
"Ahaahaahhaa... Ya Tuhan, apa sebegitu tidak sabarnya kah kamu untuk menghadiri acara pernikahanku sampai kamu hanya memakai piyama seperti ini Wa? Dan ahhhhh.... sampai kamu juga belum sempat untuk mandi? Ya Tuhan..."
Di sebuah ballroom hotel, Krisna dan Sekar nampak begitu serasi berdiri bersandingan di atas pelaminan. Dengan mengusung tema modern, sepasang kekasih yang telah resmi menjadi suami istri itu terlihat begitu memesona degan tuxedo warna gold yang membalut tubuh Krisna dan juga gaun panjang berwarna senada yang membalut tubuh Sekar.
Berpuluh-puluh tangkai bunga mawar berwarna putih juga nampak begitu cantik menghiasi ruangan ini. Seakan menjadi sebuah pertanda jika hari ini semua yang hadir dalam keadaan yang berbahagia.
Nampaknya, kebahagiaan Krisna dan Sekar semakin bertambah dengan kehadiran sang bos yang saat ini terlihat begitu memesona. Mengapa dikatakan memesona? Hal itu tidak lain karena sedari tadi bos besar PT WUW itu menjadi pusat perhatian bagi para tamu yang hadir di tempat ini.
"Sssstttt... Pelankan suaramu Kris. Aku sungguh tidak nyaman memakai pakaian ini. Jika bukan karena istriku yang memintanya, aku tidak mau memakai piyama dengan motif polkadot seperti ini."
Dengan suara lirih, Dewa mencoba mencurahkan seluruh isi hatinya. Beruntung Mara sedang menemani sang oma ke toilet, sehingga lelaki itu bisa sedikit leluasa untuk mencurahkan isi hatinya.
Krisna hanya tergelak. Ia paham betul bahwa istri bosnya ini tengah ngidam. Dan sungguh sangat menggelikan melihat drama ngidam istri dari Dewa ini. "Yang sabar ya Bos. Silakan nikmati masa-masa ngidam istrimu. Dan siap-siap saja kamu akan mendapati hal-hal yang jauh lebih unik daripada ini."
Dewa membuang nafas sedikit kasar. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling, dan benar saja jika semua mata milik orang-orang yang ada di tempat ini tertuju kepadanya. "Ini sepertinya akan sangat berbahaya Kris!"
Krisna terperangah. Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh bosnya ini. "Maksud kamu apa Wa?"
Dewa sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Krisna dan lirih ia berkata. "Jika Mara melihatku menjadi pusat perhatian orang-orang di sini terlebih para kaum wanita, ia pasti akan semakin kesal. Niatnya memintaku untuk mengenakan piyama ini agar tidak ada yang terpesona akan ketampanan yang aku miliki, ini justru membuat orang-orang yang berada di sini menjadikanku sebagai pusat perhatian."
Krisna berdecak. "Ckkkccckkk... Sepertinya posisimu benar-benar tidak aman tuan Dewa!"
"Mas Dewa!"
Suara seorang wanita yang tidak lagi asing di telinga Dewa, sukses membuat lelaki itu sedikit terkejut. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat oma Widuri dan sang istri mulai menaiki panggung di mana Krisna dan Sekar bersanding sebagai raja dan ratu sehari.
Sembari menggandeng oma Widuri, Mara berjalan pelan untuk dapat menjangkau tempat Krisna dan juga Sekar. Wajahnya nampak berbinar karena pada akhirnya, asisten pribadi suaminya ini benar-benar telah melepas masa lajangnya.
"Selamat untuk pernikahan kalian ya mas Kris dan Sekar. Semoga kehidupan kalian senantiasa dipenuhi oleh kebahagiaan hingga akhir waktu nanti. Dan semoga bisa segera dikaruniai keturunan."
__ADS_1
Mara mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat kepada Krisna dan juga Sekar. Untuk Sekar sendiri tidak lupa ia berikan sebuah kecupan di pipi kanan dan kirinya, sebagai pertanda rasa cinta kasih yang ia miliki untuk wanita yang beberapa bulan ini membantunya menghandle 'Demara Cake & Bakery' .
"Terimakasih ya Ra. Semoga pernikahanmu dengan Dewa juga senantiasa dipenuhi oleh kebahagiaan." ucap Krisna dan Sekar bergantian.
Krisna menautkan pandangannya ke arah wanita berusia senja yang berjalan mengekor di belakang Mara. "Oma....?"
"Krisna!"
Oma Widuri tidak banyak berbicara namun setetes bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya seakan menjadi pertanda bahwa hari ini ia begitu terharu, karena lelaki yang sudah ia anggap sebagai cucu kandungnya sendiri ini telah melepas masa lajangnya.
"Oma....!"
Krisna mendekap erat tubuh oma Widuri. Semenjak satu persatu anggota keluarganya meninggalkannya sendirian di bumi ini, Krisna memang sangat dekat dengan wanita berusia senja ini. Kehadiran oma Widuri lah yang bisa menggantikan sosok seorang ibu yang sudah sejak lama pergi meninggalkannya.
"Selamat menempuh hidup baru, cucuku. Semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan yang mengelilingi kehidupanmu. Pastinya dengan kehadiran seorang istri yang akan senantiasa mendampingimu, apapun keadaanmu."
Oma Widuri tidak lagi sanggup untuk menahan bulir-bulir air bening yang berkumpul di pelupuk matanya untuk tidak terjatuh. Rasa haru itu benar-benar terasa menyeruak di dalam dadanya. Wanita berusia senja itu benar-benar bersyukur karena Krisna mendapatkan seorang pendamping hidup yang ia yakini sama baiknya dengan cucu menantunya.
"Terimakasih banyak Oma. Terimakasih karena selama ini Oma selalu mencurahi Krisna dengan limpahan kasih sayang yang begitu besar. Dari Oma lah yang membuat Krisna kembali meraskan sebuah dekapan hangat dari sebuah keluarga. Terimakasih banyak Oma. Terimakasih."
"Bagaimana mungkin Krisna akan melupakan wanita yang sudah Krisna anggap sebagai nenek Krisna sendiri? Itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi Oma."
Oma Widuri tersenyum simpul. "Syukurlah kalau begitu Kris!"
Oma Widuri menggeser tubuhnya untuk berjabat tangan dengan Sekar. Setelahnya ia memeluk tubuh wanita yang sudah sah menjadi istri dari Krisna ini. "Selamat untuk pernikahanmu ya Sayang. Semoga kalian selalu berbahagia. Oma titip Krisna, ya. Sudah sejak lama Krisna kehilangan keluarganya. Semoga kehadiranmu bisa menjadi penawar akan rasa sepi yang selama ini Krisna rasakan."
Sekar mengangguk di dalam dekapan oma Widuri. "Sekar berjanji akan selalu mendampingi mas Krisna, Oma. Dan terimakasih banyak karena Oma sudah merestui Sekar untuk mendampingi hidup mas Krisna."
"Krisna yang jauh lebih mengerti wanita mana yang baik untuk menjadi pendampingnya, Sayang. Dan ternyata wanita itu adalah kamu. Oma hanya bisa mendoakanmu."
"Terimakasih banyak Oma. Terimakasih."
__ADS_1
Krisna dan Sekar terlihat tengah berbincang-bincang. Sedangkan Mara dan Dewa terlihat tengah menikmati hidangan yang telah tersedia di salah satu meja prasmanan yang juga telah dikerumuni oleh banyak orang.
"Sayang, kok malah bengong? Ayo lekas di makan!"
Duduk di salah satu meja VIP, Dewa mengajak Mara untuk menyantap hidangan yang sudah ia ambilkan untuk sang istri. Namu Dewa sedikit keheranan karena sedari tadi istrinya ini terlihat tidak begitu fokus dengan piring yang sudah berisikan beraneka menu yang menggugah selera. Wanita itu justru lebih fokus memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Mas..?"
"Ya Sayang?"
Masih dengan menyapu pandangannya ke sekeliling, Mara mencoba menyuarakan isi hatinya. "Kamu sadar tidak jika sedari tadi orang-orang yang berada di sini memperhatikanmu?"
Mendengar sang istri mengucapkan hal itu, tetiba bulu kuduknya sedikit meremang. Ia merasa istrinya ini akan menginginkan sesuatu lagi.
"Ah masa sih Sayang? Aku merasa biasa-biasa saja," ucap Dewa sedikit berkilah padahal, apa yang diucapkan oleh istrinya ini memang sebuah kebenaran.
Mara mendengkus kesal. "Lihatlah kaum ibu-ibu muda yang ada di sana Mas. Sedari tadi mereka memperhatikanmu tanpa berkedip sama sekali."
Aduh istriku... Jelas saja mereka memperhatikanku. Mereka merasa aneh karena aku menghadiri acara pernikahan seperti ini mengenakan piyama.
"Kamu salah lihat Sayang. Mereka tidak menatapku."
"Ckckck cckkkk ternyata kesalahan besar aku memintamu untuk mengenakan piyama ini Mas. Ternyata dengan piyama ini kamu justru terlihat semakin tampan. Buktinya mereka sampai tidak berkedip tatkala melihatmu." Mara membuang nafas sedikit kasar. "Ganti bajumu Mas. Aku tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian."
Dewa hanya terperangah dan hanya bisa mengelus dada.
Kan, kan, kan benar kan apa yang aku pikirkan? Ya ampun istriku... Untung aku cinta, kalau tidak cinta mana mau aku disibukkan dengan bergonta-ganti pakaian seperti ini.
.
.
__ADS_1
. bersambung...
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..