
"Genderuwo!!!!"
"Ssstttt... Mbok jangan teriak-teriak. Ini aku Dewa!"
"Astaga ya Tuhan... Aku kira genderuwo!!"
Tubuh mbok Darmi melonjak seketika tatkala melihat bayangan tinggi, tegap, di dapur di pagi buta seperti ini. Tak mengherankan jika mbok Darmi mengira bayangan yang ia lihat itu merupakan sosok genderuwo karena keadaan dapur pagi ini masih dalam suasana remang-remang dan hanya bayangan seperti itulah yang nampak di penglihatannya.
"Genderuwo apa sih Mbok? Ganteng dan tampan seperti ini masa dibilang genderuwo?" ucap Dewa sambil membersihkan daging ayam di bawah kran wastafel.
"Apa yang Tuan lakukan di pagi buta seperti ini? Di dapur lagi. Padahal seumur-umur Tuan kan jarang sekali menginjakkan kaki di dapur?"
Rupa-rupanya rasa ingin tahu mbok Darmi meronta-ronta, tatkala melihat sang majikan menyibukkan diri di dapur. Berkutat dengan ayam, dan juga beraneka bumbu dapur. Lelaki itu bahkan terlihat begitu sempurna layaknya seorang chef dengan apron yang melekat di tubuhnya.
"Aku ingin membuat ayam bakar madu, Mbok!"
Meniriskan daging ayam dilanjutkan dengan mengulek bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, dan jahe, aura duda hampir berusia kepala empat itu terlihat justru jauh lebih keluar. Lelaki itu bahkan terlihat begitu mahir dalam mengolah semua bahan-bahan yang ada. Jika ia pernah gagal dalam hal membuat kue untuk Mara ketika gadis itu berulang tahun, namun tidak untuk memasak makanan ini. Beraneka olahan ayam seperti ini sudah takluk di tangan Dewa.
"Mau simbok bantuin Tuan?"
Duda setengah perjaka itu hanya tersenyum simpul sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Mbok. Aku bisa sendiri kok."
Dewa sibuk melumuri daging ayam dengan ulekan bumbu yang ia buat. Setelah itu ia masukkan ke dalam magic roaster dan tinggal menunggu matang. Sedangkan mbok Darmi hanya bisa terperangah melihat sang majikan begitu lihai dalam memasak seperti ini.
"Sebenarnya dalam rangka apa tuan Dewa sibuk memasak seperti ini? Dan mau di bawa ke mana semua makanan ini Tuan?"
Dewa bersandar di kitchen island dengan tatapan menerawang. Sembari membayangkan gadis cantik yang rencananya akan ia temui pagi hari ini.
"Akan aku bawa ke rumah calon istriku, Mbok."
"Calon istri?"
Mbok Darmi nampak terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. Pasalnya sejauh ini sang majikan tidak pernah terlihat membawa calonnya bertandang ke rumah.
"Ya, dia calon istriku Mbok. Doakan aku ya, biar dia benar-benar bisa segera menjadi pendamping hidupku."
Meskipun tatapan mata Dewa terlihat begitu menerawang, namun binar-binar bahagia itu nampak terpancar jelas di wajah tampannya. Hal itulah yang membuat mbok Darmi juga ikut merasakan kebahagiaan itu. Sejak prahara rumah tangga datang menyerang lelaki dewasa itu, membuatnya hampir tidak pernah tersenyum lebar seperti ini. Namun hari ini, senyum bahagia itu kembali hadir dan pastinya membuat orang-orang di sekitarnya turut merasakan kebahagiaan itu juga.
"Aamiin, Simbok doakan untuk kebaikan tuan Dewa selalu. Semoga setelah ini, kehidupan tuan Dewa dipenuhi oleh kebahagiaan."
"Terimakasih Mbok."
Tak selang lama, apa yang dinanti oleh Dewa telah matang sempurna. Gegas ia menatanya dalam sebuah rantang dan siap untuk ia berikan kepada gadis yang ia cinta.
__ADS_1
***
"Tuan? Apa yang Tuan lakukan di pagi hari seperti ini?"
Jarum jam yang bertengger baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Namun Dewa dalam keadaan rapi sudah berdiri di depan pintu rumah Mara. Hal itulah yang membuat gadis itu terkejut setengah mati.
Dewa mengulas sedikit senyumnya. Meskipun gadis itu hanya mengenakan daster rumahan dengan karakter Pikachu, namun sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya. Gadis itu jauh lebih nampak cantik natural.
Pandangan mata Dewa menangkap sesuatu yang berada di bagian dada Mara. Dan lelaki itu seakan terhipnotis oleh apa yang nampak di sana.
Ya Tuhan, mengenakan pakaian longgar seperti ini saja milik gadis ini terlihat sangat jelas. Bagiamana jika gadis ini mengenakan lingerie? Astaga... Milikku....
Dewa kesusahan untuk menelan salivanya. Ia seakan merasakan ada benjolan di kerongkongan yang menghalangi aliran salivanya itu. Bibirnya hanya terkatup dan hanya pisang tanduknya lah yang berbicaralah bahwa ia terpukau dengan makhluk seksi di depannya ini.
"Tuan! Mengapa bengong?"
Mau tak mau gadis itu menepuk pundak Dewa tatkala melihatnya terbengong-bengong. Hal itulah yang membuat Dewa terkesiap dan sadar dari lamunannya.
"Eh.. Anu... Itu..." Duda setengah perjaka itu gugup setengah mati. Ia menghela nafas dalam mencoba menguasai gejolak dalam batinnya. "Kamu mau ke mana Ra?"
Sungguh konyol. Pertanyaan yang dilontarkan Mara belum terjawab sama sekali, justru lelaki itu menjawabnya dengan pertanyaan lain.
Mara berdecak. "Saya mau ke warung depan Tuan, mau membeli sarapan."
"Tidak perlu ke warung nasi Ra." Dewa menunjukkan tote bag yang ia ada di tangannya. "Aku sudah membawakan sarapan pagi untukmu dan juga ayah. Jadi kamu tidak perlu ke warung nasi."
Wajah Mara seketika berbinar mendengar Dewa memanggil sang ayah dengan sebutan 'ayah'. Panggilan itu benar-benar terdengar begitu hangat karena menjadi sebuah tanda bahwa lelaki di depannya ini akan menyayangi ayahnya seperti menyayangi ayahnya sendiri.
"I-ini apa Tuan?" tanya Mara sembari menerima tote bag yang dibawa oleh Dewa.
"Ayam bakar dan nasi uduk. Makanlah, kamu dan juga ayah pasti akan menyukainya."
"Tuan beli di mana? Kok sepagi ini sudah ada yang menjual ayam bakar?"
Dewa hanya terkekeh pelan. "Aku tidak membeli. Aku membuatnya langsung dari tanganku sendiri."
Mara terkesiap. "T-Tuan memasak?"
Lelaki itu hanya mengangguk pelan. "Ya, aku lah yang memasak. Ayo segera dimakan, mumpung masih hangat."
"Terimakasih banyak Tuan. Mari silahkan masuk, kita sarapan sama-sama."
Mara membalikkan badannya, bermaksud segera kembali masuk ke dalam rumah. Namun...
"Ra, tunggu!"
__ADS_1
Dewa menarik lengan tangan Mara dan mencoba menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Tuan?"
"Apakah kamu lupa dengan permintaanku kemarin?"
Kedua alis Mara saling bertaut. Mencoba mengingat-ingat apa yang kemarin dikatakan oleh Dewa.
"Memang Tuan meminta apa?"
"Sungguh kamu lupa?"
Gadis itu mengangguk mantap. "Iya Tuan, saya benar-benar lupa."
Duda itu menghela nafas dalam-dalam. Ternyata begitu sulit bagi gadis ini merubah nama panggilan untuknya. Hanya ingin dipanggil 'mas' saja rasanya teramat sulit.
"Panggil aku 'mas' Ra. M A S , 'mas'!" ucap Dewa sembari mengeja huruf-huruf yang menjadi rangkaian kata 'mas'. Berharap gadis itu akan selalu mengingatnya.
Mara hanya tersenyum simpul. Ternyata panggilan inilah yang sempat ia janjikan kepada Dewa. Mara menghela nafas dalam dan ia hembuskan perlahan.
"Mari silahkan masuk Mas. Kita sarapan sama-sama."
Mendadak wajah duda sedikit perjaka itu berseri-seri hanya karena dipanggil 'mas' oleh sang pujaan hati.
"Coba ulangi lagi Ra!"
"Mas Dewa..."
"Lagi Ra!"
"Mas Dewa..."
"Lagi!"
"Mas Dewa!"
Ahhhhh ya Tuhan... Ini terdengar manis sekali. Bagaimana jika nanti saat dia menyerukan namaku ketika kami bercinta.... Ahhhhh rasanya pasti lebih manis dari gula jawa.
Ya, Dewa tetaplah Dewa, duda sedikit perjaka yang seringkali terjebak oleh angan-angannya sendiri. 😅😅
.
.
. bersambung...
__ADS_1