
Hoeeekkk... Hoeeekkk.... Hoeeekkk...
Keheningan pagi hari di kediaman Krisna dipecah oleh suara Sekar yang tengah muntah-muntah di atas wastafel. Sejak bangun tidur hingga pukul delapan seperti ini, sudah empat kali wanita itu memuntahkan isi di dalam perutnya. Hingga tak ada lagi yang tersisa selain cairan bening yang keluar dari rongga mulutnya.
"Aduh Sayang, sudah berkali-kali kamu muntah seperti ini. Kita ke dokter ya Sayang. Aku takut jika terjadi sesuatu kepadamu."
Sembari memijit-mijit tengkuk Sekar, Krisna berupaya untuk memberikan rasa nyaman kepada istrinya ini. Sungguh hatinya terasa ikut perih tatkala wajah sang istri terlihat pucat pasi.
Sekar yang sebelumnya membungkukkan tubuhnya sedikit ia ubah posisinya. Kini tubuh wanita itu telah tegak. Separuh tubuhnya bersandar di wastafel dan sesekali terlihat menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan.
"Sayang...."
Krisna menarik lengan tangan Sekar bermaksud untuk membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Ia ingat ucapan Dewa bahwa dekapan seorang suami itu akan selalu menjadi tempat paling nyaman bagi istri yang dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik.
Namun boro-boro Sekar bergelayut manja di dalam dekapan Krisna. Wanita itu seketika mendorong tubuh Krisna agar menyingkir.
"Menjauhlah Mas! Tubuhmu benar-benar bau. Aku tidak tahan!"
Setelah berhasil membuat tubuh sang suami menjauh darinya, cepat-cepat Sekar mencapit hidungnya dengan telunjuk dan ibu jarinya. Sedangkan Krisna hanya dibuat terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh istrinya ini.
"Sayang... Apa yang bau? Tubuhku wangi loh Sayang. Bahkan aku sudah memakai parfum kesukaanmu."
Sekar menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, tubuhmu sama sekali tidak wangi. Perutku semakin mual Mas!"
Krisna semakin dibuat heran dengan tingkah aneh istrinya ini. Sesekali ia terlihat menciumi aroma tubuhnya sendiri, mencoba mencari sumber bau yang dimaksud oleh Sekar. Namun berkali-kali ia mencoba untuk mencari sumber bau itu, tidak setitikpun ia temukan. Justru sebaliknya, tubuhnya ini sangat wangi.
"Sayang jika seperti ini aku harus bagaimana? Kamu sama sekali tidak mau aku dekati, lalu bagaimana aku bisa membantumu di saat kamu sedang tidak enak badan seperti ini?"
"Menjauhlah dariku terlebih dahulu Mas. Aku benar-benar merasa mual jika berada di dekatmu."
"Tapi Sayang...."
"Please Mas. Aku sungguh mual."
Wajah Krisna tetiba dipenuhi oleh raut cemas tiada terkira. Ingin rasanya ia menjadi sandaran bagi sang istri di kala sedang tidak enak badan seperti ini, namun apa yang ia dapatkan? Yang ia dapatkan hanyalah sebuah penolakan dari sang istri.
"Baiklah kalau begitu Sayang. Aku keluar dulu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, langsung hubungi aku ya Sayang!"
Sekar hanya mengangguk pelan. "Iya Mas."
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Krisna meninggalkan Sekar. Ia langkahkan kakinya untuk menuju teras sembari mencari udara pagi yang masih terasa begitu segar. Dan ia daratkan bokongnya di kursi kecil yang berada di depan teras.
"Loh Nak, mengapa kamu duduk sendirian di teras rumah seperti ini?"
Ucapan Ambar yang tiba-tiba, sukses membuat Krisna yang tengah duduk termangu menatap hamparan pohon palem hias di depan rumahnya sedikit tersentak. Ia tautkan pandangannya ke arah ibu mertua dan menyalami wanita paruh baya itu.
"Krisna bingung dengan sikap Sekar pagi ini Bu. Saking bingungnya, Krisna hanya bisa duduk di sini sembari merenung apa yang sebenarnya menjadi kesalahan Krisna."
Ambar sedikit mengerutkan keningnya, tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh menantunya ini. "Sikap Sekar yang mana Nak? Apakah ada sikap Sekar yang melukai hatimu?"
Krisna menggeleng pelan. "Tidak Bu, tidak seperti itu. Krisna hanya heran mengapa tiba-tiba Sekar tidak mau untuk Krisna dekati. Ia mengatakan tubuh Krisna ini bau dan membuatnya mual-mual. Maka dari itu, sejenakpun Sekar tidak membiarkan Krisna untuk mendekatinya."
Ambar sedikit terkesiap tatkala sang menantu membahas perihal mual. "Mual? Sekar mual-mual Nak?"
"Benar itu Bu. Dia mual-mual dan muntah. Entah sudah berapa kali Sekar muntah-muntah di pagi hari ini. Krisna merasa begitu kasihan, namun Krisna tidak dapat berbuat apa-apa karena Sekar tidak mau untuk saya dekati."
Ambar mencoba untuk menelaah setiap ucapan terlontar dari bibir Krisna. Semakin wanita itu mencerna ucapan sang menantu, maka hanya ada sebuah senyum lebar di bibirnya.
"Bersiaplah untuk menyambut sebuah berita yang menggembirakan Nak!"
Kedua alis milik Krisna saling bertaut. Entah apa maksud sang ibu mertua jika sebentar lagi akan ada berita bahagia, padahal saat ini posisinya begitu menyedihkan, ditolak oleh sang istri. "Maksud Ibu bagaimana? Krisna sama sekali tidak paham."
Kedua netra Krisna membulat sempurna dan mulutnya menganga lebar. "Seorang ayah? Itu artinya, Sekar?"
Ambar mengangguk mantap. "Sepertinya Sekar sedang hamil. Dan itu artinya sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua, Nak!"
Wajah Krisna yang sebelumnya terlihat pias, mendadak berbinar seketika. Jika memang istrinya benar hamil, maka ini semua akan menjadi sebuah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. "Sungguh? Ibu tidak sedang bercanda bukan?"
"Untuk lebih mengetahui pastinya, pergilah ke apotek dan belilah testpack, Nak. Dengan begitu semua keraguanmu akan terjawab."
Krisna mengangguk mantap sembari beranjak dari posisi duduknya. "Baiklah kalau begitu Bu, Krisna akan ke apotek untuk membeli testpen."
Ambar berdecak lirih. "Bukan testpen Nak, tapi testpack!"
"Aaahhh iya, testpack. Kalau begitu Krisna ke apotek dulu Bu."
"Baiklah Nak, hati-hati."
***
__ADS_1
Ceklek....
Terdengar suara kenop pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Hampir sepuluh menit Sekar berada di dalam kamar mandi, kini tubuhnya nampak keluar dari dalam sana. Setelah sang suami membelikan tiga buah testpack, wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan tak selang lama, wanita itu keluar sembari memegang tiga buah testpack yang dibeli oleh suaminya ini.
"Sayang, bagaimana? Apakah aku sudah bisa melihat hasilnya?"
Krisna duduk di sofa bersisihan dengan ibu mertua dengan perasaan yang bercampur aduk. Lelaki itu harap-harap cemas menunggu hasil dari testpack yang sebelumnya ia belikan untuk sang istri. Gegas, lelaki itu bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Sekar.
"Mas..."
Ucapan Sekar tercekat di dalam tenggorokan. Dadanya terasa sedikit sesak karena menahan sesuatu yang meletup-letup di rongga dadanya. Tak ayal hal itulah yang membuat mata Sekar memanas dan ingin menumpahkan tangisnya.
"Sayang... Ada apa? Mengapa kamu menangis?"
Tanpa meminta persetujuan dari sang istri yang sebelumnya begitu anti berdekatan dengannya, Krisna memeluk tubuh wanitanya ini. Ia usap punggung Sekar untuk memberikan rasa nyaman.
"Mas.... Sebentar lagi, kita akan menjadi orang tua. Aku hamil Mas. Aku hamil!"
Sekar melerai sedikit pelukannya. Ia ulurkan tiga buah meja testpack yang ada di dalam genggaman tangannya. Dan ia serahkan kepada Krisna.
Dewa menatap lekat tiga testpack yang diberikan oleh istrinya ini. Benar saja ketiga alat uji kehamilan itu menampilkan dua garis merah.
"Sayang... Ini?"
"Iya Mas. di dalam rahimku, telah tumbuh seorang malaikat kecil di dalam sana. Kamu akan menjadi seorang ayah Mas!"
"Aaaahhhhh ya Tuhan... Aku bahagia. Sangat-sangat bahagia!" Krisna kembali memeluk tubuh Sekar. "Terimakasih Sayang... Terimakasih!"
"Iya Mas... Aku juga ber......."
Ucapan Sekar terpangkas tatkala rasa mual tiba-tiba datang menyerangnya. Dan kemudian...
"Menjauhlah dariku Mas! Kamu bau!"
Ya Tuhan, ternyata istriku ini tidak lupa jika hari ini ia sedang tidak ingin aku dekati. Aaahhhh lebih baik aku Pergi saja ke rumah Dewa.
.
.
__ADS_1
. bersambung