Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 61 : Dilarikan ke Rumah Sakit


__ADS_3


"Kyaaaaaaaaaa.. Sakiiiiiitttt!!"


Lelaki yang menjadi korban keroyokan tawon mengerang kesakitan tatkala koloni tawon itu berhasil mengerubungi tubuhnya. Teriakan lelaki berusia 37 tahun itu sukses mengundang perhatian orang-orang yang berada di sekelilingnya. Dan tanpa menunggu banyak waktu, orang-orang yang mendengar teriakan lelaki itu mendekat ke arahnya.


Mara yang tengah sibuk menyirami tanaman yang ada di teras, hanya bisa mengernyitkan keningnya tatkala melihat para tetangga berbondong-bondong menuju ke arah yang sama.


"Neng Mara tidak ikut ke sana?" ucap salah satu tetangga yang bernama Siyah Fadli.


"Iya Neng, kok tidak ikut ke sana? Ada tontonan menarik loh Neng!" timpal salah satu tetangga yang bernama Sri Agustin yang juga ikut berlarian.


"Memang ada apa Bu? Sepertinya di sana memang sedang berkerumun banyak orang?"


"Itu Neng, dengar-dengar ada lelaki tampan yang diserang oleh tawon," jawab tetangganya yang bernama Ai mencoba untuk menjelaskan.


Mara semakin terperangah. "Diserang tawon? Kok bisa begitu Bu?"


"Kami tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya Neng. Maka dari itu, ayo kita ke sana biar tahu dengan pasti bagaimana kronologisnya," ajak seorang ibu muda yang bernama Nur Kahyati.


Mara yang sebelumnya tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti ini mendadak rasa ingin tahunya muncul seketika. Gayung yang ia pegang, ia letakkan kembali ke dalam ember yang masih berisikan sedikit air kemudian ia mulai bergabung dengan ibu-ibu yang sudah berkumpul terlebih dahulu.


"Aaahhhhhh... Panas...."


"Ya ampun, kasihan sekali kamu Bang. Ganteng-ganteng tapi menjadi korban tawon." celetuk salah seorang ibu bernama Aisah A.


"Mungkin tubuh lelaki ini memang manis, sehingga membuat tawon-tawon itu mengerubunginya." seorang ibu bernama Sri Waltiyah pun tak ingin kalah untuk menyuarakan argumentasinya.


"Hhhmmmmm.. Mungkin lelaki ini terkena karma karena tengah mengintip seseorang?" seloroh salah seorang ibu yang bernama Luluk Farida.


"Karma bagaimana Bu?" ucap seorang ibu bernama Bundane Sycal yang tidak terlalu paham dengan perkataan tetangganya itu.


Ibu bernama Luluk Farida itu hanya mengendikkan bahunya. "Ya bisa jadi lelaki ini tengah menguntit seseorang. Memang ada alasan yang masuk akal, melihat lelaki ini berdiri di bawah pohon waru selain sedang menguntit?"


Tubuh lelaki yang tengah tertunduk dan dikerumuni oleh kaum ibu-ibu berdaster, membuat Mara kesusahan untuk melihat siapa sebenarnya yang menjadi korban keganasan koloni tawon-tawon itu. Mara mencoba untuk menerobos kerumunan, untuk melihat dengan lebih dekat siapa gerangan orang itu.


"Ya Tuhan.... Sakit sekaliiiii...."


Kedua alis Mara saling bertaut dengan dahi sedikit mengerut. Gadis itu benar-benar merasa tidak asing dengan suara lelaki yang tengah berjongkok, meringkuk, sembari menenggelamkan wajahnya di sela-sela lipatan pahanya.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Mara mil mulai menyentuh bahu lelaki ini dan mencoba untuk melihat wajahnya dengan lekat. "Tuan Dewa!"


"Ra... Sakit... Panas!!"


"Sabar Tuan."


"Neng Mara mengenal lelaki ini?" ucap salah seorang ibu yang bernama Mirawati Ira.


"Iya Bu. Ini bos di tempat saya bekerja."


"Oalaah bos di tempat neng Mara bekerja? Kok nasibnya apes melulu ya Neng? Bukankah baru beberapa hari yang lalu bos neng Mara ini dikeroyok oleh kumpulan sopir angkot?" timpal seorang ibu bernama Dyandra.


Mara hanya bisa mengendikkan bahunya. "Entahlah Bu. Saya juga tidak paham. Mungkin memang dia sedang tidak beruntung saja. Tolong bantu saya untuk membawa bos ini ke rumah pak mantri ya Bu."


"Baik Neng."


Pada akhirnya lelaki yang diserang koloni tawon ganas yang tak lain adalah Dewa di papah oleh kumpulan ibu-ibu berdaster namun tetap saja terlihat fashionable, menuju kediaman salah satu mantri yang ada di sekitar tempat tinggal Mara. Dewa hanya bisa meringis, menahan sensasi rasa sakit, perih, panas, nyeri, ngilu yang bercampur menjadi satu. Sedangkan Mara, hanya dapat mengelus dada dengan perasaan iba karena bos di tempatnya bekerja ini selalu saja mengalami kesialan.


***


"Dasar cucu tidak ada akhlak. Seenaknya saja dia melupakan janjinya, kalau sore ini dia akan mengantarku ke supermarket untuk membeli keperluan dapur."


"Krisna juga tidak tahu kemana perginya Dewa, Oma. Sejak sore tadi, Krisna tidak melihat Dewa berkeliaran di sekitar sini. Sejak Krisna mencoba membujuk Melly untuk menemani Dewa, dan berakhir dengan sebuah penolakan, Krisna sama sekali tidak melihat keberadaan Dewa, Oma."


"Tadi kamu bilang apa? Membujuk Melly untuk menemani Dewa? Itu maksudnya bagaimana?" Oma Widuri seakan tidak bisa mencerna maksud yang diutarakan oleh asisten pribadi cucunya ini.


Krisna mengangguk pelan. Ia mulai bercerita tentang apa yang menjadi maksudnya mendatangkan Melly ke ruangan Dewa. Sebuah angan yang telah tergambar sempurna di benak Krisna, dengan Dewa bisa bermesra-mesraan bersama Melly, namun berakhir dengan sebuah cerita yang berbanding terbalik.


Setelah Melly keluar dari ruangan Dewa, model itu mencari keberadaannya dan justru mengamuk karena pisang tanduk milik Dewa tetap pada mode turn off . Hal itulah yang membuat Krisna kelabakan bagaimana caranya untuk memadamkan amukan sang model selain dengan membawa keluar dari kantor ini untuk mengajaknya shopping. Sejak siang Krisna menemani Melly berbelanja di mall dan baru sore ini ia kembali ke kantor.


Oma Widuri membuang nafas sedikit kasar. "Ide kamu benar-benar gila Kris."


"Krisna pikir Dewa bisa sedikit terhibur dengan kedatangan Melly, Oma. Namun ternyata malah seperti itu kejadiannya."


"Tapi tunggu. Bukankah kamu pernah mengatakan kepadaku bahwa keadaan Dewa sudah pulih seperti sedia kala?"


Krisna mengangguk. "Itu betul Oma. Dewa sendiri yang mengatakan bahwa pisang miliknya sudah bisa turn on. Meskipun Krisna juga belum bisa melihatnya secara langsung sih."


"Tapi mengapa pisang milik Dewa tidak memberikan respon apapun saat Melly mencoba untuk merangsangnya?"

__ADS_1


"Nah, itu salah satu yang membuat Krisna heran Oma. Karena kenyataannya Melly sampai mengamuk karena Dewa mengatakan, dirinya tidak berhasrat sama sekali dengan model itu."


Oma Widuri sungguh tidak mengerti dengan apa yang dialami oleh cucunya ini. Ketika keadaannya telah pulih, bukankah seharusnya ia bisa terangsang ketika mendapatkan rangsangan seperti itu? Namun cucunya justru tidak memberikan respon apapun. Semakin larut oma Widuri memikirkan hal itu, maka semakin pening kepalanya.


"Hmmmmm mengapa kita malah membahas perihal pisang Dewa? Coba kamu hubungi Dewa, Kris! Kemana sebenarnya duda tidak laku itu. Berani-beraninya dia melupakan janjinya kepadaku."


Krisna merogoh saku celananya. Ia ambil ponsel yang tersimpan di dalam kantong celananya itu. Namun, sebelum ia mencari nama kontak Dewa, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk.


Seutas senyum manis terbit di bibir Krisna. "Panjang umur cucu Oma itu."


"Hallo Wa. Kamu di mana? Segeralah pulang. Oma sudah menunggu!" ucap Krisna melalui sambungan telepon tatkala sang bos menghubunginya.


"...."


Dahi Krisna mengernyit. "Mara? Kamu mengapa bisa bersama Dewa? Dewa di mana Ra?"


"...."


Mata Krisna terbelalak. "Rumah sakit? Dewa kenapa Ra?"


"...."


"Apa??? Dikeroyok tawon? Ya Tuhan.. Malang sungguh malang sekali nasibmu Wa."


Tuut.. Tuut.... Tuttt...


"Ada apa Kris? Dewa kenapa?" tanya oma Widuri dengan nada cemas.


"Dewa dilarikan ke rumah sakit Oma!"


Wajah oma Widuri mendadak sendu. Matanya sudah mulai berembun. Dia memikirkan hal buruk menimpa sang cucu. Sama seperti kecelakaan yang pernah dialami oleh cucunya itu. "Sebenarnya Dewa kenapa Kris? Ada apa dengan cucuku?"


"Dewa dilarikan ke rumah sakit karena dikeroyok oleh tawon, Oma!"


Oma Widuri terkesiap. "Apa? Tawon? Ya Tuhan... Ada pertikaian apa antara cucuku dengan tawon? Sampai membuatnya dikeroyok seperti itu?"


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2