Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 122 : Oh Istriku


__ADS_3

Warning!!!!


Part ini mengandung beberapa adegan 21++... Mohon bijak dalam memilih bacaan....πŸ€—πŸ€—


___________________



"Sayang, bisakah malam ini kamu tidak memakai pakaian itu?"


Bersandar di head board ranjang dengan menatap lekat layar laptop yang ia letakkan di atas paha, tetiba pandangan mata lelaki itu sedikit terusik tatkala melihat pergerakan sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Mara mendaratkan bokongnya di kursi rias. Ia ambil cream malam kemudian ia aplikasikan di wajahnya. "Memang kenapa sih Mas? Apa ada yang salah dengan pakaian yang aku kenakan ini?"


Dewa menghela nafas sedikit kasar. Pakaian yang dikenakan oleh istrinya ini sungguh membuat hasratnya semakin memuncak. Bagaimana tidak memuncak? Jika sang istri hanya membalut tubuhnya dengan lingerie warna hitam dengan aksen renda-renda yang terlihat begitu menggoda.


"Tidak ada yang salah, Sayang. Namun ada baiknya kamu mengenakan lingerie ketika kamu tidak kedatangan tamu bulanan saja. Kalau di saat-saat seperti ini, sungguh hanya membuatku semakin tersiksa."


Dahi Mara sedikit mengerut. Ia yang sebelumnya berada pada posisi memunggungi Dewa dan menatap sang suami lewat pantulan kaca, kini wanita itu dapat melihat sang suami secara langsung. "Mengapa bisa tersiksa, Mas? Memang apa yang sudah aku lakukan?"


"Membuatku tersiksa karena tidak dapat bercumbu dan bercinta denganmu Sayang. Sungguh, itu semua hanya membuatku tersiksa."


Mara terkikik geli melihat perubahan raut wajah suaminya ini. Lelaki itu nampaknya benar-benar frustrasi karena tidak dapat menyalurkan hasratnya. Mara beranjak dari posisi duduknya. Perlahan, ia ayunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah Dewa. Naik di atas ranjang kemudian ikut bersandar di head board ranjang di sisi Dewa dan ia letakkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Mas...."


"Ya Sayang?"


"Apa sebelum kamu bertemu denganku, kamu sering merasakan hasrat ingin bercinta seperti ini?" Mara bertanya sembari memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di dada sang suami.


Dewa yang masih intens menatap layar laptop di pangkuannya ini, gegas menggeser laptopnya dan ia letakkan di atas nakas. Jemari tangan yang sebelumnya ia pakai untuk menjamah papan keyboard, kini beralih fungsi untuk membelai rambut hitam legam sang istri yang mengeluarkan semerbak harum aroma shampoo.


Dewa menggelengkan kepalanya samar. "Tidak Sayang. Semenjak aku mengalami disfungsi ereksi, aku sama sekali tidak pernah merasakan gejolak hasrat itu."


"Sungguh?"


Dewa mengangguk. "Sungguh Sayang. Aku sama sekali tidak pernah merasakan hasrat itu."

__ADS_1


"Ketika mantan istrimu bertelanjang di hadapanmu, apakah kamu juga tidak merasakannya Mas?"


"Percaya atau tidak, aku memang tidak pernah merasakan dorongan hasrat ingin bercinta Sayang. Dokter yang menangani aku pun juga sempat keheranan. Karena seharusnya dengan beberapa kali aku menjalani pengobatan dan therapy saja, seharusnya aku sudah bisa sembuh. Namun sampai sebelum aku bertemu denganmu, kenyataannya aku belum sembuh juga." Dewa meraih dagu sang istri untuk dapat menatap lekat paras cantik istrinya ini. "Dan tanpa aku duga sama sekali, ternyata gadis yang saat ini menjadi istriku inilah yang memulihkan keadaanku seperti semula."


Mara hanya tersenyum simpul. Ia letakkan kembali kepalanya di dada bidang sang suami. Kali ini, wanita bergelar nyonya Rangga Danabrata Dewandaru itu tidak hanya memainkan bulu-bulu halus yang ada di dada sang suami. Namun juga mulai menciuminya dan mengecupnya dengan intens.


"Sayang.... Kamu ingin membangunkan ular yang tengah tertidur?"


Tubuh Dewa sedikit menggeliat tatkala rasa geli itu tetiba hadir akibat sentuhan bibir sang istri.


"Kalau iya, memang kenapa Mas? Apa kamu tidak mau?"


Setelah puas bermain-main di dada bidang sang suami, ia menggeser bibirnya untuk turun menyusuri bagian perut Dewa. Seperti halnya di bagian dada, Mara juga menciumi bagian perut suaminya ini. Tangan Mara mulai membuka resleting celana milik sang suami dan mengeluarkan sesuatu yang tersimpan di balik celana itu.


"Ssssshhhhh.... Aaahhhh Sayang .... Kamu mengapa jadi nakal seperti ini sih?"


Dewa memejamkan mata, merasakan setiap sentuhan bibir sang istri yang menyusuri permukaan kulitnya. Bulu kuduk lelaki itu seketika meremang tatkala bibir sang istri menyentuh ular piton miliknya. Ular piton yang sebelumnya dalam mode turn off, seketika menggeliat dan mulai berdiri tegak.


"Hmmpphh... Hmmpphh.... Sssrrrpppp... Sssrrrpppp... Ssssshhhhh...."


"Oouuuhh Sayang.... Ini nikmat sekali Sayang!"


Dewa sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia menarik lengan tangan sang istri untuk ia rebahkan di atas ranjang. Kini, posisi sang istri terbaring sempurna. Dewa membuka kaos tipis berwarna putih yang masih membalut tubuhnya. Celana yang belum terlepas sempurna, ia tanggalkan dan kini lelaki itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Dewa mengambil posisi di atas Mara. Dan menatap lekat wajah sang istri. "Apakah kamu sudah selesai datang bulan, Sayang?"


Mara menggelengkan kepalanya. "Belum Mas. Mungkin lusa selesai."


"Lalu, aku harus bagaimana Sayang? Bagaimana bisa aku menuntaskan ini semua?"


Mara hanya menyunggingkan sedikit senyumnya. Gegas, ia membuka lingerie yang membalut bagian atas tubuhnya. Dan kini kedua bukit kembar miliknya terekspos sempurna di depan mata Dewa.


"Aku bisa membantumu Mas."


Dahi Dewa mengernyit. "M-maksud kamu Sayang?"


Mara kembali tersenyum simpul. Ia raih lotion yang sebelumnya sudah ia siapkan di sisi ranjang dan sedikit ia tumpahkan di sela-sela kedua bukit kembar miliknya.

__ADS_1


Dewa terperangah. Tidak percaya jika sang istri paham dengan cara-cara bercinta seperti ini. "Sayang... Kamu?"


Mara mengangguk. "Jepit di sini Mas!"


"T-tapi bagaimana denganmu Sayang? Kamu pasti tidak akan merasakan kenikmatan itu!"


Mara mengusap lembut pipi Dewa. "Aku akan bahagia jika bisa melihatmu menuntaskan hasratmu Mas!"


Telapak tangan Mara mulai memegang ular piton milik sang suami dan ia tuntun untuk ia tempatkan di sela kedua bukit kembar miliknya. Mara sedikit menekan kedua bukit itu dari sisi samping hingga ular piton milik Dewa terjepit sempurna.


"Lakukan Mas!"


Ucapan Mara layaknya sebuah mantra yang berhasil menghipnotis tubuhnya. Tak sanggup lagi untuk menahan semua hasrat yang menggelora, akhirnya lelaki itu mulai memacu pinggulnya ke depan dan ke belakang untuk bisa merasakan sensasi yang dihadirkan oleh sela-sela bukit kembar milik istrinya ini.


"Oohhh.... Istriku.... Ini nikmat sekali. Sama nikmatnya ketika aku bermain di dalam lembah milikmu."


Mara tersenyum simpul. "Raih kenikmatan itu Mas!"


"Ohhhh Sayang.... Eempphhhhh.... Aahhhh...."


******* demi ******* bersahutan lolos dari bibir Dewa. Lelaki itu semakin mempercepat ritme permainannya tatkala orgasme itu hampir ia raih.


"Uuhhhhhh Sayang.... Ooohhh.... Aaahhhh...."


"Eemmmmphhh.... Sayang, a-aku......."


"Aaaaarrrghh...... Sayaaaaaanggggg.....!!!!"


Tubuh Dewa menggelinjang dan bergetar hebat. Dan ....


Para pembaca pasti tahu sendiri bukan jika lelaki itu telah berhasil meraih orgasme nya?.... Hii hihihihihi.. Hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri. Bisa dicoba tatkala sang suami begitu berna*fsu namun posisi sang istri tengah datang bulan.. wwkkkkkk


Ampuunnnnn......!!!!πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


.


.

__ADS_1


. bersambung...


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.


__ADS_2