Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 77 : Setelah Sekian Purnama


__ADS_3


Warning : Mengandung adegan 21++. Mohon bijak dalam memilih bacaan.


__________________________


Dewa PoV


Taukah kalian, mataku terpejam saat merasakan sentuhan jemari tangan Mara mengusap-usap serta memijit-mijit juniorku. Sungguh, apa yang ia lakukan ini seakan membuatku terbang ke langit ke tujuh dan tidak ingin kembali turun ke bumi. Nafasku sudah semakin memburu. Dadaku juga terasa semakin bergemuruh. Aku sudah tidak sabar ingin segera melakukannya.


Tanpa basa-basi, aku mulai membopong tubuh Mara dan aku hempasan di atas ranjang. Kubuka semua kain yang masih membalut tubuhnya yang aduhai, dan kini gadis yang telah resmi menjadi istriku ini dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Ahhhhh ya Tuhan... betapa sempurnanya ciptaan Mu ini.


Begitu pula aku. Aku lucuti bathrobe yang masih membalut tubuhku dan kini, aku bertelanjang bulat di hadapan istri kecilku ini.


"Hhmmmphhhh.... .."


Aku melahap Mara dengan rakus. Tatkala ia membuka mulutnya, tidak aki lewatkan kesempatan ini untuk menikmati pesona bibir yang begitu menggoda itu. Beberapa waktu mengenalku ternyata gadisku ini sudah pandai membalas pagutan dari bibirku. Bagaimana? Aku pantas berbangga diri bukan?


Aku lepaskan ciumanku. Aku tatap wajah cantik istriku dengan lekat dan tatapan yang dipenuhi oleh kabut hasrat yang begitu tebal. Kabut itu tidak akan pernah hilang jika tidak ada penyatuan raga yang aku lakukan dengan istriku ini.


"Aaaaaahhh.... Eemmmmphhh mas Dewa...."


Kepalaku kembali menunduk. Kini, bagian dada Mara lah yang menjadi incaranku. Tubuh istriku bergeliat saat merasakan sensasi bibirku yang mulai memanjakan kedua benda sintal, padat, nan kenyal itu. Matanya terpejam sembari meremas-remas rambutku. Dan hal itulah yang aku anggap tubuh istriku nampak berpuluh-puluh kali lipat lebih seksi.


"Keluarkan Sayang. Jangan kamu tahan sama sekali."


"Eemmmmphhh... Ahhhhh... Oouuuhh.... Ssshhhh..."


Aahhh.. Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari bibir Mara layaknya nada-nada cinta yang terdengar begitu menggoda. Aku sudah tidak tahan, aku benar-benar tidak tahan lagi.


"Sayang, bolehkah?"


Sungguh pertanyaan yang begitu konyol. Sudah dalan mode nafsu memuncak seperti ini bisa-bisanya aku meminta izin? Tidak aku katakan pun Istriku pasti mengizinkannya.


"Lakukanlah Mas! Aku telah menjadi milikmu seutuhnya. Dan kamu boleh melakukannya."


Tanpa membuang banyak waktu, aku mulai membuka paha istriku dan kini terpampang jelas sebuah lembah yang ditumbuhi oleh hutan tipis yang terlihat begitu menggoda. Ku arahkan benda pusaka yang disebut singkong bakar oleh istriku tadi ke permukaan lembah itu. Kugesekkan milik ku ini di lembah itu.


"Aaahhhh... Sayang... Ini nikmat sekali!"


Baru saja aku menggesekkan milikku, namun rasanya sudah begitu nikmat seperti ini. Bagaimana nanti jika juniorku berhasil melesak masuk ke dalam lembah itu? Ahhhhh pastinya akan semakin nikmat. Kurasakan milik Mara sudah basah dengan cairan alami yang diproduksi oleh tubuhnya. Hal itu menandakan jika Istriku siap untuk menerima segala kenikmatan dan kepuasan yang akan aku berikan.


Aku kembali memagut bibir Mara, bermaksud untuk mengalihkan segala rasa sakit yang mungkin akan dirasakan olehnya. Sembari aku arahkan milikku untuk menekan lembah itu.

__ADS_1


"Aaaaaahhh... Mas.... Sakit!!"


Baru seperempat jalan milikku mencoba untuk membuka segel milik Mara, namun ia sudah kesakitan. Aku tersenyum simpul, sembari aku kecup lagi bibirnya dengan intens.


"Untuk pertama memang sakit Sayang. Namun percayalah, setelah rasa sakit itu akan berganti menjadi rasa nikmat yang begitu luar biasa. Dan jika kamu merasa sakit, kamu boleh menggigit pundakku ini."


Kulihat Mara mengangguk pelan. Aku kembali melanjutkan perjalananku. Dan....


"Aaahhhh... Sayang... Ini sempit sekali!"


Taukah kalian? Sekian menit aku berupaya untuk melakukan penetrasi sempurna ke dalam liang surgawi milik Mara, namun susah sekali. Berbeda dengan apa yang pernah aku lakukan terhadap Dita yang memang sudah tidak perawan tatkala menikah denganku. Aku sepertinya harus berusaha keras untuk membuka segel istriku ini.


"Mas....Sakit... Aaahhhhh..."


Kulihat wajah istriku nampak menahan rasa sakit atas ganasnya singkong bakar milikku ini. Ada rasa kasihan yang bergelayut manja dalam hati ketika memaksakan kehendakku ini, tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak bisa untuk menahannya.


"Tahan sebentar Sayang... Aku janji setelah ini hanya akan ada rasa nikmat tiada terkira."


Aku kembali menekan milikku kuat-kuat sembari mencium bibir tipis istriku. Dan....


"Aaaaaahhh....."


"Aaaaaaa...."


Lenguhan itu sama-sama keluar dari bibir kami. Aku melenguh karena merasakan nikmat karena telah berhasil merobek hymen milik Mara. Sedangkan Mara berteriak karena mungkin merasa kesakitan.


Ku hentikan sejenak aktivitasku, membiarkan milikku terbenam sempurna di dalam liang surgawi milik Mara ini. Kembali ku tatap lekat wajah istriku yang sudah berderai air mata, menahan rasa sakitnya.


"Maafkan aku Sayang... Apakah kita hentikan saja?"


Melihat Mara meneteskan air matanya karena menahan sakit, aku seakan meras tidak sampai hati untuk melanjutkan pergumulan ini. Meskipun aku sudah tidak tahan untuk bisa kembali merasakan apa itu orgasme, namun melihat wajah istriku yang berusaha menahan rasa sakitnya ini sungguh membuatku tidak tega.


Kulihat Mara menggeleng. "Tidak Mas. Lanjutkan!"


"T-tapi kamu terlihat sangat kesakitan Sayang?"


"Bukankah kamu yang mengatakan jika setelah rasa sakit ini akan berganti menjadi rasa nikmat tiada tara? A-Aku ingin merasakannya juga, Mas!"


Ahhhhh... Mendengar Mara merespon dengan ucapan seperti itu, jiwaku yang sudah lama gersang dan kering kerontang seperti disiram oleh air hujan yang terasa begitu menyegarkan dan menyejukkan.


Kembali aku pagut bibir Mara. "Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut Sayang!"


"Lakukanlah Mas!"

__ADS_1


Tanpa membuang banyak waktu aku mulai memacu tubuhku di atas tubuh istriku. Aku mencoba menggunakan ritme gerakan perlahan, namun sumpah demi apa, sensasi rasa nikmat yang dihadirkan oleh liang surgawi milik Mara ini seakan mendorongku untuk mempercepat ritme pacuannku.


"Ssshhhhh...."


"Eeemmmphhhh...."


"Aaaahhhhh.... Oouuhhhh... Hemmmpphh.."


Desahan, lenguhan seakan menggema di dalam kamar ini. Beruntung kamar resort yang aku tempati ini kedap suara. Jika tidak, pastinya akan menjadi sumber perhatian orang-orang di luar sana, atau mungkin orang-orang yang berada di kamar sebelah.


Kami hanyut dalam lautan hasrat yang begitu menggelora diiringi dengan deru nafas yang menggebu layaknya ombak pantai yang bergulung-gulung di luar sana. Aku semakin mempercepat ritme pacuanku tatkala ku rasakan nikmatnya denyutan-denyutan dari otot-otot lembah milik Mara. Milikku benar-benar terasa dijepit dan digilas hebat oleh otot-otot milik Mara yang tidak ada menyisakan rasa lain kecuali rasa nikmat.


"Ohhhhh Sayang... Milikmu sungguh nikmat. Aku sudah tidak tahan Sayang.."


Aku merancau sembari memacu tubuh Mara. Setengah tahun aku tidak merasakan penyatuan raga seperti ini, membuatku seakan tidak tahan untuk meledakkan lahar hangat dari dalam tubuhku di liang surgawi milik istriku ini.


"Ooohhhh Mas.... A-Aku ingin pipis ..."


Aku menyeringai nakal masih sambil memacu tubuhnya. Ucapan Mara ini semakin membuat hasratku semakin memuncak. "Ssssshhhhh ... Kita pipis sama-sama Sayang... Uuhhhhhh... Aaahhh...."


"Eemmmmphhh... Mas...... "


"Uuhhhhh... Sayang....."


"Mas Dewa...."


"Sayang... Eempphhhhh... Uuhhhhh..."


"Aaaahhh...."


"Aaaaahh....."


"Masss..... Aaahhhhh....!!!"


"Aaaaaahhh Sayang... A.. Aku... Mau.... aaaahhhhhhhh!!!"


Tubuhku menggelinjang dan bergetar hebat. Lenguhan panjang yang keluar dari bibirku menjadi akhir dari pergulatanku bersama Mara di malam hari ini. Otot-otot milik lembah surgawi Mara semakin erat menjepit juniorku, dan hanya menyisakan rasa nikmat yang luar biasa hebat. Lahar hangat dari dalam tubuhku pun mulai meledak, membanjiri lembah itu. Ku dekap tubuh Mara dengan erat, sembari aku berikan kecupan-kecupan penuh cinta di bibirnya. Tubuhku tiba-tiba melemas dan masih berada dalam posisi menindih Mara. Pada akhirnya, setelah sekian purnama aku bisa kembali merasakan apa itu surga dunia. Dan tidak pernah aku sangka, jika gadis asing yang baru beberapa saat aku kenal inilah yang memberikannya.


"Terimakasih istriku... Terimakasih... Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Ampun.... 🙏🙏🙏🙏😅😅😅😅


__ADS_2