewa. Aku sudah membuat janji, jadi aku akan menunggu Dewa di dalam ruangannya."
__ADS_1
Salah satu trik yang dipakai oleh Dita. Membohongi resepsionis bahwa ia telah memiliki janji bertemu dengan Dewa. Dengan begitu ia dapat leluasa untuk keluar masuk kantor ini. Dan benar saja, Vera mempercayai apa yang dikatakan oleh mantan istri sang bos itu.
"Baik Bu, jika memang bu Dita sudah membuat janji, silakan menunggu di ruang pak Dewa."
Dita kembali mengayunkan langkah kakinya. Berjalan berlenggak-lenggok layaknya seorang model yang sedang berada di atas catwalk. Pinggulnya berayun ke kanan dan ke kiri. Tinggi heels yang ada pada alas kaki yang ia pakai seakan sama sekali tidak mengganggunya untuk melangkah menyusuri koridor-koridor kantor milik mantan suaminya ini. Tubuhnya berdiri di depan sebuah lift, yang akan membawanya menginjakkan kaki di sebuah lantai di mana ruangan sang mantan suami berada.
***
Demara Cake & Bakery siang ini nampak begitu ramai di datangi oleh para pengunjung di siang hari ini. Di cake shop milik Mara ini juga menyediakan satu space untuk para pengunjung bisa langsung menikmati semua menu yang ditawarkan di sini. Layaknya sebuah kafe kecil, mereka bisa menghabiskan waktu luang mereka dengan bersantai sembari menikmati semua menu yang ada dan sambil menikmati view sungai kecil nan jernih yang terdapat di belakang cake shop milik Mara ini.
"Ra, kamu sakit?"
Suara lembut yang tetiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran Mara, membuat wanita yang tengah meletakkan wajahnya di atas meja kerja dengan menjadikan lengan tangannya sebagai alas terkejut seketika. Wajahnya mendongak dan terlihat Sekar sudah berdiri di depan pintu.
Sejak cake shop ini dibuka, Mara memang meminta Sekar secara langsung untuk membantunya dalam mengelola cake shop ini. Beruntung Sekar juga memiliki basic yang sama dengannya, sama-sama lulusan SMK tata boga, sehingga bagi Mara merupakan langkah yang sangat tepat menjadikan Sekar sebagai partner kerja.
Sekar mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya jam segini Mara mengeluh karena diserang oleh rasa kantuk. "Tumben jam segini kamu mengantuk Ra? Padahal biasanya jam segini kamu selalu bersemangat karena melihat ramainya para pengunjung di cake shop milikmu ini?"
Berkali-kali Mara menguap seakan menandakan bahwa ia benar-benar sedang menahan rasa kantuk yang teramat mendera. "Entahlah. Beberapa hari ini aku sering mengantuk dan badanku terasa lemas sekali. Tidak ingin melakukan apapun dan hanya ingin tidur."
Sekar hanya berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Atau pulanglah Ra? Sehingga kamu bisa beristirahat di rumah?"
Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak Sekar, aku ingin di sini saja tapi........"
__ADS_1
Mara tetiba menggantung ucapannya dan membuat Sekar semakin bertanya-tanya dengan apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. "Tapi apa Ra?"
Tetiba Mara bangkit dari posisi duduknya. Ia mengambil tas yang ia letakkan di atas meja dan bersiap-siap untuk pergi. "Tapi tiba-tiba aku ingin sekali bertemu dengan mas Dewa. Entah mengapa aku jadi merindukannya. Aku akan menyusulnya di kantor." Mara mulai mengayunkan kakinya untuk meninggalkan ruang kerjanya. "Aku pergi dulu, Sekar. Besok kamu aku izinkan untuk mengambil cuti. Persiapkan acara pernikahanmu bersama mas Krisna dengan sempurna. Jika ada sesuatu yang kamu perlukan atau kamu memerlukan bantuan jangan sungkan untuk membicarakannya denganku ya."
Sekar hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Istri bos dari calon suaminya ini memang terkenal begitu baik. Salah satu wanita yang mudah bergaul, rendah hati dan pastinya nampak selalu ceria. Keceriaan yang terpancar dari wajahnya itulah yang dapat mensugesti orang-orang yang berada di sekelilingnya untuk selalu ceria pula. Tidak mengherankan jika Mara menjadi pemilik cake shop yang begitu di sayang oleh para karyawan yang bekerja di tempat ini.
***
Pandangan mata wanita seksi itu menyapu seluruh ruangan yang merupakan ruang kerja sang mantan suami. Statusnya sebagai mantan istri Dewa membuat wanita itu kian mudah untuk keluar masuk ruangan ini. Sehingga tanpa harus membuat janji terlebih dahulu kepada sang mantan, ia dapat dengan bebas melakukan apapun. Namun ia terpaksa berbohong di depan Vera, sebagai salah satu langkah antisipasi.
Sapuan matanya terhenti pada sebuah bingkai foto besar yang menempel di salah satu sudut dinding ruangan ini. Bingkai foto itulah yang membuat Dita tetiba tersenyum sinis. "Sebegitu bucinkah mas Dewa kepada istrinya? Sampai harus memajang foto pernikahannya di ruang kerjanya? Padahal dulu saat aku menjadi istrinya, dia tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini!"
Dita bergumam lirih. Nampaknya ia merasa cemburu karena dulu di saat ia menjadi istri Dewa, lelaki itu tidak pernah melakukan hal-hal kecil yang terkesan sweet seperti itu. Namun kini, ia merasa jika sang mantan suami terlihat jauh lebih menyayangi dan mencintai istri barunya ini. Tatkala sapuan pandangannya terhenti di atas meja kerja sang suami pun, wanita itu juga nampak terperangah. Beberapa bingkai foto kecil dengan gambar Dewa dan Mara juga dipajang di sana.
"Cih, aku tidak perduli. Kali ini aku harus bisa mendapatkan mas Dewa kembali. Aku sudah tidak tahan hidup dalam keadaan seperti ini. Yang selalu saja kesusahan untuk membeli barang-barang mahal dan mewah yang dulu selalu mas Dewa belikan untukku."
Dita mengayunkan kakinya untuk memasuki sebuah kamar pribadi yang berada di dalam ruang kerja Dewa. Sebuah kamar yang biasanya digunakan oleh Dewa untuk mengistirahatkan tubuhnya tatkala tengah lelah. Dita membuka tuas pintu. Dan mulai memasuki kamar itu. Ia daratkan bokongnya di atas ranjang dan senyum seringai itu muncul di bibirnya.
"Mas Dewa, aku percaya bahwa kamu tidak akan sanggup untuk menolak pesona tubuhku ini. Kali ini aku akan memanjakanmu Mas... Dan bisa aku pastikan, setelah ini kamu akan kembali menjadi milikku," ucap Dita lirih sembari satu persatu melucuti pakaian yang ia kenakan.
.
.
__ADS_1
. bersambung....
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.