
Warning : Mengandung adegan 21+. Mohon bijak dalam memilih bacaan
Dewa menggeser tubuhnya untuk bangkit dari posisi rebahannya. Ia mengulurkan tangannya untuk membuat Mara juga ikut bangun. Tanpa bersuara, Dewa mulai berjongkok di hadapan istrinya itu.
"Naiklah Sayang!"
"Naik? Kamu mau menggendongku Mas?" ucap Mara mencoba mempertegas apa yang menjadi kemauan Dewa.
"Iya Sayang, naiklah!"
Mengingat sang suami tidak pernah mau menerima sebuah penolakan, pada akhirnya Mara mulai mendekat ke arah punggung Dewa dan mulai naik ke atas punggungnya.
"Berat ya Mas?"
Dewa hanya terkekeh pelan. Baginya berat badan istrinya ini begitu ringan. "Tidak Sayang. Justru beratmu ini rasa-rasanya sangat ringan. Pokoknya kamu harus makan yang banyak agar tetap sehat. Aku tidak mau jika sampai ada orang lain yang beranggapan bahwa istri Dewa ini kekurangan gizi."
Sembari membenamkan kepalanya di ceruk leher Dewa, Mara hanya terkikik geli dibuatnya. "Kamu ini ada-ada saja Mas."
Dengan menggendong tubuh sang istri, Dewa berjalan menyusuri tiap sudut bibir pantai ini dengan perasaan yang begitu bahagia. Bagaimana tidak bahagia? Hari ini ia telah resmi melepas masa dudanya dan berhasil menikahi seorang gadis yang begitu ia cinta. Dalam setiap pijakan kaki yang membekas di atas hamparan pasir putih ini ia berjanji, semampunya akan ia bahagiakan wanita yang ada di atas punggungnya ini.
"Dari mana saja kamu Wa? Mengapa baru masuk ke resort?"
Langkah kaki Dewa terhenti tatkala telah sampai di depan kamar yang akan ia pakai untuk bermalam. Di sana terlihat oma Widuri tengah duduk di sebuah sofa kecil bersama Krisna. Perjaka tua itu nampak begitu bersemangat memijit-mijit pundak oma Widuri.
"Dari pinggir pantai Oma. Mencari angin!"
Oma Widuri dan Krisna hanya bisa melempar pandangan sembari menggelengkan kepalanya.
"Untuk saat ini jangan terlalu sering mencari angin, Wa. Bisa-bisa istrimu ini masuk angin. Aku tidak mau jika harus melihat cucu menantu Oma ini harus masuk angin gegara kamu ajak berjalan malam di tepi pantai yang dingin seperti ini," sungut oma Widuri seakan tidak rela jika cucu menantunya ini akan sakit.
"Tenang Oma, istriku ini kuat jadi tubuhnya tahan dari serangan angin malam." Dewa sedikit menggeser pandangan matanya ke arah wajah Mara yang masih setia berada di lipatan ceruk lehernya. "Bukan begitu Sayang?"
Sembari tersenyum kikuk, Mara hanya bisa mengangguk pelan. "Yang diucapkan oleh mas Dewa ini benar Oma. Mara akan baik-baik saja."
"Yang jelas aku tidak mau jika kamu sampai sakit Ra. Jika kamu sakit, bisa-bisa kalian gagal membuatkan cucu buyut untukku!"
"Tidak Oma, itu tidak akan terjadi."
Krisna masih intens memijit pundak oma Widuri. "Seharusnya bukan Dewa yang Oma khawatirkan, justru yang harus Oma khawatirkan itu adalah Dewa. Oma tahu bukan bahwa usia Dewa ini tidak lagi muda? Bisa jadi tubuh Dewa yang tidak kuat menghadapi angin malam."
Dewa berdecih. "Bicara apa kamu Kris? Meski aku sudah berumur, staminaku masih terjaga dengan baik. Jadi tidak akan tumbang hanya karena angin malam."
"Ckckck, terlalu percaya diri sekali kamu Wa." Krisna menautkan pandangannya ke arah Mara. "Ra, jika Dewa tidak bisa memuaskanmu, jangan segan untuk datang kepadaku ya. Aku siap untuk memuaskanmu!"
Kedua bola mata Dewa membulat seketika. "Dasar lelaki buaya. Baru saja berkenalan dengan Dyandra, masih saja menggoda istri orang!"
Krisna terbahak. Rasa-rasanya menggoda sang bos adalah salah satu kewajiban yang harus ia lakukan setiap harinya. "Aku hanya memberikan sebuah solusi Wa."
"Cih, solusi yang tidak menyelesaikan permasalahan tapi justru solusi yang tidak masuk akal." Dewa mengedarkan pandangannya ke arah oma Widuri. "Oma, Dewa ke kamar dulu ya. Dewa sudah tidak sabar untuk bisa segera memberikan cucu buyut untuk Oma!"
"Ya, ya, ya. Gegas lakukanlah. Semoga berhasil!"
Dewa kembali melangkahkan kakinya untuk menuju kamar yang akan menjadi tempatnya menghabiskan malam-malam pertama ini. Sedangkan Krisna dan oma Widuri masih setia duduk di sofa itu. Entah apa maksudnya.
"Loh, Oma mau ke mana?" tanya Krisna sedikit keheranan tatkala melihat oma Widuri sudah beranjak dari posisi duduknya.
__ADS_1
"Mau ke kamar, istirahat. Apakah kamu akan tetap berada di depan kamar Dewa dan Mara seperti ini?"
"Tidak masalah kan Oma? Barangkali Krisna bisa menjadi penjaga pintu agar prosesi malam pertama mereka tidak terganggu?"
Tanpa basa-basi oma Widuri menjewer telinga asisten pribadi cucunya ini. "Kembali lah ke kamar! Dan jangan sekali-kali kamu mengganggu Dewa dan juga Mara!"
"Aadduuhhhduuh sakit Oma. Sakit!" Krisna mengaduh tatkala jeweran yang diberikan oleh oma Widuri ini terasa begitu sakit di telinganya.
"Masuk kamar! Atau temui lagi gadis cantik yang tadi sempat berkenalan denganmu. Ajak dia jalan-jalan."
"Iya Oma, iya!"
***
Dewa PoV
Aku terkesiap melihat suasana kamar yang akan aku tempati bersama Mara untuk menghabiskan malam ini. Sebuah kamar yang sudah dipersiapkan dengan khusus oleh pihak resort yang terasa begitu romantis. Setiap sudut ruangan dihiasi oleh berpuluh-puluh tangkai mawar merah sedangkan di atas ranjang juga berhamburan kelopak-kelopak mawar merah.
"Mas... Ini?"
Tidak hanya aku, Mara pun juga terlihat begitu takjub tatkala melihat kamar yang akan kami tempati ini. Ku turunkan tubuh istriku dan membuatnya berdiri di depanku.
"Ya, inilah kamar yang akan kita tempati Sayang. Bagaimana? Apakah kamu menyukainya?"
Kutatap dengan intens wajah cantik istriku. Sembari aku susuri setiap lekuk wajahnya dengan jemari tanganku. Dan hal itulah yang membuat istriku ini semakin tersipu.
"Aku menyukainya Mas. Sangat menyukainya."
Aku tersenyum tipis di hadapannya. "Ya sudah, sekarang kita bersih-bersih terlebih dahulu Sayang. Setelah itu, kita akan...."
Aku sengaja menggantung ucapanku, bermaksud untuk menggodanya. Dan benar saja, wajahnya sudah memerah karena malu. Apakah kalian tahu bahwa wajahnya yang seperti inilah yang paling aku mau.
Tentu saja bisa. Bahkan tidak hanya resleting gaun. Semua yang melekat pada tubuh istriku ini bisa aku buka. Istriku sudah berbalik badan. Dan perlahan aku buka resleting gaun yang ia kenakan.
"Sayang...."
Ucapanku seolah tercekat di tenggorokan. Saat punggung putih mulus istriku ini terekspos dengan jelas, tiba-tiba saja hasratku semakin memuncak. Dan benar saja, kabut nafsu itu sudah semakin jelas berada di depan mataku.
"Ya Mas? Ada apa?"
"Punggung kamu ini nampak begitu menggoda. Rasa-rasanya aku ingin segera untuk menikmatinya."
Kudengar istriku terkekeh kecil. "Izinkan aku untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu Mas. Setelah itu, kamu boleh untuk menikmatinya."
Aaahhhh ucapan istriku ini terasa menghipnotis akal sehatku. Buru-buru ku anggukkan kepalaku dan membiarkan dia masuk ke dalam kamar mandi padahal rasanya aku sudah tidak tahan untuk segera menerkamnya.
***
Wajah cantik natural tanpa make up, rambut basah dan bathrobe berwarna putih yang membalut tubuh istriku, seakan membuatnya semakin nampak menggoda di depan mataku. Suasana kamar yang sedikit redup semakin menambah kesan intim yang begitu terasa. Tak perlu menunggu waktu lama, aku mendekat ke arah istriku yang nampak sedang berdiri di depan jendela kamar yang langsung menghubungkan dengan pemandangan laut lepas yang ada di luar sana.
"Sayang... Harum aroma tubuhmu terasa candu untukku. Aku menyukainya Sayang."
Ku peluk tubuh Mara dari belakang, dan ku benamkan wajahku di ceruk lehernya sembari menyesap segala kenikmatan yang tersimpan di dalamnya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Gegas, aku buka tali bathrobe yang melilit di pinggang istriku dan mulai menjelajahi setiap sudut tubuh istriku dengan kedua tanganku.
Kuremas dua benda padat nan sintal yang telah berhasil membangkitkan senjataku yang telah lama mati suri, dan aaahhhh rasanya begitu nikmat tiada tara. Aku belum melihat bagaimana wujud dua buah benda ini, namun dari remasan tanganku, aku rasa milik istriku ini begitu sempurna tanpa cela. Benar apa yang menjadi ekspektasiku, size benda sintal milik istriku ini lebih dari sekedar 36B karena cakupan telapak tanganku masih tidak dapat menjangkaunya dengan sempurna.
"Mas...."
__ADS_1
"Ya Sayang... Mendesah lah. Keluarkan apa yang kamu rasakan."
Aku merasa istriku masih malu-malu untuk mengeluarkan apa yang menjadi luapan hasratnya. Aku paham, istriku masih belum terbiasa dengan hal-hal semacam ini, dan mungkin akan menjadi satu tugas tambahan bagiku untuk menuntunnya.
"Aaahhhhh... Mas...."
Lolos sudah satu lenguhan dari bibir istriku. Tubuhnya juga terlihat sedikit menggeliat tatkala jemari tangan ini semakin intens meremas dua benda sintal itu. Dan taukah kalian? Aku semakin dibuat tidak tahan untuk segera memakannya.
Aku balik tubuh istriku dan kini kami berada dalam posisi saling berhadapan. Pandangan matanya terlihat sayu seakan dihinggapi oleh hasrat yang begitu menggebu, namun taukah kalian jika wajah ini seakan terlihat semakin ayu.
Mataku terbelalak sempurna tatkala memandang dua benda sintal yang sedari tadi aku remas. Benar saja, bukit kembar milik istriku ini benar-benar sempurna.
Ku dekatkan wajahku ke wajah istriku dan aku pagut bibir tipis istriku ini. Kami larut dalam ciuman ini. Ciuman yang sebelumnya terasa begitu lembut kini berubah menjadi sebuah ciuman yang semakin menuntut.
Puas bermain-main dengan bibir istriku, aku geser bibirku di leher jenjang miliknya.
"Emmmpphh...Mas Dewa...."
"Lagi Sayang... Sebut namaku....Aaahhhh..."
Ku tinggalkan beberapa jejak kemerahan di leher putih milik Mara, sebagai tanda bahwa saat ini dia adalah milikku, dan tak akan aku biarkan orang lain di luar sana menggoda apa yang sudah menjadi milikku.
"Uuhhhhh... Mas....."
Lagi, lenguhan-lenguhan yang keluar dari bibir istriku layaknya sebuah bensin yang semakin mengobarkan api gairahku. Aku sudah tidak sabar lagi. Dan aku pun mulai melahap dua buah benda sintal yang terlihat begitu menggoda itu.
"Hhmmmphhhh Sayang... Milikmu sungguh sangat sempurna. Aku menyukainya Sayang.... Aku menyukainya!"
"Mas Dewa....."
Kulihat tubuh istriku sudah meliuk-liuk. Bahkan tangannya juga terasa meremas-remas rambutku dengan intens. Seakan menjadi sebuah tanda bahwa ia ingin segera merasakan kenikmatan yang lebih dari ini.
Aku yang sebelumnya menundukkan wajahku untuk bisa memagut dua benda sintal milik istriku, kini aku tegakkan kembali. Dan kutatap lekat wajah cantik istriku ini.
"Buka Sayang!"
Dahi istriku mengerut. "Buka?"
Aku mengangguk. Ku raih tangan istriku dan mengarahkannya untuk membuka lilitan tali bathrobe yang aku kenakan. Pada akhirnya, bagian depan bathrobe yang aku kenakan sudah memperlihatkan apa yang ada di dalam tubuhku.
"Sentuh lah milikku Sayang!"
Lagi, Mara terlihat sedikit tidak paham dengan apa yang aku ucapkan. Gegas, aku menuntun tangannya untuk memegang juniorku yang sudah menegang sempurna.
Kulihat sorot mata Mara terpaku pada juniorku. Dan mata gadis itu terbelalak sempurna dan bibirnya menganga lebar.
"Singkong bakar?"
Apa? Singkong bakar? Ya Tuhan ... ucapan istriku ini seakan membuatku tergelak seketika....
.
.
. bersambung....😅😅😅
Tahan, tahan, tahan sebentar ya Kak.. Pemanasan dulu ya.. Saya harus bersemedi dulu untuk membuat scene intinya ....😂😂
__ADS_1