
"Aaaaarrrghh... Aku seperti menjadi seorang lelaki yang tiada berguna karena telah gagal menjebloskan wanita itu ke dalam penjara!"
Berdiri di depan jendela ruang rawat sang istri yang langsung berhadapan dengan sebuah taman yang berada di area tengah rumah sakit, Dewa meneriakkan segala kekesalan yang terasa begitu bergemuruh di dalam dada. Rupa-rupanya hamparan rumput manila berwarna hijau layaknya sebuah permadani alam yang dihiasi dengan pohon-pohon cemara yang menjulang dan bunga Bougenville dengan aneka warna sedikitpun tidak berhasil membuat mood lelaki itu membaik. Sepulang dari kediaman Arman dengan membawa tangan kosong, semakin membuat lelaki itu larut dalam rasa kecewa, marah, dan kesal yang menjadi satu. Dan hingga pagi ini pun, wajah lelaki itu pun masih nampak kusut, bak pakaian yang sudah beberapa minggu tidak disetrika.
Mara yang tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah hanya sedikit mengulas senyum melihat sang suami yang sejak semalam terlihat uring-uringan itu. Setelah hari berganti, ia mengira mood Dewa akan kembali membaik, namun ternyata perkiraannya salah besar. Sang suami masih seperti dipenuhi oleh emosi jiwa yang begitu meletup-letup dan siap berkobar untuk menjadi kobaran api amarah yang jauh lebih besar lagi.
"Mas, sudahlah. Kita serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib saja ya. Mereka pasti akan berupaya untuk mencari keberadaan Dita hingga ditemukan. Jadi, aku rasa kamu tidak perlu uring-uringan seperti ini."
Berjalan mendekat ke arah Dewa, mengusap lembut lengan tangan sang suami, Mara mencoba untuk meredamkan amarah yang tengah membakar tiap-tiap sudut hati lelaki itu. Sebuah amarah yang mungkin akan menyisakan sesuatu yang tidak baik jika terus saja dibiarkan seperti itu.
"Tapi Sayang, perbuatan Dita benar-benar tidak bisa aku torerir. Aku hampir saja kehilangan calon anakku, Sayang. Sungguh itu merupakan salah satu kesalahan Dita yang sulit untuk aku maafkan. Bahkan dengan ia mendekam di dalam penjara pun tidak akan pernah bisa untuk menebus semuanya."
Pandangan mata Dewa nyalang ke depan. Ia masih enggan untuk menatap keberadaan sang istri yang kini tengah berdiri di sisinya. Lelaki itu nampaknya belum bisa sepenuhnya untuk menerima sebuah keadaan bahwa wanita ular itu berhasil melarikan diri dari kejaran polisi. Dan mungkin tidak ada yang dapat membebaskan Dewa dari belenggu amarah itu selain melihat sang mantan istri meringkuk di balik jeruji besi.
"Mas, apakah seperti ini cara kamu mendidik anak kita?"
Sebuah ucapan sederhana namun terasa begitu menyentil hati Dewa sukses membuat lelaki itu menautkan pandangannya ke arah sang istri. "Sayang, apa maksud ucapanmu itu?"
Mara hanya mengulas sedikit senyumnya. Ia menghela nafas sedikit dalam dan ia hembuskan perlahan. "Mas, Tuhan saja maha pemaaf, masa kita sebagai sesama manusia yang penuh dengan kesalahan tidak mau memaafkan orang lain yang sudah berbuat kesalahan kepada kita?"
"Tapi Sayang, apa yang dilakukan oleh Dita benar-benar sudah keterlaluan. Aku tidak terima Sayang!"
Mara kembali tersenyum manis di hadapan Dewa. Ia yang sebelumnya mengusap lembut lengan tangan sang suami, kini ia geser untuk mengusap dada bidang milik suaminya ini. "Mas, sudah ya... Biarkan permasalahan ini menjadi tugas pihak yang berwajib. Sekarang mari kita sama-sama fokus untuk buah cinta kita." Mara meraih tangan Dewa dan ia letakkan di atas permukaan perutnya. "Yang ada di dalam sini pasti tidak ingin jika memiliki seorang papa pendendam. Ia pasti menginginkan sosok seorang papa yang penuh kasih sayang dan mudah untuk memaafkan."
Ucapan Mara layaknya air hujan yang mampu meredakan api amarah dalam tubuh Dewa. Raut wajah yang sebelumnya mendung, kini berbuah cerah layaknya suasana pagi yang dihiasi oleh kilau sinar matahari dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Dewa sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia kecup perut sang istri yang masih rata itu dengan intens. "Maafkan Papa ya Sayang. Papa tidak bermaksud untuk mengajarimu hal yang buruk. Papa hanya sedikit meluapkan emosi yang Papa rasakan. Beruntung Papa memiliki kamu dan juga mamamu. Kehadiran kalian benar-benar menjadi warna indah dalam kehidupan Papa ini."
__ADS_1
Dewa kembali menegakkan tubuhnya. Ia tatap lekat netra bening milik istrinya ini. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya di kening sang istri dan mengecupnya lembut. "Terimakasih banyak sudah mengingatkan aku untuk menjadi seseorang yang memiliki sifat pemaaf, Sayang. Aku sungguh beruntung memiliki istri sepertimu."
Mara hanya mengangguk pelan. Ia peluk tubuh lelaki yang paling ia cintai ini dengan erat. Ia letakkan kepalanya di dada bidang sang suami yang selalu saja menjadi tempat paling nyaman untuk menyandarkan kepalanya. "Sudah menjadi satu kewajiban kita sebagai sepasang suami istri untuk saling mengingatkan Mas. Jika ada sesuatu yang kita rasa kurang pas, sudah selayaknya kita mengingatkan."
Dewa menganggukkan kepalanya sebagai sebuah isyarat bahwa ia sependapat dengan ucapan istrinya ini. "Terimakasih banyak Sayang, terimakasih."
***
Rintik gerimis menghiasi bumi kota Bogor siang hari ini. Memang cuaca sedikit tidak dapat diprediksi akhir-akhir ini, suasana yang sebelumnya dihiasi oleh sang raja siang yang mentransfer energi panasnya, kini berganti dengan gumpalan awan hitam yang memuntahkan tetes-tetes air yang tersimpan di dalamnya.
Dewa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Bogor yang sudah mulai basah oleh rintik air hujan. Lelaki itu harus ekstra hati-hati melintasi jalanan ini, mengingat jalanan yang ia lalui berkelok-kelok karena ini merupakan salah satu jalanan untuk menuju puncak.
Menuju puncak? Ya, Mara meminta Dewa untuk mengambil jalur menuju puncak terlebih dahulu sebelum tiba di rumah. Keluar dari rumah sakit, Mara merengek meminta pulang melewati jalur itu. Entah apa yang menjadi keinginannya. Wanita itu hanya mengatakan jika ia merindukan suasana puncak seperti saat pertama ia menginjakkan kaki di kota ini dengan memanggul gelar istri lelaki bernama Rangga Danabrata Dewandaru. Jika sudah seperti itu, mau tak mau Dewa harus menurutinya.
"Aaaaaaaaa... Udara di sini sungguh segar dan sejuk sekali Mas. Aku benar-benar menyukainya!"
"Sayang, jangan kau buka lebar-lebar kaca di sisimu itu. Nanti kamu bisa masuk angin!"
Dengan raut wajah yang dipenuhi oleh ke khawatiran, Dewa mencoba untuk mengingatkan sang istri agar tidak membuka kaca mobil lebar-lebar. Mengingat hujan mulai turun membasahi bumi dan udara yang terasa begitu dingin, Dewa khawatir jika sang istri akan masuk angin.
"Tidak Mas. Aku sungguh menyukai udara seperti ini. Sejuk dan segar sekali!"
Mara tidak mengindahkan permintaan sang suami. Saat ini ia terlihat begitu menikmati sajian alam yang berada di sekelilingnya dan tidak ingin sedikitpun diganggu oleh peringatan Dewa yang ia rasa sedikit berlebihan itu. Sedangkan Dewa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski ada sedikit rasa khawatir, namun melihat wajah Mara yang dipenuhi oleh rona bahagia seperti ini, seakan membuatnya tidak sanggup untuk memaksa sang istri mengikuti kemauannya.
"Hentikan Mas!"
Ckiiittt.....!!!!
__ADS_1
Suara decitan pedal rem yang diinjak secara mendadak, sedikit terdengar memekak telinga. Dewa sedikit terkejut mendengar instruksi sang istri yang tetiba memintanya untuk menghentikan laju mobilnya.
"Sayang, ada apa?"
Mara menatap lekat-lekat seorang wanita yang tengah berjalan di bawah rintik air hujan dengan pakaian yang lusuh. "Sepertinya aku mengenal wanita itu!"
Mara menunjuk ke arah sisi kanan Dewa dan dibarengi oleh Dewa yang mengedarkan pandangannya ke arah telunjuk tangan Mara. "Siapa Sayang? Masa kamu mengenal wanita itu? Bukankah dia orang gila?"
Melihat pakaian wanita itu yang lusuh, rambut yang acak-acakan ditambah memilih hujan-hujanan, semakin mempertegas perkiraan Dewa bahwa wanita itu adalah orang gila. Ia heran, masa iya sang istri memiliki kenalan orang gila?
"Ibu....?"
Dahi Dewa mengernyit. "Ibu? Ibu siapa Sayang?"
"Mas, ayo kita turun. Ambil payung di bagasi dan segera bawa ibu ke dalam mobil Mas?"
Dewa semakin terperangah. Ia masih memutar otak untuk mengingat siapa gerangan wanita yang dipanggil ibu oleh istrinya ini. "Tapi Sayang, dia siapa? Aku tidak mau mengangkut orang asing. Bisa-bisa dia salah satu penjahat atau mungkin perampok yang berpura-pura menjadi orang gila."
"Dia ibu, Mas. Ibu tiriku. Wanita yang sempat dinikahi oleh ayah!"
.
.
. bersambung...
Hai, hai, hai para pembaca tersayang... Bagaimana kabar kakak-kakak semua? Semoga tetap dalam keadaan sehat ya... Aahhhh rasa-rasanya sudah lama sekali saya tidak menyapa kakak-kakak dengan membalas satu persatu komentar yang ada di setiap part. Mohon dimaklumi ya Kak.. Akhir-akhir ini pekerjaan di RL benar-benar menumpuk... Sampai bingung bagaimana membaginya ..🙏🙏
__ADS_1
Sekali lagi Terimakasih banyak untuk semua yang masih setia mengikuti cerita remahan kulit kuaci ini ya Kak.. Sungguh, apresiasi dari kakak-kakak semua lah yang membuat saya lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini hingga tamat. Hihihihihi...😘