Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 166 : Peristirahatan Terakhir dan Gadis Kecil Berpayung Hitam


__ADS_3

Langit berpayung awan kelabu tatkala gerombolan manusia-manusia berpakaian hitam itu tiba di tanah lapang yang dipenuhi oleh batu-batu nisan. Setelah singgah sejenak di kediaman Dewa, kini tubuh oma Widuri tiba di peristirahatannya yang terakhir. Tempat peristirahatan yang akan menjadi gerbang untuk bertemunya dengan sang suami yang telah lebih dahulu menghadap Tuhan.


Oma Widuri, wanita berusia senja yang memiliki hati yang begitu baik kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya, kini telah tiada. Salah satu wanita tangguh yang dengan setia mendampingi dan mendukung apa yang dirintis oleh sang suami hingga menyisakan sebuah keberhasilan yang dapat dinikmati oleh penerusnya saat ini.


Wanita pemberani, yang berani menentang apapun yang melenceng dari nuraninya. Wanita yang memiliki selera humor yang tinggi sehingga membuat siapapun merasa dekat dengannya. Dan wanita yang tidak pernah membedakan dalam memperlakukan setiap orang yang berada di sekitarnya. Tidak ada kesan yang tersisa bagi orang-orang yang berada di dekat oma Widuri, selain betapa wanita ini adalah wanita yang sangat baik.


Hingga alam pun berbahasa, jika mereka ikut larut dalam duka itu. Langit menampakkan wajah muram sebagai pertanda jika ia ikut merasakan apa itu kehilangan.


Perlahan, tanah cokelat menutupi tubuh oma Widuri yang sudah berada di dalam liang lahat ini. Hingga hanya menyisakan sebuah gundukan tanah basah yang kelak akan menjadi tempat untuk didatangi para kerabat untuk menjenguk dan melepas rindu kepada wanita itu.


Satu persatu orang-orang yang berkerumun di tempat ini membubarkan diri setelah acara upacara pemakaman ini usai. Mereka yang kebanyakan rekan-rekan bisnis Dewa dan juga seluruh staf dan karyawan PT WUW seakan tidak ingin melewatkan hari terakhir mereka bisa melihat wanita berhati mulia itu.


Air mata Mara, Dewa, Wisnu, mbok Darmi, pak Kasim, Krisna dan juga Sekar masih saja mengalir deras dari pelupuk mata mereka. Mereka dirundung duka, menerima kenyataan bahwa oma Widuri benar-benar telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.


Krisna yang sebelumnya berada di Jogja, karena mendapatkan tugas khusus dari Dewa, gegas memilih untuk segera kembali ke kota ini. Pastinya untuk bisa melihat wajah wanita yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri yang selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan cara oma Widuri memperlakukannya sama dengan cara oma Widuri memperlakukan Dewa.


"Mas ... Oma..."


Sembari menggendong tubuh Nendra, Mara ikut menumpahkan segala dukanya di atas tempat peristirahatan terakhir oma Widuri. Sedari tadi, wanita yang baru saja menyandang gelar mama muda itu tiada henti menangis, sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa kehilangan yang begitu dalam.


Dewa merangkul pundak sang istri dan mengecup pucuk kepalanya dengan intens. "Ikhlaskan kepergian oma ya Sayang ... oma pasti sudah tenang di sana. Dan pasti oma juga sudah berbahagia karena bisa berkumpul bersama opa."


Meski didera oleh rasa sesak yang begitu menyeruak, namun Dewa harus menguatkan istrinya ini. Berkali-kali Dewa mengusap pundak Mara, untuk menenangkannya.


"Tapi Oma belum sempat ikut menimang Nendra, Mas. Padahal dulu beliau selalu mengatakan bahwa ingin sekali menimang Nendra sebelum Nendra tidur."

__ADS_1


Potongan-potongan percakapan yang pernah terjadi diantara dirinya dengan oma Widuri kembali berlalu lalang di dalam otaknya yang semakin menyeretnya masuk ke dalam kesedihan itu.


"Setidaknya oma sudah melihat wajah Nendra, Sayang. Pastinya membuat oma berbahagia. Kamu ingat bukan, bagaimana bahagianya oma tatkala melihat Nendra untuk pertama kalinya?"


Mara hanya mengangguk samar.


Tetes air langit mulai turun perlahan. Seperti menjadi tanda bahwa sebentar lagi rintik ini akan melebat hingga menjadi hujan lebat.


"Ayo semua kita pulang. Hujan akan segera turun!"


Dewa bertitah untuk mengajak semua yang masih berada di tempat ini untuk segera kembali. Khawatir jika akan kehujanan dan pastinya akan menyisakan sesuatu yang buruk dalam tubuh. Seperti terkena pilek, flu, atau mungkin meriang.


Mara, Krisna, Sekar, mbok Darmi dan pak Kasim menurut. Mereka mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat pemakaman ini. Dewa yang sudah mengayunkan langkah kakinya, tetiba ia hentikan langkah kakinya itu. Ia membalikkan badan dan terlihat Wisnu masih terduduk di atas pusara oma Widuri.


Wisnu menggelengkan kepalanya. "Tidak Wa, aku masih ingin berada di tempat ini untuk menemani oma."


"Tapi Kak..."


"Pulanglah terlebih dahulu Wa. Aku masih ingin di sini."


Dewa hanya bisa membuang nafas kasar. Pada akhirnya, ia pun mengalah. Tidak ingin memaksa kakaknya ini. Perlahan, tubuhnya menjauh dari Wisnu dan ikut menyusul sang istri dan yang lainnya yang sudah berada di area parkir.


Tidak perlu menunggu waktu lama, hujan turun dengan derasnya. Wisnu masih terduduk di atas gundukan tanah milik oma Widuri. Lelaki itu menangis tergugu menumpahkan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Namun sebentuk perasaan yang terasa begitu kentara. Rasa sesal yang masih begitu membelenggu hati dan juga jiwanya.


"Maafkan Wisnu, Oma ... maafkan Wisnu. Wisnu telah melewatkan kesempatan untuk bisa berbakti kepada oma di akhir hidup oma ini. Seandainya saja dulu Wisnu tidak pergi meninggalkan oma, pasti..."

__ADS_1


Suara Wisnu tercekat di tenggorokan. Jika teringat akan masa yang telah lalu, ia semakin merasakan sesal yang teramat dalam. Tidak ada lagi yang dapat diucapkan oleh lelaki itu selain hanya lelehan air mata yang mengalir deras dan ditemani oleh air hujan yang membasahi tubuhnya.


Aliran air hujan yang memeluk tubuh Wisnu, seketika tak lagi ia rasakan. Wisnu terkesiap. Hujan masih deras mengguyur bumi ini, namun ia sama sekali tidak merasakan belaian air langit itu. Kepala yang sebelumnya menunduk, sedikit ia dongakkan. Dan terlihat ada seorang gadis kecil dengan rambut dikucir kuda melindungi tubuhnya dengan payung hitam yang ia bawa.


"K-kamu siapa?"


Gadis itu hanya tersenyum simpul. "Mengapa Paman hujan-hujanan seperti ini? Kata Bunda, jika kita hujan-hujanan pasti bisa membuat kita sakit."


Wisnu semakin terperangah. Gadis kecil berpayung hitam ini tidak langsung menjawab pertanyaannya namun justru mengatakan hal lain. "Kamu siapa? Dan mengapa kamu ada di tempat ini? Di mana rumahmu?"


"Paman ingin tahu siapa aku?"


Wisnu hanya mengangguk samar. "Ya, aku ingin tahu siapa kamu!"


"Paman berdoa saja ya, semoga tante Rasti membuatkan cerita untuk Paman. Jadi Paman akan tahu siapa aku. Karena Paman juga sama-sama seorang duda. Sepertinya tidak terlalu melenceng jika kisah paman dijadikan season ke dua novel ini." Gadis kecil berusia tujuh tahun itu menoleh ke arah si penulis cerita. "Benar begitu kan Tante? Tante akan membuatkan cerita untuk paman Wisnu, kan?"


Author, yang mendengar percakapan dua orang beda generasi itu hanya bisa memijit-mijit pelipisnya. "Wes, angel iki angel....."


.


.


. bersambung....


Inshaallah tinggal beberapa part lagi Demara akan tamat ya Kak... hihihihihi hihihihi 😘😘😘 Terimakasih banyak untuk para pembaca yang masih setia membaca tulisan remahan kulit kuaci ini...❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2