
Hamparan kebun teh yang menghijau terlampau memukau di indera penglihatan Mara dan juga Dewa. Butiran-butiran embun pagi yang masih menggelayut manja di pucuk-pucuk dedaunan itu bak kilau mutiara yang berada di dasar lautan. Raja siang mulai menampakkan wajahnya. Mentransfer rasa hangat di permukaan kulit para penduduk bumi yang mungkin tengah merasakan sedikit rasa dingin yang terasa menembus tulang.
Dewa mengayuh sepeda mini berwarna biru dengan penuh semangat. Meskipun betisnya sudah terasa begitu kaku dan menegang, namun tidak sedikitpun ia mengeluh. Bagaimana bisa Dewa mengeluh jika yang ia bawa adalah sang istri tercinta? Sedangkan di belakang punggungnya, Mara sudah membonceng dengan anteng sembari mengeratkan lingkar lengan tangannya di pinggang Dewa. Sesekali keduanya nampak tertawa riang mengitari jalanan beraspal yang di sisi kanan kirinya terdapat kebun teh ini.
Suasana khas daerah dataran tinggi yang cukup dingin, seakan menambah kesan romantis semakin begitu terasa. Terlebih Dewa dan juga Mara adalah sepasang pengantin baru, pastinya yang tercipta hanyalah suasana romantis saja.
"Sayang, taukah akan aku bawa ke mana kamu?"
Sembari mengayuh sepeda, tanpa terasa Dewa sudah membawa tubuh istrinya ini jauh dari villa. Wanita itu bahkan tidak bertanya kemana suaminya ini akan membawanya pergi. Yang ia tahu, setengah jam lebih ia dan sang suami mengitari kawasan ini namun belum juga tiba di tempat yang mereka tuju.
Mara menggelengkan kepalanya meskipun dapat dipastikan bahwa Dewa tidak melihatnya. "Aku tidak tahu Mas. Memang mau ke mana kita?"
Dewa hanya tersenyum simpul. Ia mengusap lengan tangan Mara yang melingkar di pinggangnya. "Sebentar lagi kita akan sampai Sayang!"
"Memang kita akan kemana Mas? Aku benar-benar penasaran!"
"Yang pasti akan menjadi tempat yang teramat berkesan untukmu Sayang!"
"Benarkah seperti itu? Tapi di mana Mas? Aku sungguh sangat penasaran!"
Dewa hanya terkekeh kecil. Ia membelokan sepeda yang ia kayuh untuk memasuki sebuah rumah yang cukup sederhana namun memiliki halaman yang begitu luas.
Dewa menghentikan laju sepedanya. Dan ia mulai turun dari sepeda itu. "Ayo Sayang kita turun!"
Pandangan Mara menyapu seluruh penjuru tempat ini. Suasana yang begitu asri karena di halaman rumah ini banyak terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Mara turun dari boncengan sepeda. Setelah itu Dewa sandarkan sepeda yang ia pakai tadi di bawah salah satu pohon yang ada di sini.
"Selamat datang Wa!"
Suara bariton yang tetiba terdengar di indera pendengaran Dewa dan juga Mara, sukses membuat keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan terlihat, seorang lelaki paruh baya berjalan mendekat ke arah sepasang pengantin baru itu.
"Pak Rendra!"
Dewa mengulurkan tangannya untuk menyalami lelaki paruh baya ini. Dengan penuh rasa hormat, Dewa mencium punggung tangan lelaki bernama pak Rendra ini.
"Bagaimana? Apakah perjalananmu kemari mendapatkan banyak halangan? Atau mungkin kamu lupa akan jalan ke kediamanku?"
Dewa terkekeh. "Pastinya tidak Pak. Saya selalu ingat jalan ke rumah pak Rendra!"
"Syukurlah kalau begitu." Tatapan mata pak Rendra terpaku pada sosok wanita yang berdiri di samping Dewa. "Wa? Ini?"
Dewa mengangguk pelan. "Iya Pak ini istri saya, Mara!"
Mara mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pak Rendra. Kepalanya sedikit menunduk sebagai pertanda rasa hormat kepada seseorang yang lebih tua darinya ini. "Saya Mara, Pak. Istri mas Dewa!"
Pak Rendra berdecak lirih. "Sungguh pintar kamu mencari istri Wa. Sudah cantik, sopan, dan masih muda seperti ini!" Pak Rendra tergelak lirih. "Ra? Apakah Dewa bisa memuaskanmu? Aku dengar senjatanya tidak berfungsi?"
Mara tersipu malu mendengar ucapan pak Rendra ini. "Mas Dewa.... Bisa kok Pak. Bahkan sangat perkasa!"
"Hahahaha haahaahaa aku baru paham, ternyata kesembuhan Dewa ada padamu Ra. Tidak mengherankan jika Dewa langsung memperistrimu!"
Dewa ikut tergelak mendengar penuturan pak Rendra. Pak Rendra ini merupakan salah satu relasi Dewa yang mencarikan dokter ahli di mana Dewa menjalani therapy impo*ten yang sempat ia alami hampir setengah tahun belakangan ini.
"Bagaimana keadaan Luki, Pak? Apakah dia baik-baik saja?"
__ADS_1
"Aaahhhh.... Tentu dia baik-baik saja. Bahkan tenaganya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Apakah kamu ingin bertemu dengannya?"
Dewa mengangguk mantap. "Tentu saja Pak. Kedatangan saya kemari memang berniat untuk berjalan-jalan bersama Luki. Boleh bukan?"
Pak Rendra tersenyum simpul. "Tentu boleh Wa! Luki pastinya juga akan senang menemani acara jalan-jalanmu!"
Dahi Mara sedikit mengerut. Ia tidak terlalu paham dengan Luki yang dibicarakan oleh Dewa dan pak Rendra ini. "Mas, siapa Luki? Apakah dia adalah anak pak Rendra?"
Mara sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Maka dari itu, ia berbisik lirih di telinga suaminya ini.
Dewa terkekeh kecil. "Mari kita masuk Sayang. Nanti akan aku kenalkan kamu dengan Luki." Dewa menautkan pandangannya ke arah pak Rendra. "Pak, apakah saat ini saya boleh mengajak Luki jalan-jalan?"
"Pasti boleh Wa. Sejak kamu memberi kabar ingin kemari, aku tahu bahwa kamu ingin berjalan-jalan bersama Luki. Oleh karenanya, aku sudah memberinya makan yang banyak dengan gizi terbaik agar dia kuat untuk menemanimu dan juga istrimu." Pak Rendra membalikkan badannya. "Ayo kita bersegera ke sana. Mumpung masih pagi, jadi acara jalan-jalan kalian tidak akan terlalu panas."
Dewa dan Mara mengekor di belakang tubuh pak Rendra. Mereka menuju ke halaman belakang yang terlihat jauh lebih luas dari halaman depan. Mata Mara terbelalak sempurna tatkala melihat ada beberapa ekor kuda yang berada di tempat ini.
"Mas, ini?"
Dewa mengangguk pelan sembari tersenyum simpul. "Iya Sayang, pak Rendra ini merupakan salah satu pemilik kuda yang sering disewa oleh para pelancong yang kebetulan berwisata di daerah sini. Lihatlah, kuda yang beliau miliki banyak bukan? Satu diantara kuda-kuda itu ada satu yang sering menemaniku jalan-jalan di kawasan ini."
"Jadi Luki yang kamu maksud adalah kuda, Mas?"
"Itu benar Ra! Ini merupakan kuda yang sering menemani Dewa jalan-jalan!"
Pak Rendra menimpali pertanyaan Mara, sembari menarik tali seekor kuda berwarna putih yang terlihat begitu gagah.
"Berkenalan lah terlebih dahulu dengan Luki, agar ia juga jinak kepadamu!" titah pak Rendra kepada Mara.
Dengan tatapan heran, Mara menatap kuda putih di hadapannya ini. Dewa hanya terkikik geli melihat sang istri yang terlihat sedikit ketakutan itu.
Dengan takut-takut, Mara mendekatkan tubuhnya ke wajah kuda ini. Perlahan ia mengelus kepala kuda putih bernama Luki ini. "Hai Luki, aku Mara, istri mas Dewa! Semoga kita bisa berteman baik ya. Sama seperti kamu berteman baik dengan mas Dewa."
Kuda putih bernama Luki itu menatap lekat wajah Mara dengan tatapan yang sulit terbaca. Namun, tiba-tiba...
Cup....
Luki mendaratkan bibirnya ke pipi Mara, layaknya lelaki yang tengah mencium pipi gadisnya. Kedua bola mata Mara terbelalak, tidak menyangka jika akan mendapatkan sambutan seperti ini dari Luki. Tidak hanya Mara, Dewa pun ikut terperangah melihat apa yang dilakukan oleh kuda putih ini.
"Hei Luki! Aku tahu istriku ini cantik. Tapi jangan coba-coba untuk menggoda istriku ya. Apalagi kamu berani menciumnya!" sungut Dewa seakan tidak rela jika istrinya ini dicium oleh kuda.
"Hahahaha haahaahaa bahkan kuda pun mengakui kecantikan istrimu Wa. Pertama kali bertemu, ia memberikan respon yang begitu manis seperti ini." timpal pak Rendra sembari terbahak.
Dewa berdecak. "Jangan-jangan pak Rendra yang mengajari Luki menjadi genit seperti ini?"
"Tentu tidak Wa. Luki ini salah satu kuda yang sangat pintar. Jadi ia tahu mana wanita yang benar-benar baik dan mana wanita yang pura-pura baik."
Mendengar penuturan pak Rendra, Dewa sedikit terkejut. Tetiba ia teringat akan Dita. Luki sama sekali tidak pernah memberikan respon yang baik di saat Dita mendekatinya. Bahkan kuda ini terlihat begitu gelisah dan tidak tenang tatkala Dewa mengajak mantan istrinya itu untuk menemaninya berjalan-jalan di kawasan ini.
Pak Rendra tersenyum simpul melihat Dewa yang tengah larut dalam lamunannya itu. Ia paham betul apa yang dipikirkan oleh Dewa. "Sudah, jangan terlalu banyak bengong. Lebih baik kalian segera melanjutkan acara kalian pagi ini. Mumpung udaranya masih terasa begitu sejuk."
Dewa mengangguk perlahan. "Baiklah Pak. Kalau begitu saya izin membawa Luki!"
"Silakan Wa. Di dekat sini ada sebuah danau cinta yang yang cukup bagus pemandangannya. Aku rasa tempat itu sangat cocok untuk kalian menghabiskan pagi ini."
"Danau cinta? Danau apa itu Pak? Mengapa saya belum pernah mendengarnya?"
__ADS_1
"Salah satu danau buatan, Wa. Yang sering dijadikan tempat untuk melepas penat orang-orang yang berada di sekitar sini. Baru satu minggu danau itu diresmikan. Jadi untuk saat ini masih sepi pengunjung dan pastinya akan cocok bagi kalian untuk menghabiskan waktu berdua."
"Benarkah seperti itu Pak?" Dewa bertanya seakan masih ragu dengan apa yang diucapkan oleh lelaki paruh baya ini.
"Tentu benar. Di sana juga ada rumah pohon yang aku rasa bisa kalian jadikan tempat untuk......." Pak Rendra mencondongkan wajahnya ke arah telinga Dewa. Lirih ia berbisik. "Untuk bermesra-mesraan bersama istrimu, hahahaha!"
Dewa ikut tergelak. "Hahahaha pak Rendra ini bisa saja. Ya sudah, saya berangkat ya Pak!"
"Berangkat lah!"
"Sayang, ayo naik. Biar aku bantu kamu untuk menaiki Luki!"
Mara terlihat ragu dengan apa yang akan ia lakukan ini, mengingat ini adalah kali pertama ia menaiki kuda. "Mas, aku takut!"
Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Jangan takut Sayang. Ayo aku bantu!"
Dengan penuh sayang, Dewa membantu Mara untuk menaiki kuda ini. Setelah sang istri berhasil naik, kini giliran Dewa yang naik. Ia mengambil posisi di belakang punggung Mara.
"Sudah siap Sayang?" tanya Dewa sembari memegang tali pengendali kuda ini.
Mara mengangguk. "Iya Mas. Tapi hati-hati ya. Aku takut!"
Pak Rendra ikut terkekeh. "Kamu jangan takut Ra. Suamimu ini sudah handal dalam mengendalikan kuda. Jadi kamu pasti akan selamat sampai tujuan."
Mara tersenyum lega. "Terimakasih banyak Pak!"
"Ya, ya, ya. Sudah lah, segeralah ke danau cinta itu. Dan selamat bersenang-senang!"
"Kami permisi Pak!" ucap Dewa berpamitan.
Dewa mulai mengendalikan tali yang terpasang di tubuh Luki. Perlahan kuda putih ini mulai bergerak mengikuti kendali Dewa. Dia berjalan meninggalkan halaman belakang rumah pak Rendra dan bersiap membawa Dewa dan Mara ke danau cinta yang dibicarakan oleh pak Rendra tadi.
"Waaaaaa... Ini menyenangkan sekali Mas. Ternyata begitu mengasyikkan berkuda seperti ini!"
Layaknya anak kecil yang baru sekali menaiki kuda, Mara memekik kegirangan saat untuk pertama kalinya ia merasakan sensasi naik kuda. Dewa yang mendengar keceriaan istrinya ini hatinya juga ikut menghangat. Sungguh keceriaan Mara menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Apakah kamu menyukainya Sayang?" tanya Dewa sembari meletakkan kepalanya di ceruk leher sang istri dan tangannya masih fokus dengan tali pengendali Luki.
"Aku senang sekali Mas. Terimakasih banyak sudah mengajakku berkuda seperti ini. A-Aku sungguh bahagia Mas!"
"Sama-sama Sayang. Ini merupakan salah satu kewajiban yang harus aku lakukan untukmu. Yaitu membahagiakanmu dengan caraku!"
Mara yang sebelumnya fokus ke arah depan, kini ia sedikit menggeser wajahnya. Dan....
Cup....
Sebuah kecupan singkat, Mara daratkan di bibir Dewa. Wanita itu tersenyum lebar. Ia teramat bahagia diperlakukan istimewa seperti ini. "Terimakasih banyak suamiku.... Terimakasih.... A-Aku sungguh mencintaimu!"
Senyum manis terbit di bibir Dewa. Ia pun membalas kecupan yang diberikan oleh istrinya ini. "Aku juga sungguh mencintaimu Sayang. Sungguh, sungguh mencintaimu!"
.
.
. bersambung....
__ADS_1