Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 39: Tanggung Jawab


__ADS_3


"Ayo ndang diuncalke wae nang segoro!" (Ayo langsung dilempar saja ke lautan)


"Ayooooooo!!!!"


"Siji..... Loro.... Teeeeluuuuuu....!!!" (Satu, dua, tiga)


"Kyaaaaaaaaaaa!!!"


Byuurrrrr.......


Setelah kumpulan nelayan berhasil menangkap Dewa dan Krisna, kedua lelaki hampir berkepala empat itu dilempar ke lautan. Dan benar saja, sebelumnya Dewa dan Krisna yang sudah terlihat tampan dan beraroma maskulin, kini tubuh mereka basah kuyup setelah kumpulan nelayan itu melempar tubuh mereka ke lautan.


"Hei Bapak-bapak.... Sebenarnya apa kesalahan kami? Mengapa Anda semua melempar kami ke tengah lautan seperti ini?" pekik Dewa mencoba untuk protes dengan apa yang dilakukan oleh para kumpulan nelayan itu sembari menyeka wajahnya dari air laut yang mengenai wajah.


"Hei, Awakmu iku ora dong opo sing garai aku lan Bapak-bapak iki muntab? (Kamu tidak paham apa yang membuatku dan Bapak-bapak yang lainnya ini emosi?)


Dewa dan Krisna yang sudah berada di dalam lautan sama-sama melempar pandangan. Keduanya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh para nelayan ini.


"Pak tolong pakai bahasa Indonesia. Kami benar-benar tidak paham!" sambung Krisna seakan begitu penasaran dengan ucapan nelayan itu.


"Mengapa kalian tadi mengatakan 'ndherek langkung segawon' ketika melintas di depan kami? Kalian mau mencari mati, hah?!" ucap salah seorang nelayan mencoba menjelaskan dengan nada emosi.


"Loh itu bukankah ucapan yang baik Pak? Lalu kesalahan kami di mana?" sela Dewa seakan tidak terima jika apa yang diajarkan Mara tadi merupakan sebuah hal yang salah.


"Dasar wong gemblung, apik seko ngendi sing mbok ucapke mau? Opo kowe ora ngerti opo artine segawon?"


"Haduuhhh Pak, tolong di translate ke dalam bahasa Indonesia. Kami tidak paham!"


"Dasar orang gila. Bagus dari mana apa yang kamu ucapkan tadi? Apa kamu tidak paham apa arti segawon?"


Dewa dan Krisna saling bertatap netra kemudian menggelengkan kepala bersamaan. "Tidak Pak, kami tidak tahu apa artinya segawon."


"Wooooo bocah gendeng tenan yo awakmu iki. Ora ngerti artine segawon nanging waton mbok ucapke?"


Salah satu nelayan menyikut perut sang nelayan yang tengah berbicara itu. "Pak podho wae lanang loro iki ora dong sing Sampeyan ucapke!" Ia kemudian mencoba men translet kan apa yang diucapkan oleh temannya itu. "Eh Mas, kalian ini kalau tidak paham dengan maksud ucapan kalian tadi, mengapa kalian ucapkan?"


"Itu yang diajarkan teman kami Pak, jika pada saat melintasi kerumunan orang, itu yang harus kami ucapkan," jawab Dewa dengan sedikit menggigil.


Para nelayan saling bertatap netra. Dan seketika mereka terbahak. Mereka baru paham jika kedua lelaki ini tengah dikerjai oleh temannya.


"Haaaaahhaaa... Ternyata kalian ini dikerjai oleh teman kalian!"


Krisna sedikit terperanjat. "Dikerjai? Dikerjai bagaimana Pak?"


Nelayan yang tengah terbahak itu menghentikan tawanya sembari memegang perut yang rasanya sudah sangat sakit karena terlalu banyak tertawa. "Kalian tahu apa arti kata segawon?"


Dewa dan Krisna menggeleng bersamaan. "Tidak Pak, kami tidak mengerti."

__ADS_1


"Segawon itu artinya anjing. Wajar bukan, jika kami langsung naik pitam tatkala mendengar kalian mengucap kata itu?"


Bola mata Dewa dan Krisna terbelalak dan membulat sempurna. Bibir keduanya sama-sama menganga, nafas keduanya sama-sama memburu dan.....


"Maraaaaaaaaaaaaaaaaaa....!!!!!!" teriak Dewa dan Krisna bersamaan.


Sedangkan gadis yang berada tidak jauh dari sana hanya bisa terpingkal-pingkal melihat apa yang terjadi. Ia nampak begitu menikmati pertunjukan seru di depan matanya ini.


***


"Haaahaa ya Tuhan.... Tuan-Tuan ini terlihat sangat lucu sekali ketika di lempar ke lautan oleh para nelayan tadi."


Mara, gadis belia itu tiada henti terbahak dengan apa yang menimpa dua orang lelaki yang berhasil ia kerjai ini. Setelah drama pelemparan tubuh Dewa dan Krisna di lautan karena segawon telah paripurna, kedua lelaki itu bergegas kembali ke resort untuk membersihkan diri. Setelah itu, saat ini mereka ada di sebuah restoran yang sebelumnya memang menjadi rencana awal mereka.


Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Lembayung senja dengan warna jingga yang tergores di sebuah kanvas alam mulai menyapa manusia-manusia yang saat ini tengah terbuai dalam sejuta pesonanya. Ini lah salah satu pemandangan terindah yang dapat dinikmati oleh manusia tatkala sang surya hendak berpamitan.


Suara deburan ombak kian terdengar nyaring. Ditemani oleh semilir angin yang berhembus kencang yang menerpa tubuh seakan menambah rasa sejuk bagi siapapun yang merasakannya.


Dewa dan Krisna masih menatap wajah gadis belia di hadapan mereka ini dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Ada perasaan bahagia tatkala tawa gadis itu terdengar membahana. Namun tidak dapat dipungkiri jika kedua lelaki itu merasa sedikit kesal yang bercampur dengan gemas, karena ternyata mereka berhasil dikerjai oleh gadis belia ini. Sehingga hanya membuat lelaki itu tertegun tidak dapat berucap apapun jua.


Mara seketika menghentikan tawanya ketika menyadari jika dua lelaki di depannya ini melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang sulit terbaca. "Tuan... Apa yang sedang terjadi? Mengapa Tuan-Tuan ini diam saja?"


"Huh gara-gara kamu Ra, aku dan Dewa hampir saja tenggelam di lautan. Benar-benar jahil kamu Ra!" sungut Krisna berapi-api menumpahkan rasa gemasnya.


Mara terkikik geli. "Hihihihihi maaf ya Tuan. Ini semua hanyalah sebuah candaan."


Krisna berdecak. "Dasar gadis nakal. Bercandaanmu ini hampir saja membuat kami babak belur dihajar oleh nelayan tadi, tahu?" timpal Krisna.


Krisna mengayunkan kakinya untuk meninggalkan meja yang dipakai oleh Dewa dan juga Mara. Ia paham betul jika Dewa ingin sekali menikmati suasana sunset seperti ini dengan gadis itu. Oleh karenanya, daripada ia beralih fungsi dari asisten pribadi kemudian menjadi obat nyamuk, ada baiknya ia segera pindah dari meja yang dipakai oleh Dewa dan Mara.


"Tuan... Apakah Tuan marah?" sebuah pertanyaan dilemparkan oleh Mara di hadapan Dewa.


Hening... Dewa masih terdiam membisu sembari menatap lekat wajah Mara dengan ekspresi wajah yang... sedikit mengerikan.


Melihat sorot mata Dewa yang sepertinya sudah dipenuhi oleh rasa kesal, membuat nyali Mara sedikit menciut. Ia takut jika Dewa benar-benar marah terhadapnya.


"T-Tuan... Saya minta maaf. Sungguh, semua itu hanya sekedar candaan dari saya. Saya tidak bermaksud membuat Tuan celaka," ucap Mara dengan raut wajah yang sudah berubah sedikit pias.


Dewa masih tidak bergeming sama sekali. Hal itulah yang membuat Mara semakin khawatir.


"Tuan, saya minta maaf. Coba sekarang katakan kepada saya, apa yang harus saya lakukan agar Tuan bisa memaafkan saya?"


Mara menundukkan wajahnya. Bulir-bulir kristal bening sudah menganak sungai di pelupuk matanya dan bersiap untuk menetes. Melihat mata sang gadis yang sudah berkaca-kaca, membuat Dewa sedikit tidak tega. Ia sangat tidak ingin jika Mara sampai meneteskan air matanya.


Dewa menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk meredam rasa yang bercampur menjadi satu. Sama seperti Krisna, Dewa juga merasakan rasa kesal, marah, dan juga gemas dalam waktu yang bersamaan.


"Suapi aku!"


Akhirnya kata itulah yang keluar dari bibir Dewa. Mara mendongakkan kepalanya dan mencoba untuk menatap netra milik Dewa dengan perasaan sedikit takut.

__ADS_1


"Suapi?"


Dewa mengangguk. "Iya suapi. Kamu tidak ingin melihatku marah bukan?"


Mara mengangguk. "Iya Tuan."


"Ayo lekas suapi aku!" titah Dewa seakan tidak ingin dibantah.


Mara menurut. Ia menyendok dua centong nasi di lengkapi dengan cumi asam manis, kerang bumbu padang, udang krispy dan juga cah kangkung.


"Aku tidak mau menggunakan sendok!" ucap Dewa tatkala gadis itu menyodorkan sendok di hadapannya.


"Lalu, Tuan mau memakai apa?"


"Aku ingin makan yang langsung dari tanganmu."


"T-tapi Tuan...."


"Kamu paham bukan jika aku tidak menerima sebuah penolakan?"


Mara menganggukkan kepalanya. Ia mulai menyuapi Dewa langsung menggunakan tangannya. Sesuap demi sesuap makanan masuk ke dalam mulut Dewa. Sesekali gadis itu juga menyuapi dirinya sendiri.


"Coba lebih dekat kemari!" ucap Dewa memberikan sebuah perintah setelah perutnya sudah terasa kenyang.


"Ada apa Tuan?"


"Kemari lah, dekatkan wajahmu!"


Lagi-lagi Mara menuruti kemauan Dewa. Tatkala jarak wajahnya dengan wajah Dewa semakin terkikis...


Cup....


Lagi-lagi Dewa mencuri ciuman Mara. Sembari menikmati suasana matahari tenggelam seperti ini, kedua manusia itu larut dalam pagutan bibir masing-masing. Dewa menarik tengkuk Mara untuk memberikan ciuman yang lebih dalam lagi. Sedangkan jemari tangan Mara mengusap lembut pipi milik Dewa.


Sebuah ciuman hangat yang membuat keduanya larut dalam keintiman. Seakan saling mendeskripsikan perasaan yang terpendam dalam hati masing-masing. Kemudian mereka tunjukkan melalui pagutan bibir itu. Sedangkan Krisna, yang duduk tidak jauh dari dua manusia yang tengah intens berciuman itu hanya bisa berdecak kesal. Pada akhirnya ia hanya bisa mengambil olahan ikan cucut yang ada di depannya lalu ia cium bibir olahan ikan itu.


"Tuan...."


"Hemmmmm..." Masih enggan melepaskan pagutannya, Dewa mencoba menyahut panggilan Mara.


Mara melepaskan bibirnya. Ia menatap lekat netra milik Dewa sembari menempelkan punggung tangannya di kening lelaki ini. "Tubuh Tuan panas."


"Benarkah?" ucap Dewa sedikit tidak percaya.


"Iya, Tuan demam!"


"Ya, sepertinya aku memang sakit karena terlalu lama berendam di pantai tadi. Saat ini aku meminta pertanggungjawaban darimu untuk mengurusku sampai sembuh, Ra!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2