Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 134 : Kabur


__ADS_3

"Dewa? Krisna?


Arman, lelaki paruh baya yang tak lain merupakan ayah dari Dita sedikit terkejut tatkala di depan pintu rumah yang baru saja ia buka telah berdiri sang mantan menantu, asisten pribadinya, dan... dua orang petugas kepolisian.


Dewa hanya mengulas sedikit senyum di bibirnya. "Maaf om Arman, jika kedatangan saya dan juga yang lainnya mengganggu ketenangan Om."


"A-ada keperluan apa kamu dan petugas kepolisian ini datang kemari Wa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"


Ucapan Arman sedikit terbata tatkala melihat dua orang berseragam cokelat itu menyambangi kediamannya. Semua pertanyaan berlalu lalang di dalam kepala. Kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga kediamannya disambangi oleh petugas kepolisian ini.


"Saya datang kemari untuk mencari Dita, Om."


Arman terkesiap. "Dita? Apa hubungan Dita dengan petugas kepolisian ini Wa? Apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh anak Om?"


Dewa membuang nafas sedikit kasar. Jika mengingat apa yang terjadi di kantor beberapa saat yang lalu, rasa-rasanya lelaki itu benar-benar ingin secara langsung memberikan pelajaran kepada Dita. Namun, ucapan sang istri benar-benar bisa mengendalikan keinginannya itu hingga pada akhirnya, ia memilih untuk menyerahkan semua perkara ini kepada pihak yang berwajib.


"Siang tadi, Dita datang ke kantor dan ia membuat keributan di sana." Dewa menjeda sejenak ucapannya dan berusaha meraup udara yang berada di sekelilingnya untuk dapat mengisi rongga dadanya dengan oksigen. "Bahkan Dita telah berbuat kasar kepada istri saya. Ia mendorong tubuh Mara hingga terjatuh dalam posisi tengkurap dan berakibat fatal."


"Fatal? Fatal bagaimana yang kamu maksud Wa?"


Arman sungguh tidak mengerti dengan kata fatal yang dimaksud oleh Dewa. Sefatal apakah yang dilakukan oleh sang anak hingga membuat Dewa membawa petugas kepolisian ini? Dan pertanyaan-pertanyaan itu tiada henti bermunculan di benaknya sebelum Dewa menceritakannya secara detail.


"Akibat perbuatan Dita, saya dan istri saya hampir kehilangan calon anak kami, Om. Istri saya mengalami pendarahan. Beruntung pendarahan itu dapat segera dihentikan, sehingga calon anak kami terselamatkan. Namun sungguh, saya benar-benar tidak bisa menerima apa yang telah Dita lakukan. Saya harap om Arman dapat bersikap kooperatif."


Arman hanya mengangguk-angguk kepalanya. Ia tahu persis bagaimana karakter sang anak jika sudah terobsesi pada sesuatu. Sang anak akan berusaha sekeras mungkin untuk dapat menggapainya, meski terkadang cara yang ia lakukan salah.


"Dita ada di dalam kamar. Jika memang petugas kepolisian ini bermaksud untuk membawa Dita, Om persilakan. Karena bagaimanapun juga ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan."

__ADS_1


Perangai lelaki paruh baya ini sungguh berbeda dengan sang anak. Terkadang di dalam pikiran Dewa terbesit sebuah pertanyaan, apakah mungkin Dita adalah anak kandung Arman? Karena sifat keduanya sungguh berbeda.


"Terimakasih banyak Om. Saya meminta izin untuk memasuki area dalam rumah om Arman untuk menangkap Dita." Dewa menautkan pandangannya ke arah petugas kepolisian itu. "Mari kita masuk Pak!"


Dewa, Krisna, dan kedua petugas kepolisian itu mulai menyusuri setiap sudut ruangan yang berada di dalam rumah Arman.


Brak..!!!!!


Empat lelaki itu sedikit terkejut tatkala mendengar suara pintu yang dihempas kuat-kuat. Keempat orang itu saling melempar pandangan dan kemudian pandangan mereka mengarah ke bagian dapur. Gegas, keempat lelaki itu berlarian ke arah dapur yang diyakini menjadi jalan bagi Dita untuk melarikan diri.


"Sial! Ternyata kita telah kalah start dengan wanita itu. Ia telah mengetahui pergerakan kita dan berusaha kabur lewat pintu dapur!" umpat Krisna sedikit kesal tatkala melihat Dita berusaha untuk melarikan diri.


"Ayo kita kejar wanita itu Pak. Saya ingin wanita itu segera tertangkap untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya," timpal Dewa yang tidak ingin menyerah begitu saja dengan upaya yang dilakukan oleh Dita untuk kabur dari rumah ini.


"Baik Pak!"


Sedangkan Dita, ia nampak berlari tunggang langgang menjauh dari kediamannya. Saat sedang berdiri di depan jendela kamar, ia melihat kedatangan sang mantan suami, Krisna dan kedua petugas kepolisian memasuki halaman rumahnya. Mulai saat itu, iapun tahu apa maksud kedatangan keempat lelaki itu.


Tanpa membuang banyak waktu, Dita mengendap-endap menuju dapur dan mulai melarikan diri melalui pintu itu.


"Sial, sekarang kemana lagi aku harus melarikan diri?"


Dita menghentikan langkah kakinya dengan memegang kedua lututnya yang sedikit terasa pegal saat melintasi tempat pembuangan sampah. Nafasnya tersengal-sengal seakan menandakan bahwa ia benar-benar kelelahan. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, hanya ada tumpukan sampah dengan bau yang menyengat di sekitar sini.


"Terpaksa aku harus bersembunyi di bak pengangkut sampah itu. Dewa dan petugas kepolisian itu pastinya tidak akan berpikiran bahwa aku bersembunyi di dalam bak sampah itu bukan?"


Dita sibuk bermonolog lirih. Ia harus memutar otak untuk dapat mengelabuhi Dewa dan petugas kepolisian itu. Pada akhirnya ia memilih untuk menjalankan rencananya untuk bersembunyi di dalam bak pengangkut sampah berwarna kuning itu.

__ADS_1


"Uweeeeekkkk.... Sabar Ta. Tahan sebentar. Dengan bersembunyi di dalam bak pengangkut sampah ini pasti kamu akan selamat dari kejaran polisi itu. Tahan sebentar, oke?"


Wanita itu berupaya untuk menyemangati dirinya sendiri. Mensugesti bahwa apa yang ia lakukan ini merupakan keputusan yang terbaik. Dengan cara seperti ini setidaknya ia dapat mengelabuhi petugas kepolisian itu dan jika keadaan sudah aman, ia bisa mencari tempat yang lebih aman dan nyaman untuk bersembunyi. Pastinya bukan di dalam bak pengangkut sampah seperti ini.


Sedangkan dari tempat Dita bersembunyi, sayup-sayup mulai terdengar derap langkah kaki beberapa orang yang semakin mendekat ke arahnya. Suara itulah yang membuat Dita sedikit was-was. Was-was jika persembunyiannya diketahui oleh keempat orang itu. Sembari menutup hidung, Dita mencoba untuk tetap bertahan berada di dalam bak pengangkut sampah ini.


Tikus, kecoa dan entah hewan-hewan apa lagi nampak berlalu lalang di bawah kaki Dita. Ingin rasanya wanita itu menjerit, namun ia berusaha mati-matian untuk menahannya. Pastinya akan sangat sia-sia jika sampai persembunyiannya ini diendus oleh Dewa dan rombongannya.


"Bagaimana Pak? Apakah Bapak melihat ada keanehan di tempat ini? Maksud saya tanda-tanda keberadaan Dita?" ucap Dewa di tengah-tengah istirahatnya.


Kedua polisi itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Pak, saya rasa mantan istri Bapak tidak bersembunyi di di sekitar sini. Karena di sini hanya ada sampah-sampah."


"Lalu sekarang apa yang harus saya lakukan Pak? Saya tetap ingin wanita itu tertangkap dan segera mempertanggungjawabkan semua perbuatannya," sungut Dewa dengan seringai yang dipenuhi oleh kebencian.


Polisi itu hanya mengulas sedikit senyumnya. "Pak Dewa tenang saja. Kami pasti akan berupaya untuk mencari keberadaan mantan istri Bapak. Namun akan saya lanjutkan besok, mengingat malam semakin larut."


"Baiklah kalau begitu Pak. Saya menurut saja dan tinggal menunggu kabar baiknya."


Pada akhirnya Dewa, Krisna dan kedua petugas kepolisian itu kembali berbalik dan mulai meninggalkan tempat ini. Setelah bayangan tubuh empat lelaki itu ditelan oleh malam dan tak nampak lagi di penglihatannya, gegas Dita mulai berdiri dari posisi jongkoknya. Wanita itu menepuk-nepuk celana dan bajunya yang terlihat begitu kotor dan mengeluarkan aroma yang menyengat.


Dita tersenyum girang. Ia teramat bahagia bisa lolos dari kejaran polisi dan mantan suaminya. "Meski kemarin rencanaku gagal total, aku pastikan setelah ini rencana yang aku buat akan sukses besar." Dita menjeda ucapannya dan kembali menatap arah depan dengan pandangan menerawang. "Bersiap-siaplah mas Dewa, jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan aku biarkan seorang wanita pun yang memilikimu!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2