
Dewa berlari sembari membopong tubuh Mara memasuki loby rumah sakit yang berada tidak begitu jauh dari kantor. Dan di belakang tubuhnya ada Kahar yang juga terlihat begitu cemas. Wajah Dewa terlihat begitu kacau dan kondisi Mara yang masih menyisakan bercak-bercak darah di sela-sela betisnya, membuat para pengunjung rumah sakit yang kebetulan berpapasan dengan Dewa hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sus tolong istri saya, tolong segera panggilkan dokter Sus!!" teriak Dewa di depan perawat yang berada di loby rumah sakit. Teriakan Dewa itu sukses membuat perawat yang tengah berjaga di sana terkejut seketika.
Salah seorang perawat gegas menghampiri Dewa. "Tunggu sebentar Pak, biar kami bawakan brankar terlebih dahulu."
"Cepat Sus. Tolong selamatkan istri saya!"
"Tenang ya Pak. Biar kami bawa istri Bapak ke IGD agar dapat segera mendapatkan pertolongan."
Tak lama kemudian dua perawat laki-laki menghampiri Dewa dengan mendorong sebuah brankar, dan tubuh Mara diletakkan di atas brankar itu.
Mara di dorong menggunakan brankar menuju ruang IGD. Di depan ruang itu sudah berdiri seorang dokter wanita yang merupakan dokter jaga siang hari ini.
"Tolong selamatkan istri saya Dok, tolong!!" ucap Dewa dengan bulir bening yang masih saja mengalir deras dari pelupuk matanya.
Dokter itu terlihat sedikit menyunggingkan senyum. "Tenang ya Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri Anda."
Dokter itu mulai melangkahkan kaki memasuki ruang IGD dan Dewa mengekor di belakang punggung sang dokter. Menyadari pergerakan tubuh Dewa, seketika membuat dokter itu menghentikan langkah kakinya.
Dokter wanita itu membalikkan badannya. "Bapak sebaiknya menunggu di luar. Biar kami yang menangani istri Bapak." ucap dokter itu melarang Dewa untuk masuk ke dalam.
Sang dokter memang sengaja meminta Dewa untuk menunggu di luar agar ia dapat memberikan penanganan yang maksimal untuk Mara. Tanpa adanya gangguan dari pihak lain yang justru bisa mengganggu.
Dewa tersentak, ia tetap ingin menemani Mara di dalam ruangan ini. "T-tapi saya ingin menemani istri saya Dok. Tolong izinkan saya untuk tetap bersamanya."
Wajah lelaki itu nampak begitu khawatir. Saat ini ia hanya ingin berada di dekat sang istri. Dengan demikian, ia bisa menemani sang istri untuk melewati masa-masa seperti ini.
Dokter itu mencoba mengerti dan memahami rasa cemas maupun khawatir yang dirasakan oleh Dewa, namun sang dokter tetap dalam pendiriannya, ia tidak mengizinkan Dewa untuk ikut masuk. "Bapak tunggu di luar saja ya, biar ka____"
"Tapi saya ingin bersama istri saya Dok. Saya ingin menemaninya!" cerca Dewa memangkas ucapan sang dokter.
Kahar yang menemani Dewa ke rumah sakit hanya bisa menatap sang bos dengan perasaan iba. Lelaki itu mendekat ke arah Dewa dan menepuk pundaknya. "Pak bos yang tenang ya. Biarkan dokter yang menangani kondisi bu Mara. Semua pasti akan baik-baik saja pak bos."
Akhirnya Dewa menurut, sang dokter kembali masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi Mara. Dewa menjatuhkan bobot tubuhnya di atas lantai sambil bersandar di tembok ruang IGD. Ia mendekap kedua lututnya dan mengacak rambutnya sedikit kasar seakan sebagai pertanda bahwa saat ini ia benar-benar sangat frustrasi.
***
__ADS_1
Waktu terasa lamban berputar. Setiap detik yang dilalui oleh Dewa seakan enggan untuk bergulir, yang semakin membuatnya terbelenggu dalam rasa cemas itu. Lelaki itupun hanya bisa terus berharap dan merapalkan doa agar sang istri tetap dalam keadaan baik-baik saja. Meski tidak dapat ia ingkari bahwa rasa cemas dan khawatir itu tetap mendera dan kian merajam dalam dada.
Sekelebat bayangan darah yang mengalir di sela-sela betis sang istri, seakan masih menjadi sebuah tanda tanya besar dalam otak lelaki itu. Apa yang sebenarnya dialami oleh sang istri. Dan semua pertanyaan dan rasa cemas yang memenuhi syaraf-syaraf otak dan ruang-ruang dalam hatinya, tidak akan pernah berakhir sebelum dokter yang menangani sang istri keluar dari ruangan ini.
Dewa tetap memilih untuk duduk meringkuk sembari memeluk lututnya. Pandangannya kosong menyapu kondisi sekelilingnya. Orang-orang yang kebetulan melintas di hadapan Dewa seakan ikut merasa pilu dengan melihat raut wajah sendu yang ditampakkan oleh lelaki itu. Ruang IGD yang berada di dekatnya ini seakan menjadi sebuah dinding pemisah kehidupan yang semakin menjauhkannya dengan sang istri. Sebuah dinding yang baru akan runtuh tatkala pintu ruangan ini terbuka lebar.
Ceklek...
Pintu ruang IGD terbuka. Dewa yang sebelumnya meluruhkan tubuhnya di atas lantai dan bersandar di dinding ruangan ini seketika bangkit dari posisinya. Suara pintu yang terbuka itu seakan mengembalikan kesadaran yang sebelumnya hilang entah ke mana.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya? D-dia baik-baik saja bukan?"
Suara lelaki itu terdengar bergetar seakan dihantam oleh rasa sesak dalam dada. Ia mencoba untuk menahan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya agar tidak terjatuh, namun sia-sia saja. Air mata lelaki itu justru terlihat semakin deras mengalir.
Sang dokter yang memakai name tag dokter Sastriani Susanti Sp.Og itu hanya mengulas sedikit senyumnya. "Bisa ikut ke ruangan saya Pak? Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada Bapak."
Aaaaaahhh... Ucapan dokter Sastri itu seakan makin mendorong tubuh Dewa berada di tepi jurang rasa cemas yang tiada berakhir. Ia berpikir setelah dokter Sastri keluar dari ruangan ini, ia dapat segera mengetahui kondisi sang istri. Namun harus ia tahan lagi, karena dokter yang menangani sang istri memintanya untuk ikut ke ruangannya.
Namun Dewa mengangguk jua. "Baik, Dok. Saya akan ikut ke ruangan Dokter!"
Dokter Sastri berjalan di depan Dewa sedangkan lelaki itu mengekor di belakang punggung dokter Sastri. Keduanya mengayunkan langkah kaki menuju ruang kerja milik dokter itu.
Seakan tak lagi mampu untuk menahan semua pertanyaan yang menari-nari dan mengusik pikirannya, Dewa langsung menembak dokter Sastri dengan pertanyaan itu tatkala bokongnya sudah mendarat di salah satu kursi yang berhadapan dengan kursi sang dokter.
Dokter Sastri sedikit menghela nafas panjang. "Sebelumnya, saya ingin bertanya kepada Bapak. Usia kandungan istri Bapak saat ini sudah memasuki usia berapa?"
Mendengar ucapan dokter Sastri sukses membuat Dewa terkejut setengah mati. Matanya terbelalak dan bibirnya menganga lebar. "K-Kandungan? M-maksud Dokter, saat ini istri saya sedang hamil?"
Kali ini dokter Sastri lah yang terperangah. "Bapak tidak mengetahui kalau saat ini istri Bapak tengah hamil?"
Dewa menggeleng pelan. "Tidak Dok, saya tidak mengetahuinya!"
Dokter Sastri hanya berdecak lirih, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bapak ini suami macam apa, istri dalam keadaan hamil pun tidak tahu?"
Dewa terkesiap. "S-Saya memang tidak tahu Dok. Karena istri saya juga tidak mengatakan apa-apa."
"Kalau istri Anda tidak mengatakan apapun, apakah tidak bisa Anda lihat dari aktivitas keseharian Anda?"
"Maksud Dokter bagaimana? Saya benar-benar tidak paham!"
__ADS_1
Dokter Sastri kembali menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Apakah tidak dapat Bapak lihat dari aktivitas bercinta Bapak dengan istri Bapak? Setiap bulan ada jeda waktu untuk tidak berhubungan badan dengan istri Bapak karena siklus menstruasi. Tapi tiba-tiba jeda itu tidak lagi ada karena siklus itu terhenti?"
Dewa terperangah. Ia baru menyadari bahwa hampir tiga bulan ia selalu mendapatkan jatah di atas ranjang dan tidak ada libur sama sekali. Hampir setiap malam ia selalu bercinta dengan sang istri tanpa adanya gangguan siklus bulanan itu.
"Astaga ya Tuhan... Saya baru ingat bahwa hampir tiga bulan ini istri saya tidak mendapati siklus menstruasinya Dok!"
Dokter Sastri kembali berdecak. "Karena keenakan bercinta, sampai-sampai membuat Anda lupa bahwa seharusnya setiap bulan istri Anda mengalami siklus menstruasi itu ya Pak?"
Dewa hanya bisa mengangguk samar. Ucapan dokter Sastri memang benar adanya. Ia benar-benar telah kecanduan dengan tubuh Mara yang seakan membuatnya ingin dan ingin selalu mengecap segala kenikmatan yang tersimpan di dalam tubuh istrinya itu.
"Sepertinya memang begitu Dok. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya Dok?"
"Begini Pak, istri Bapak mengalami pendarahan...."
"Apa? Pendarahan?" Dewa memangkas ucapan dokter Sastri setelah keterkejutan itu menguasai dirinya. "Istri saya baik-baik saja kan Dok? Calon anak saya juga baik-baik saja kan?"
Dokter Sastri hanya bisa tersenyum simpul. Ia bisa merasakan apa yang dikhawatirkan oleh lelaki yang ada dihadapannya ini. "Meskipun istri Bapak mengalami pendarahan, namun beruntung pendarahan itu bisa segera dihentikan, Pak. Jadi saat ini istri dan calon anak Bapak dalam keadaan baik-baik saja."
Dewa semakin terkesiap. "I-itu artinya...."
Dokter Sastri mengangguk mantap. "Ya, calon anak Bapak terselamatkan!"
.
.
. bersambung....
Hiyaaaaa.... Semoga part ini bisa menjadi jawaban akan semua pertanyaan yang ada di dalam benak kakak-kakak semua ya... ππ
Lalu bagaimana kebahagiaan Dewa dan juga Mara ketika malaikat kecil itu hadir di tengah-tengah mereka? Tetap ikuti cerita DeRa sampai tamat ya Kak... Mungkin sampai 500 episodenya... wwkkkkkk ππ berasa seperti sinetron tersanjung...
Yang menantikan balasan untuk Dita, sabar ya... Pelan-pelan kita akan berikan balasan untuk Dita..π π
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..
Bonus... Penjual jus buah naga yang disambangi oleh Mara π
__ADS_1