Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 101 : Dibuang


__ADS_3


"Aaaarggghh Sayang... A-Aku keluar lagi!"


Selepas adanya drama panjang kejar kejaran kuda yang berlarian di tepi danau, pada akhirnya situasi seperti itu hanya dapat dikendalikan oleh Mara. Luki benar-benar tidak menggubris titah Dewa. Sedangkan Mara, denganmu sekali perintah 'hei Luki! berhenti Sayang!', kuda putih itu langsung menghentikan langkah kakinya.


Setelah kuda itu tertangkap, Dewa mengikatnya erat-erat di batang pohon. Kemudian ia dan sang istri kembali naik ke rumah pohon untuk menikmatinya sisa-sisa waktu untuk larut dalam keintiman yang tercipta. Suasana yang begitu mendukung. Tempat ini begitu sepi bahkan tidak ada satu orang pun berlalu lalang. Hal itulah yang membuat Dewa tiada henti merekahkan senyum manis di bibirnya, karena dengan situasi sepi seperti ini, ia dapat menikmati tubuh istrinya lagi. Dan benar saja, jika sebelumnya ia mencapai sekali pelepasan, kini tubuh lelaki itu menggelijang dan bergetar hebat untuk ketiga kalinya. Benar-benar lelaki perkasa. Tidak ada rasa lelah yang tergambar di wajahnya. Bahkan tenaganya pun seakan tidak pernah ada habisnya. Tidak terasa pula, jika siang semakin datang menjelang dan sudah waktunya Dewa dan juga Mara untuk kembali ke villa dan setelah itu kembali ke rumah.


Mara nampak hanya mengulas senyum simpul. Dari raut wajah cantiknya, ia terlihat begitu kelelahan hari ini. Tidak ia sangka, bahwa di atas rumah pohon seperti ini, Dewa menggarapnya lebih dari dua kali. Sungguh, tidak ada hal yang terpancar dari wajah wanita itu selain rasa lelah begitu mendera. Namun hatinya turut menghangat, melihat sang suami begitu bahagia seperti ini.


Mara tersenyum manis. Ia usap pipi Dewa dengan lembut. "Apakah aku bisa memuaskanmu Mas? Maksudku sesuai dengan apa yang kamu inginkan?"


Dewa sedikit tergelak. Sekilas, ia kecup bibir tipis istrinya ini. "Bahkan aku tidak pernah merasa puas dalam menikmati tubuhmu Sayang. Rasa-rasanya aku ingin menikmati lagi, lagi, lagi dan lagi. Jika kewajiban seorang suami itu hanya memberikan nafkah batin untuk istrinya, sumpah, tidak akan aku biarkan kamu untuk keluar kamar Sayang. Aku kurung kamu di dalam kamar, sepanjang hari."


Mendengar celotehan sang suami, hanya membuat Mara terkikik geli. Tidak dapat ia bayangkan jika sepanjang hari hanya berada di dalam kamar untuk melayani hasrat suaminya ini. "Kamu ini ada-ada saja Mas. Bahkan melakukan hubungan badan pun juga akan menimbulkan rasa lelah. Masa iya kamu tidak merasakan lelah sama sekali?"


Dewa menggelengkan kepalanya. "Bukankah kamu bisa melihat setelah kita bercinta, kondisi fisikku semakin segar dan bugar Sayang. Itu artinya kamu memang harus aku kurung di dalam kamar setiap hari!"


"Mas?" Mara mengerucutkan bibirnya. Dengan sedikit mendengkus kesal. Bisa-bisanya sang suami memiliki pemikiran seperti itu.


Dewa terbahak, hingga menggema di dalam rumah pohon ini. "Hahahaha haahaahaa bercanda Sayang. Kalau setiap hari aku berada di dalam kamar, lalu bagaimana bisa aku menafkahimu? Aku juga memiliki kewajiban untuk mencari nafkah. Kalau aku tidak bisa menafkahimu kamu pasti kamu akan kelaparan dan bagaimana bisa kamu memiliki tenaga untuk melayaniku?"


Nafas lega itupun terdengar lirih keluar dari hidung Mara. "Syukurlah jika kamu paham akan hal itu Mas."


Dewa mengusap kepala Mara dengan penuh kelembutan sembari tersenyum simpul. "Aku pasti paham Sayang. Oh iya, kita bersiap-siap untuk pulang ya. Mumpung hari belum terlalu sore jadi kita tidak kemalaman juga tiba di rumah Oma."

__ADS_1


Mara mengangguk patuh. "Baik Mas."


"Ya sudah, pakai pakaianmu terlebih dahulu Sayang. Kita mandinya ketika tiba di villa, ya."


Mara cemberut seketika. "Gara-gara empat kali, tubuhku jadi lengket seperti ini!"


"Jika di tempat seperti ini bisa empat kali, mungkin nanti malam bisa delapan kali, Sayang!" seloroh Dewa sembari menaik-turunkan alisnya.


"Mas Dewaaaaaaaa!!!"


"Hahahaha haahaahaa!"


***


"Salon.... Tiga milyar..... Hahahaha haahaahaa!"


"Hentikan Bu! Jangan seperti ini! Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ibu!"


Puspa terlihat uring-uringan sendiri mendengar sang ibu yang sedari tadi meracau seperti itu. Rupa-rupanya akibat penipuan yang dilakukan oleh Anton dan Rizal benar-benar membuat sang ibu gila. Sejak hari itu sang ibu hanya terus menerus meracau seperti itu. Salon, tiga milyar, hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.


Tanti yang sebelumnya tertawa terbahak seketika menghentikan tawanya. Ia menatap lekat wajah Puspa dengan tatapan yang tidak terbaca. Namun....


"Hahahaha kamu salah satu pelanggan salonku ya? Mari masuk. Akan aku berikan pelayanan yang istimewa untukmu! Bagaimana, salon ini sangat mewah bukan?"


Tanti kembali tertawa terbahak setelah sejenak hening. Wanita paruh baya itu menarik-narik tangan Puspa seperti seseorang yang tengah mempersilakan tamunya untuk memasuki ruangan.

__ADS_1


Puspa begitu jengah dengan apa yang dilakukan oleh ibunya ini. Buru-buru ia menepis tangan sang ibu. "Hentikan Bu! Ibu benar-benar sudah gila. Aku tidak mau memiliki ibu gila!"


Jika sebelumnya Tanti yang menarik-narik tangan Puspa, kini gantian Puspa yang meraih tangan Tanti. Sejenak ia menatap wajah Tanti dengan tatapan tajam. "Aku sudah tidak tahan lagi. Baru beberapa aku hidup bersama orang gila sudah membuatku pusing tujuh keliling dan juga naik darah. Sepertinya aku memang harus membuang jauh-jauh Ibu dari hidupku!"


Tanpa membuang banyak waktu, Puspa mulai menarik tubuh Tanti untuk ia bawa keluar rumah. Di halaman sudah terparkir dengan sempurna motor matic miliknya. Gadis itupun mulai mulai meletakkan tubuh Tanti di jok bagian belakang. Setelah dirasa telah aman, Puspa gegas mengambil posisi di depan dan mulai menyalakan mesin motor dan meninggalkan rumah ini.


Sepanjang perjalanan pun Tanti masih terdengar meracau tidak jelas yang membuat Puspa semakin jengah. Gadis itu harus memutar otak kemana akan membawa sang ibu pergi. Namun, tatkala ia melewati kawasan yang cukup sepi, sebuah ide yang cukup cemerlang tiba-tiba terbesit di dalam pikirannya.


Puspa menghentikan laju motor maticnya. Sejenak, ia mengamati situasi kanan kiri. Sepi, sangat sepi. Ia berpikir jika tempat ini sangat cocok untuk membuang sang ibu. Puspa turun dari motor dan menarik tubuh sang ibu untuk turun juga dari motor.


Sebuah jalan yang di sisi kanan kirinya hanya terdapat hamparan perkebunan. Dan ada sebuah rumah kecil yang terlihat sudah tidak terurus. Rumah ini sepertinya tidak berpenghuni. Puspa menarik lengan tangan sang ibu dan ia letakkan di teras rumah ini.


"Aku tidak mau memiliki ibu gila. Bisa-bisa tidak ada lelaki yang mendekatiku saat tahu bahwa ibuku gila. Terpaksa aku meninggalkan ibu di sini. Aku tidak ingin hidupku semakin ribet dengan mengurusi orang gila. Karena aku hanya ingin hidup dengan bersenang-senang tanpa dipusingkan oleh orang gila!"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Puspa bergegas berbalik arah. Ia kembali nangkring di atas motor, ia nyalakan mesin dan tanpa pikir panjang tancap gas meninggalkan Tanti sendirian di tempat ini.


Tanti hanya bisa menatap kepergian sang anak dengan tatapan nanar. Tak selang lama, tubuh sang anak hilang di telan jalanan yang berkelok-kelok di sekitar sini. Tanpa ia sadari, setetes butiran bening menetes dari pelupuk matanya. Namun setelahnya...


"Salon.... Uang tiga milyar... Hahahaha haahaahaa...!!"


"Salon... Uang tiga milyar... Hahahaha haahaahaa...!!"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Mohon maaf, kemarin tidak bisa update episode terbaru ya Kak... Sedang disibukkan membahas acara lamaran...🤗🤗 Mohon doanya agar semua lancar sampai hari H ya....😘😘😘😘🙏🙏


__ADS_2