Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 157 : Iri dan Dengki


__ADS_3

"Jadi ini toko kue milikmu Ra?"


Selepas sarapan pagi di rumah besar, Dira melihat Mara bersiap-siap untuk keluar dari rumah. Istri dari Wisnu itu sedikit penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh adik iparnya ini. Maka dari itu, ia merengek untuk ikut kemana Mara akan pergi. Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh pak Kasim membawanya dan Mara ke tempat ini.


Dira berjalan ke sana kemari mengitari setiap sudut ruangan yang ada di toko kue milik Mara. Mulai dari bagian produksi, bagian packing untuk kue-kue kering dan juga bagian display.


Mara yang tengah duduk di kursi ergonomis di ruang kerjanya sembari mengecek laporan keuangan hanya mengangguk pelan dengan sorot mata yang tidak lepas dari lembaran-lembaran kertas yang berada di dalam map warna merah itu.


"Iya Mbak, ini adalah salah satu toko kue yang aku kelola. Selain di sini ada dua cabang lagi yang ada di kota ini."


Dira berdecak kagum mendengar kesusksesan istri dari adik iparnya ini. "Memang sudah berapa lama toko ini berdiri Ra? Bahkan sampai sudah memiliki cabang juga?"


"Belum genap satu tahun Mbak. Sebenarnya aku ingin nanti-nanti saja membuka cabang baru tapi melihat toko kue ini mendapatkan respon yang sangat baik dari pasar, mas Dewa bersemangat sekali untuk membuka cabang," ucap Mara sembari menutup kembali map itu setelah selesai ia cek.


Dira semakin dibuat terkejut dan terperangah dengan apa yang diceritakan oleh adik iparnya ini. "Sungguh beruntung ya Ra, hidup kamu. Kamu mendapatkan lelaki tampan dan kaya raya yang pastinya bisa memberikanmu fasilitas-fasilitas yang mewah dan bisa memberikanmu modal untuk bisnismu ini."


"Ini semua merupakan karunia dari Tuhan, Mbak. Terlepas dari mas Dewa berasal dari keluarga kaya atau tidak, aku benar-benar tidak memandang dari sisi itu."


Manik mata milik Dira yang sebelumnya mengedar memperhatikan sudut ruang kerja Mara ini, perlahan ia giring untuk menatap lekat wajah sang adik ipar. Seutas senyum sinis terbit di bibir wanita itu. "Apakah di zaman sekarang ini masih ada seorang wanita yang mencintai seorang laki-laki tanpa melihat status sosialnya?"


Mara terkesiap, tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Dira. "Maksud mbak Dira apa? Aku sungguh tidak paham?"


Dira tergelak lirih dengan suara yang terdengar sinis. "Aku tidak percaya bahwa kamu tulus mencintai Dewa, Ra. Aku merasa bahwa kamu bersedia menjadi istri Dewa karena alasan tertentu. Salah satunya untuk mendapatkan harta warisan yang banyak jika Dewa meninggal nanti." Kini manik mata warna hitam milik Dira memandang intens perut Mara yang sudah membuncit itu. "Jangan-jangan kehamilanmu ini juga merupakan salah satu trik mu untuk mendapatkan harta warisan yang jauh lebih banyak dari oma?"


Kedua bola mata Mara terbelalak dan membulat sempurna. "Maksud mbak Dira trik apa? Kehamilan merupakan salah satu proses alamiah yang terjadi di dalam tubuh wanita, jadi trik yang dimaksud mbak Dira ini bagaimana?"


Dira tergelak lirih namun masih samar terdengar di telinga Mara. "Kamu pasti tahu bahwa Dewa pernah mengalami impotensi setelah sebuah kecelakaan yang menimpanya. Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau milik Dewa saja tidak bisa turn on? Jangan-jangan sebelum kamu menikah dengan Dewa, kamu berhubungan badan terlebih dahulu dengan lelaki lain, kemudian kamu hamil setelah itu kamu mengaku-ngaku bahwa itu adalah anak Dewa."

__ADS_1


Plak!!!!


"Jaga mulutmu Mbak. Aku bukanlah wanita seperti itu. Bahkan sebelum aku mengenal mas Dewa, aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun."


Sebuah tamparan dari tangan Mara sukses mendarat di pipi mulus milik Dira. Istri dari Wisnu itu sontak meringis menahan sensasi rasa panas yang menjalar di salah satu bagian pipinya.


"Kamu! Berani-beraninya kamu menamparku Ra. Dasar tidak punya sopan santun. Akan aku adukan kamu kepada Oma. Bahwa perilakumu sungguh seperti seorang preman pasar."


Sembari memegang pipinya yang masih terasa begitu panas, Dira mencoba mengancam Mara dengan berencana mengadukannya kepada oma Widuri. Sedangkan wanita yang tengah hamil itu hanya tersenyum simpul dengan memasang raut wajah yang tidak takut sama sekali.


"Silakan lakukan apapun yang ingin kamu lakukan Mbak, aku sama sekali tidak takut. Karena aku berada di posisi yang benar." Mara menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan. Mencoba untuk menguasai hati yang sedikit telah dirasuki oleh emosi. "Semua yang Mbak tuduhkan itu keliru. Karena aku benar-benar mengandung anak dari mas Dewa. Dan asal mbak Dira tahu, mas Dewa telah sembuh dari impotennya jauh-jauh hari sebelum kami menikah. Jadi anak yang aku kandung ini benar-benar anak mas Dewa."


"Cih, zaman sekarang ini gadis-gadis pemburu harta warisan para duda semakin banyak berkeliaran. Aku rasa kamu adalah salah satunya. Belum tentu juga itu adalah anak Dewa, bisa jadi kamu dalam keadaan hamil ketika menikah dengan Dewa?"


Dira masih saja mengutarakan argumen-argumen konyolnya. Dia masih beranggapan bahwa anak yang dikandung oleh Mara ini bukanlah anak kandung Dewa. Dan hal itulah yang membuat mulut Mara semakin menganga lebar. Namun sekali lagi, Mara mencobanya untuk tetap tenang menghadapi wanita ini.


Tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan justru semakin membuat Dira semakin tersudut. Jika sudah seperti ini, dia sama sekali tidak dapat berkutik.


Karena merasa malu dan kehilangan muka, gegas Dira menyambar tas selempang yang ia letakkan di atas sofa kemudian berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Mara ini.


***


Pluk....!!!


Sebuah map berwarna hitam dilempar oleh Krisna di meja kerja Dewa. Dewa yang tengah membalas e-mail dari salah seorang rekan bisnisnya sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh asistennya ini.


"Apa-apaan kamu Kris? Sungguh tidak sopan perilakumu itu di depan pemilik perusahaan ini!"

__ADS_1


Kesal, itulah yang dirasakan oleh Dewa. Karena sang asisten masuk ke dalam ruangannya dan tiba-tiba melempar map itu dengan kasar.


"Bacalah isi di dalam map itu Wa. Setelah kamu membacanya, kamu pasti akan tahu mengapa dulu pabrik Oma hampir bangkrut."


Dewa membuka map itu dan menggiring bola matanya untuk membaca setiap huruf dan angka yang ada di hadapannya. Matanya terbelalak sempurna tatkala ia menemukan banyak manipulasi dan mark-up yang terjadi di lima tahun yang lalu.


"Kamu dapatkan ini dari siapa Kris?"


"Aku mendapatkan ini dari pak Wibawa yang dulu menjabat sebagai kepala produksi pabrik milik oma. Dia lah yang berhubungan langsung dengan para produsen kain yang kita gunakan untuk membuat produk kita ini."


Dahi Dewa mengernyit. "Pak Wibawa? Bukankah dia sudah lama resign dari pabrik oma? Bahkan saat pabrik oma ini kolaps?"


Krisna menganggukkan kepala. "Ya itu memang benar Wa. Dia resign dari pabrik karena ia merasa keselamatannya terancam."


"Terancam? Maksudmu?"


"Kerugian besar yang dialami oleh pabrik milik oma tidak lain karena campur tangan orang dalam."


"Maksud kamu?"


Krisna menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Kak Dira yang ada di balik itu semua!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2