
"Ayah, Mara berangkat dulu ya. Doakan Mara agar Mara bisa diterima di pabrik yang mbak Arimbi tawarkan kemarin."
Seusai memandikan dan menyuapi sang ayah, Mara bergegas bersiap untuk pergi ke PT WUW yang menurut informasi dari Arimbi perusahaan itu sedang membutuhkan tenaga cleaning service. Tanpa banyak berpikir, Mara menyambut baik tawaran yang disampaikan oleh Arimbi. Bagi Mara, tidak masalah pekerjaan apa yang ia dapat, asalkan dari pekerjaan itu ia bisa mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidupnya dan hidup sang ayah di kota ini.
"Hati-hati, Mara!"
Mara hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia menghampiri sang ayah yang masih setia duduk di atas kursi roda, kemudian memeluknya erat. "Ayah hati-hati di rumah ya. Jika Ayah lelah duduk di atas kursi roda, Ayah bisa berbaring di atas ranjang. Ayah sudah bisa bukan?"
Baskara mengangguk pelan. Keadaan lelaki itu saat ini menampakkan sebuah perkembangan yang cukup baik. Untuk menggeser tubuhnya dari kursi roda ke ranjang, perlahan sudah bisa ia lakukan. Hal itulah yang membuat Mara sedikit lebih lega.
"Untuk makan siang, juga sudah Mara siapkan di meja ini ya Yah. Dan jika Ayah merasa ingin buang air atau hajat, Ayah tidak perlu ke kamar mandi. Sudah Mara pasangkan diapers untuk Ayah."
Baskara kembali mengangguk. "Iya Mara."
"Ya sudah, Mara berangkat terlebih dahulu ya Yah. Ayah baik-baik di rumah."
Gadis belia itu kembali mengecup kening sang ayah dengan penuh sayang. Ia selalu percaya jika ia menyayangi dan berbakti kepada orang tuanya, Tuhan akan senantiasa memberikan kebahagiaan untuknya. Hal itulah yang membuat gadis belia itu sekalipun tidak pernah mengeluh dalam menjalani hari-harinya untuk merawat sang ayah.
Dengan wajah yang dipenuhi oleh keceriaan, Mara melangkahkan kaki, menapaki hari-hari barunya di kota ini. Keceriaan gadis itu seakan membawa efek bagi orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Mereka juga nampak ikut bahagia melihat keceriaan gadis itu.
"Neng Mara mau kemana pagi-pagi seperti ini?" sapa salah seorang ibu-ibu cantik bernama Hikki Hitaru yang tengah menyiram tanaman di depan teras rumah.
"Mara ingin mencari kerja Bu. Doakan Mara agar bisa diterima ya," Mara menjawab dengan wajah yang berbinar.
"Aamiin, semoga diterima ya Neng."
"Terimakasih banyak Bu. Mara permisi ya."
"Hati-hati Neng."
Meskipun baru beberapa hari ia tinggal di tempat ini, namun Mara sudah terlihat begitu akrab dengan para tetangga. Sikap Mara yang supel dan mudah bergaul itulah yang membuat gadis itu sudah banyak dikenal oleh para tetangga. Terlebih kecantikan yang dimiliki oleh gadis itu. Membuat para orang tua yang memiliki anak laki-laki yang siap menikah, berlomba-lomba untuk menjadikan Mara sebagai menantu. (Hahaha ini author nya sedikit lebay 😅)
Mara kembali melangkahkan kakinya menuju jalan depan untuk menunggu angkot. Angkot berwarna biru yang merupakan alat transportasi umum yang biasa digunakan oleh para perantau yang menjadikan kota ini sebagai kota tujuan untuk memperbaiki nasib mereka. Angkutan umum dengan tarif sangat terjangkau yang bisa mengantarkan sampai tempat tujuan.
Bahkan tidak hanya untuk para pekerja. Angkot ini juga merupakan alat transportasi umum yang sering dipilih oleh para kaum ibu untuk mengantarkan mereka sampai di pasar. Sebuah angkutan umum yang begitu terjangkau sesuai dengan isi kantong masing-masing dan pastinya sangat merakyat.
Tidak sampai lima menit, Mara mendapatkan angkot yang ia tunggu. Dengan senyum merekah, gadis itu mulai masuk ke dalam angkot untuk menuju PT WUW.
Semangat Mara! Semangat! .. Monolog Mara dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
***
"Ya ampun Dewa. Mengapa jam segini kamu belum bersiap-siap ke kantor? Apa kamu ingin memberikan contoh yang tidak baik untuk para karyawan dengan keterlambatan kamu?"
Oma Widuri terlihat begitu gemas melihat kamar milik sang cucu yang masih terlihat temaram. Akibat gordyn tebal yang berada di dalam kamar Dewa masih tertutup sempurna. Dengan gerak cepat oma Widuri menyibak kain gordyn itu hingga kini sinar matahari berhasil masuk ke dalam kamar dan membuat kamar Dewa terlihat terang benderang.
Mata Dewa sedikit memincing tatkala merasakan anak-anak sinar matahari begitu menusuk kornea matanya. Duda itu menggeser tubuhnya untuk bersandar di head board ranjang sembari mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
"Oma.. Hari ini Dewa tidak ke kantor dulu ya. Dewa sedang tidak enak badan."
Bibir oma Widuri mencebik. "Hei Duda! Kalau kamu seperti ini bagaimana bisa kamu segera menikah lagi? Bisa-bisa jodoh kamu diambil ayam!"
__ADS_1
Dewa terperangah. Bisa-bisanya sang oma bercanda di pagi hari seperti ini. "Oma... Yang diambil ayam bukan jodoh Dewa, tapi rezeki."
"Sama saja Dewa. Istri juga merupakan rezeki untuk kamu. Sudah, sudah, ayo lekas bangun. Dan segera ke kantor. Ingat ya, Oma tidak mau mendengarkan alasan apapun dari kamu!"
Dewa hanya bisa mengangguk pasrah. Jika sudah seperti ini, dia hanya bisa menuruti kemauan sang oma. "Iya Oma, iya. Dewa akan ke kantor, tapi nanti siang."
Oma Widuri memutar kedua bola matanya malas. "Kamu mencoba bernegosiasi dengan Oma?"
"Tidak Oma. Dewa tidak sedang bernegosiasi dengan Oma. Hanya saja hari ini Dewa ada meeting dengan salah satu relasi kita di restoran Nikmat, jadi Dewa ke kantor sekalian nanti siang saja setelah meeting."
"Hmmmmm baiklah kalau begitu. Biar pagi ini Oma yang ke kantor. Oma tiba-tiba ingin melihat-lihat suasana pabrik." Oma kembali menatap lekat wajah cucunya ini. "Sekarang kamu mandi lah. Pamali perjaka jam segini masih berkutat di atas ranjang!"
Dewa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oma, Dewa ini duda. Bukan lagi perjaka."
Oma Widuri hanya terbahak. "Hahaha haahaahaa duda tidak laku!"
"Omaa!!!"
***
"Ada yang bisa saya bantu Nona?"
Seorang pria berpawakan tinggi dan tegap yang tiba-tiba menyapa Mara, membuat gadis yang tengah celingak-celinguk memperhatikan dengan lekat sebuah gedung dan pabrik yang begitu besar ini terkejut seketika.
Mara menoleh ke arah sumber suara dengan seutas senyum yang terlukis di bibirnya. "Pak, saya ingin mengisi lowongan pekerjaan sebagai cleaning service di pabrik ini. Apakah bisa?"
Security itu menatap lekat wajah Mara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Security itu nampak keheranan, karena baru kali ini ia melihat seseorang yang akan melamar pekerjaan namun sama sekali tidak membawa berkas-berkas yang diperlukan.
"Apakah Nona membawa berkas-berkas lamaran? Seperti CV, ijazah, dan surat lamaran pekerjaan?"
"Nona ini bagaimana? Mana bisa Nona melamar pekerjaan tanpa membawa berkas-berkas lamaran yang diperlukan? Lebih baik Nona segera kembali dari sini."
"T-tapi Pak. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Tolong beri saya kesempatan untuk dapat mengisi lowongan itu Pak."
Security itu tetap kekeuh menggelengkan kepalanya. "Maaf Nona, namun ini sudah menjadi prosedur dari kantor bahwa para pelamar harus membawa berkas-berkas lamaran."
"Tapi Pak... Saya mohon. Saya mohon berikan say...."
Tin... Tin.... Tin....
Suara klakson sebuah mobil memangkas ucapan Mara. Security yang sebelumnya berbicara dengan Mara bergegas menyambut kedatangan mobil mewah itu.
"Selamat pagi Nyonya." ucap sang security menyambut kedatangan oma Widuri.
Oma Widuri tersenyum simpul disambut oleh security di pabrik miliknya ini. "Pagi Har. Bagaimana keadaan pabrik? Aman?"
Kahar yang merupakan security PT WUW mengangguk mantap. "Semua aman terkendali Nyonya."
"Bagus Har. Pertahankan selalu pekerjaanmu yang seperti ini." Pandangan Oma Widuri menyapu sekeliling. Hingga terpaku pada sosok gadis yang berada di dekat pos security. "Har, siapa gadis itu? Dan ada keperluan apa dia datang kemari?"
"Oh... Nona itu bermaksud untuk mengisi lowongan cleaning service yang sedang kita butuhkan, Nyonya. Tapi Nona itu tidak membawa berkas lamaran sama sekali. Jadi saya meminta agar Nona itu meninggalkan tempat ini. Karena tidak memenuhi persyaratan yang kita butuhkan."
Oma Widuri hanya berdecak lirih. "Har, lain kali jangan seperti itu. Ini hanya merupakan posisi cleaning service. Katapun dia tidak membawa berkas-berkas lamaran, bisa saja ia memang memiliki pengalaman kerja yang lumayan bagus. Jadi tidak ada salahnya jika kita melihat kinerjanya terlebih dahulu. Coba panggil dia untuk menemuiku, di ruanganku."
__ADS_1
"Baik Nyonya."
***
"Bisa perkenalkan diri kamu Nak!"
Tubuh Mara mendadak gugup tatkala berhadapan langsung dengan wanita berusia senja yang masih terlihat sangat muda yang saat ini duduk di hadapannya. Setelah berbincang-bincang dengan security kantor, Mara diantarkan oleh security itu menuju ke sebuah ruangan yang bagi Mara merupakan ruangan yang begitu besar dan mewah. Ruangan siapa lagi jika bukan ruangan pimpinan PT WUW ini.
Mara menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan, mencoba untuk menguasai segala kegugupannya. "Nama saya Nismara, Nyonya. Dan biasa dipanggil dengan panggilan Mara."
Sembari menatap lekat wajah gadis di hadapannya ini, dahi oma Widuri terlihat sedikit mengerut.
Sepertinya aku tidak asing dengan nama dan wajah gadis ini. Namun dia siapa ya? Dan di mana aku pernah melihatnya?
"Aaaaaahhh Mara, sebuah nama yang cantik. Bisa kamu sebutkan dari mana asalmu? Berapa usiamu? Pernah memiliki pengalaman kerja apa sebelumnya?"
Mara mengangguk pelan. "Saya berasal dari Jogja Nyonya. Usia saya saat ini memasuki dua puluh tahun. Dan sebelumnya saya pernah bekerja di salah satu pabrik pembuatan tempe di kota asal saya."
"Ohhh jadi kamu baru saja tiba di kota ini? Lalu kamu di sini tinggal bersama siapa? Sendiri?"
"Tidak Nyonya, saya di sini tinggal bersama ayah saya. Dan kami tinggal di kontrakan."
Oma Widuri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah Mara, apa yang bisa kamu lakukan agar aku yakin untuk menerimamu menjadi salah satu cleaning service di PT saya ini?"
Mara hanya bisa tersenyum simpul sembari menundukkan wajahnya. "Saya memang tidak memiliki pengalaman dalam bidang itu Nyonya. Tapi saya akan bekerja keras agar bisa bekerja dengan baik."
"Kamu masih muda, tapi mengapa kamu memilih bekerja untuk menjadi cleaning service? Apakah kamu tidak malu dengan perempuan-perempuan se usiamu yang lebih banyak bekerja di bidang yang jauh lebih nampak keren?"
"Tidak Nyonya, untuk apa saya malu. Pekerjaan ini adalah pekerjaan baik. Jadi seharusnya saya bangga. Lagipula untuk saat ini, pekerjaan apapun akan saya jalani asal itu baik. Pastinya untuk menyambung hidup saya dan juga ayah saya yang sedang sakit."
"Apakah kamu sedang menjual cerita kondisi ayah kamu untuk bisa membuatku tersentuh dan bisa menerimamu bekerja di sini?"
Oma Widuri sengaja memancing gadis ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang penuh dengan intimidasi. Wanita berusia lanjut itu ingin melihat kegigihan gadis ini dalam menjawab pertanyaan darinya.
"Tidak sama sekali Nyonya. Saya tidak bermaksud menjual cerita kondisi ayah saya untuk bisa membuat Nyonya menerima saya. Saya ingin diterima bekerja di sini karena memang Nyonya percaya bahwa saya mampu untuk bekerja keras menjalankan pekerjaan saya. Saya siap diberhentikan kapanpun jika memang pekerjaan saya tidak memuaskan."
Senyum manis terbit di bibir oma Widuri. Ia benar-benar jatuh hati dengan pesona dan tingkah laku gadis yang duduk di depannya ini.
"Baiklah." Oma Widuri membuang nafas sedikit kasar. "Mara.... Aku menerima kamu. Dan mulai hari ini, kamu bisa mulai bekerja di sini."
Mara tersentak. Kedua bola matanya membulat sempurna. "Apa Nyonya? S-Saya diterima?"
"Ya, kamu aku terima bekerja di sini. Dan bekerja lah dengan baik. Jangan kecewakan aku yang sudah menerimamu."
Tanpa basa-basi Mara mulai bangkit dari duduknya. Ia mendekat ke arah oma Widuri dan meraih telapak tangannya. Buru-buru ia mencium punggung tangan oma Widuri dengan lekat.
"Terimakasih Nyonya, terimakasih."
Deg.. Deg.. Deg...
Mengapa aku merasa sangat dekat dengan gadis ini? Sebenarnya aku pernah bertemu di mana dengan gadis ini? Karena rasa-rasanya aku pernah melihat dan mendengar nama gadis ini. Ya Tuhan, apa aku sudah mulai pikun?
.
__ADS_1
.
. bersambung...