Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 49 : Kamu Melupakan Satu Hal, Dewa!


__ADS_3


"Tunggu!" teriak Karta, sebelum wanita-wanita itu sampai di beranda depan.


Keempat wanita itu sedikit terkejut. Wajah mereka nampak pias. Khawatir jika Karta mengetahui apa yang telah mereka rencanakan.


"Aku rasa kalian melupakan sesuatu!"


Karta mengambil satu gepok uang seratus ribuan dari dalam tas kecil yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Ia langkahkan kakinya untuk mendekat ke arah para istri, masih dengan wajah yang nampak berbinar.


"Gunakan uang ini untuk memanjakan calon istriku! Belikan pakaian, dan semua yang ia perlukan. Ini adalah salah satu bentuk penghargaan dan salah satu upaya ku untuk memanjakan gadis yang bersedia menjadi istri keempatku."


Bersedia? Mungkin bagi orang yang mendengar ucapan lelaki tua itu akan terbahak. Gadis belia yang ada di sini bukan bersedia menjadi istri keempatnya, lebih tepatnya dipaksa untuk bersedia menjadi istri keempatnya. Sungguh sebuah lelucon yang terdengar begitu menggelitik telinga, Juragan.


Karta menyerahkan gepokan uang itu kepada Nining. Ia sangat yakin jika Nining dapat menggunakan uang itu secara cermat untuk bisa membahagiakan Mara. Karena diantara ketiga istrinya ini, Nining lah yang terlihat begitu memiliki rasa welas asih yang begitu besar. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika ia bisa menjadi pengayom untuk para madunya.


Maksud ucapan Karta dengan menghentikan langkah kaki mereka, seketika membuat keempat wanita itu bernapas lega. Dalam benak mereka mungkin sudah sama-sama beranggapan jika Karta sudah mengendus rencana yang telah mereka susun secara rapi. Namun pada kenyataannya ia hanya ingin memberi uang saku untuk membeli semua keperluan Mara.


Nining menerima uang pemberian suaminya ini. "Matur nuwun Kangmas. Saya akan menggunakan uang ini dengan bijak, untuk keperluan Mara."


Karta menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, berangkatlah. Dan ingat, manjakan calon istriku ini."


"Injih Kangmas."


Dengan perasaan lega dan penuh rasa syukur, keempat wanita itu mulai meninggalkan kediaman Karta. Nining menggenggam jemari tangan Mara dengan erat, sembari tersenyum manis di hadapan sang gadis, seakan menyerukan sebuah isyarat jika semua akan baik-baik saja.


Langkah kaki Mara terasa jauh lebih ringan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus bisa mewujudkan apa yang selama ini menjadi mimpi-mimpinya. Dengan begitu, ia tidak akan pernah mengecewakan orang-orang yang secara tidak langsung selalu memberikan pertolongan untuknya agar bisa terlepas dari belenggu hidup yang terasa begitu mencekik lehernya.


***


Mobil yang dikemudikan oleh Krisna melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang didominasi oleh pohon-pohon jati yang menjulang tinggi. Hening yang tercipta. Hanya terdengar suara merdu dari vokalis band dalam negeri dengan lagu-lagu pop yang mereka nyanyikan melalui sistem audio yang ada di dalam mobil Dewa.

__ADS_1


Dari balik kaca mobil, pandangan mata Dewa menatap nyalang ruas-ruas jalan yang ia lalui ini. Jalanan yang di setiap sudutnya mengingatkannya kepada gadis asing yang baru beberapa hari ia temui. Entah apa yang dipakai oleh gadis itu. Bahkan, kepergiannya yang tiba-tiba membuat seonggok daging yang berada di dalam tubuh Dewa terasa begitu hampa. Melebihi kehampaan yang ia rasakan atas penghianatan yang dilakukan oleh mantan istrinya.


"Wa, kamu baik-baik saja?"


Berkali-kali Krisna melirik ke samping kiri, di mana Dewa terduduk. Ia teramat khawatir jika keheningan Dewa ini justru menimbulkan sebuah masalah baru. Ya, lelaki itu takut jika bos nya ini tiba-tiba kesambet setan penunggu pohon-pohon jati yang ada di kanan-kirinya.


Dewa membuang nafas kasar. Sekilas, ia memijit-mijit pelipisnya yang tetiba rasa pening itu melanda. "Aku baik-baik saja. Tapi mengapa hatiku rasanya seperti ini? Aku merasa ada satu bagian dari dalam hatiku yang hilang."


"Kamu merasakan kehilangan atas menghilangnya Mara, Wa. Namun kamu selalu saja berupaya mengingkarinya."


Dewa menggeleng pelan. Lelaki itu nampak belum juga menyadari jika dirinya benar-benar merasa kehilangan atas menghilangnya si gadis asing. Hingga pandangan matanya terpaku pada jalan setapak yang ada di sisi kirinya, di mana jalan itu yang pernah ia lewati bersama Mara untuk menuju ke pemakaman ibunda gadis itu.


"Berhenti sejenak Kris!"


Krisna menginjak pedal rem secara mendadak. "Ada apa?"


"Jalan setapak itu adalah jalan menuju tempat peristirahatan terakhir ibunda Mara," ucap Dewa sembari menunjuk jalan setapak yang ada di sisi kirinya.


Krisna sedikit mengernyitkan keningnya. "Apa kamu berubah pikiran? Kita berbalik arah dan kemudian mencari keberadaan Mara?"


Mengetahui tiada respon sama sekali dari Dewa, Krisna mencoba kembali melayangkan sebuah pertanyaan. Dengan harapan bos nya ini berubah pikiran.


"Wa? Bagaimana? Apa kita berbalik arah dan berupaya mencari keberadaan Mara?" ucap Krisna mengulangi apa yang ia tanyakan.


"Jalan Kris! Aku rasa gadis itu memang memiliki hubungan khusus dengan lelaki bernama Pramono. Dan mungkin saat ini mereka telah hidup bersama."


Krisna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sembari membuang nafas kasar. Benar-benar merupakan kesia-siaan memberikan penjelasan kepada seseorang yang tengah dilanda oleh rasa cemburu. Sekeras apapun penjelasan itu diutarakan, sama sekali tidak akan pernah bisa diterima. Ia sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri yang seakan mencari-cari celah pembenaran akan apa yang ia pikirkan. Meski belum tentu apa yang ada di dalam pikirannya merupakan suatu hal yang benar.


Lelaki itu sepertinya melupakan satu hal yang pernah ia janjikan di atas pusara ibunda Mara. Ia pernah berjanji akan selalu menjaga dan melindungi gadis itu, namun kini ia memilih untuk pergi dari kota ini tanpa mencari tahu dengan pasti apa yang tengah menimpa gadis itu. Hingga, mobil yang dikemudikan Krisna pun bergerak semakin menjauh dari jalan setapak itu dan hanya menyisakan sebuah cerita yang mungkin bagi Dewa sendiri hanyalah sepenggal cerita telah usai.


***

__ADS_1


"Cah ayu, ini adalah bus yang akan membawamu sampai ke kota Bogor. Kamu hati-hati di jalan ya."


Setelah membelikan Mara beberapa potong baju, ponsel, dan sebuah tas kecil, Nining menuju terminal untuk bisa membawa Mara pergi dari kota ini. Dan sebuah tiket perjalanan ke kota Bogor, sudah berada di dalam genggaman tangan Mara.


Mara menatap penuh haru wanita hampir memasuki usia senja yang ada di hadapannya ini. Gegas, ia memeluk wanita itu dengan erat. "Terimakasih banyak untuk semua kebaikan yang telah Ibu berikan. Saya tidak tahu bagaimana caranya harus berterima kasih kepada Ibu.."


Mara kembali menangis di pelukan Nining. Gadis itu sama sekali tidak pernah menyangka jika akan dipertemukan dengan wanita berhati malaikat seperti Nining ini. Melalui wanita hampir berusia senja inilah, ternyata ia bisa kembali mendapatkan kebebasannya.


"Cara kamu berterima kasih kepada Ibu... Jadilah wanita yang tangguh Cah ayu, tentunya untuk mewujudkan semua mimpi yang kamu miliki. Di mana suatu hari nanti, Ibu akan mendengar sebuah berita bahwa gadis cantik yang Ibu tolong ini telah menjadi orang besar yang sukses dengan semua angan dan citanya."


Dengan penuh kasih sayang, Nining mengusap-usap punggung Mara dengan lembut sembari mengucapkan kata-kata yang ia yakini bisa membuat gadis cantik ini lebih bersemangat.


Mara mengurai pelukannya dan mencoba menghapus jejak air mata yang membasahi pipi. "Saya berjanji Bu, saya berjanji."


Nining tersenyum simpul. Wanita itu menepuk bahu Mara seakan memberikan semangat untuk sang gadis. "Ya sudah, sekarang lekas masuk ke dalam bus yang akan tumpangi, Cah ayu. Dan selamat untuk menapaki hari-hari bahagiamu."


"Terimakasih banyak Bu. Terimakasih."


Mara mulai mengayunkan kakinya untuk memasuki bus yang akan membawanya sampai di kota Bogor. Ia mencari-cari nomor kursi sesuai dengan yang ada di dalam tiket yang ia pegang, dan di seat nomor 15 lah, kursi yang akan ia tempati.


Pandangan mata menatap lekat ke arah di mana Nining berada saat bus yang ia tumpangi perlahan mulai bergerak. Wanita hampir memasuki usia senja itu melambaikan tangan dengan seutas senyum manis yang terbit di bibirnya, mengiringi kepergian Mara. Dan dibalas dengan hal yang sama oleh gadis itu.


Bus yang ditumpangi Mara semakin menjauh dari pandangan mata Nining, hingga akhirnya bayang kendaraan besar itu benar-benar hilang dari penglihatannya.


Mungkin kamu tidak pernah tahu jika selama ini, aku memendam sebentuk perasaan terhadapmu, Baskara. Bahkan sampai saat ini, perasaan itu masih tersimpan rapi. Aku sadar bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu. Namun untuk saat ini aku benar-benar bahagia karena bisa membebaskan putrimu dari belenggu ini. Aku berharap kamu senantiasa berbahagia, Baskara.


Sedangkan gadis belia yang tengah duduk di salah satu kursi penumpang itu, melihat ke arah depan dengan sorot mata tajam. Berkali-kali ia berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk selalu bersemangat menjalani masa-masa yang akan datang.


"Semangat Mara! Semangat!"


.

__ADS_1


.


. bersambung ..


__ADS_2