
"Mas.... Makanlah aku sudah kenyang!"
Wajah calon papa itu nampak sedikit pias setelah sang istri untuk kesekian kalinya memintanya untuk menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Mulai dari sup buntut, rendang, soto babat, ayam bakar dengan lengkap dengan nasi uduk, siomay, batagor, bakso, dan hampir semua makanan yang tersedia di gofood sudah ia pesan. Namun lagi-lagi hanya sesuap yang masuk ke dalam mulut sang istri, setelahnya wanita yang tengah hamil enam bulan itu menghentikan kunyahannya.
"Tapi Sayang, perutku juga sudah kenyang. Sedari tadi, aku yang menghabiskan semua makanan ini. Perutku sudah tidak bisa lagi menampungnya, Sayang."
Dewa sedikit kesal karena sedari tadi permintaan istrinya ini begitu aneh. Meski usia kandungan sang istri sudah memasuki usia enam bulan, namun tetap saja ia belum berhenti untuk mengerjainya. Selalu seperti ini, Mara menginginkan berbagai jenis makanan tapi selalu saja tidak dihabiskan. Baru satu suap setelah itu berganti lagi keinginannya. Alhasil, dirinya lah yang berperan sebagai 'tempat pembuangan' untuk makanan-makanan yang dibeli oleh istrinya ini.
"Kalau kamu tidak mau memakannya sayang kan mas? Membuang-buang makanan itu tidaklah baik. Ayolah Mas, habiskan siomay ini!"
Ya Tuhan... Kalau kamu tahu bahwa membuang-buang makanan itu tidaklah baik tapi mengapa kamu belum juga berhenti untuk memesan makanan melalui aplikasi itu sih Sayang? Jadi gemes aku!
Dewa membuang nafas sedikit kasar. Lelaki itu pun menyerah. Dan memilih untuk menghabiskan siomay yang dibeli oleh istrinya ini. Sedangkan Mara, dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rona bahagia menatap lekat wajah sang suami yang tengah melahap siomay di depannya ini.
"Lihatlah Sayang... Papamu terlihat begitu lahap menyantap semua hidangan yang ada di sini. Dan tahukah kamu Nak? Tubuh papamu terlihat semakin berisi semenjak kamu ada di dalam perut Mama."
Mara sibuk berdialog dengan calon anaknya yang masih berada di dalam perut sembari tertawa girang. Tangan wanita itu tiada henti mengusap-usap perutnya yang sudah nampak membuncit. Ya, kini usia kandungan Mara sudah menginjak usia enam bulan. Tidak ada acara mengidam aneh-aneh seperti para tokoh wanita yang ada di dalam novel author remahan kulit kuaci ini. Ia hanya menginginkan beberapa jenis makanan, namun belum sempat dihabiskannya, wanita itu menginginkan makanan yang lain lagi.
Seutas senyum terbit di bibir Dewa. Melihat sang istri sebahagia ini rasa-rasanya tidak ada alasan baginya untuk tidak menuruti apa yang menjadi keinginan sang istri yang memintanya untuk menghabiskan semua ini. Ternyata membahagiakan istri tatkala hamil hanya sesederhana ini.
"Siomay ini sudah habis Sayang. Sudah ya, berhenti dulu pesan makanannya. Kita lanjutkan besok lagi?"
Perut Dewa benar-benar sudah kenyang. Ia pun memilih untuk bernegosiasi dengan sang istri untuk menghentikan acara pesan memesan semua makanan yang tersedia di aplikasi gofood ini. Namun sayang seribu sayang, wanita yang tengah hamil itu tetap menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mas, ada satu makanan lagi yang ingin aku nikmati."
__ADS_1
Kedua bola mata Dewa seketika membulat sempurna. Ia merasa akan ada hal buruk yang menimpanya. "Tapi Sayang. Aku benar-benar sudah kenyang. Aku tidak sanggup jika harus memakan makanan yang kamu pesan."
Mara hanya tersenyum simpul. Seakan menjadi sebuah isyarat bahwa Dewa tidak perlu khawatir akan apa yang menjadi kegelisahannya. "Tenang Mas. Untuk kali ini aku akan menghabiskannya. Jadi kamu tidak perlu memakannya."
Mendengar ucapan sang istri seakan menjadi sebuah angin segar untuk Dewa. "Benarkah seperti itu Sayang?"
"Iya Mas, benar. Aku akan menghabiskannya."
"Lalu, kamu mau makan apa Sayang? Biar aku pesankan lewat di gofood," ucap Dewa sembari membuka salah satu merchant yang masuk ke dalam aplikasi ini.
"Aku tidak mau memesan makanan lewat gofood Mas. Aku ingin membeli secara langsung."
"Baiklah Sayang. Aku akan mengantarmu." Dewa kembali meletakkan ponselnya dan menatap lekat netra sang istri dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa cinta yang begitu kentara. "Jadi, kamu ingin makan apa Sayang?"
"Aku ingin makan mie ayam Mas!"
Dewa beranjak dari posisi duduknya seakan bersemangat mengajak sang istri untuk bersegera mencari mie ayam itu.
"Tapi Mas..." ucap Mara menggantung masih anteng duduk di atas kursi makan.
"Tapi apa Sayang? Bukankah kamu ingin segera menyantap mie ayam? Ayo lekas kita beli mie ayam itu!"
"Tapi aku mau makan mie ayam yang dijual oleh penjual yang bernama pak Kliwon, Mas!"
"Apa? Mie ayam pak Kliwon?"
__ADS_1
Mara mengangguk mantap. "Iya Mas. Aku hanya mau makan mie ayam yang penjualnya bernama pak Kliwon. Kalau bukan pak Kliwon, aku tidak mau!"
Dewa seperti kesusahan menelan salivanya. Ia pun hanya bisa menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan sedikit kasar.
Ya Tuhan... Ternyata drama ngidam istriku ini belum juga berakhir. Jika sudah seperti ini, kemana aku harus mencari penjual mie ayam yang bernama Kliwon? Kliwon adalah nama khas orang Jogja. Apakah ada satu nama Kliwon yang bertransmigrasi ke Bogor untuk berjualan mie ayam?
Tiga orang yang berada di dapur yang melihat drama ngidam nyonya Rangga Danabrata Dewandaru itu hanya bisa terkikik geli. Ada sedikit rasa kasihan kepada calon papa itu. Namun sungguh, drama ini membuat mereka sedikit terhibur.
"Sim, Mi. Apakah kalian satu pemikiran denganku?" ucap oma Widuri kepada Kasim dan juga Darmi.
Kasim dan Darmi saling melempar pandangan dan seketika mengangguk bersamaan.
"Iya Nyah. Sepertinya besok ketika anak yang dikandung nyonya muda lahir, ia akan sering membuat tuan Dewa kelimpungan. Pastinya dengan hal-hal aneh seperti ini."
Oma Widuri tergelak. "Hahaha haahaahaa betul sekali itu Mi. Aku sudah tidak sabar untuk segera melihat cucu buyutku lahir ke dunia. Dan melihat bagaimana Dewa kelimpungan menghadapi kejahilan anak-anaknya."
"Pasti akan terlihat sangat mengasyikkan ya Nyah? Dan hal itulah yang akan membuat tuan Dewa awet muda. Karena bahagia dengan keluarga kecilnya," ucap Kasim menyuarakan pendapatnya.
Oma Widuri hanya mengangguk pelan. "Ya, untuk sat ini tidak ada yang aku inginkan selain melihat Dewa bahagia bersama keluarga kecilnya. Dan ternyata, cucuku itu tidak salah pilih menjadikan Mara sebagai pendamping hidupnya. Aku semakin yakin bahwa Mara adalah wanita yang begitu baik dan kelak dapat mendampingi Dewa, apapun keadaan Dewa."
"Benar itu Nyah. Nyonya muda memanglah wanita yang baik. Sangat jauh berbeda dengan nyonya Dira, istri tuan Wisnu."
.
.
__ADS_1
. bersambung...