
Suasana riuh gelak tawa yang sebelumnya begitu mendominasi ruangan ini, mendadak disergap oleh keheningan nan dingin. Sepasang mata milik oma Widuri dan Dewa sama-sama terbelalak sempurna tatkala menangkap tubuh sosok seorang laki-laki yang begitu familiar di mata mereka. Ya, dialah Kunto Wisnu Aji. Setelah kedua orang itu menyerukan nama Wisnu secara bersamaan, cucu dan oma itu hanya bisa terdiam, membisu, dan terpaku. Nampak jelas bahwa keduanya begitu terkejut dengan kehadiran Wisnu di malam hari ini.
"Mas Dewa, Oma, mengapa kalian sama-sama bengong?"
Mara yang memang tidak paham dengan siapa yang hadir di ruangan ini hanya menatap heran ekspresi wajah yang ditampilkan oleh suami dan sang oma. Pasalnya bibir mereka sama-sama menganga lebar dan tidak mampu untuk berbicara apapun.
"Aaahhhhh... Kamu pasti Mara? Istri dari Dewa?"
Rasa keingintahuan Mara sepertinya akan segera musnah tatkala seorang wanita cantik yang berdiri di samping lelaki asing itu berhasil menebak dengan benar.
Mara anggukkan kepalanya perlahan. "Iya Mbak, saya Mara. Emmmmm Mbak ini siapa ya?"
"Perkenalkan, aku Dira!" Wanita bernama Dira yang tak lain merupakan istri dari Wisnu itu mengulurkan tangan. Memperkenalkan diri sebagai sama-sama cucu menantu dari oma Widuri.
"Ooohhh... Mbak Dira? Senang berkenalan dengamu, Mbak!"
Tidak kalah ramah, Mara menyambut uluran tangan Dira dan menyunggingkan senyum termanis yang ia punya. Sebagai sebuah isyarat jika ia benar-benar bahagia bertemu dengan sosok wanita itu.
Setelah acara memperkenalkan diri dengan istri sang adik ipar telah selesai, Dira menggiring sorot matanya untuk menatap lekat wanita berusia senja yang berdiri di dekat sang suami. Dira mendekat, meraih tangan oma Widuri, menundukkan tubuhnya dan mencium punggung tangan sang oma.
"Dira kembali, Oma. Oma apa kabar? Maafkan Dira dan mas Wisnu karena empat tahun belakangan ini kami tidak pernah menjenguk Oma. Itu semua karena kesibukan mas Wisnu dalam mengelola bisnisnya."
Pandangan mata oma Widuri menerawang. Seutas senyum getir terbit begitu saja di bibir wanita berusia senja itu. Ucapan cucu menantunya ini sama sekali tidak membuatnya bersimpati namun justru sebaliknya, oma Widuri terkesan masa bodo dengan ucapan Dira.
__ADS_1
"Tidak mengapa. Kamu tidak perlu minta maaf karena aku tidak terlalu mengharap kedatangan kalian." Oma Widuri melepaskan tangan yang masih digenggam erat oleh Dira yang seketika membuat Dira kembali menegakkan kepalanya. "Kapan kalian akan kembali ke Surabaya? Maksudku, berapa lama kalian liburan di kota ini?"
Pertanyaan oma Widuri sukses menohok sudut hati terdalam Dira dan Wisnu. Sepasang suami istri itu nampak sama-sama saling melempar pandangan dengan memasang raut wajah pias, tidak terbaca. Mungkin, hati keduanya sama-sama berbisik jika sang oma sungguh sama sekali tidak mengharapkan kedatangan mereka. Mereka baru saja tiba di kota ini dan menginjakkan kaki mereka di rumah ini, namun sudah ditanyakan kapan mereka akan kembali. Bukankah itu sebuah pernyataan mengusir secara halus?
Dira tersenyum kikuk. Ingin rasanya ia menenggelamkan wajahnya di dalam bak mandi karena ucapan oma Widuri itu terdengar begitu menyudutkan posisinya sebagai seorang cucu menantu yang mungkin... sudah tidak lagi diharapkan.
"Dira dan mas Wisnu akan menetap di sini, Oma. Kami sadar bahwa keputusan kami di Surabaya merupakan sebuah kekeliruan. Karena bagaimanapun juga kami harus menemani Oma di masa tua Oma, dan tidak mungkin meninggalkan Oma sendirian."
Oma Widuri terkekeh geli namun terdengar sinis seakan menganggap ucapan Dira sebagai omong kosong belaka dan sangat menggelitik telinga. "Kalian tidak perlu repot-repot untuk menemaniku ataupun menjagaku di hari tuaku, karena saat ini ada Mara dan juga Dewa yang tidak akan pernah meninggalkanku." Oma membalikkan tubuh dan mulai mengambil langkah untuk meninggalkan ruangan ini. Namun baru dua langkah kakinya terayun, oma Widuri melirik ke arah Mara, cucu menantu kesayangannya. "Sayang, oma istirahat terlebih dahulu. Kamu juga segera beristirahat ya agar cucu buyut Oma yang masih berada di dalam perutmu juga bisa segera ikut beristirahat."
"Iya Oma, sebentar lagi Mara akan beristirahat. Oma juga segera tidur ya. Semoga tidur Oma nyenyak dan mimpi indah."
Oma Widuri mengangguk pelan kemudian kembali mengayunkan langkah kakinya. Sedangkan orang-orang yang masih berada di ruangan ini hanya sama-sama berdiri terpaku, terdiam, membisu dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Pak Kasim, apa yang ada di dalam pikiranmu dengan kedatangan nyonya Dira dan tuan Wisnu?"
"Kalau tuan Wisnu aku rasa ia tidak memiliki niat buruk kembali ke rumah ini Mbok, tapi jika nyonya Dira sepertinya.... "
Kasim menggantung ucapannya, khawatir jika apa yang ia katakan hanyalah sebuah prasangka buruk yang tidak beralasan. Namun sepertinya Darmi pun sependapat dengan prasangka Kasim dengan ucapan yang terlontar dari bibirnya.
"Ya, sepertinya nyonya Dira memiliki niat buruk yang tersembunyi. Kita harus lebih berhati-hati, Pak. Terlebih untuk keselamatan nyonya besar dan juga nyonya muda. Kamu tahu sendiri bukan bagaimana karakter nyonya Dira?"
Kasim mengangguk mantap. "Iya Mbok, kita harus lebih waspada."
__ADS_1
***
"Apa sebenarnya yang menjadi niat kak Wisnu kembali ke Bogor?"
Berdiri di balik jendela ruang kerja sembari melihat suasana malam yang tersaji di luar sana, Dewa melontarkan sebuah pertanyaan yang terdengar menohok bagi sang kakak yang saat ini tengah duduk di sofa yang berada di ruangan ini.
Lelaki itu menundukkan kepalanya. Mengigat respon sang oma tatkala menyambut kepulangannya, ia merasa menjadi seorang cucu yang sudah dilupakan dan tidak diharapkan.
Wisnu membuang nafas sedikit kasar untuk melepaskan diri dari belenggu rasa sesal yang terasa menyesakkan dada. "Ternyata Tuhan menegurku dengan cara seperti ini untuk kembali menyadarkanku Wa. Sadar bahwa aku sudah berbuat sesuatu yang benar-benar telah melukai oma."
Dahi Dewa mengernyit, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh kakaknya ini. "Maksud Kakak apa? Teguran dari Tuhan yang seperti apa yang Kakak maksud."
"Aku tertipu dengan sebuah investasi bodong, Wa. Uangku dibawa lari semua oleh orang itu. Dan usaha properti yang aku geluti, sudah satu tahun terakhir ini tidak menghasilkan apapun." Wisnu menjeda sejenak ucapannya untuk menarik nafas dalam-dalam dan meraup oksigen yang berada di dalam ruangan ini. "Aku sudah bangkrut Wa. Aku sudah bangkrut!"
Ada rasa prihatin yang menggelayuti hati Dewa tatkala mendengar sang kakak telah bangkrut. Namun tetap saja apa yang ia lakukan terlihat sedikit tidak etis. Ia baru ingat pulang ketika apa yang ia usahakan telah lenyap tanpa bekas.
"Kakak seperti tidak tahu malu. Dulu Kakak bahkan tidak memikirkan bagaimana hancurnya hati Oma ketika Kakak meninggalkannya pergi dalam kondisi pabrik yang tengah pailit. Dan sekarang Kakak kembali di saat pabrik oma sudah kembali bangkit? Apakah Kakak bermaksud untuk mengambil alih pabrik?"
Seketika Wisnu menggelengkan kepalanya. Karena sungguh ia tidak pernah memiliki niat untuk mengambil alih pabrik yang sudah mati-matian dibangkitkan kembali oleh adiknya ini. "Tidak Wa, Kakak benar-benar tidak memiliki niat seperti itu. Kakak kembali ke sini untuk menebus semua kesalahan yang pernah Kakak lakukan."
"Ya, aku percaya dengan ucapan Kakak. Tapi bagaimana dengan kak Dira? Aku rasa, dia memiliki rencana busuk yang akan memporak-porandakan ketentraman dan ketenangan rumah ini!"
.
__ADS_1
.
. bersambung....