Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 65 : Meminta Restu


__ADS_3


"Pembicaraan ini kita rahasiakan dulu dari Dewa!"


Mara tersentak mendengar penuturan oma Widuri. Baru saja oma Widuri begitu menginginkannya untuk bersegera menikah dengan sang cucu namun sekarang malah justru oma Widuri meminta untuk merahasiakannya.


"M-maksud Oma bagaimana?"


Oma Widuri hanya tersenyum simpul. "Aku percaya bahwa Dewa adalah salah satu lelaki yang setia pada satu orang wanita. Bahkan dia dapat menjaga hatinya untuk wanita yang sangat ia cintai. Namun biarkan saat ini dia berjuang untuk mendapatkan mu, Ra!"


Dahi Mara bertambah mengerut. "M-Mara tidak mengerti Oma."


"Saat ini Dewa masih berpikir bahwa kamu memiliki hubungan dengan orang lain. Biarkan dia melakukan sesuatu untuk bisa memperjuangkan cintamu, Ra. Aku hanya ingin melihat seberapa besar usahanya untuk bisa mendapatkanmu."


"O-Oma yakin melakukan ini?"


Oma Widuri mengangguk mantap. "Ya, aku sangat yakin Ra. Lagipula, aku ingin melihat bagaimana reaksi Dewa tatkala mengetahui bahwa kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki lain."


"Baik Oma, Mara akan melakukannya."


"Ya sudah, habiskan minuman kamu Ra. Setelah ini, mari kita kembali ke ruangan Dewa."


"Iya Oma."


Dua orang beda generasi itu menyesap tetes-tetes terakhir minuman yang ada di hadapannya masing-masing. Ternyata pertemuan mereka kali ini benar-benar bisa menambah keakraban yang terjadi diantara keduanya. Keadaan yang sangat baik sebagai pondasi awal untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.


***


"Karena tidak terjadi sesuatu yang serius terhadap pak Dewa, maka pak Dewa saya persilakan untuk pulang ke rumah."


Dokter yang menangani luka sengatan tawon yang dialami oleh Dewa memberikan izin Dewa untuk bisa kembali ke rumah. Mengingat luka yang ada di wajah Dewa tidak begitu serius, sang dokter memutuskan untuk memberikan izin Dewa untuk pulang.


"Tapi apakah bekas sengatan ini bisa hilang Dok? Saya merasa tidak tampan lagi dengan bercak-bercak merah di wajah saya ini. Jika wajah saya seperti ini, mana ada wanita di luar sana yang melirik saya Dok?"


Sembari mencuri pandang ke arah Mara, Dewa seakan memasang wajah sendu atas bekas luka yang ditinggalkan oleh koloni tawon-tawon ganas itu. Rupa-rupanya duda itu ingin melihat reaksi dari gadis yang ia cintai, namun sayang, gadis itu hanya terdiam membisu. Sedangkan oma Widuri dan Krisna hanya bisa memijit-mijit pelipisnya mendengar kekonyolan lelaki yang sedang dimabuk cinta itu.


Sang dokter hanya mengulas sedikit senyumnya. "Pak Dewa jangan khawatir. Nanti saya berikan resep obat dalam dan obat luar untuk luka di wajah Bapak ini. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama, bekas luka Bapak ini akan segera hilang. Lagipula Bapak jangan cemas, seorang wanita yang benar-benar mencintai Bapak apa adanya pasti tidak akan mempermasalahkan wajah Bapak yang seperti ini."


"Hmmmmm tapi setidaknya dengan wajah saya yang seperti semula akan banyak wanita yang mau. Jika seperti ini jangankan mau, melirik ke arah saya saja pun pasti sudah enggan."

__ADS_1


Oma Widuri hanya berdecak. "Heh Duda. Hentikan ucapan unfaedah mu itu. Lekaslah bersiap-siap untuk pulang. Kasihan Mara, dia sudah terlalu lama berada di sini. Pastinya dia juga ingin segera beristirahat bukan?"


"Biar Krisna yang mengantar Mara pulang, Oma!" timpal Krisna secara tiba-tiba dan sontak membuat bibir Dewa menganga lebar.


"Tidak, tidak, tidak. Apa-apaan kamu Kris? Main antar segala. Biar aku yang mengantar Mara pulang!"


"Tapi kamu masih sakit Wa. Jadi biarkan aku yang mengantar Mara. Kamu beristirahat saja."


Asisten pribadi Dewa itu sengaja menggoda sang bos. Melihat sang bos sedikit tersulut oleh rasa kesal seakan menjadi pemandangan yang indah untuk dapat ia nikmati.


Kedua bola mata Dewa berotasi, menatap jengah wajah Krisna yang ingin menjadi pahlawan kesiangan itu. "Yang luka itu wajahku. Tanganku masih bisa untuk mengendalikan setir mobil dan kakiku juga masih berfungsi untuk menginjak pedal rem maupun gas, jadi tidak akan berpengaruh apapun."


"Sudah, sudah, sudah. Siapapun yang akan mengantar Mara, yang jelas harus bisa memastikan Mara selamat sampai rumah." Oma Widuri menoleh ke arah sang dokter yang juga ikut terkikik geli. "Maafkan lelaki-lelaki ini ya Dok. Yang satu efek menduda menjadikannya sedikit konyol. Dan yang satu efek perjaka tua yang tidak laku-laku yang membuat tingkah lakunya konyol juga. Keduanya memang tidak terpisahkan, Dok!"


"Tidak apa-apa Nyonya."


Dewa dan Krisna hanya terkesiap. "Omaaaa!!!"


***


"Saya mohon restu untuk bisa menjalani hubungan yang serius dengan putri Bapak!"


Baskara yang masih setia duduk di atas kursi rodanya, sedikit terkejut karena tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang meminta restu kepadanya. Sehingga hanya membuat bibirnya terkatup tak dapat berkata apapun.


Baskara melirik ke arah sang anak dan hanya ditanggapi oleh seutas senyum manis di bibirnya.


"Saya tahu jika saat ini ada Pramono yang sedang menjalani hubungan serius dengan putri Bapak. Namun saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus berusaha untuk mendapatkan putri Bapak. Karena bagi saya, selama status putri Bapak belum berganti menjadi seorang istri, saya masih banyak memiliki peluang. Oleh karena itu saya mohon restu kepada Bapak."


Baskara hanya tersenyum simpul. Ia baru paham ternyata lelaki yang duduk di hadapannya ini telah salah sangka akan hubungan sang anak dengan Pramono. Namun, di sini ia ingin melihat seberapa besar upaya lelaki ini untuk memperjuangkan putrinya.


"Semua Bapak serahkan kepada Mara, Nak. Biarkan Mara yang memilih antara kamu atau Pramono yang akan menjadi pendamping hidupnya."


"Tapi Bapak memberikan restu untuk saya bukan? Karena dengan restu yang Bapak berikan, akan memperingan langkah kaki saya."


"Kamu dan Pramono sama-sama lelaki baik. Jadi Bapak memberikan restu untuk kalian berdua. Kini tinggal bagaimana cara kamu membuat putri Bapak percaya bahwa kamu memang yang terbaik."


Dewa meraih telapak tangan Baskara. Tanpa membuang banyak waktu, lelaki itu mengecup punggung tangan Baskara dengan intens. "Terimakasih banyak Pak, terimakasih."


Sedangkan Mara, hanya bisa menatap haru akan apa yang dilakukan oleh Dewa. Hatinya sedikit lega karena lelaki itu sama sekali tidak mempermasalahkan kondisi sang ayah yang hanya bisa duduk di atas kursi roda.

__ADS_1


***


Hembusan angin malam membelai tubuh Mara dan juga Dewa yang tengah duduk di teras rumah. Hembusannya yang kencang membuat rasa dingin itu tiba-tiba masuk ke dalam tubuh mereka hingga tembus ke tulang.


"Ra, aku sadar bahwa aku pernah melakukan sebuah kesalahan karena tidak percaya kepadamu tentang apa yang terjadi di malam itu."


"Lalu?"


"Aku ingin kamu mengatakan semua tentang apa yang kamu alami malam itu Ra. Mengapa kamu tiba-tiba menghilang dan membiarkan aku menunggumu semalaman?"


Mara hanya mengulas sedikit senyumnya. "Sebentar lagi Tuan pasti akan mengetahui kebenarannya. Jadi saya tidak perlu repot-repot untuk menceritakannya kepada Tuan."


Dahi Dewa sedikit mengerut. "Benarkah seperti itu? Apa yang membuatmu yakin bahwa aku akan segera mengetahuinya?"


Sembari mengendikkan bahunya, Mara mencoba untuk menanggapi ucapan Dewa. "Entahlah Tuan, saya hanya merasa yakin jika sebentar lagi Tuan akan segera mengetahuinya."


Dewa sedikit membuang nafas kasar. Saat ini ia tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk Mara bisa menceritakan semuanya. Mungkin benar, bahwa ia harus berusaha keras untuk mencari tahu semuanya.


"Ra, bolehkah aku meminta kepadamu satu hal?"


Mara menautkan pandangannya ke arah Dewa. "Apa itu Tuan?"


"Bisakah kamu merubah panggilanmu kepadaku?"


"Merubah panggilan? Jadi saya harus memanggil Tuan apa?"


"Panggil aku 'mas', Ra!"


.


.


. bersambung....


Hari Senin datang lagi Kakak... Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada author remahan kulit kuaci ini dengan tiket vote, bunga-bunga bermekaran, ataupun koin yah... Dukungan doa juga sangat saya terima. Doakan author remahan kulit kuaci ini bisa naik kasta menjadi author rempeyek kacang😅


Kita biarkan Dewa berjuang dulu ya Kak.. Dan kita lihat bagaimana cara Dewa mencintai Mara.. Sebelum mereka benar-benar menikah. Hehehe 🤗


Banyak cinta untuk Kakak-kakak semua...

__ADS_1


Salam love, love, love ❤️❤️❤️


__ADS_2