
"Ya Tuhan... Mengapa mobilku malah mogok di tempat seperti ini?"
Mobil yang dikemudikan oleh Dewa berhenti di sebuah jalan yang sisi kanan kirinya hanya terdapat hutan belantara. Berkali-kali ia mencoba menghidupkan mesin mobil yang ia kendarai, namun sepertinya saat ini mobil itu tidak bersahabat dengan Dewa, karena ia tetap memilih untuk bungkam, tidak menyala sama sekali.
Dewa mencoba mengambil ponsel yang ada di atas dashboard. Ia perhatikan dengan seksama ponsel itu dan mendadak wajah Dewa terlihat semakin pias.
"Ya Tuhan, ponsel yang aku bawa juga lowbat, jika seperti ini bagaimana bisa aku meminta pertolongan?"
Dewa mengusap rambutnya sedikit kasar. Sambil melihat ke sekeliling. Tempat yang begitu sepi dan sunyi, karena tempat ini adalah kawasan hutan belantara yang jarang sekali dilewati oleh orang-orang di malam hari seperti ini. Sesekali hanya terdengar kepakan sayap burung-burung malam yang berkeliaran mencari mangsa. Dan juga suara angin yang berhembus kencang seakan membuat bulu kuduk Dewa semakin meremang.
Di tengah keputusasaan yang dirasakan oleh Dewa, tetiba matanya menangkap sebuah sorot lampu dari dalam hutan. Tidak hanya sorot lampu saja, ia juga menangkap bayangan beberapa orang yang tengah berlarian. Dewa berpikir orang-orang itu sedang mengejar pencuri atau perampok yang sedang bersembunyi di hutan. Seakan tidak mau melewatkan kesempatan ini, Dewa memutuskan untuk mengikuti orang-orang itu yang siapa tahu bisa menjadi penolong untuknya.
Gegas, Dewa turun dari mobil dan mulai berlari masuk ke dalam hutan untuk menyusul orang-orang yang tadi sempat ia lihat. Dewa sengaja memberi jarak dengan orang-orang itu. Ia khawatir jika langsung memperlihatkan keberadaannya, orang-orang itu akan mencurigainya sebagai anggota perampok atau pencuri yang tengah mereka kejar. Langkah kaki Dewa terhenti, tatkala lima orang yang berlarian tadi juga memberhentikan langkah kaki mereka di dekat curug. Dan Dewa memilih untuk bersembunyi di balik pohon.
"Kemana larinya wanita itu? Tempat ini buntu dan tidak ada jalan lain lagi, namun mengapa wanita itu sama sekali tidak terlihat?"
Sayup-sayup Dewa mendengar salah seorang mengajak berbicara temannya yang lain.
"Ilmu apa yang dimiliki wanita itu? Yang bisa membuatnya menghilang di tempat seperti ini? Atau jangan-jangan ia salah satu wanita yang sakti mandraguna, yang bisa menghilang tanpa meninggalkan jejak?"
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Jika kita tidak berhasil menemukan wanita itu, juragan Karta pasti akan murka!"
"Mau bagaimana lagi? Apa kita harus semalaman berada di tempat ini? Di tempat yang terkenal angker seperti ini? Kalau aku sih tidak mau, aku masih ingin hidup bersama istri dan juga anakku."
"Lalu, apa yang harus kita katakan kepada juragan Karta?"
"Kita katakan saja kepada juragan Karta kalau wanita itu berhasil lari dari kejaran kita."
Dewa yang sebelumnya bermaksud ingin meminta bantuan orang-orang itu, seketika ia urungkan niatnya. Dari percakapan orang-orang di depannya ini, ia bisa menangkap bahwa mereka tengah mengejar-ngejar seorang wanita yang akan mereka bawa kepada seseorang yang bernama juragan Karta. Dewa berpikir, jika wanita yang menjadi target mereka merupakan istri dari lelaki bernama juragan Karta itu.
Hmmmm tidak di Bogor, tidak di kota ini, mengapa makhluk bernama wanita selalu membuat masalah. Aku yakin wanita yang mereka kejar-kejar itu adalah istri dari seseorang yang bernama Karta yang kedapatan berselingkuh.
Dewa sibuk bermonolog dalam hati. Ia menyamakan kejadian yang beberapa hari ini ia alami, terjadi juga di kota ini. Begitu larutnya Dewa dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai ia tidak sadar jika orang-orang yang ia lihat tadi sudah meninggalkan tempat ini.
Langkah kaki Dewa terayun untuk mendekat ke arah curug yang berada tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Sebuah pemandangan yang begitu memukau di tengah hutan yang didominasi oleh aura mistis seperti ini. Seakan tidak perduli dengan suasana angker yang begitu terasa, Dewa mendudukkan tubuhnya di atas batu besar. Ia menghirup udara dalam-dalam sembari mengingat apa yang menimpanya beberapa hari terakhir ini.
Flashback On...
"Mas... Aku mohon maafkan aku Mas! Aku khilaf. Aku tidak ingin bercerai darimu!"
Setelah memakai kembali pakaiannya, Dita berusaha sekuat tenaga untuk mengejar Dewa. Berharap lelaki itu mau sedikit saja menghentikan langkah kakinya. Namun sia-sia saja, Dewa bahkan tidak menggubris keberadaan Dita.
Ketika tangan Dita berhasil menangkap tubuh Dewa, buru-buru wanita itu kembali berlutut di kaki Dewa. Dengan derai air mata yang membasahi pipi, ia seperti menampakkan wajah penuh penyesalannya.
Masih dengan membuang muka, Dewa hanya menanggapi sinis permohonan maaf dari Dita. "Aku sudah memaafkanmu Ta. Namun untuk kamu bisa kembali lagi kepadaku, aku tegaskan sekali lagi, aku tidak bisa!"
"Mas... Aku mohon, berikan aku kesempatan satu kali lagi. Aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku dan akan menjadi seorang istri yang baik untukmu Mas!"
__ADS_1
Dita belum menyerah. Wanita itu masih kekeuh memegang kaki Dewa untuk meminta maaf. Ia berharap, Dewa masih seperti Dewa yang pernah ia kenal, yang bisa dengan mudah memberikan maaf kepada orang-orang yang berbuat salah kepadanya.
"Berapa kali kamu berlutut di bawah kakiku, itu semua tidak akan pernah merubah keputusanku Ta. Aku tetap pada pendirianku untuk menceraikanmu. Dan mulai saat ini, kita jalani kehidupan kita masing-masing."
"T-tapi Mas..."
"Bagus Wa. Kamu memang harus menceraikan wanita ini. Dia bukanlah istri yang baik untukmu!"
Ucapan Dita terpangkas oleh suara seseorang yang tidak lain adalah suara oma Widuri. Oma Widuri yang baru saja tiba dari acara jalan-jalan bersama Kasim dan juga Darmi, sedikit terkejut dengan sebuah pemandangan yang ada di hadapannya. Namun seketika ia paham apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Oma, apa maksud Oma mengatakan hal itu? Oma tidak tahu apa-apa!"
"Cih, aku bahkan sudah tahu dengan semua yang kamu lakukan di belakang cucuku Ta." Oma Widuri menghela nafas dalam. "Aku bahkan sudah memasang CCTV di kamar yang merupakan tempatmu bermain api dengan Damar. Berharap agar aku bisa memberikan bukti kepada cucuku akan kelakuan bejatmu, namun ternyata Tuhan memberikan jalan lain. Dewa ternyata telah melihat secara langsung."
"Stop Oma! Jangan berbicara apapun. Saat ini aku sedang berbicara dengan mas Dewa."
"Bersikaplah yang sopan kepada Oma ku Ta! Jika seperti ini, kamu benar-benar seperti wanita yang tidak memiliki akhlak sama sekali!"
"Mas, aku mohon maafkan aku. Aku akan memperbaiki semuanya Mas, aku janji!"
"Ini semua terlalu sakit untuk diriku sendiri Ta. Kamu sudah menginjak-injak harga diriku. Sekarang pergilah dari sini! Pergi!"
"Mas... Kumohon, maafkan aku, maafkan aku!"
Tanpa memperdulikan wanita yang masih bersimpuh di atas lantai dengan deras air mata yang mengalir, Dewa melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan ini. Entah kemana ia akan pergi, namun sepertinya ia ingin sejenak untuk menenangkan diri.
"Oma jangan ikut campur dalam permasalahanku dengan mas Dewa. Oma tidak tahu apa-apa!"
Oma Widuri tersenyum sinis. "Aku memang tidak tahu apa-apa, yang aku tahu saat ini kamu harus segera angkat kaki dari rumah ini Ta!"
Mata Dita membulat sempurna, karena berkali-kali oma Widuri seakan menantangnya. "Jangan pikir Oma bisa melakukan apa saja, aku bi......"
Tetiba Dita memangkas ucapannya ketika perutnya kembali terasa mual. Gegas, ia menuju wastafel yang berada di dapur dan memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
Hoeeeek .. Hoeeeek ... Hoeekkkk....
Oma Widuri hanya memperhatikan apa yang tengah terjadi pada tubuh Dita, dengan tatapan yang sukar untuk diartikan.
Bahkan kamu pun sudah mengandung benih Damar, aku pastikan kamu tidak akan memperoleh sepeserpun harta dari rumah ini.
***
"Kamu benar ingin pergi dari rumah Wa?"
Sehari setelah badai itu menerjang kehidupan Dewa, hari ini Dewa berencana untuk sejenak menepikan diri, mencari ketenangan. Dita dan Damar sudah angkat kaki dari rumah. Entah kemana mereka akan pergi, Dewa bahkan tidak perduli sama sekali. Yang ia perdulikan saat ini hanyalah kondisi hatinya. Ia ingin segera pulih dari luka ini. Perselingkuhan Dita dan ditambah saat ini Dita tengah mengandung anak dari Damar, seakan membuat Dewa semakin terhempas di dasar jurang luka yang dalam.
Dewa hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia berusaha untuk menampakkan wajahnya yang baik-baik saja agar sang nenek tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Izinkan Dewa untuk sejenak pergi dari sini ya Oma. Dewa ingin mencari suasana yang baru, yang bisa menumbuhkan semangat Dewa kembali."
__ADS_1
"Tapi kemana kamu akan pergi Wa? Dan berapa lama?"
Oma Widuri seakan tidak rela jika sang cucu harus pergi dari rumah ini. Karena pada dasarnya Dewa lah yang selalu menjadi teman baik oma Widuri di setiap harinya. Dan jika Dewa memilih untuk sementara pergi dari rumah ini, pasti ia akan merasa sangat kesepian.
Dewa lebih mendekat ke arah Oma Widuri. Ia raih jemari tangan sang nenek, dan ia genggam dengan erat. "Dewa sepertinya akan ke Jogja, Oma. Dan paling lama satu minggu Dewa berada di sana. Setelah itu Dewa pasti akan kembali."
"Tapi bagaimana dengan perusahaan Wa? Siapa yang akan mengambil alih pekerjaanmu?"'
"Oma tenang ya, pekerjaan Dewa di kantor untuk sementara waktu akan diambil alih oleh Krisna, jadi Oma tidak perlu khawatir." Dewa kembali tersenyum simpul. Tanpa basa-basi ia memeluk tubuh wanita yang sudah memasuki usia senja ini. "Dewa pamit ya Oma. Dewa berjanji, Dewa akan segera pulih dari keadaan ini, dan akan segera pulang."
Tanpa terasa, setetes kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata oma Widuri. Ia mengusap-usap punggung Dewa dengan lembut. "Pergilah Wa! Oma mengizinkanmu. Namun setelah itu berjanjilah, bahwa kamu akan kembali menjadi Dewa yang pernah Oma kenal."
Dewa menganggukkan kepalanya. "Dewa berjanji Oma. Dewa berjanji."
Flashback Off ....
"Tuhan!!!! Apa salahku? Mengapa ini semua terjadi kepadaku? Aku mengalami kecelakaan dan sekarang Dita berselingkuh dan mengandung anak dari lelaki itu!!!! Apa salahku Tuhan? Apa salahku?"
Dewa berteriak histeris di tempatnya duduk saat ini. Berkali-kali ia meracau dan mengacak rambutnya asal seakan menumpahkan semua luka yang ia rasakan karena sebuah penghianatan. Lelaki itu menangis tergugu, meratapi nasibnya.
Sedangkan seorang wanita yang masih setia berada di atas pohon, hanya bisa menatap punggung lelaki yang tak jauh dari tempatnya bersembunyi ini dengan tatapan iba. Ternyata bukan hanya ia saja yang tengah mengalami kepelikan hidup, namun orang lain juga tengah mengalaminya. Wanita yang masih setia duduk di salah satu dahan pohon itupun tidak dapat berbuat apapun. Sedari tadi ia mencoba untuk turun namun tidak bisa.
"Ppsssstttt Tuan... Tuan.... Apa boleh saya meminta bantuan?"
Dewa yang tengah larut dalam pikirannya, tiba-tiba merasa terusik dengan suara seorang wanita yang tiba-tiba terdengar di dalam indera pendengarannya. Dewa menyapu pandangannya ke sekeliling mencoba untuk mencari sumber suara itu. Namun tetap saja tidak bisa ia temukan. Dewa pun kembali menundukkan kepalanya.
"Tuan.... Tuan.... Tolong saya!"
Mendengar suara itu lagi, membuat Dewa bergidik ngeri. Ia berpikir suara itu merupakan suara makhluk ghaib yang menghuni tempat ini.
"Siapa kamu? Jangan macam-macam. Cepat tunjukkan wujudmu!"
Dewa bangkit dari posisi duduknya. Ia menoleh ke kanan dan kiri bahkan memutar tubuhnya untuk mencari sumber suara itu. Namun tetap saja tidak ia temukan apapun.
"Jangan bercanda kamu. Di mana kamu? Tunjukkan wujudmu!"
Meskipun ada perasaan takut yang menggelayuti hatinya, namun Dewa berupaya untuk melawan itu semua. Ia seperti menantang suara wanita yang ia anggap sebagai suara makhluk ghaib yang berada di tempat ini. Meski ia tidak tahu, apa yang akan ia lakukan jika makhluk itu benar-benar menunjukkan wujudnya.
"Saya di sini Tuan. Di atas pohon!"
Dengan perasaan sedikit takut Dewa mulai mendongakkan kepalanya. Seketika matanya pun terbelalak dan membulat sempurna. Tatkala melihat ada sosok seorang wanita berpakaian putih dan rambutnya sedikit berantakan.
"Kun... Kuntilanak????!!!!"
.
.
. bersambung....
__ADS_1