
Cup.... Cup... Cup....
"Selamat tidur Istriku! Mimpi indah ya Sayang!"
Tiga kecupan Dewa berikan di kening, pipi dan juga bibir milik Mara. Setelah usai dengan ritual makan malam, keduanya memilih untuk bersegera menarik selimut dan mulai merajut mimpi. Mengistirahatkan tubuh setelah seharian berada di dalam perjalanan jauh menuju kota ini dan mungkin baru akan hilang semua rasa lelah itu setelah merebahkan tubuh mereka di atas ranjang seperti ini.
Mara tersenyum simpul. Ia memeluk tubuh sang suami dengan erat. Meletakkan kepalanya di dada bidang milik Dewa yang saat ini menjadi tempat paling nyaman untuknya. Rasa tenang, aman dan nyaman seakan menjadi satu dan membuatnya ingin berlama-lama berada di sana.
"Selamat tidur juga Mas. Semoga kamu juga mimpi indah!"
Sembari membelai rambut Mara dengan lembut, Dewa terkekeh kecil. "Tidak hanya mimpi Sayang. Kehidupan nyataku pun bahkan terasa begitu indah. Pastinya dengan kehadiranmu. Terimakasih banyak sudah hadir dalam hidupku Sayang. Dan terimakasih banyak karena sudah bersedia menjadi pendamping hidup seorang duda tua seperti aku ini!"
Mara mendongakkan kepalanya. Dari jarak seperti ini, ia bisa dengan jelas melihat gurat-gurat ketampanan wajah Dewa yang jauh lebih terlihat semakin sempurna di bawah sinar redup cahaya lampu tidur yang terasa temaram ini. Tanpa basa-basi, Mara mulai mengecup bibir Dewa dengan intens, sebagai salah satu bentuk limpahan rasa cinta yang ia miliki untuk suaminya ini.
Mara menyunggingkan sedikit senyum manis di wajahnya. Ia usap dengan lembut bibir Dewa ini dengan jemari tangannya. "Aku bahkan tidak perduli berapa usiamu Mas. Yang aku perdulikan, aku merasa nyaman berada di dekatmu. Dan itu sudah aku rasakan semenjak pertemuan pertama kita dahulu."
Dewa sedikit tergelak. Memory otaknya tetiba memutar ulang saat-saat pertama mereka bertemu. Sebuah cara pertemuan yang begitu unik dan mungkin tiada akan pernah terlupa hingga akhir waktu nanti.
Dewa meraih tangan milik sang istri. Ia kecup buku-buku jemari Mara dengan lembut. Seakan menegaskan betapa ia mencintai wanitanya ini. "Saat itu aku meragu apakah mungkin aku jatuh cinta kepada kuntilanak yang tengah tersangkut di atas pohon? Namun semenjak 'milikku' memberikan respon tatkala tubuh ini bersentuhan dengan tubuhmu, semenjak itu aku yakin bahwa kamu adalah wanita yang dikirimkan oleh Tuhan untuk melengkapi ketidaksempurnaanku."
Dewa mengecup bibir Mara dan kembali membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Namun ketika itu ada sebuah pertanyaan yang begitu mengusik ketentraman batinku. Apakah mungkin seorang gadis muda nan cantik sepertimu ini bersedia untuk berakhir di dalam dekapanku? Dekapan duda tua yang tiada sempurna seperti aku ini?"
"Dan pada akhirnya inilah jawaban yang kamu cari kan Mas? Aku benar-benar telah terjerat cinta sang duda yang baru pertama kalinya aku temui? Dan untuk pertama kalinya aku merasakan apa itu jatuh cinta."
Hati Dewa menghangat mendengar setiap kata yang terucap dari bibir tipis milik istrinya ini. Ternyata Tuhan maha baik, baru saja ia mencoba menghindar dari kenyataan pahit yang ia alami atas perselingkuhan sang mantan istri dengan cara menginjakkan kaki di kota Jogja, ternyata menjadi jalan pertemuannya dengan sesosok gadis istimewa seperti Mara ini.
"Terimakasih banyak sudah memilihku Sayang. Aku berjanji akan mempergunakan sisa hidupku ini untuk mencintai dan membahagiakanmu."
"Terimakasih banyak mas Dewa. Terimakasih!"
Lagi, Dewa mengecup pucuk kepala Mara dengan penuh sayang. "Tidurlah Sayang. Tidur yang nyenyak. Besok, aku akan mengajakmu untuk menikmati suasana pagi di tempat ini. Akan aku tunjukkan kepadamu bahwa duniaku terasa jauh lebih indah semenjak kamu hadir di dalam hidupku!"
Mara menganggukkan kepalanya di dalam dekapan Dewa. Perlahan, matanya terpejam dan mulai menjemput mimpi-mimpinya. Sedangkan Dewa, dengan posesif memeluk tubuh sang istri. Seakan tidak ingin sejenakpun jauh dari wanitanya ini.
***
Sinar sang surya mulai menyapa bumi. Pancaran sinarnya terbias di butiran embun yang masih menggelayut manja di atas dedaunan. Membuatnya berkilauan layaknya kilau mutiara di dasar lautan.
__ADS_1
Aroma tanah basah akibat rintik hujan semalam masih terasa begitu menyeruak di dalam indera penciuman. Dan hanya menyisakan aroma segar di sekeliling. Sepasang suami istri dengan style sporty nya sudah bersiap untuk menikmati suasana pagi hari di Puncak Bogor ini. Setelah mengisi perut mereka dengan roti selai kacang dan juga segelas susu, mereka berencana untuk bersepeda mengelilingi kebun teh yang berada kawasan villa ini.
"Sudah siap Sayang?"
Mara mengangguk mantap. Rupa-rupanya wanita itu sudah tidak sabar ingin bersegera berkeliling menikmati suasana yang ada di sini. Dengan raut wajah yang berbinar, ia mulai menggandeng tangan Dewa untuk keluar dari dalam villa ini.
"Ayo Mas. Aku sudah siap!"
Sepasang suami istri itu bergandengan tangan menunju halaman depan. Terlihat di sana sudah ada pak Maman yang tengah memangkas rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar halaman.
"Selamat pagi Tuan!" sapa pak Maman tatkala melihat Dewa berada di beranda depan.
"Pagi juga Pak. Oh iya, apakah yang saya utarakan ke pak Maman semalam sudah siap?"
"Sudah Tuan. Yang Tuan butuhkan sudah ada di depan garasi."
"Baiklah kalau begitu Pak. Terimakasih banyak ya Pak."
"Sama-sama Tuan!"
Dewa menggandeng tangan Mara untuk menuju garasi. Terlihat di sana telah terparkir sebuah sepeda yang siap menemani mereka berkeliling kawasan ini.
Dewa mengulas sedikit senyumnya sembari mengangguk. "Iya Sayang, kita akan berkeliling menikmati suasana pagi di sekitar sini dengan sepeda ini. Bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?"
Bibir Mara menganga lebar. Nampaknya wanita itu teramat berbahagia dengan apa yang telah direncanakan oleh suaminya ini. "Tentu tidak Mas. A-Aku justru sangat menyukainya!"
"Benarkah?" tanya Dewa sedikit tidak percaya.
"Iya Mas. Aku benar-benar menyukainya. Aku rasa akan sangat menyenangkan bersepeda pagi seperti ini. Apalagi sembari menghirup udara pagi di sekitar tempat ini."
Senyum seringai terbit di bibir Dewa. "Jika kamu menyukai apa yang aku rencanakan ini, lalu apa yang akan aku dapatkan Sayang?"
Kedua bola mata Mara berotasi sempurna, seakan mencoba memahami ucapan sang suami dengan baik. Namun, seketika ia mulai paham dengan apa yang diinginkan oleh suaminya ini. Mara yang sebelumnya berdiri menghadap ke arah sepeda yang berada di depannya mulai sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menghadap Dewa. Dengan sedikit berjinjit, ia mulai mencium bibir suaminya ini.
Cup ....
"Terimakasih banyak Mas. Kamu selalu saja penuh kejutan. Aku sungguh bahagia."
Dewa tersenyum simpul mendapatkan kecupan dadakan dan sekilas dari istrinya ini. Bukan Dewa namanya jika tidak membalas sesuatu yang diberikan oleh sang istri melebihi yang telah ia berikan. Sekilas kecupan yang diberikan oleh Mara, dibalas dengan kecupan intens dan penuh rasa cinta dalam durasi yang begitu lama. Hingga membuat wanita itu terperanjat seketika. Namun, tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengimbangi permainan bibir sang suami. Keduanya terlihat larut dalam pagutan bibir itu.
__ADS_1
"Tuan, di dalam sini sudah ada.... Aaaahhhhh maafkan saya Tuan!"
"Pak Maman?"
Pagutan bibir Mara dan juga Dewa terhenti tatkala pak Maman, tiba-tiba datang dengan membawa sebuah ransel kecil yang berisi semua keperluan yang dibutuhkan oleh Dewa.
Sepasang suami istri itu menatap wajah pak Maman dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Mungkin rasa malu dan kikuk yang bercampur menjadi satu benar-benar telah merajai hati mereka masing-masing.
Pak Maman hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lelaki paruh baya itu seakan merasa bersalah karena telah mengganggu keintiman tuannya ini. "Maafkan saya Tuan. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu Tuan dan juga Nyonya. Saya hanya ingin membawakan ransel ini untuk Tuan."
Dewa hanya terkekeh kecil. "Tidak mengapa Pak. Mungkin saya juga yang salah karena tidak tahu tempat. Mohon dimaklumi ya Pak. Tatkala bersama istri saya ini rasa-rasanya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memperlakukannya dengan intim. Jadi, ya seperti ini."
Pak Maman hanya mengangguk pelan sembari tersenyum kikuk.
Untung saja aku ini sudah tua, dan sudah tidak begitu asing dengan adegan seperti itu. Seandainya saja aku ini masih lajang, pasti jiwa jomblo ku sudah meronta-ronta karena melihat kemesraan kalian ini. Hmmmmm pengantin baru. Sepertinya tidak ingin melewatkan satu hari pun untuk tidak bermesra-mesraan dengan pasangannya.
***
Di sebuah rumah mewah, terlihat seorang wanita berusia senja sedang menikmati secangkir teh madu hangat yang ada di tangannya. Perlahan, ia menyesap teh itu dan seketika merasakan kesegaran yang mengaliri kerongkongannya.
"Oma, apa Oma yakin ingin mengundang mantan mertua Dewa di acara resepsi nanti?"
Krisna yang juga ikut menikmati secangkir white coffee di tangannya, mencoba memastikan rencana yang dibuat oleh oma Widuri untuk mengundang Arman yang tak lain adalah ayah Dita untuk menghadiri resepsi pernikahan Dewa dan juga Mara. Rupa-rupanya asisten pribadi Dewa itu sedikit khawatir jika kedatangan Arman hanya akan mengacaukan semuanya.
"Apa yang membuatmu tidak yakin untuk mengundang Arman dan keluarganya Kris? Aku rasa sah-sah saja jika kita mengundang mereka!"
"Tapi Krisna hanya khawatir jika mereka akan membuat keributan, Oma."
Oma Widuri hanya tersenyum simpul. "Kamu tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja." Oma Widuri terlihat menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Pandangan matanya sedikit menerawang seakan mengingat-ingat sesuatu yang sudah lama terjadi. "Aku hanya ingin membuktikan kepada mereka bahwa cucuku yang sudah dicampakkan tanpa belas kasih oleh Dita, saat ini sudah mendapatkan kebahagiaannya."
Krisna mencoba memahami perkataan yang diucapkan oleh oma Widuri ini. Namun hatinya masih saja merasa khawatir. "Tapi Krisna benar-benar khawatir, Oma. Oma tahu bukan jika ayah Dita itu bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia mau? Krisna hanya khawatir dengan keselamatan Mara!"
"Tenanglah Kris. Arman tidak akan pernah berani menyentuh cucu menantuku. Justru yang aku sangsikan adalah Dita sendiri. Aku rasa dia merasa menyesal telah mencampakkan Dewa, dan mungkin akan berupaya untuk merebut Dewa kembali."
.
.
. bersambung...
__ADS_1