
"Ayo Sayang, buka mulutnya... Aaaaa...."
Tangan kiri memegang piring dan tangan kanan memegang sendok, Dewa terlihat tengah menyuapi sang istri di sela-sela acara resepsi pernikahan mereka malam ini. Semua acara telah paripurna dan hanya tinggal tersisa crew-crew wedding organizer yang dipakai oleh oma Widuri berlalu lalang membersihkan dan kembali merapikan ruangan ini.
Begitu sibuknya menyalami para tamu undangan, sepasang suami istri itu lupa jika sedari tadi mereka lupa belum mengisi perut. Dan di antara sibuknya orang-orang yang berlalu lalang di ballroom ini, mereka masih terlihat duduk manis di atas kursi pelaminan sembari menikmati santapan makan malam yang sempat terlewat.
"Mas sudah, aku merasa perutku sudah tidak lagi dapat menampung makan ini. Aku benar-benar sudah kenyang Mas."
Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak Sayang, pokoknya kamu harus buka mulutmu lagi. Ayo... Aaaaaaaa..."
Mara membuang nafas sedikit kasar. Pada akhirnya ia menyerah, dan membuka mulutnya. Rasa-rasanya akan percuma jika harus berdebat dengan sang suami.
"Sayang, maafkan tingkah laku wanita tadi ya. Aku benar-benar tidak menyangka jika wanita itu akan melakukan itu semua. Tingkah polah yang jelas terlihat seperti seorang mantan yang terkena penyakit gila."
Mara mengulas sedikit senyumnya. "Tidak apa-apa Mas. Anggap saja kehadiran mantan istrimu itu sebagai ujian awal pernikahan kita."
"Sayang, kamu percaya bukan, jika sedikit pun aku sudah tidak terlibat perasaan dengan wanita itu?"
Mengingat Dita kekeuh berujar bahwa dirinya masih mencintai wanita itu, Dewa teramat khawatir jika sang istri percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan Dita.
Mara hanya menyunggingkan senyum di bibirnya. Kedua netra yang sebelumnya menyapu suasana yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang di ballroom ini, kini ia alihkan untuk menatap lekat wajah sang suami. Meski terlihat lelah, namun tetap saja tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Aku percaya kepadamu Mas. Kamu dan mantan istrimu hanyalah sebuah cerita masa lalu yang telah usai. Terlebih, kamu pernah terluka atas apa yang telah ia lakukan. Jadi, aku percaya bahwa dalam hatimu sudah tidak ada lagi rasa itu meski hanya setitik."
Mara mencoba mengutarakan apa yang menjadi pandangannya. Ia merasa sebuah kemustahilan seorang laki-laki tetap mempertahankan perasaan cintanya kepada wanita yang telah menikam hingga menorehkan luka di dalam hatinya. Mara pun percaya jika sang suami termasuk salah satu diantara lelaki yang seperti itu.
Mendengar penuturan sang istri, membuat senyum lebar merekah di bibir lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu. Tanpa basa-basi, ia mengecup kening sang istri dengan penuh cinta dan sayang. "Terimakasih banyak kamu sudah percaya padaku, Sayang. Aku tidak tahu, rencana apa yang akan dilakukan oleh wanita itu untuk berupaya merusak kebahagiaan rumah tangga kita. Yang pasti aku hanya meminta satu hal kepadamu, percayalah kepadaku Sayang!"
__ADS_1
Dahi Mara sedikit mengerut. "Percaya dalam hal apa Mas?"
Dewa meraih telapak tangan Mara dan ia letakkan di bagian dada sebelah kirinya. "Percaya bahwa jantung ini berdenyut hanya untukmu, percaya bahwa helaan nafas ini berhembus hanya meniupkan namamu dan percaya bahwa darah yang mengaliri aliran darahku hanya membawa namamu. Bukan yang lain."
Ucapan Dewa sukses membuat seonggok daging bernyawa yang bersemayam di dalam tubuh Mara menghangat seketika. Wanita itu ikut tersenyum lebar dan mengangguk pelan. "Aku percaya Mas. Aku percaya bahwa kamu adalah lelaki yang berpegang teguh pada janji yang telah kamu ucapkan. Di atas pusara ibu dan juga ayahku, kamu pernah berjanji bahwa hanya akan menjadikanku satu-satunya wanita yang ada di dalam hatimu."
Dewa tergelak lirih. Tetiba ia teringat akan satu hal. Buru-buru Dewa mengarahkan telapak tangan Mara ke bagian lipatan pahanya. "Hanya kamu yang bisa membuat senjataku ini berfungsi. Jadi, jika nanti wanita itu membuat skenario dengan menjebakku menggunakan obat tidur lalu membawaku ke hotel kemudian tatkala aku terbangun dia seakan-akan menjadi korban pelecehan seksual yang aku lakukan, jangan sedikitpun kamu percaya Sayang. Karena sungguh, aku tidak akan pernah bisa bercinta kecuali denganmu. Dan hanya dari tubuhmu lah, aku bisa merasakan apa itu surga dunia."
Mara mengangguk pelan. Wanita itu sangat mengerti apa yang terjadi pada tubuh suaminya ini, bahwa hanya dirinyalah yang bisa membuat senjata milik Dewa kembali berfungsi. Itu artinya tidak mungkin jika Dewa melakukannya dengan yang lain.
"Aku percaya Mas. Aku percaya." Mara mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. "Mas Krisna ke mana, Mas? Sebelumnya dia terlihat sibuk berlalu lalang di tempat ini, namun mengapa saat ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali?"
"Biarkan saja Sayang. Mungkin dia sedang menjalankan misinya untuk mencari istri. Kamu tahu kan bagaimana galaunya Krisna setelah putus dari Dyandra? Ia berujar bahwa tidak ingin berlama-lama menjomblo lagi, maka dari itu ia ingin cepat-cepat mencari kekasih lagi."
Mara tergelak. Memang kisah percintaan asisten pribadi suaminya ini sangat tragis. Yang membuatnya sama sekali belum menemukan jodohnya di usianya yang hampir memasuki kepala empat itu.
"Semoga malam ini, mas Krisna benar-benar menemukan wanita yang akan menjadi jodohnya ya Mas. Kasihan juga dia jika terus melajang di usianya saat ini."
Kedua bola mata Mata berotasi penuh. Namun tak selang lama ia anggukkan kepalanya. "Aku yakin kalau malam ini mas Krisna akan menemukan jodohnya, Mas!"
"Kita tunggu saja Sayang."
***
"Gadis ini yang sudah berbuat kurang ajar kepadaku. Dia menabrakku hingga membuat sisa kuah sayur sup yang ia bawa mengotori tubuhku!"
Di bagian dapur terdengar suara seorang wanita yang tengah berteriak lantang menumpahkan semua amarahnya. Setelah drama sayur sup telah usai, wanita itu bermaksud untuk pulang ke rumah. Namun ia urungkan niatnya itu. Ia merasa masih belum tenang jika belum bisa membuat gadis pembawa sayur sup itu mendapatkan hukuman atas apa yang telah ia lakukan.
Tatkala langkah kakinya hampir sampai ke area parkir, Dita berbelok arah untuk menuju ruang manager hotel ini. Ia datang untuk meminta keadilan atas apa yang menimpanya. Dan saat ini, ia dan manager hotel itu sudah berada di kitchen, yang merupakan tempat gadis itu berada.
__ADS_1
Manager hotel menatap wajah gadis belia yang berdiri di hadapannya ini. "Apakah benar yang dikatakan oleh Nyonya ini? Bahwa kamu tidak berhati-hati sehingga menabrak Nyonya ini?"
Tanpa rasa takut sedikitpun, gadis itu mendongakkan kepalanya. Dengan tatapan tajam, ia menatap wajah manager hotel ini. "Itu sama sekali tidak benar Pak. Nyonya inilah yang berjalan dengan tidak berhati-hati. Beliau tidak fokus menatap ke arah depan dan pada akhirnya menabrak saya yang tengah membawa sayur sup."
"Apa yang kamu katakan, hah?! Sudah jelas kalau kamu lah yang menabrakku. Mengapa kamu tetap tidak mau mengakuinya?"
Gadis itu hanya tersenyum tipis. Dia masih bersikap tenang tanpa merasa takut sedikitpun jika sampai kehilangan pekerjaannya akibat kasus ini. "Saya telah mengatakan hal yang sebenarnya Nyonya, jadi saya tidak harus mengakui apapun lagi. Bahwa yang sebenarnya terjadi adalah Nyonya yang tidak berhati-hati!"
Dita berdecih. Ia tautkan pandangannya ke arah sang manager hotel. "Jangan percaya dengan apa yang dia katakan Pak. Dia ini hanyalah seorang gadis miskin. Bapak tahu bukan bahwa orang miskin itu tempatnya salah? Jadi saya harap, Bapak langsung memecat gadis ini!"
Gadis itu terkesiap. Gegas ia menatap wajah Dita dengan sorot mata yang tajam. "Saya memang orang miskin, Nyonya. Tapi kedua orang tua saya tidak pernah mengajarkan kepada saya untuk berbohong. Jadi apa yang saya katakan dapat saya pertanggungjawabkan!"
"Cih, aku tidak perduli dengan omong kosongmu itu! Pak manager, saya minta detik ini juga Anda memecat gadis ini!" teriak Dita dengan lantang.
Manager hotel itu hanya bergeming, ia sama sekali tidak dapat memutuskan apapun karena tidak ada saksi yang melihat kejadian sayur sup itu. Namun di tengah kegamangan yang ia rasakan, tiba-tiba...
"Tunggu!"
Suara bariton yang tetiba terdengar, membuat perhatian orang-orang yang berada di kitchen ini menoleh ke arah sumber suara. Terlihat lelaki tampan dengan setelan tuxedo warna hitam berjalan mendekat ke arah mereka.
"Gadis ini tidak bersalah!" ucap lelaki itu. Dan sejurus kemudian, ia menoleh ke arah Dita dan menunjuk wajah Dita dengan jari telunjuknya. "Karena yang bersalah adalah wanita ini! Saya saksinya!"
Kedua bola mata Dita membulat sempurna. Bibirnya menganga lebar. "Krisna!"
Krisna tersenyum simpul. "Ya, aku yang akan bersaksi bahwa gadis ini tidak bersalah sama sekali!"
.
.
__ADS_1
. bersambung....