Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 43 : Gadis Lima Milyar


__ADS_3


"Apakah yang kita perlukan sudah kamu persiapkan semua? Aku tidak ingin jika sampai rencana ini gagal karena kelalaianmu. Kamu tahu bukan, jika uang lima milyar sudah berada di depan mata kita?"


Sembari membereskan sedikit pakaian yang ia bawa untuk menginap di penginapan kecil ini, Tanti berusaha memastikan kepada sang anak, bahwa apa yang mereka perlukan untuk membuat Mara bisa kembali kepada juragan Karta tidak tertinggal sedikitpun.


Sejak kembali menemukan keberadaan Mara, Tanti merasa jika saat ini bukan lahan jati yang ia perlukan. Tanti berpikir jika ia mendapatkan lahan jati, akan sangat sulit baginya untuk mengubah bentuk lahan jati itu menjadi pundi-pundi uang karena ia harus disibukkan dengan mencari pembeli lahan jati yang belum tentu semua orang mau untuk membelinya. Pada akhirnya, saat pertemuan terakhir Tanti dengan juragan Karta, menghasilkan sebuah kesepakatan jika tiga hektar lahan jati yang sempat dijanjikan oleh juragan Karta, diganti dengan sejumlah uang senilai lima milyar.


Uang lima milyar yang begitu menyilaukan matanya seakan semakin menjadi pemantik semangat untuk bisa segera membawa Mara ke hadapan juragan Karta. Sehingga, wanita paruh baya itu berupaya mati-matian agar kali ini rencananya benar-benar berhasil.


Puspa hanya tersenyum miring mendengarkan celotehan sang ibu. "Apakah Ibu lupa bahwa yang kita perlukan hanya ini dan ini?"


Puspa memperlihatkan dua buah benda yang berada di dalam genggaman tangannya. Yang tak lain adalah selembar kain dan juga sebuah botol yang entah apa isinya.


Tanti tersenyum lebar. "Bagus, dua benda itulah yang akan mengantarkan kita ke depan gerbang kekayaan yang melimpah."


Puspa, gadis belia seusia Mara itu juga tidak kalah girang. Pikirannya kembali menerawang, membayangkan saat-saat ia menjadi orang kaya. Di mana ia hanya tinggal duduk ongkang-ongkang kaki sedangkan segala keperluannya sudah dilayani oleh para pelayan.


"Anak buah juragan Karta kapan datang Bu?"


"Sebentar lagi, mereka akan sampai. Dan mereka akan membantu kita untuk mengeksekusi gadis sialan itu."


"Lalu, setelah Mara berhasil dibawa oleh juragan Karta, kita akan pergi kemana? Bukankah Ibu belum memiliki rencana kemana kita harus menghabiskan uang lima milyar itu?"


Tanti memutar kedua bola matanya mencoba untuk menelaah ucapan sang anak. Ia memang sama sekali belum memiliki rencana apapun kemana ia harus pergi setelah uang lima milyar itu ia dapatkan. Namun tak selang lama, seutas senyum manis terbit di bibir wanita paruh baya itu.


"Kamu ingat nomor plat mobil yang dipakai oleh lelaki yang bersama Mara?"


Puspa mencoba mengingat-ingat apa yang menjadi pertanyaan sang ibu dan ia pun mengangguk. "Iya aku ingat, Bu. Nomor plat lelaki itu F."


"Dan apakah kamu tahu, F itu plat nomor kota mana?"


Puspa mencoba mengingat-ingat pelajaran tentang plat nomor kendaraan yang pernah ia dapatkan di bangku SMP, namun tetap saja ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas. "Tidak Bu. Aku tidak ingat."


Tanti hanya bisa berdecak sembari membuang nafas kasar. Ia sedikit gemas karena hal sepele seperti ini, tidak diketahui oleh Puspa.


"Rugi aku membiayai kamu bersekolah sampai SMA jika hal-hal sepele seperti ini tidak kamu ketahui. Setelah uang lima milyar ada di tangan kita, kita akan ke Bogor. Lelaki yang bersama gadis sialan itu berasal dari sana."

__ADS_1


"Itu berarti di sana aku bisa mendekati lelaki itu? Dan ada kemungkinan lelaki itu yang akan menjadi suamiku?" ucap Puspa meminta jawaban kepada sang ibu seakan mencari pembenaran bahwa lelaki itulah yang kelak akan menjadi suaminya.


"Entah lelaki itu atau bukan yang akan menjadi suamimu, yang pasti dengan uang lima milyar yang kita miliki, kamu bisa merubah penampilanmu. Dengan demikian akan banyak laki-laki kaya raya yang terpesona dengan kecantikanmu."


Wajah Puspa semakin berbinar. "Itu artinya, kita bisa semakin kaya raya?"


"Ya, itu benar sekali." Tanti melirik penunjuk waktu yang ada di layar ponselnya. "Ini saatnya. Ayo kita bersiap-siap! Anak buah juragan Karta sudah menunggu kita di luar."


Ibu dan anak yang gila harta itu melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari kamar. Dan benar saja, saat tiba di depan penginapan, mereka sudah ditunggu oleh beberapa anak buah juragan Karta yang siap membantu Tanti untuk menjalankan rencananya.


"Di mana juragan Karta?" tanya Tanti kepada beberapa laki-laki berbadan tegap di depannya ini.


"Juragan menunggu di mobil, Nyonya."


Tanti hanya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, mari kita ke tempat gadis sialan itu!"


"Mari Nyonya!"


Inilah akhir kebebasanmu Ra. Setelah ini, hidupmu akan terbelenggu di dalam sangkar emas juragan Karta, hahahaha...


Mara berdiri di depan cermin sembari menatap lekat pantulan bayangan yang berada di dalam cermin itu. Sosok wanita yang terlihat begitu cantik dengan sebuah gaun panjang berwarna gold yang seakan kian menambah kecantikan yang ia miliki. Seperti biasa, salah seorang pegawai resort yang sempat menjadi MUA dadakan untuknya, malam ini ia juga ia mintai tolong untuk memoles wajahnya dengan make-up. Dan bisa dipastikan, hasil polesan pegawai resort itu benar-benar membuat wajah Mara terlihat semakin cantik luar biasa.


"Nona, apakah mau saya antar sampai ke tempat tuan Dewa?"


Sembari membereskan peralatan make-up, pegawai resort itu menawarkan bantuannya untuk mengantar Mara sampai ke tempat Dewa berada. Sama seperti saat pertama kali Mara dan Dewa mengadakan acara dinner untuk kali pertama, beberapa waktu lalu.


Masih sambil menatap lekat bayang wajahnya di cermin, Mara menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Mbak. Biar nanti saya yang datang sendiri ke tempat tuan Dewa."


"Baiklah kalau begitu Nona. Karena tugas saya sudah selesai, saya permisi terlebih dahulu."


"Terimakasih banyak untuk bantuannya ya Mbak. Semoga Mbak selalu berbahagia."


Pegawai resort itu hanya bisa mengulas sedikit senyumnya dan mengangguk perlahan. "Terimakasih Nona. Semoga Nona juga selalu berbahagia."


"Aamiin."


Pegawai resort mengayunkan kakinya untuk keluar dari kamar Mara. Sedangkan gadis itu masih saja sibuk dengan pantulan wajahnya yang berada di dalam cermin. Meskipun saat ini ia dilanda oleh rasa gugup yang begitu luar biasa, namun tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia yang terasa begitu membuncah di dalam dadanya.

__ADS_1


Berkali-kali Mara menarik dan membuang nafas, berupaya untuk mengendalikan semua rasa gugup yang datang menyerang. Meski ia tahu apa yang akan disampaikan oleh Dewa, namun tetap saja ia terlalu nervous untuk bertemu dengan Dewa. Ia tidak bisa membayangkan perlakuan manis seperti apa lagi yang akan Dewa lakukan untuknya.


"Jangan gugup Mara! Percayalah, bahwa tuan Dewa adalah laki-laki yang telah dikirimkan oleh Tuhan untuk kebahagiaanmu. Dan yakinlah bahwa melalui tuan Dewa lah kamu akan kembali mendapatkan kebahagiaan yang sempat hilang dari dalam hidupmu."


Untuk menutupi kegugupannya, Mara mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Malam ini, mungkin akan menjadi malam yang begitu indah untuknya dan mungkin tidak akan pernah dapat ia lupakan. Sebuah malam dimana lelaki asing yang baru beberapa hari ia temui akan mengucapkan sesuatu, yang menjadi sebuah pengikat akan hubungan yang mereka jalani selanjutnya. Kata-kata yang mungkin akan sama-sama membuat keduanya merasakan kebahagiaan dengan saling mencurahkan rasa kasih dan sayang satu sama lain.


Mara mengambil secarik kertas yang sempat diberikan oleh Pramono tatkala ia lari dari kejaran juragan Karta. Ia menatap lekat secarik kertas itu. Secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel Pramono. Namun entah mengapa hanya dengan menatap kertas itu ia merasa lebih dekat dengan sang ayah. Mungkin hal itu bisa terjadi karena melalui kertas pemberian Pramono itulah yang akan menjadi jalan untuk kembali berkumpul bersama sang ayah. Seperti biasa, ia menyelipkan secarik kertas itu di belahan dadanya.


"Ini waktunya Ra. Semangat!"


Mara mengayunkan kakinya untuk keluar kamar. Perlahan, ia melangkahkan kakinya untuk menuju tempat di mana Dewa menunggu. Hatinya serasa bergemuruh layaknya ombak yang bergulung-gulung di lautan. Keringat dinginnya sudah keluar semua melalui pori-pori kulit putih mulusnya. Namun, itu semua sama sekali tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.


Suasana pantai yang begitu sepi dan sunyi di malam ini, sama sekali tidak menyurutkan semangat Mara untuk bisa segera sampai ke tempat di mana Dewa menunggu. Langkah kakinya menyusuri hamparan pasir pantai yang membentang luas, diiringi dengan degup jantung yang terdengar tiada beraturan seolah menjadi simfoni-simfoni cinta yang siap ia nyanyikan bersama lelaki asing yang baru beberapa hari ia temui.


Tuan Dewa.... Sepertinya aku memang sudah jatuh hati kepadamu.


Mara semakin bersemangat untuk memangkas jarak yang terbentang diantara dirinya dan Dewa dengan mengambil langkah kaki lebar. Ia tidak memperhatikan keadaan sekitar. Yang ia perhatikan hanyalah arah depan di mana Dewa menunggu. Tanpa ia sadari di belakang punggungnya ada beberapa orang yang mengikutinya dan....


Hap.....


Mara merasakan ada seseorang yang membekapnya dari belakang. Saat ia mencoba untuk meronta dari bekapan seseorang yang berada di balik punggungnya ini, tiba-tiba kepalanya terasa berat, pandangannya menggelap, ia terhuyung dan tidak membutuhkan waktu lama, gadis itu hilang kesadaran.


"Inilah akhir kebebasanmu Ra. Selamat datang uang lima milyar.... Haahaaha.. Haaahhaa...."


.


.


. bersambung...


Waaaaaa.... Mara tertangkap!! Lalu bagaimana setelah ini? Apakah Dewa bisa menyelamatkan Mara? Atau malah sebaliknya? Heeehee penasaran? Penasaran? Kita lihat episode selanjutnya ya kak..😘😘😘


Sekali lagi saya katakan, untuk novel ini memang sengaja saya membuat alur panjang sebelum para tokoh utama mendapatkan kebahagiaan mereka ya Kak.. Jadi jangan bosan untuk selalu menemani perjalanan Mara dan juga Dewa yah...🤗🤗🤗


Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...


Salam love, love, love ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2