Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 85 : Tiada


__ADS_3


Malam mulai berpamitan. Kegelapan yang sebelumnya merajai, kini perlahan mulai terganti dengan kilau emas sang mentari. Sebuah perputaran waktu sebagai pertanda hari baru untuk para penduduk bumi. Diiringi dengan suara deburan ombak yang memecah batu karang, terhempas di bibir pantai dan hanya menyisakan buih-buih kemudian hilang, meresap melalui pori-pori pasir pantai.


Mara mengerjabkan mata untuk meraih alam sadarnya setelah semalam dipeluk oleh lautan mimpi yang sempurna. Dahi wanita itu sedikit mengerut tatkala ada sesuatu yang berat yang membebani tubuhnya. Benar saja, kaki kokoh Dewa ternyata melingkari tubuhnya.


"Mas... Geser sedikit... Berat!"


"Hemmmmm... Apa Sayang? Mau lagi?"


Masih dengan mata terpejam, Dewa menanggapi perkataan Mara. Entah apa yang menjadi maksud ucapannya, lelaki itu justru semakin mengeratkan pelukannya.


Mara berdecak lirih. Saat merasakan tubuh sang suami mengungkungnya dengan erat. "Issshhh... Mas, ayo bangun. Sudah siang Mas!"


Kali ini, Mara tidak hanya membangunkan sang suami hanya dengan kata-kata, namun juga ia tambah dengan sebuah cubitan kecil di perut suaminya ini. Benar saja, usahanya ini membuahkan hasil. Dewa mulai mengerjabkan mata dan perlahan kelopak matanya terbuka.


"Selamat pagi Sayang!" ucap Dewa sembari sekilas mengecup kening sang istri.


"Pagi juga Mas. Ayo bangun, ini sudah siang Mas!"


Dewa memegang wajah Mara dengan punggung tangannya. "Sudah tidak panas. Kamu sudah sembuh Sayang?"


Mara mengangguk pelan. "Iya Mas, aku sudah sembuh. Ayo bangun. Aku mau ke kamar Ayah."


Dewa tersenyum simpul. Ada perasaan lega tatkala mengetahui kesehatan sang istri sudah pulih. "Baiklah Sayang. Ada baiknya kamu mandi terlebih dahulu, setelah itu baru ke kamar ayah."


"Baik Mas!"


***


"Selamat pagi Ayah! Bagaimana keadaan Ayah hari ini? Semoga Ayah senantiasa sehat ya!"


Sembari menyibakkan kain gordyn yang masih menutup dengan sempurna jendela kamar sang ayah, Mara dengan penuh keceriaan menyapa sang ayah yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Suasana kamar yang sebelumnya temaram, kini mulai terlihat terang benderang dengan masuknya anak-anak sinar matahari ke dalam kamar sang ayah.


Mara masih berdiri di depan jendela sembari menatap lekat hamparan laut biru yang terbentang luas di depan sana. Ia menghirup udara dalam-dalam dan hanya menyisakan rasa sejuk yang teramat dalam.

__ADS_1


"Ayah lihat bagaimana indahnya pemandangan di luar sana? Pemandangan ini benar-benar cantik Ayah. Setelah sarapan, aku akan mengajak Ayah untuk berkeliling pantai. Bagaimana Yah? Ayah mau bukan?"


Hening, tiada jawaban sama sekali dari seorang laki-laki yang diajak berbicara oleh Mara. Mara yang masih terpaku dengan sajian alam yang begitu memanjakan mata ini, sedikit mengerutkan kening karena sang Ayah sama sekali tidak memberikan respon.


Mara membalikkan badannya. Ia ayunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah ranjang sang Ayah. Wanita itu duduk di tepi ranjang dan meraih tangan sang ayah.


"Ayah...!"


Baskara yang sebelumnya memejamkan mata perlahan mulai membuka kelopak matanya. Lelaki paruh baya itu tersenyum manis di hadapan Mara. Entah mengapa Mara merasa pagi ini sang ayah terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.


"Makan!"


Hanya satu kata itu saja yang keluar dari bibir Baskara. Mara tersenyum. "Ayah ingin makan?"


Hanya dijawab dengan anggukan kepala dari Baskara saja, Mara sudah paham bahwa sang Ayah ingin sarapan pagi.


"Ayah tunggu sebentar di sini ya. Biar Mara ambilkan!"


Mara mulai bangkit dari posisi duduknya. Gegas, ia berlari kecil menuju ke bagian dapur untuk mendapatkan sarapan pagi untuk sang ayah. Setelah apa yang ia butuhkan telah didapat, buru-buru Mara kembali ke kamar sang ayah.


"Ayah, bangun yuk. Sudah Mara bawakan sarapan pagi untuk Ayah. Ayah sarapan dulu mumpung masih hangat. Setelah itu Ayah bisa tidur kembali asalkan perut Ayah sudah terisi," Mara berujar sembari membangunkan sang ayah.


Hening, tidak ada jawaban sama sekali.


"Ayah?"


Hening...


"Ayah?"


Hening...


"Ayah?" panggil Mara mulai sedikit panik.


Mara mencoba mengguncang tubuh sang ayah. Namun sama sekali tidak ada respon. Hatinya mulai diselimuti ke khawatiran, khawatir jika apa yang ada di dalam pikirannya itu benar adanya.

__ADS_1


Dengan gemetar, tangan Mara meraih tangan Baskara. Benar saja, tangannya sudah terasa sedikit dingin. Untuk memastikan, Mara mencoba memegang pergelangan tangan sang ayah. Mencari titik nadi di tangan ayahnya ini.


Kedua bola mata Mara terbelalak dan membulat sempurna. Bibinya menganga lebar. Jantung Mara seolah dipaksa untuk berhenti atas keterkejutan yang ia rasakan. Ia sama sekali tidak merasakan denyut nadi di pergelangan tangan sang ayah. Seketika bulir-bulir bening yang berkumpul di pelupuk matanya mulai mengalir deras. Gegas, wanita itu memeluk tubuh sang ayah dan menenggelamkan wajahnya di dada Baskara.


"Ayaaaaahhhhh......!!!"


Dewa yang baru saja akan menyusul sang istri di kamar sang mertua, tetiba dikejutkan oleh teriakan sang istri dari dalam kamar mertuanya. Lelaki itu sedikit keheranan karena tidak biasanya sang istri berteriak histeris seperti itu. Gegas, Dewa menghampiri sang istri untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Sayang... Ada apa? Mengapa kamu berteriak seperti itu Sayang?"


Mara masih menangis tergugu di dada bidang sang ayah. Nafas wanita itu juga terlihat tidak beraturan karena menahan rasa sesak di dalam dadanya. "Ayah, Mas.... Ayah!"


Dahi Dewa sedikit mengerut. Ia masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Ayah? Ada apa dengan Ayah, Sayang?"


"Ayah pergi Mas! Ayah pergi meninggalkan aku!"


Tubuh Dewa melonjak seketika. Ia meraih pergelangan tangan sang ayah mertua dan benar saja, ayah mertuanya ini telah tiada. Dewa duduk di samping Mara. Ia tarik tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Mara yang sebelumnya menumpahkan semua air matanya di dada Baskara, kini beralih di dada bidang milik sang suami. Wanita itu masih tergugu di sana.


"Ayah, Mas.... Ayah!" Mara menjeda ucapannya. "Ternyata apa yang dikatakan oleh Ayah kemarin adalah salah satu firasat bahwa Ayah memang akan meninggalkan aku. Aku harus bagaimana Mas? Aku harus bagaimana?"


Dewa menghujani pucuk kepala Mara dengan kecupan-kecupan lembut dan penuh sayang. Ia usap punggung sang istri berupaya untuk menenangkannya. "Sabar ya Sayang.... Sabar. Ini sudah menjadi takdir dari Tuhan bahwa usia ayah hanya sampai hari ini."


"T-tapi aku belum bisa membahagiakan ayah, Mas. Aku belum bisa membahagiakan ayah di hari tuanya. Aku gagal Mas, aku gagal."


"Sssstttt... Sayang, dengarkan aku!" Dewa sedikit mengurai pelukannya. Ia tatap netra sang istri yang sudah berderai air mata itu dengan lekat. Perlahan, Dewa seka bulir-bulir bening yang membasahi pipi sang istri. "Kamu sudah memberikan yang terbaik untuk ayah. Pastinya dengan bakti dan juga kasih sayang yang telah kamu curahkan untuk beliau di sisa usianya. Kamu tidak gagal Sayang, justru sebaliknya. Kamu telah berhasil menjadi anak terbaik untuk ayah. Di saat anak-anak seusiamu menikmati masa-masa dewasa mereka dengan bersenang-senang, kamu justru dengan penuh kesabaran merawat ayah. Kamu adalah anugerah paling indah yang beliau punya, Sayang. Ingat, anugerah terindah yang beliau punya."


Air mata Mara semakin deras mengalir. Ia kembali memeluk tubuh Dewa dengan erat seakan meminta sebuah kekuatan untuk menapaki hari-hari selanjutnya.


"Ikhlaskan kepergian ayah, Sayang. Ayah pasti akan mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan."


Mara mengangguk. "Aamiin... Semoga Mas, semoga!"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2