Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 107 : Berjumpa


__ADS_3


Para tamu undangan satu persatu menyalami kedua mempelai yang tengah berdiri di atas pelaminan. Senyum merekah laksana bunga-bunga yang bermekaran di taman, nampak tergambar jelas di raut wajah keduanya. Rasa bahagia, rasa syukur seakan bercampur menjadi satu, hingga tak mengherankan jika kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya ikut mensugesti orang-orang yang berada di dalam ballroom ini untuk turut merasakan kebahagiaan itu pula.


Untaian doa-doa terbaik tersemat diantara jabat tangan antara para tamu dengan sepasang suami istri itu. Menjadi secercah harap, agar pernikahan sepasang suami istri ini akan abadi hingga akhir waktu nanti. Usai bersalaman dengan mempelai, mereka mulai mengayunkan kaki untuk mendekat ke arah meja prasmanan, yang di atas meja itu sudah terhidang beraneka rupa menu makanan yang terlihat begitu lezat nan menggoda. Sembari mendengarkan alunan musik jazz yang menggema di dalam ruangan, acara santap hidangan ini seakan bertambah nikmat.


"Bagaimana Wa? Apakah kamu merasa lelah berdiri hampir dua jam seperti ini?"


Krisna yang sedari tadi sibuk memastikan acara ini berjalan lancar dan tanpa halangan satu apapun ikut mengayunkan langkah kakinya mendekat ke arah sang bos beserta istri. Saking sibuknya, sampai-sampai lelaki itu secara simbolis belum bersalaman dengan Dewa. Dan ketika kesibukannya sudah dirasa lebih lenggang, ia pun memilih untuk mendekat ke arah sang pengantin, tentunya untuk mengucapkan selamat seperti tamu undangan lainnya.


"Ya, hari ini aku sungguh lelah. Padahal sama sekali aku tidak melakukan aktivitas apapun, namun rasanya mengapa kakiku begitu pegal-pegal seperti ini?"


Sebuah kewajaran jika Dewa merasakan lelah yang begitu mendera. Para tamu undangan datang silih berganti tiada henti dan setelah dua jam, lelaki itu bisa mendaratkan bokongnya di kursi pelaminan sembari meluruskan kakinya.


"Kalau lelah, jangan pernah terbersit dalam pikiranmu untuk menikah lagi Wa. Jadikan ini yang terakhir!" ucap Krisna, memberikan sebuah petuah berharga untuk sang bos.


Dewa hanya bisa berdecih sembari menatap sinis sang asisten yang seolah-olah lebih berpengalaman dalam hal pernikahan seperti ini, padahal kekasih saja belum ia miliki, bagaimana bisa ia memberikan petuah seperti itu.

__ADS_1


Dewa menarik lengan tangan Mara. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik istri cantiknya ini. Dan menyapu ceruk lehernya dengan bibirnya. "Wanita ini akan menjadi wanita terakhir dalam hidupku. Sampai nanti, aku akan tetap menjadikannya satu-satunya ratu yang bertahta dalam hatiku." Dewa mengusap pipi Mara dengan lembut. "Benar begitu kan Sayang?"


Pipi Mara bersemu merah. Wanita itu terlihat tersipu malu. Ia pun hanya dapat mengangguk pelan. "Semoga memang seperti itu, Mas!"


Dewa membawa jemari tangan Mara untuk lebih dekat dengan bibirnya. Dengan intens, lelaki itu terlihat mengecup buku-buku jemari sang istri. "Tidak perlu kamu ragukan lagi, Sayang. Hatiku telah tertambat kepadamu. Sehingga tidak ada satupun wanita yang dapat mengalihkan perhatian dan pandanganku dari paras cantikmu."


Krisna hanya bisa terperangah mendengar ucapan-ucapan gombal lelaki di depannya ini. Meskipun usia Dewa terbilang cukup tua, namun kemampuan menggombali sang istri tidak dapat diragukan lagi. Benar saja, setiap kata yang terucap dari bibir Dewa itu sukses membuat Mara semakin bergelayut manja di pundak sang suami.


"Ra, apa kamu tidak terserang diabetes?" seloroh Krisna kepada istri bos nya ini.


Mara yang sebelumnya meletakkan kepalanya di atas pundak Dewa, sedikit ia tegakkan. Dan kini ia dan Krisna pun saling bersirobok. "Maksud kamu bagaimana Mas? Aku tidak memiliki riwayat diabetes."


Mara tergelak, bisa-bisanya asisten pribadi suaminya ini memiliki pemikiran konyol seperti itu. "Kamu bicara apa sih Mas. Aku justru bahagia setiap hari mendengarkan ucapan-ucapan manis dari mas Dewa. Rasa-rasa, aku semakin cinta kepada suamiku ini."


Mara kembali meletakkan kepalanya di bahu Dewa. Jemari tangannya ia tautkan dengan jemari sang suami. Saling menggenggam erat, tak ingin terlepas.


Dewa kembali menoleh ke arah Krisna. "Bagaimana, aku bahkan selangkah lebih maju dari kamu kan Kris? Aku tidak pernah berpetualang cinta seperti apa yang kamu lakukan dengan wanita-wanita di luar sana. Namun pada kenyataannya, aku lah yang lebih dahulu menikah, bukan?"

__ADS_1


"Huh, dasar kamu Wa. Bukannya ikut membantu mencari pacar, malah menghina!"


Dewa ikut tergelak. Setelahnya, ia fokus menghujani kepala Mara dengan kecupan-kecupan di pucuk kepalanya.


"Dewa!"


Kepala Dewa yang sebelumnya ia letakkan di atas kepala Mara, kini sedikit ia dongakkan. Pandangan matanya mengedar ke arah sumber suara. Dan seketika kedua bola matanya membulat sempurna.


"Om Arman, Dita!"


.


.


. bersambung...


Tetiba, saya diserang oleh rasa kantuk yang begitu mendera. Kita lanjut besok lagi ya Kak... 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2