Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 133 : Rencana Membalas


__ADS_3


"Ayo ikut aku Kris!"


Masih berada di ruang rawat Mara, Dewa mengajak sang asisten untuk keluar dari ruangan ini. Setelah oma Widuri kembali ke kediamannya, kini giliran Krisna dan Sekar yang datang menjenguk Mara. Ekspresi yang mereka tampakkan juga sama dengan sang oma, sama-sama terkejut karena Mara sampai terbaring di rumah sakit akibat ulah Dita.


"Mau ke mana kamu Wa? Bukankah seharusnya kamu tetap berada di sini untuk menemani Mara?"


Krisna sedikit keheranan tatkala melihat Dewa yang sepertinya sedikit tergesa-gesa untuk bersegera keluar dari ruangan ini. Dari raut wajahnya ia nampak menyimpan sesuatu.


"Iya Mas, kamu mau kemana? Mengapa kamu seperti tergesa-gesa?"


Mara juga tak kalah heran. Biasanya sang suami begitu ingin untuk selalu berlama-lama berada di dekatnya, namun kali ini ia nampak sedikit berbeda.


Dewa hanya mengulum senyum simpul di bibirnya. Lelaki itu mendekat ke arah sang istri dan mencium keningnya. "Aku keluar sebentar ya Sayang. Aku ingin memberikan sedikit pelajaran kepada wanita itu. Karena bagaimanapun juga apa yang telah ia lakukan, berakibat fatal untukmu."


Mara hanya mengangguk pelan. "Baiklah Mas. Namun jangan sekali-kali kamu main hakim sendiri. Lebih baik kamu laporkan saja ke pihak yang berwajib."


"Iya Sayang. Memang seperti itulah rencanaku. Aku juga tidak ingin mengotori tanganku untuk menyentuh wanita itu." Dewa kembali mengecup kening Mara dengan lekat. "Kalau begitu aku keluar dulu ya Sayang. Dan aku minta tolong ke kamu, Sekar. Tolong temani istriku sebentar!"


"Baik Mas. Aku akan menemani Mara di sini."


Pada akhirnya, Dewa dan juga Krisna mengayunkan langkah kaki mereka untuk keluar dari ruang rawat Mara. Kedua lelaki itu bermaksud segera ke kantor polisi untuk membuat laporan akan kekacauan yang telah dilakukan oleh Dita.


***


Di salah satu kamar di sebuah rumah dengan desain minimalis, nampak sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berada di bawah selimut tebal. Wajahnya nampak mengeluarkan sisa peluh dari pori-pori kulit. Dan nafas keduanya juga masih terdengar sedikit memburu. Jika melihat keadaan mereka, dapat dipastikan mereka baru saja selesai dari sebuah aktivitas ranjang yang terasa begitu melelahkan.

__ADS_1


Tubuh keduanya nampak polos tanpa tertutup sehelai benangpun. Sang lelaki masih berupaya memainkan dua benda sintal milik si perempuan. Meremas, memijit dan sesekali mengecup, sebagai satu bentuk rangsangan agar pelepasan yang raih dapat kembali ia rasakan untuk ketiga kalinya.


"Di... Hentikan. Aku sudah sangat lelah. Kita istirahat sejenak, oke?!"


Wanita yang tak lain adalah Puspa, memohon kepada sang kekasih untuk sejenak beristirahat dari aktivitas ranjang yang mereka lakukan. Ya, semenjak pertemuan pertama Puspa dengan Ardi, keduanya memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Hubungan percintaan layaknya sepasang anak muda yang tengah dimabuk cinta.


"Tapi aku ingin sekali lagi meraih pelepasan itu, Pus. Aku sungguh masih ingin mereguknya sekali lagi. Kita lanjutkan ya Sayang?"


Ardi mencoba merangsang Puspa dengan menyapu leher wanita itu dengan bibirnya. Namun Puspa tetap bergeming, tidak memberikan respon sama sekali. Ingin sekali ia mende*sah sebagai satu sinyal bahwa ia juga tengah terangsang. Namun mati-matian ia berusaha untuk menahannya. Ada sebuah ganjalan yang memenuhi otaknya.


"Di, kapan kamu akan membawaku untuk bertemu dengan orangtuamu?"


Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibir Puspa. Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini sama sekali belum ia dapatkan jawabannya karena sepertinya Ardi selalu mencoba untuk mengulur-ulur waktu.


Ardi menghentikan aktivitasnya. Ia kecup kening Puspa dengan lembut, dan ia usap bibir wanita itu. "Sabar ya Pus, aku pasti akan membawamu untuk bertemu dengan orangtuaku."


Rupa-rupanya Puspa sudah tidak sabar untuk ingin segera dinikahi oleh Ardi. Sebuah permintaan yang wajar dari seorang wanita yang telah mempersembahkan keperawa*nan yang ia miliki untuk sang kekasih. Ia berpikir jika sudah selayaknya seorang laki-laki yang telah mendapatkan keperawa*nannya bersegera menikahinya. Namun sampai saat ini Ardi seperti terkesan mengulur-ulur waktu.


Ardi tetap memasang wajah tenang. Sebagai salah satu cara untuk mensugesti Puspa untuk lebih tenang pula. "Sabar ya Pus. Aku bahkan tidak hanya memiliki rencana untuk memperkenalkanmu kepada orangtuaku, namun aku juga memiliki rencana untuk langsung menikahimu. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


Wajah Puspa nampak sedikit terkejut. Namun tetap saja tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. "Menikah? K-kamu serius Di?"


Ardi mengangguk mantap. "Tentu saja Pus. Tentu saja aku akan menikahimu. Karena hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."


"Tapi apakah kedua orangtuamu memberikan restu untuk kita? Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan mereka, apakah mereka menyetujui jika anaknya menikahiku?"


Di sela-sela rasa bahagia yang ia rasakan, namun masih tetap terbesit setitik rasa ragu. Puspa masih ragu akan orang tua Ardi yang mau menerima kehadirannya sebagai calon menantu atau tidak. Karena bagaimanapun juga ia sama sekali belum pernah bertemu dengan calon mertuanya.

__ADS_1


Lagi-lagi Ardi hanya tersenyum simpul. "Kamu jangan risau Pus, orangtuaku menyerahkan semuanya kepadaku tentang siapa yang akan menjadi pendampingku. Jadi kamu tenan saja, oke?"


"Sungguh?"


Ardi mencubit hidung milik Puspa dengan gemas. "Tentu Sayang. Kamu jangan risau!"


Pada akhirnya senyum bahagia terbit di bibir Puspa. Mendengar semua ucapan Ardi, membuat keraguan yang sempat ia rasakan, luruh seketika. Untuk menunjukkan rasa bahagianya, Puspa sedikit menggeser tubuhnya. Ia dekatkan wajahnya di dekat junior milik Ardi yang nampak masih memegang itu. Tanpa basa-basi, Puspa mulai mengulum senjata milik kekasihnya itu.


"Uuuuuuuhhhh ... Sayang.... Kamu....!"


Ardi sudah tidak bisa lagi untuk menahan sensasi rasa nikmat yang ia rasakan tatkala junior miliknya dimanjakan oleh bibir Puspa.


"Hemmmphh... Hemmmphh... Hemmmphh.... Ayo kita lakukan lagi Di! Bukankah kamu menginginkannya sekali lagi?"


Puspa melahap dengan rakus junior milik Ardi layaknya seorang anak kecil yang tengah menikmati lolipop candy. Ia memainkan bibir dan lidahnya untuk memberikan kenikmatan bagi kekasihnya itu. Ardi semakin terbuai dalam permainan Puspa. Ia menarik tangan Puspa untuk ia baringkan sempurna di atas ranjang. Menindih tubuh wanita itu dibarengi dengan menggesek junior miliknya untuk dapat memasuki liang surgawi milik sang kekasih.


"Aaaaaahhh.... Honey...."


"Eempphhhhh Ardi...."


Lenguhan dan desa*han yang keluar dari bibir keduanya keluar bersamaan tatkala penetrasi itu berhasil dilakukan oleh Ardi dengan sempurna. Dan pada akhirnya sepasang kekasih itu mulai memacu tubuh mereka untuk meraih apa itu surga dunia.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..


__ADS_2