
Kilau sinar mentari mulai menyapa para penduduk bumi. Sinar keemasannya dan berkilauan di ufuk timur seakan menjadi lukisan alam yang terbentuk sempurna dari sang maha pencipta. Kilau sinar itu mulai menelusup masuk melalui celah-celah gordyn yang menyisakan sebuah kehangatan bagi sepasang manusia yang tengah larut dalam pelukan mimpi-mimpi mereka itu.
"Astaga... !!"
Dewa yang masih meringkuk di bawah selimut dengan posisi memeluk tubuh Mara dari belakang, tetiba terperanjat. Tubuhnya melonjak seketika tatkala permukaan kulitnya menangkap sinyal panas dari tubuh sang istri. Tidak hanya sampai di sana saja, Mara pun juga terlihat menggigil kedinginan.
Gegas, Dewa menggeser tubuh Mara dan membuatnya dalam posisi berbaring sempurna. Tangan kokoh lelaki itu terulur untuk memegang seluruh bagian tubuh Mara dan benar saja, istrinya ini demam.
"Sayang, Sayang, bangun Sayang!"
Dewa menepuk-nepuk pipi Mara, berupaya untuk membangunkannya. Ia khawatir jika sampai istrinya ini kehilangan kesadaran akibat demam tinggi yang menyerangnya.
"Eeeennghhhhh.... Ssshhh... Dingin....!"
Masih dalam posisi mata terpejam, Mara melenguh kedinginan. Gadis yang baru saja resmi menjadi nyonya Rangga Danabrata Dewandaru itu terlihat membetulkan posisi selimut untuk bisa membungkus tubuhnya dengan sempurna.
"Sayang.... Ayo bangun dulu. Jangan seperti ini Sayang."
Lagi, Dewa mencoba menepuk-nepuk pipi Mara dengan pelan. Ia harus bisa memastikan istrinya ini tetap dalam keadaan sadar.
"M-Mas ...."
Perlahan kedua kelopak mata Mara terbuka. Ia sedikit memincing berupaya untuk menyesuaikan sinar matahari yang terasa begitu menusuk kornea matanya.
Dewa tersenyum lega. Pada akhirnya sang istri bangun dari tidurnya. "Sayang, kamu demam. Ayo bangun dulu. Biar aku siapkan sarapan pagi untukmu."
Dahi Mara sedikit mengernyit tatkala rasa pening itu terasa begitu menghujam kepalanya. Susah payah ia mencoba untuk menggeser tubuhnya dan ia sandarkan di head board ranjang. Gegas, ia menarik selimut untuk meredam rasa dingin yang terasa begitu menusuk tulang.
"Mas... Kepalaku sakit dan tubuhku juga rasanya lemas sekali."
__ADS_1
Dewa tersenyum kikuk. Jika melihat kondisi sang istri yang seperti ini, ia semakin tenggelam di dalam perasaan bersalah. Mungkin sakitnya sang istri ini tidak lain karenanya. Ia yang terlalu menggempur habis-habisan tenaga sang istri di malam pertama mereka.
"Sayang, kamu demam. Tunggu di sini sebentar ya. Biar aku ambilkan sarapan untukmu."
Mara hanya mengangguk pelan. Selain rasa pening dan kedinginan, perutnya juga terasa lapar sekali. Ia sampai lupa, kapan terakhir kali ia mengisi perutnya itu. Jika diingat-ingat kemarin siang, saat resepsi pernikahan terakhir kali ia makan.
"Mas, aku ingin makan bubur ayam. Bisakah kamu membawakannya untukku?"
"Bubur ayam? Tapi biasanya di resort ini tidak menyediakan bubur ayam Sayang. Makan nasi saja ya?"
Dewa mencoba bernegosiasi dengan Mara mengingat pihak resort tidak pernah membuat menu sarapan pagi berupa bubur ayam. Namun sepertinya istrinya ini tidak mau tahu, karena seketika ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak Mas.. Aku mau makan bubur ayam. Dan tidak mau makan nasi. Kamu bisa bukan membawakan untukku satu porsi bubur ayam?"
"Tapi Sayang, resort ini biasanya ti....."
"Jadi kamu tidak mau mencarikannya untukku Mas? Baiklah, aku mau minta tolong mas Pram atau mas Krisna saja untuk mencarikannya untukku."
Tangan Mara terulur untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas, bermaksud untuk menghubungi Pramono atau Krisna untuk ia mintai tolong. Baru saja Mara akan melakukan panggilan telepon kepada dua lelaki itu, tiba-tiba...
Mara menautkan pandangannya ke arah sang suami. Ia tersenyum manis di hadapan Dewa. "Benarkah seperti itu Mas?"
Dewa mengangguk. "Tentu saja Sayang. Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu? Jangankan bubur ayam, bubur sapi, bubur kambing, atau bubur jerapah sekali pun bisa aku berikan untukmu."
Rupa-rupanya lelaki itu tidak ingin jika sampai istrinya ini bergantung kepada lelaki lain. Yang ia inginkan, hanya dirinyalah yang menjadi sandaran segala keperluan yang dibutuhkan oleh sang istri. Salah satunya ya tentang bubur ayam ini.
Senyum lebar terbit di bibir Mara. "Terimakasih Mas."
"Ya sudah, kamu tunggu di sini sebentar ya Sayang. Biar aku carikan bubur ayam untukmu."
Masih menggunakan piyama, Dewa melenggang pergi meninggalkan kamar. Ia menuju kitchen resort untuk meminta dibuatkan bubur ayam. Namun, sebelum sampai di kitchen, ia menghentikan sejenak langkah kakinya tatkala oma Widuri memanggil namanya.
__ADS_1
"Wa...!! Mau ke mana kamu? Mengapa terlihat tergesa-gesa seperti itu?"
"Mau ke kitchen, Oma. Mau minta bubur ayam."
Sembari melangkahkan kakinya ke arah sang Oma, Dewa mulai menyampaikan maksud dan tujuannya, pagi-pagi seperti ini sudah menuju dapur.
"Bubur ayam? Untuk apa bubur ayam itu? Siapa yang sakit, hah?"
Sebagai ciri khas orang yang sedang sakit, oma Widuri langsung menembak ucapan Dewa. Wanita berusia senja itu sudah memiliki firasat tidak enak dengan apa yang terjadi dengan cucu menantu kesayangannya.
Dewa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mara, Oma. Dia demam!"
Kedua bola mata oma Widuri terbelalak dan membulat sempurna. "Apa? Mara demam?"
"Iya Oma. Dia demam!"
Oma Widuri mencoba menelisik raut wajah Dewa. "Kamu apakan cucu menantuku semalaman?"
"Y-ya.... Tidak Dewa apa-apakan Oma. Hanya sekedar ritual malam pertama biasa saja."
Oma berdecih. "Maksudku, berapa kali kamu menggempur tubuh cucu menantuku, Dewa?"
Lagi, Dewa hanya tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Di atas ranjang sekali, sedangkan di kamar mandi tiga kali Oma!"
"Dasar, tidak kira-kira kamu Wa. Itu artinya istrimu kelelahan!"
"Aadduuhhhduuh... ampun Oma... Ampun!"
Pada akhirnya, jurus jeweran maut dari oma Widuri mendarat juga di telinga Dewa.
.
__ADS_1
.
. bersambung...