
"Dita!"
Mara, Dewa, dan juga Krisna meneriakkan sebuah nama dalam waktu yang bersamaan pula. Layaknya seorang bintang, wanita yang pernah hadir di masa lalu Dewa itu mendapatkan tatapan mata yang hanya tertuju kepadanya. Dan wanita itu hanya tersenyum lebar sembari mengayunkan kakinya dengan langkah lebar untuk bisa segera sampai di dekat Dewa.
"Kalian sedang makan siang? Wah, kebetulan sekali. Aku juga membawakan masakan kesukaan mas Dewa!"
Tanpa merasa bersalah sedikitpun karena telah merusak momen antara Dewa, Mara, dan juga Krisna, Dita mulai mendaratkan bokongnya di sofa yang masih terlihat kosong. Wanita itu berhadapan langsung dengan Dewa. Rantang yang secara khusus ia bawa untuk sang mantan suami, ia letakkan di atas meja.
"Ta, keluar lah dari ruangan ini! Aku sedang ingin menikmati santapan makan siangku. Jadi jangan buat aku tidak berselera karena melihat wajahmu itu!"
Dengan suara lantang, Dewa mencoba untuk mengusir Dita. Benar-benar bermuka tembok wanita ini, karena meskipun ia pernah dipermalukan di hadapan banyak orang, dengan tragedi terjungkal dari atas stage, namun wanita ini belum menyerah juga untuk mengganggu ketenteraman kehidupan Dewa.
Dita terkekeh pelan. Ia duduk dengan menyilangkan kaki sehingga paha mulusnya terlihat dengan jelas karena ia hanya memakai rok mini.
"Mas, aku membawakan gulai ayam untukmu. Gulai ayam adalah masakan kesukaanmu bukan? Aku ingat, bagaimana bahagianya kamu dulu ketika aku memasak gulai ayam seperti ini untukmu."
Sembari menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, Dita mencoba mengingatkan kembali apa yang pernah dilewatinya bersama Dewa di setengah tahun yang lalu. Pastinya masa-masa terindah bagi keduanya tatkala masih menjalani kehidupan sebagai pengantin baru. Dita sengaja menggunakan trik seperti ini. Dengan memberikan perhatian-perhatian kecil, ia percaya bahwa cinta dalam hati Dewa yang pernah ada untuknya, akan bersemi kembali.
Dewa tersenyum sinis. Sepertinya ia harus menjalankan sesuatu untuk bisa membuat mulut wanita uler keket ini terbungkam. "Kamu seharusnya bertanya kepadaku terlebih dahulu sebelum membawakan makanan untukku."
"Mengapa harus seperti itu Mas? Aku masih ingat bahwa gulai ayam merupakan masakan kesukaanmu, maka dari itu aku bawakan kemari untukmu. Aku rasa tidak perlu juga bertanya terlebih dahulu kepadamu karena aku yakin bahwa kamu masih menyukai gulai ayam hasil masakanku ini."
Dewa semakin tergelak. "Apakah seyakin itu kamu beranggapan bahwa aku masih menyukai gulai ayam?"
Dita mengangguk mantap. "Ya, aku sangat yakin akan hal itu. Dulu kamu selalu minta tambah jika aku memasakkan ini untukmu!"
Dulu, dulu, dan dulu. Nampaknya kata itulah yang saat ini menjadi senjata andalan Dita untuk melancarkan niatnya. Ia ingin berteman baik dengan masa lalu yang pernah terlewati untuk kembali mengingatkan sang mantan suami akan semua hal yang pernah mereka lalui bersama.
Dewa berdecih. "Meskipun belum genap dua bulan kita berpisah, namun semenjak itu gulai ayam adalah salah satu masakan yang aku hindari."
Dita terperangah. "Kenapa Mas? Kenapa seperti itu? Bahkan dulu kamu sangat menyukai dan begitu antusias dalam menyantap gulai ayam hasil masakanku ini."
Dita begitu keheranan melihat perubahan yang ada dalam diri Dewa. Mantan suaminya ini ternyata sudah tidak menjadikan gulai ayam sebagai masakan favoritnya.
__ADS_1
Dewa tergelak. Tetiba ingatannya bermain-main di satu momen di mana ia menikmati gulai ayam yang katanya langsung dibuat sendiri melalui tangannya. "Kamu benar-benar tidak tahu malu ya Ta. Masih sempat-sempatnya kamu mengaku-ngaku bahwa makanan yang kamu bawa ini merupakan hasil tanganmu. Tapi pada kenyataannya kamu membeli gulai ayam ini di resto yang berada tidak jauh dari simpang empat sana."
Tubuh Dita sedikit melonjak. Ternyata apa yang ia rahasiakan di depan sang suami saat ini terbongkar juga. Dewa yang melihat raut wajah Dita yang telah berubah pias itu hanya dapat tergelak. Akhirnya, siang ini, Dewa bisa membongkar semua bahwa masakan lezat yang ia santap adalah masakan di salah satu restauran yang tak berada jauh dari tempat tinggalnya.
"Kenapa? Apa kamu bertanya-tanya mengapa aku bisa membongkar semuanya." ujar Dewa saat melihat Dita hanya terpaku.
"Memang kamu tahu dari mana Mas?"
"Aku mengetahuinya dari struk belanja yang lupa kamu buang. Kamu selalu saja lupa untuk membuang struk itu." Dewa kembali menatap sinis wajah Dita ini. "Apakah kamu masih mau mengaku-ngaku bahwa gulai ayam ini adalah hasil dari tanganmu? Jika iya, kamu sungguh seperti seorang wanita yang tidak tahu malu."
Mara dan Krisna yang melihat perseteruan antara dua orang yang pernah menjadi suami istri di kala itu hanya dapat menahan tawa dalam hati. Karena sungguh, perilaku mantan istrinya ini layaknya pelawak yang sedang menghibur para pemirsa.
"Tapi Mas. Meskipun bukan aku yang memasak, tapi kamu masih menyukai gulai ayam bukan? Maka dari itu, makanlah. Semua yang aku bawa ini khusus untukmu."
Dita masih bersikeras meminta Dewa untuk menyantap gulai ayam yang ia bawa. Dia masih yakin jika gulai ayam masih menjadi kesukaan mantan suaminya ini.
Dewa menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. Menghadapi wanita seperti Dita ini harus ekstra sabar, jika tidak pasti akan ada sesuatu yang rusak karena menjadi pelampiasannya. "Semenjak aku mengenal wanita yang duduk di sampingku ini, ada banyak hal yang berubah dari dalam diriku. Termasuk masakan kesukaanku. Kini, gulai ayam bukan lagi menjadi makanan favoritku. Saat ini aku justru ingin muntah jika memakan gulai ayam."
Kedua bola mata Dita membulat sempurna. "Mas, kamu!!"
"Sayang, kamu kok malah asyik makan sendiri? Aku juga mau Sayang!" Dewa yang sedari tadi sibuk meladeni sang mantan istri, sampai-sampai ia lupa bahwa rawon yang dibawakan oleh sang istri belum ada sesuap pun yang masuk ke dalam mulutnya.
"Habisnya kamu sibuk terus dengan wanita ini sih Mas. Jadi lupa kan kalau kamu belum jadi makan?"
"Iya Sayang. Aku benar-benar lupa. Dan sekarang aku ingin makan rawon buatanmu Sayang, yang pastinya benar-benar hasil masakanmu, BUKAN HASIL MASAKAN KOKI RESTAURAN!"
Dewa sengaja memberikan penekanan pada kata-kata 'bukan hasil masakan restauran' untuk memprovokasi Dita. Benar saja wajah wanita itu terlihat semakin kesal seperti pantat ayam.
"Ya ayo lekas dimakan Mas," ucap Mara mempersilakan.
Dewa sedikit menggeser posisi duduknya, hingga kini ia dan Mara saling berhimpitan. Ia lingkarkan lengan tangannya di pinggang sang istri dan ia letakkan kepalanya di pundak istrinya ini. "Aku mau disuapin sama kamu Sayang. Aku tidak mau makan jika tidak disuapi sama kamu!"
Dewa merengek layaknya seorang anak kecil yang minta disuapi oleh sang ibu. Mara tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya menuruti apa yang menjadi keinginan suaminya ini.
"Ya sudah, ayo aku suapi Mas!"
__ADS_1
Dewa duduk dengan mencondongkan tubuhnya di hadapan sang istri. Dengan telaten, Mara mulai menyuapi Dewa dengan menu rawon yang ia bawa. Tak lupa, ia sendiri pun juga ikut memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Dewa menatap lekat wajah Mara seakan tidak membiarkan setiap detik yang bergulir dengan tidak menatap paras cantik istrinya ini. Hal itulah yang membuat Mara tersipu malu.
"Mas, mengapa melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?"
Dewa hanya tersenyum simpul sembari mengangguk samar. "Memang ada Sayang!"
"Apa Mas?"
Dewa mendekatkan wajahnya di wajah sang istri. Tanpa basa-basi ia mulai mendaratkan ciuman di bibir sang istri yang nampak sedikit basah dan kian menggoda. Mara sempat terkejut, namun pada akhirnya, ia menikmati juga pagutan bibir suaminya ini. Dewa semakin intens mencumbu Mara. Ia yang sebelumnya fokus memberikan ciuman di bibir Mara, kini ia geser ke lehernya.
"Sesuatu yang selalu saja membuatku jatuh cinta setiap hari kepadamu, Sayang!"
"Aaaaaahhh... Mas Dewa....."
"Eempphhhhh... Sayang... Jika seperti ini rasa-rasanya aku tidak dapat menahan hasrat untuk tidak bercinta, Sayang... Aaaahhh....."
Entah disengaja atau tidak, keduanya justru terlihat semakin berada dalam posisi yang sangat intim. Bahkan tanpa malu-malu *******-******* lirih itu keluar dari bibir masing-masing. Dita yang melihat adegan di depannya ini semakin tersulut oleh emosi yang membara. Ia beranjak dari posisi duduknya dan ....
"Dasar brengsek!"
Wanita itu melenggang pergi meninggalkan ruangan Dewa.
Brakkkkk... !!!
Pintu terhempas dengan kasar. Setelah itu hanya ada suara gelak tawa yang menggema di ruangan ini.
.
.
. bersambung...
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1