Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 153 : Wisnu dan Dira


__ADS_3

5 Tahun yang lalu...


Seorang wanita berusia senja terlihat sedang duduk sendirian di taman belakang kediamannya. Kolam ikan koi dengan hiasan bunga teratai berdaun lebar yang nampak begitu memanjakan mata nampaknya tidak bisa mengalihkan kesedihan yang tengah dirasakan oleh wanita itu. Sedih, karena pabrik yang ia rintis bersama almarhum sang suami saat ini tengah berada di ujung tanduk.


Berjamurnya pabrik-pabrik konveksi yang bergelut di produk underwear, membuat pabrik yang telah lama ia rintis bersama sang suami terancam bangkrut. Bukan hanya karena makin maraknya pabrik-pabrik underwear baru yang muncul, namun juga karena ada sesuatu yang tidak beres di dalam pabrik yang ia bangun itu.


"Hampir seharian Oma duduk termenung di sini, masuklah Oma, hari mulai gelap."


Suara bariton yang tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran oma Widuri sedikit membuyarkan lamunan wanita berusia senja itu. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat Wisnu datang menghampirinya. Lelaki yang merupakan kakak kandung Dewa itu mendaratkan bokongnya di bangku taman di sebelah oma Widuri.


"Aaahhhh rupanya kamu ada di sini!"


Wisnu hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia meraih tangan oma Widuri dan menggenggamnya erat. "Apa yang sedang mengganggu pikiran Oma? Mengapa Oma terlihat kalut seperti ini?"


Oma Widuri membuang nafas sedikit kasar. Pikirannya masih saja tertuju pada pabrik underwear miliknya. "Bagaimana aku tidak kalut Nu, saat ini pabrik berada di ujung tanduk. Grafik omset penjualan kita turun drastis bahkan hampir lima puluh persen. Ditambah lagi kesehatan Oma yang tidak menurun akhir-akhir ini. Oma sampai bingung harus bagaimana?"


Oma Widuri mencoba mengungkapkan apa yang menjadi keresahan hatinya. Bukan perihal pabrik itu yang terlalu menjadi beban pikirannya jika sampai pabrik itu bangkrut, namun lebih kepada para karyawan yang menggantungkan penghasilan mereka dari pabrik itu. Oma Widuri sungguh tidak sampai hati jika harus melakukan pemutusan hubungan kerja secara mendadak.


"Apa yang bisa Wisnu lakukan untuk Oma?"


Oma memandang teduh wajah cucu pertamanya ini. Dengan sorot mata yang mengisyaratkan sebuah harapan agar ia mau untuk mengelola pabrik yang hampir bangkrut ini. "Gantikan posisi Oma, Nu. Oma minta, fokuslah untuk mengelola pabrik. Oma yakin bahwa kamu sanggup untuk mengelola itu semua."


Wisnu tersenyum getir, lelaki itu dilema. Di satu sisi ia sudah sukses dengan usaha properti yang ia jalani namun di sisi lain permintaan sang oma ini juga seperti sebuah keharusan yang harus ia lakukan.


"Oma, Wisnu tahu persis dengan apa yang menjadi kekalutan hati Oma, namun Oma tahu sendiri bukan, jika Wisnu juga memiliki bidang yang Wisnu geluti sendiri? Wisnu tidak mungkin mengerjakannya bersamaan, Oma. Wisnu takut tidak totalitas dalam menjalankannya."


"Tolong pikirkan ini Nu, saat ini hanya kamu yang menjadi harapan Oma mengingat Dewa masih terikat kontrak dengan perusahaan batu bara di Kalimantan."


Wisnu hanya terlihat sedikit mengulas senyumnya. Seakan mencoba untuk menenangkan hati oma Widuri agar tidak terlalu cemas. "Oma yang tenang ya. Coba perihal ini Wisnu bicarakan dengan Dira, karena bagaimanapun juga saat ini Wisnu sudah berkeluarga, jadi Wisnu harus memusyawarahkan ini dengan Dira terlebih dahulu."


Oma Widuri mengangguk pelan. "Oma tunggu kabar baik dari kamu Nu!"


"Iya Oma!"

__ADS_1


***


"Apa? Oma meminta kamu untuk mengelola pabrik yang hampir bangkrut itu Mas? Benar-benar sebuah permintaan yang begitu menggelikan."


Di kamar pribadi milik Wisnu dan juga Dira, sepasang suami istri itu tengah larut dalam sebuah obrolan yang begitu serius. Setelah sang oma mengutarakan seluruh isi hatinya, Wisnu memilih untuk membicarakannya dengan sang istri. Namun sungguh di luar dugaan jika tanggapan Dira seperti ini.


"Menggelikan bagaimana Dir? Sebuah kewajaran jika Oma memintaku untuk mengelola pabriknya, karena aku adalah cucu oma."


"Kamu cucu oma?" Dira tersenyum sinis sembari menyisir rambut sebahunya. "Ingat Mas, cucu oma tidak hanya kamu. Dewa juga merupakan cucu Oma, jadi mengapa pabrik Oma yang nyaris bangkrut itu dilimpahkan ke kamu? Lagipula apa yang bisa kamu harapkan dari pabrik itu, jika saat ini dalam kondisi yang hampir bangkrut itu? Sama sekali tidak ada yang bisa kita harapkan Mas, tidak ada!"


"Tapi setidaknya kita bisa menggunakan tabungan yang kita miliki untuk menjadi suntikan modal bukan? Dengan begitu pabrik Oma bisa tetap bertahan."


Dira gegas menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, aku tidak setuju. Tabungan itu milik kita dan aku tidak rela jika harus aku keluarkan untuk memodali pabrik yang sama sekali tidak bisa diharapkan itu!"


"Tapi ini semua demi pabrik milik Oma yang sudah ia rintis sejak dulu bersama almarhum opa, Dir. Apa kamu tega membiarkan apa yang dirintis oma dan opa berakhir begitu saja?"


Dengan nada merendah seakan meminta sang istri untuk paham dengan keadaan ini, Wisnu mencoba untuk mengetuk pintu hati sang istri. Namun Dira tetaplah Dira, sekali ia mengatakan tidak sampai kapanpun tidak akan pernah berubah.


"Aku tidak peduli Mas. Yang aku pedulikan saat ini adalah usaha properti yang kamu geluti. Aku ingin kamu fokus di bidang itu saja. Dan setelah ini, aku ingin kita pindah dari kota ini. Karena aku rasa di kota ini sudah tidak ada lagi yang bisa aku harapkan." Dira menghela nafas panjang dan ia hembuskan perlahan. "Aku ingin kembali ke kota asalku. Dan kamu bisa melebarkan sayapmu di kota itu!"


"Tidak ada tapi-tapian Mas. Aku mau kita pergi dari kota ini!"


Tetiba kamar ini terasa begitu hening. Wisnu sudah kehabisan cara untuk memberikan sebuah pengertian karena pada akhirnya ia hanya mendapatkan sebuah penolakan dari sang istri. Istrinya benar-benar tidak paham dengan kondisi seperti ini. Keduanya larut dalam keheningan yang sama-sama menyeret tubuh keduanya dalam kebisuan.


Sedangkan wanita berusia senja yang berdiri di depan pintu kamar Wisnu hanya bisa meneteskan air matanya. Wanita itu benar-benar tidak menyangka jika karakter cucu menantunya itu begitu keras. Seakan semakin membuat dadanya berdenyut nyeri.


"Nyonya yang sabar ya. Jika tuan Wisnu tidak dapat Nyonya andalkan, semoga tuan Dewa bisa Nyonya andalkan untuk mengelola pabrik."


"Tapi Dewa masih terikat kontrak di Kalimantan, Mi."


Darmi yang sudah sejak lama bekerja di rumah ini hanya bisa mengulas sedikit senyumnya. "Dua bulan lagi masa kontrak kerja tuan Dewa akan berakhir, Nyonya. Jadi Nyonya tidak perlu khawatir."


Raut wajah oma Widuri yang sebelumnya dipenuhi oleh raut sendu, kini berangsur kembali berbinar. "Benarkah itu Mi? Darimana kamu mengetahui perihal itu?"

__ADS_1


"Tuan Dewa sendirilah yang mengatakannya kepada saya, Nyah. Sebenarnya tuan Dewa ingin menjadikannya ini semua sebagai kejutan untuk Nyonya, namun saya rasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk saya katakan agar Nyonya tidak terlalu larut dalam kesedihan ini. Nyonya harus selalu sehat dan bahagia untuk menyambut kepulangan tuan Dewa."


***


"Oma, Wisnu pamit. Maafkan Wisnu karena Wisnu tidak bisa memenuhi permintaan Oma untuk mengambil alih pabrik. Dan Wisnu terpaksa harus meninggalkan Oma."


Dengan derai air mata yang mengalir deras dari telaga beningnya, Wisnu menumpahkan segala rasa bersalahnya. Bersalah karena tidak dapat memenuhi permintaan oma untuk mengelola pabrik dan juga karena ia memutuskan untuk meninggalkan oma nya ini.


Bibir oma Widuri terkatup tidak mampu untuk berucap apapun. Wanita berusia senja itu hanya bisa mengusap-usap punggung sang cucu pelan. "Tidak mengapa Nu. Oma hargai semua keputusan yang telah kamu buat. Semoga kamu selalu bahagia di Surabaya nanti."


"Itu sudah pasti Oma. Oma tidak perlu khawatir karena Dira yakin bahwa hidup kami akan jauh lebih bahagia di Surabaya nanti." timpal Dira sembari memainkan ponsel yang ada di dalam genggamannya..


Masih sambil memeluk tubuh Wisnu, Oma menganggukkan kepalanya. "Iya, Oma percaya bahwa hidup kalian akan jauh lebih baik di sana."


"Oh iya, jika nanti aku dan mas Wisnu tidak pernah pulang ke Bogor, harap dimaklumi ya Oma. Karena rasa-rasanya di Surabaya nanti aku dan mas Wisnu akan selalu sibuk jadi mungkin tidak akan pernah pulang ke Bogor."


Wisnu terkesiap mendengar ucapan Dira. Buru-buru ia lepaskan pelukannya dari tubuh oma Widuri dan menatap lekat wajah istrinya ini. "Jaga ucapanmu Dir! Tidak seharusnya kamu mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga Oma adalah nenekku dan sudah seharusnya aku selalu mengunjunginya."


"Untuk apa kamu mengunjungi oma, Mas? Kamu tidak akan mendapatkan keuntungan apapun pulang ke kota ini karena pabrik milik oma sudah bangkrut."


Kedua bola mata Wisnu membola. Ia seperti tersulut emosi mendengar ucapan istrinya ini. "Dira?!!!"


"Ssstttt sudah Nu. Benar apa yang dikatakan oleh istrimu bahwa di kota ini tidak ada lagi yang dapat kamu harapkan. Jadi lebih baik kamu berada di Surabaya untuk melebarkan sayap bisnismu."


"Tapi Oma....."


Oma Widuri mengusap-usap lengan tangan Wisnu. "Sudahlah, Oma pasti akan baik-baik saja. Karena sebentar lagi Dewa akan kembali."


Wisnu kembali memeluk tubuh oma Widuri. "Maafkan Wisnu, Oma. Maafkan Wisnu."


"Sudahlah Mas, tidak perlu lagi kamu berdrama seperti itu. Ayo kita segera berangkat. Bisa-bisa kita ketinggalan pesawat!"


.

__ADS_1


.


. bersambung....


__ADS_2