Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 116 : Lamaran Dadakan


__ADS_3


Mara yang tengah berada di bawah guyuran air shower, terlihat memijit-mijit kepalanya dengan pijitan lembut. Mencoba merelaksasi syaraf-syaraf yang berada kepala agar tidak terlalu tegang. Harum shampoo beraroma strawberry, terasa begitu menenangkan. Aliran air dingin yang membasahi tubuhnya pun seakan kian membuat tubuhnya segar kembali.


Setelah dihabisi oleh sang suami di pergumulan malam tadi, pagi ini wanita itu terlihat memanjakan diri sendiri di dalam kamar mandi. Mara terlihat begitu betah berada di dalam sana, pastinya tidak bersama sang suami.


Mara hanya bisa berdecak lirih jika jika teringat akan permainan yang ia lakukan bersama sang suami. Suaminya itu benar-benar bertenaga kuda yang seakan tidak pernah merasa lelah. Tanpa ampun, ia menghabisinya sampai pukul lima empat pagi. Terkadang Mara sempat berpikir, terbuat dari apa tubuh suaminya itu yang seakan tiada pernah merasakan lelah.


Di sela-sela pikirannya yang menerawang, tiba-tiba. "Eh?"


Sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi, Mara sedikit berteriak memanggil sang suami. "Mas Dewa!"


Dewa, yang tengah menikmati secangkir teh chamomile di balkon kamar yang ia tempati terlihat sedikit mengerutkan keningnya tatkala suara nyaring sang istri mulai merembet masuk ke dalam indera pendengarannya.


"Ya Sayang?"


Masih sembari duduk manis dan menyesap kepulan asap teh yang memiliki banyak fungsi untuk menjaga kesehatan tubuh itu pun, Dewa menyahuti panggilan sang istri.


"Kemarilah sebentar Mas."


Dewa beranjak dari posisi duduknya. Ia letakkan cangkir teh chamomile itu di atas meja dan kemudian ia langkahkan kakinya untuk menghampiri sang istri yang ia yakini masih berada di dalam kamar mandi.


"Ada apa Sayang? Apa kamu mau lagi?" Dewa bertanya dengan seringai nakal sembari menaik-turunkan sebelah alisnya.


Bibir Mara mencebik. "Issshhh... Bukan itu Mas!"


"Aaaaaahhh... Istriku ini mengapa malu-malu sih? Kalau memang kamu menginginkannya lagi, ayo kita bercinta di dalam kamar mandi Sayang!" sembari mencubit hidung mungil sang istri, Dewa tiada henti menggoda istrinya ini.


"Ckkkccckkk... Bukan itu Mas." Mara menghela nafas sedikit panjang. Nampaknya berbicara dengan lelaki yang hobi bercinta ini sangat menguras kesabaran. "Tolong belikan pembalut Mas!"


Dahi Dewa mengerut. "Pembalut? Untuk membalut apa Sayang? Apa yang kamu alami di dalam kamar mandi? Apakah kamu terluka hingga berdarah?"


Melihat ekspresi wajah sang suami yang berubah pias itu hanya membuat Mara terkikik geli. "Tidak Mas, aku baik-baik saja. Ini hanya siklus bulanan biasa. Jadi tidak ada yang perlu kamu risaukan."


Kedua alis Dewa semakin bertaut. Otaknya seperti kesusahan untuk mencerna perkataan Mara. "Siklus apa sih Sayang? Aku benar-benar tidak paham!"


"Hmmmmmm... Aku jelaskan nanti ya Mas. Sekarang mas Dewa ke minimarket yang ada di sebrang jalan itu. Belikan aku pembalut. Kalau tidak tahu, langsung tanya ke pramuniaganya saja. Aku sudah kedinginan ini Mas."

__ADS_1


Terlalu lama berada di dalam kamar mandi, membuat tubuh Mara sedikit menggigil. Ditambah sang suami yang banyak bertanya, seakan membuat wanita itu semakin gemas saja.


"Baiklah Sayang. Tunggu sebentar. Aku akan membelikannya untukmu."


"Terimakasih Mas!"


Dewa berbalik badan bermaksud untuk segera ke minimarket yang berada di sebrang jalan. Namun baru sebentar ia melangkahkan, lelaki itu kembali menghampiri sang istri. "Ada yang lupa Sayang!"


"Lupa? Lupa apa Mas? Kamu tinggal membawa uang saja," terang Mara dengan penuh rasa heran.


"Kiss nya dulu dong!"


Mara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun pada akhirnya, sebuah kecupan ia berikan juga di pipi dan bibir suaminya ini. "Sudah aku cium. Segeralah ke minimarket Mas. Aku sudah kedinginan."


"Oke Sayang."


***


"Nak, sebenarnya siapa lelaki yang semalam menolong kita?"


Sekar menggeser secangkir teh hangat yang ia buat ke arah Ambar yang duduk di hadapan. "Minumlah teh hangat ini, Bu. Agar badan ibu hangat."


Ambar hanya bisa tersenyum manis karena putrinya ini begitu perhatian kepadanya. "Terimakasih, Nak!"


Kenikmatan olahan daun teh yang berpadu dengan air hangat dan gula, mulai membasahi kerongkongannya. Tidak ada yang dirasakan oleh wanita paruh baya itu selain hanya rasa tenang dan juga hangat. Ambar kembali meletakkan cangkir teh itu setelah beberapa teguk ia nikmati.


"Jadi, siapa lelaki itu Nak? Selama ini Ibu selalu mengenal dan tahu, siapa saja yang menjadi temanmu. Namun lelaki semalam sepertinya sangat asing di mata ibu."


Sebuah tanda tanya besar muncul di dalam otak Ambar akan siapa sebenarnya lelaki yang semalam menolongnya dan menolong sang anak dari kekalapan Prasetyo. Bahkan tidak hanya menolong dari kekalapan sang suami, lelaki itu juga memberikan pertolongan dengan membawanya dan juga sang anak untuk sementara waktu tinggal di rumah ini. Sebuah rumah minimalis modern yang terasa begitu nyaman ditempati.


"Namanya tuan Krisna, Bu. Dalam waktu semalam, sudah dua kali dia menolong Sekar," ucap gadis itu seraya mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh Krisna untuknya.


"Apakah kalian sudah kenal lama?" Ambar masih saja penasaran akan hubungan sang anak dengan lelaki semalam.


Sekar menggelengkan kepalanya. "Belum, Bu. Baru semalam kita saling mengenal. Itupun berawal ketika tuan Krisna bersaksi akan sesuatu yang bukan menjadi kesalahanku."


Ambar mencoba mencerna perkataan sang anak. Namun, siapapun lelaki itu, ia percaya bahwa Krisna adalah lelaki baik. "Maafkan Ibu, Nak!"

__ADS_1


Dahi Sekar sedikit mengerut. "Untuk apa Bu?"


"Karena keputusan Ibu untuk menikah lagi justru hanya membuatmu menderita seperti ini." Dada Ambar terasa sesak. Jika mengingat apa yang telah dilakukan oleh Prasetyo, seakan semakin menggiringnya ke dalam rasa bersalah yang tiada bertepi. Tanpa terasa, setetes air bening itu, terjatuh dari telaga bening milik wanita paruh baya itu.


Sekar mendekat ke arah sang ibu. Gadis itu pun memeluk tubuh Ambar dengan erat. "Ibu tidak perlu menyalakan diri sendiri. Karena ini semua sudah menjadi jalan takdir hidup kita. Setelah melihat bagaimana perangai lelaki itu, Ibu paham akan apa yang harus Ibu lakukan, bukan?"


Ambar mengangguk. Dulu, keputusannya untuk menikah lagi ia ambil untuk mencari seseorang yang dapat ia jadikan sebagai sandaran hati yang bisa ia jadikan teman hidup untuk saling berbagi. Namun, kenyataannya justru hanya penderitaan seperti ini yang ia terima. "Ibu akan berpisah dari Prastyo."


Sekar menghela nafas dalam. Lega, mendengar sang ibu akan membuat keputusan seperti itu. "Itu jauh lebih baik, Bu. Ibu tidak perlu khawatir, Sekar pasti bisa menghidupi Ibu."


Pembicaraan ibu dan anak itu terpangkas tatkala suara bel berbunyi. Gegas, Sekar melangkahkan kaki menuju ruang depan untuk membukakan pintu.


"Tuan Krisna!"


Krisna menyunggingkan sedikit senyumnya. Semalaman, perjaka tua itu tidak bisa tidur nyenyak. Ia masih saja memikirkan gadis pembawa sayur sup ini. Dan membuatnya di jam enam pagi seperti ini sudah bertandang untuk menemui sang gadis.


"Bagaimana tidurmu semalam, Sekar? Nyenyak? Dan apakah rumah ini nyaman?"


Sekar hanya tersenyum simpul. "Nyenyak, Tuan. Dan rumah ini juga sangat nyaman. Terimakasih banyak untuk kebaikan hati tuan Krisna."


"Lalu, apa yang kamu lakukan di pagi hari seperti ini?"


"Aaahhhh.. Saya sedang menikmati secangkir teh hangat. Mari kita ke dalam Tuan, saya buatkan juga teh hangat untuk Tuan."


Raut wajah Krisna nampak berseri. "Waaahhh sepertinya sangat menyenangkan bisa menikmati teh hangat buatanmu." Krisna menatap lekat netra Sekar yang terlihat begitu bening itu. Dibalas dengan netra Sekar yang juga menatap lekat manik mata Krisna, hingga kini pandangan keduanya saling bertemu. "Apakah setelah menikah, aku bisa selalu menikmati teh buatanmu?"


Sekar terkesiap. Bibirnya menganga lebar. "M-menikah? Maksud Tuan?"


"Aku berniat untuk menjadikanmu sebagai istriku, Sekar. Apakah kamu bersedia?"


.


.


. bersambung....


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2