
"Fiks yang ini ya Sayang?"
Setelah menimbang-nimbang semua foto yang dikirim oleh Krisna, pada akhirnya pilihan Mara jatuh pada dua sepeda lipat khusus untuk anak-anak dan sebuah sepeda mini kecil warna pink.
Mara mengangguk perlahan. "Iya Mas, yang itu saja. Aku kira tiga buah sepeda itu cocok untuk mereka."
Setelah meneguk segelas air putih yang ia ambil di atas nakas dan satu butir obat penurun panas, Mara kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia kembali menarik selimut untuk meredam rasa dingin yang terasa begitu menusuk tulang.
"Sayang, kamu mau tidur lagi?" lelaki itu bertanya sembari membereskan rantang-rantang yang sudah tandas tanpa bekas.
"Iya Mas, badanku rasanya sakit semua."
Dewa mencoba mengingat-ingat sesuatu. Ia teringat jika istrinya ini pernah mengatakan bahwa ketika ia sakit akan cepat sembuh jika dikerik. "Sayang aku kerik mau? Biar cepat sembuh?"
Mara menatap netra milik suaminya ini dengan lekat. "Kamu bisa ngerik Mas?"
"Tentu saja Sayang. Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu? Mau ya aku kerik?"
Mara mulai menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan, dan setelah bagaian atas tubuhnya terbuka sempurna, ia mulai mengambil posisi duduk membelakangi Dewa.
"Ayo Mas. Sepertinya benar katamu, setelah dikerik kesehatanku ini pasti akan langsung pulih."
"Eh tapi apakah ada minyak angin dan koin logam Sayang?" Wajah Dewa mendadak pias saat teringat bahwa dia tidak menyimpan minyak angin dan juga logam.
"Di laci nakas ada Mas. Tadi oma Widuri yang meletakkannya di sana."
Gegas, Dewa mulai membuka laci nakas dan mengambil minyak angin dan juga koin. Tanpa membuang banyak waktu, lelaki itu mulai mengambil posisi duduk di belakang punggung Mara dan memulai aktivitasnya.
Glek....
Dewa kesusahan menelan salivanya tatkala pemandangan putih mulus punggung sang istri terpampang jelas di depan matanya. Sebentuk punggung yang nampak begitu menggoda dan....
Astaga Dewa... Buang jauh-jauh pikiran mesummu. Istrimu ini sedang sakit gegara tingkah lakumu, sempat-sempatnya kamu berpikir untuk bercinta lagi? Kamu mau jika pisang tandukmu benar-benar dipotong oleh Oma?
Dewa sibuk bermonolog dalam hati tatkala merasakan di bagian bawah tubuhnya sudah ada yang mengeras dan menegang. Mungkin ini sungguh gila karena hanya melihat punggung sang istri saja sudah membuatnya bernafsu untuk bercinta. Ia membayangkan dengan posisi memeluk sang istri dari belakang, ia mulai memainkan dua buah benda sintal nan padat milik istrinya ini. Namun buru-buru Dewa mencoba menepis segala pikiran buruk itu.
Dahi Mara sedikit mengernyit karena hampir sepuluh menit, Dewa tidak kunjung mengambil start untuk mengerik punggungnya. "Mas, ada apa? Ayo cepat Mas, aku keburu kedinginan."
Dewa terkesiap. Lelaki itu hanya tersenyum kikuk. "Eh iya Sayang. Aku mulai ya."
"Iya Mas!"
__ADS_1
Dengan gerak layaknya tukang kerik profesional, Dewa mulai melukis punggung sang istri dengan pola garis-garis yang berjajar rapi. Mata lelaki itu nampak membulat sempurna tatkala melihat garis-garis warna merah kehitaman yang mulai muncul di permukaan kulit Mara. Benar saja, istrinya ini masuk angin.
"Sssshhhh... Aaahhhh... Iya Mas, itu enak sekali. Emmmpphh..."
Mara merem melek tatkala merasakan sensasi kerikan yang diberikan oleh suaminya ini.
Astaga ya Tuhan apa lagi ini? Mengapa istriku ini malah mendesah nikmat? Bukankah desahannya hanya justru membuatku semakin mati kutu?
"Uuhhhhh... Iya Mas, seperti itu. Kalau bisa lebih keras lagi Mas. Aaahhhhh...."
"Lebih keras? Bukankah nanti bisa bikin kamu lecet Sayang?"
Mara menggeleng. "Tidak Mas. Justru jika gerakanmu lebih keras, pasti akan segera keluar. Uuhhhhh.... Hmmpphh...."
Dewa sedikit menambah ritme gerakan tangannya. "Seperti ini Sayang?"
Mara mengangguk. "Aaahhhhh... Ssshhhhh... Iya sepertu itu Mas."
"Aaahhhh Sayang enak ya?"
"Iya Mas, enak sekali. Sebentar lagi pasti akan keluar."
"Memang apa yang keluar Sayang?" Dewa sedikit keheranan akan apa yang dimaksud keluar oleh istrinya ini.
Sepasang suami istri itu sibuk dalam aktivitas mereka. Tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada seseorang yang menempelkan telinganya di permukaan daun pintu. Meskipun kamar di depannya ini kedap suara, namun dengan menempelkan telinganya seperti ini, ia bisa mendengar jelas desahan-desahan yang keluar dari bibir wanita penghuni kamar ini.
"Oh ya Tuhan... Ternyata Mara lebih menyukai cara kasar? Berkali-kali dia meminta Dewa untuk melakukannya dengan keras? Benar-benar di luar dugaan. Aku kira wanita itu menyukai gerakan penuh kelembutan tapi ternyata dia menyukai yang sedikit kasar. Dan tadi apa katanya? Dia tidak takut kalau lecet-lecet? Ckkkccckkk benar-benar di luar ekspektasi."
Krisna yang sedari tadi berada di depan pintu kamar Dewa hanya bisa dibuat tertegun dan terpaku tatkala mendengar suara-suara sensual yang berada di dalam kamar ini. Niat hati ingin memberi tahu sang bos bahwa pesanannya sudah siap diantar, justru malah membuatnya terjebak dalam situasi panas seperti itu. Ya, bagaimana mungkin dia tidak ikut merasa panas saat mendengar suara-suara penuh kenikmatan seperti itu? Sebuah hal yang wajar jika ia beranggapan bahwa sang bos dan istrinya tengah larut dalam lautan hasrat yang menggelora. Padahal sesungguhnya tidak ada yang mereka lakukan di dalam sana selain hanya kerikan saja.
***
"Maaf, apa benar ini rumah bapak Gunawan?"
Setelah mengetuk pintu berkali-kali pada akhirnya sopir mobil pickup yang membawa tiga buah sepeda bertemu langsung dengan pemilik rumah ini. Sang pemilik rumah yang bernama Gunawan itu hanya bisa terperangah karena tidak biasanya ada tamu yang datang di jam-jam seperti ini.
Gunawan menganggukkan kepalanya. "Benar Pak, saya Gunawan. Maaf ada keperluan apa ya Pak?"
Sopir mobil pickup itu tersenyum simpul. "Saya datang kemari untuk mengantarkan sepeda Pak!"
Gunawan terkesiap. "S-sepeda? Sepeda apa Pak? Saya merasa tidak pernah memesan sepeda?"
"Namun dari alamat yang tertera di sini, bahwa memang benar sepeda ini diantarkan kemari Pak. Dan saya hanya bertugas mengantarkannya saja."
__ADS_1
Gunawan menautkan pandangannya ke arah mobil pickup yang terparkir sempurna di halaman depan rumah. "Memang sepeda yang mana yang akan diturunkan di sini Pak?"
"Tiga sepeda itu semuanya diturunkan di sini Pak!"
Tubuh Gunawan seketika melonjak. Jika hal ini merupakan salah kirim mungkin tidak mengapa jika ia harus membayar satu buah sepeda itu. Namun jika harus membayar tiga buah sepeda sekaligus rasa-rasanya ia tidak mampu.
"Tapi Pak. Saya sama sekali tidak pernah memesan sepeda itu. Dan saya pun juga tidak mampu untuk membayar semua pembelian sepeda itu. Lebih baik Bapak bawa kembali saja sepeda-sepeda itu!"
Sang sopir hanya terkekeh. "Bapak tidak perlu khawatir. Sepeda-sepeda ini sudah dibayar lunas. Jadi Bapak tinggal menerima saja!"
"Apa? Sudah lunas semua?" Gunawan sedikit berteriak saking terkejutnya. Sampai-sampai istri dan ketiga anaknya ikut menyusul lelaki itu di depan teras.
"Bapak, ada apa? Mengapa Bapak berteriak?" tanya si sulung di belakang tubuh sang ayah.
"Iya Mas, ini ada apa? Aku sampai kaget!" ucap sang istri sembari menggendong anak keempatnya yang masih berusia empat bulan.
Gunawan masih belum bisa berkata-kata, lidahnya terasa begitu kelu. Dia teramat shock dengan apa yang dia dapatkan ini.
"Begini Bu, saya bertugas untuk mengantarkan sepeda-sepeda itu. Dan Ibu jangan khawatir karena sepeda-sepeda itu sudah dibayar lunas. Jadi Ibu tinggal menerima saja."
"Apa?"
Tidak jauh berbeda dari Gunawan, sang istri pun juga ikut melonjak seketika. Wanita itu juga merasa shock dengan sebuah rezeki yang tiba-tiba datang kepadanya.
"Bapak, Ibu, sepeda-sepeda itu untuk kami?" tanya si sulung sambil menarik-narik baju ibu dan juga bapaknya.
"Iya Nak. Sepeda-sepeda itu untuk kalian bertiga. Ayo kita lihat sama-sama!"
Karena Gunawan dan istrinya tidak dapat menjawab apapun, akhirnya sopir mobil pickup itu yang menjawab pertanyaan dari si sulung. Ia pun mengajak anak-anak Gunawan untuk melihat lebih dekat sepeda-sepeda itu.
"Horeeee.... Kita punya sepeda baru!! Horeee!!!"
Anak ketiga Gunawan melonjak kegirangan. Dengan penuh rasa bahagia ketiga anak penjual bubur itu mengikuti sang sopir untuk menurunkan sepeda-sepeda itu.
Ya Tuhan, siapakah orang baik yang membelikan sepeda-sepeda ini untuk anak-anakku? Siapapun orang itu, semoga Engkau selalu memberinya kebahagiaan, Tuhan. Dan Engkau jauhkan dari segala mara bahaya. -Gunawan-
Aku tidak menyangka bahwa masih ada orang-orang baik di sekitar sini. Siapapun orang itu semoga Engkau senantiasa memberikan rezeki yang melimpah untuk orang itu, Tuhan. -istri Gunawan-
.
.
. bersambung...
__ADS_1