
Dita terlihat tengah sibuk berkutat di depan cermin besar yang berada di dalam kamar, sembari memutar-mutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Senyum lebar pun terbit di bibirnya.
"Sempurna. Dengan seperti ini, aku pasti bisa kembali mengingatkan mas Dewa akan saat pertama kita menikah dahulu. Karena gaun yang aku pakai ini merupakan salah satu gaun kesukaan mas Dewa. Dia begitu menyukai ketika aku memakai gaun ini."
Sembari menatap lekat bayangan tubuhnya yang terpantul di dalam cermin, pikiran Dita kembali menerawang jauh. Mencoba memutar kembali memory otak akan kebersamaan yang pernah mereka lewati, dimana Dewa selalu memuji kecantikan Dita, tatkala gaun ini membalut tubuhnya.
Pikirannya yang menerawang tidak terasa membuatnya senyum-senyum sendiri. Arman yang kebetulan melintasi depan kamar sang anak hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki paruh baya itu mengayunkan kakinya untuk mendekat ke arah sang anak, untuk memastikan bahwa anaknya ini tidak terkena penyakit gila.
"Ta, ada apa denganmu? Mengapa kamu senyum-senyum sendiri seperti ini? Kamu tidak gila, kan?"
Perlahan, Arman menepuk pundak Dita. Berupaya untuk mengembalikan kesadaran sang anak. Ia khawatir jika terlalu lama dibiarkan seperti ini sang anak akan menambah daftar orang gila yang berada di kota ini.
Dita terkesiap. Ia menoleh ke arah samping, dan terlihat sang ayah sudah berdiri di sana. "Papa bicara apa? Tidak, aku tidak gila. Aku masih waras. Bahkan sangat waras."
"Syukurlah kalau begitu. Sedari tadi Papa lihat kamu senyum-senyum sendiri seperti orang gila saja."
Dita mendengkus lirih. Bisa-bisanya papanya ini menganggapnya gila. "Menurut Papa, bagaimana penampilanku kali ini? Apakah sempurna?"
Arman menatap lekat penampilan Dita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Arman akui dalam hati bahwa sang anak memang masih terlihat cantik di usianya yang memasuki angka tiga puluh lima tahun ini. Namun, masih tetap kalah cantik dengan wanita yang fotonya terpampang sangat jelas di dalam undangan resepsi pernikahan yang dikirimkan oleh keluarga Dewa.
"Ya, ya, ya, kamu terlihat sempurna Ta. Sebuah hal yang wajar jika kamu terlihat sempurna, karena Papa lihat kamu sudah berjam-jam berdiri di depan cermin ini dengan gaun yang berbeda-beda," ucap Arman sembari menyapu pandangannya ke seluruh sudut kamar sang anak.
__ADS_1
Di atas ranjang, tergeletak berbagai macam gaun pesta dengan berbagai warna dan juga model. Lelaki paruh baya itu tidak habis pikir, bagaimana cara sang anak mencoba gaun-gaun ini. Padahal memakai gaun pesta seperti ini merupakan salah satu memakai pakaian dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi bukan?
Dita tergelak, ia ingat bagaimana sibuknya ia mencoba satu persatu gaun pesta yang ada di dalam almari pakaiannya. Hanya demi menarik perhatian sang mantan suami, agar ia kembali terpesona akan kecantikan yang ia miliki, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sudah hampir dua jam wanita itu berkutat di depan cermin dengan gaun yang berbeda-beda.
Dita tersenyum simpul. "Ini salah satu upayaku untuk menarik perhatian mas Dewa, Pa. Aku ingin mas Dewa kembali menatap dan mengakui keberadaanku. Dengan gaun ini, aku yakin bisa kembali menumbuhkan benih-benih cinta yang ada di dalam hati mas Dewa kepadaku."
Arman terdengar sedikit berdecak. Rupa-rupanya sang anak belum mau menyerah akan upayanya untuk merebut kembali Dewa. "Papa ingatkan sekali lagi Ta, jangan melakukan hal-hal yang sudah pasti akan sia-sia hasilnya. Dewa sama sekali tidak akan terpikat oleh kedatanganmu."
Dita terperangah mendengar ucapan sang ayah. "Apa maksud Papa?"
Arman mengendikkan bahunya. "Papa rasa kamu kalah cantik dengan istri Dewa saat ini. Bukankah kamu juga sudah melihat wajah istri Dewa di dalam undangan yang kemarin kita terima? Wanita itu terlihat jauh lebih cantik dari kamu."
Dita berdecih, seakan menyepelekan pendapat yang diutarakan oleh Arman. "Cih, apa tidak sedikitpun terbesit dalam pikiran Papa, bahwa apa yang nampak dalam undangan itu salah satu permainan efek kamera? Bisa saja wajah gadis itu diedit totalitas oleh sang fotografer sehingga menghasilkan sebuah gambar yang terlihat begitu sempurna." Dita sejenak menghirup udara dalam-dalam sebelum ia lanjutkan ucapannya. "Lagipula sebenarnya Papa ini berada di pihak siapa? Aku yang merupakan anak kandung Papa, tapi mengapa Papa malah memuji wanita lain?"
Kesal dan dongkol, itulah yang dirasakan oleh Dita. Maksud hati ingin menyenangkan diri dengan pujian yang terucap dari mulut sang papa, pada akhirnya dia justru memuji kecantikan istri Dewa.
Dita hanya bisa terperangah. Mulutnya menganga lebar membentuk huruf O. Bisa-bisanya sang papa membela wanita lain yang sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya.
"Pa, bisakah Papa tidak terus-menerus memuji istri mas Dewa saat ini? Aku ini sedang berupaya untuk menarik perhatian mas Dewa lagi, tapi mengapa Papa malah terlihat tidak setuju seperti itu? Lagipula akan sangat bermanfaat untuk perusahaan Papa bukan, jika aku berhasil kembali ke sisi mas Dewa?"
Arman menghela nafas dalam-dalam. Ia teringat akan kebaikan-kebaikan sang mantan menantu dalam membantu mengembangkan bisnis yang ia geluti. Saat bisnis yang ia geluti hampir kolaps karena ditipu oleh salah satu investor, sang mantan menantu dengan tangan terbuka, membantunya untuk keluar dari kepelikan itu.
"Iya, itu semua akan bermanfaat. Tapi bukankah kamu sendiri yang sudah menghancurkan itu semua? Dengan cara berselingkuh di belakang Dewa dengan security di rumah yang kamu tinggali sendiri?"
__ADS_1
Ucapan sang papa sukses menohok salah satu bagian di hatinya. Dita membuang nafas sedikit kasar mencoba membuang segala perasaan asing yang tetiba menggelayuti hatinya.
"Iya, aku memang bersalah atas apa yang pernah aku lakukan Pa. Oleh karena itu, aku ingin menebus semua kesalahan itu dengan kembali mendekati mas Dewa pastinya untuk menjadi istri mas Dewa lagi."
Arman tergelak. "Kalau mimpi jangan terlalu tinggi, Ta. Jika jatuh, pasti rasanya akan sangat sakit!"
Arman mencoba untuk menyadarkan sang anak yang benar-benar telah terkena syndrom halu yang luar biasa. Namun bukan Dita namanya jika tidak kekeuh pada pendiriannya.
"Tidak Pa, aku tidak akan menyerah. Aku masih memiliki satu keyakinan bahwa suatu hari nanti, aku bisa kembali untuk menjadi pendamping hidup mas Dewa."
Arman kembali berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terserah kamu saja Ta. Papa hanya bisa mengingatkan satu hal kepadamu. Jangan melakukan hal-hal yang justru akan mempermalukan dirimu sendiri."
Arman berbalik badan. Ia ayunkan kakinya untuk keluar dari kamar pribadi milik Dita. Sedangkan Dita hanya bisa menatap kepergian sang papa dengan seutas senyum sinis yang tersinggung di bibirnya.
Akan aku buktikan kepadamu Pa, bahwa aku bisa menjadi istri mas Dewa lagi. Aku sangat paham bagaimana mas Dewa mencintaiku. Dan aku percaya jika tidak akan semudah itu, mas Dewa melupakan ataupun menghempas segala rasa cinta yang ia miliki untukku.
Dita kembali menautkan pandangannya ke arah pantulan cermin di hadapannya. Ia meraih kotak makeup, dan perlahan, mulai memoles wajahnya dengan make-up yang ia miliki itu. Mulai dari cushion, pelembab, bedak, blush on, maskara, eyeliner, eye shadow , dan juga lipstick.
Wanita itu tersenyum lebar, tatkala wajahnya terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.
Aku datang, mas Dewa. Aku percaya, pandangan matamu pasti akan terpaku pada kecantikanku.
.
__ADS_1
.
. bersambung...