Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 131 : Buah Cinta Kita


__ADS_3


Bola mata wanita yang tengah terbaring lemah itu nampak sedikit bergerak meski kelopaknya masih dalam keadaan terpejam. Perlahan, kelopak mata itu mulai terbuka. Wanita itu sedikit memincing, berusaha menahan silau dari sinar lampu yang terasa begitu menusuk kornea matanya. Jemari tangannya juga bergerak seakan memberikan sinyal jika ia telah bangun dari tidurnya.


Mara menundukkan pandangan matanya. Terlihat ada seorang laki-laki yang tertidur dengan posisi duduk di kursi tepat di samping pinggangnya. Tangan lelaki itu juga terlihat menggenggam jemarinya, namun ia masih belum sadar jika sedari tadi jemari yang ada di dalam genggamannya mulai bergerak-gerak. Mungkin karena rasa lelah yang mendera, sehingga membuatnya tertidur pulas seperti ini.


Mara tersenyum simpul. Melihat sang suami berada di sampingnya seakan membuat wanita itu merasakan kebahagiaan yang begitu membuncah. Entah apa yang sebenarnya ia alami, karena beberapa waktu terakhir ini, ia merasa ingin selalu berada dekat-dekat dengan suaminya ini.


Mara mencoba melepaskan genggaman tangan Dewa. Lelaki itu hanya terlihat sedikit menggeliat dan kembali ia lanjutkan lagi tidurnya. Perlahan, Mara mengusap lembut rambut hitam legam milik Dewa sembari tiada henti melukiskan seutas senyum penuh syukur di bibirnya. Bersyukur, karena dalam goresan takdir hidupnya, Tuhan mengirimkan sosok lelaki yang begitu mencintainya.


"Sayang... Kamu sudah sadar?"


Dewa yang sebelumnya larut dalam buaian mimpi, perlahan mulai meraih kesadarannya, tatkala merasakan jemari tangan Mara yang membelai lembut rambutnya. Kini posisi tubuhnya duduk tegak di kursi kecil yang ia duduki.


Mara mengangguk pelan. "Mas, bisa bantu aku untuk mengatur posisi hospital bed ini agar sedikit tegak? Rasanya begitu lelah terus berbaring seperti ini."


Dewa mengulas senyumnya. "Tentu Sayang. Jangankan untuk mengganti posisi hospital bed ini, kamu minta ganti hospital bed ini dengan spring bed seperti yang berada di kamar kita, pasti akan aku lakukan."


Mara hanya tergelak lirih. Suaminya ini memang pandai sekali mencairkan suasana. Meskipun saat ini ia tengah terbaring di rumah sakit yang sedikit mengeluarkan aura horor, namun sang suami selalu saja sukses menghiburnya. "Kamu ini ada-ada saja Mas!"


"Bagaimana Sayang? Apakah posisi seperti ini sudah terasa nyaman?"


"Sudah Mas. Sudah nyaman."


Dewa kembali duduk di kursi kecil yang berada di sisi ranjang Mara. Ia raih telapak tangan sang istri dan ia letakkan di pipinya. Dengan perasaan teduh, lelaki itu menatap teduh kedua bola mata istrinya ini.


"Mas, sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? Mengapa aku bisa berada di rumah sakit?"


Dewa mengecup buku-buku jemari tangan milik Mara dengan intens, seakan menjadi salah satu pertanda betapa ia mencintai istrinya ini. "Terimakasih Sayang. Terimakasih!"


Mara terperangah, sedikit keheranan dengan apa yang diucapkan oleh suaminya ini. Ia yang begitu penasaran mengapa bisa sampai di rumah sakit, namun sang suami malah mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


"Terimakasih? Terimakasih untuk apa Mas?"


"Terimakasih karena kamu sudah bersedia untuk mengandung benih cinta kita Sayang."


"B-Benih cinta? Maksud kamu, a-aku.....?"


Mara sudah tidak lagi dapat menahan rasa bahagia yang tetiba memenuhi ruang-ruang hati. Rasa bahagia itu terasa meletup-letup seolah ingin keluar dari memenuhi ruangan ini. Hingga buncahan-buncahan kebahagiaan itu hanya dapat tersirat dari tetes-tetes air mata bahagia yang mengalir deras dari pelupuk matanya.


Dewa menganggukkan kepala, ia bangkit dari posisi duduknya dan berusaha untuk menjangkau kening sang istri. Berkali-kali ia mengecup Mara dengan penuh sayang. "Iya Sayang, saat ini kamu tengah mengandung buah cinta kita. Di dalam perutmu, telah bertumbuh calon anak kita."


"Mas.... A-Aku tidak bermimpi kan? I-ini nyata kan?"


"Untuk mengetahui nyata atau tidak, mari sama-sama kita lihat Bu!"


Pembicaraan Mara dan Dewa terpangkas tatkala suara seorang wanita tetiba terdengar di dalam ruangan ini. Keduanya sontak bersamaan mengedarkan pandanga mereka ke arah sumber suara.


"Dokter Sastri?" ucap Dewa tatkala melihat sang dokter berjalan ke arahnya.


Mara menggelengkan kepalanya. Karena pada kenyataannya, rasa sakit yang sempat menyerang kini sama sekali sudah tidak terasa. "Tidak Dok. Perut saya sudah tidak terasa sakit lagi."


"Syukurlah kalau begitu Bu. Sekarang silakan berbaring. Kita lihat sama-sama, ada apa di dalam perut ibu Mara!"


Mara menurut. Dibantu oleh Dewa, kini tubuh Mara dalam posisi berbaring sempurna. Seorang perawat yang sebelumnya masuk bersama dokter Sastri, mulai mengolesi perut Mara dengan gel. Perlahan, dokter Sastri mulai menggerak-gerakkan alat USG yang langsung terhubung dengan layar monitor.


"Nah, ini merupakan penampakan rahim ibu Mara, ya. Jika saya dengar dari pak Dewa, sejak kapan beliau tidak mendapatkan jatah libur bercinta, saat ini usia kandungan ibu Mara memasuki usia 12 minggu."


Mara dan Dewa menatap lekat layar monitor itu. Sepasang suami istri itu menatap haru dengan apa yang tersaji di dalam sana. Sebuah kehidupan yang ada di dalam rahim seorang wanita.


"Dok, apakah itu merupakan calon anak saya?"


Dewa seakan tidak percaya jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Sebuah mimpi yang sudah sejak lama ia inginkan, kini akan segera menjadi nyata melalui sosok istri tercintanya ini.

__ADS_1


"Betul Pak. Ini merupakan calon anak pak Dewa dan juga bu Mara. Dan saat ini dalam keadaan baik dan sehat."


Mara masih menatap takjub dengan apa yang ia lihat. Ini semua seperti mimpi. Masih sangat sulit untuk mempercayai jika di dalam rahimnya sedang bertumbuh sesosok malaikat kecil.


"Mas... Itu anak kita!"


Dewa mengangguk mantap dengan linangan air mata yang jatuh dari telaga beningnya. Entah sudah berapa kali lelaki itu menghujani pucuk kepala sang istri dengan kecupan penuh cinta. "Iya Sayang itu calon anak kita."


"Nah, saat ini bu Mara harus lebih berhati-hati ya dalam beraktivitas. Karena bu Mara sempat mengalami pendarahan, saya sarankan agar bu Mara tidak terlalu melakukan aktivitas yang berat. Dan...."


Dahi Mara sedikit mengerut. Penasaran karena sang dokter menjeda ucapannya. "Dan apa Dok?"


Dokter Sastri tergelak lirih. "Dan tolong beritahu pak Dewa agar tidak terlalu memforsir tenaga bu Mara ketika berada di atas ranjang. Jika sebelumnya aktivitas bercinta itu dilakukan setiap hari, mungkin saat ini cukup dua kali dalam satu pekan."


Raut wajah Dewa mendadak berubah pias. Tubuhnya seakan melemas tatkala sang dokter memberikan saran seperti itu. "Apakah harus dua kali dalam satu pekan Dok? Tidak bisakah empat kali?"


Dokter Sastri hanya mencebik. Rupa-rupanya suami dari pasiennya ini benar-benar telah kecanduan tubuh istrinya sendiri. "Jika pak Dewa ingin bu Mara dan calon anak Bapak dalam keadaan baik-baik saja, silakan lakukan saran dari saya ini. Namun jika tidak, ya segala resiko pak Dewa tanggung sendiri."


Mendadak wajah Dewa berubah sendu. "Wes abot iki... Abot... " (Berat ini, berat!)


Dokter Sastri, Mara, dan juga perawat itu hanya bisa tergelak melihat wajah Dewa yang terlihat begitu menyedihkan itu. Mara kembali menatap lekat monitor yang ada di hadapannya ini. Senyum bahagia itu tiada henti terlukis di bibirnya.


Terimakasih atas semua anugerah dari Mu ini Tuhan... Aku berjanji akan selalu menjaga titipanMu ini dengan baik. Pastinya mencurahinya dengan cinta dan kasih sayang yang besar.


.


.


. bersambung...


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..

__ADS_1


__ADS_2