Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 113 : Panas


__ADS_3


Warning!!!


Mengandung beberapa adegan 21++... Mohon bijak dalam memilih bacaan 🤗🤗


___________________________


Hiruk pikuk keramaian kota nampak jelas dari balik jendela sebuah kamar hotel. Kerlap-kerlip lampu kendaraan yang berlalu lalang yang beradu dengan sorot lampu gedung-gedung tinggi menjulang laksana bintang yang bersinar di hamparan permadani langit. Meski malam semakin larut, namun jalanan kota ini nampak tidak tertidur. Masih terlihat ramai dengan aktivitas malam yang mungkin akan selalu seperti itu hingga pagi menjelang.


"Apakah pemandangan jalanan di luar sana terlihat lebih memesona daripada wajah lelaki di sampingmu ini Sayang?"


Menganyunkan langkah kaki, mendekat ke arah sang istri, Dewa melingkarkan lengan tangannya di pinggang ramping milik istrinya ini. Memeluknya dari belakang dengan erat dan mulai menyesap harum aroma tubuh istri tercintanya yang benar-benar sudah menjadi candu untuknya.


Mara terkekeh geli. "Kamu bicara apa Mas? Bukankah baru saja kamu berada di sini? Sebelumnya kamu berada di dalam kamar mandi bukan?"


Dewa hanya mengendikkan bahunya. Ia memeluk lebih erat lagi tubuh istrinya ini. Meletakkan kepalanya di tengkuk Mara, dan menyapunya dengan bibir miliknya. "Saat berada di dalam kamar mandi pun aku ingin cepat-cepat keluar dari sana. Rasanya aku tidak sanggup untuk berlama-lama jauh darimu Sayang."


Mara hanya bisa berdecak lirih. Semakin hari suaminya ini seperti semakin pandai menggombal saja. Namun satu hal yang tidak dapat ia ingkari, gombalan dari suaminya ini sungguh membuat wajahnya berseri-seri karena rasa bahagia yang terpatri di dalam hati.


"Mas!"


Mara terkejut setengah mati tatkala sang suami tanpa permisi membopong tubuhnya. Sedangkan Dewa hanya mengulas sedikit senyumnya. Dengan perlahan, ia membawa tubuh sang istri untuk ia dudukkan di atas ranjang berukuran king size ini. Dewa menatap dengan teduh kedua netra sang istri yang sukses membuat jantung Mara seakan bekerja tiada terkendali.


"Sayang.... Aku menginginkanmu malam ini!"

__ADS_1


Dewa berada di depan Mara dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Lelaki itu menyelipkan anak rambut sang istri di belakang telinganya yang semakin membuat kecantikan istrinya ini terlihat jelas. Dengan jemarinya, Dewa mulai membelai lembut pipi Mara yang membuat wanita itu semakin tersipu. Dewa mendekatkan wajahnya di wajah sang istri, mengikis jarak yang sempat tercipta diantara wajah keduanya.


Bibir lelaki itu sudah mendarat sempurna di permukaan bibir Mara. Ia gunakan lidahnya untuk mengetuk bibir sang istri yang masih terkunci. Benar saja, tanpa membuang banyak waktu, bibir yang sebelumnya terkatup, kini mulai terbuka, sebagai isyarat mempersilakan lidah sang suami untuk menikmati segala kenikmatan yang ada di dalam rongga mulutnya.


Keduanya larut dalam pagu*tan bibir itu. Sebuah ciuman dalam yang sudah mulai dipenuhi oleh hasrat bercinta yang semakin bergelora. Lidah Dewa seakan begitu ahli dalam melilit lidah milik Mara. Membuatnya seakan terlilit oleh seutas benang yang sulit untuk terurai. Wanita itu membalas apa yang dilakukan oleh suaminya ini dengan penuh damba. Sebagai sebuah isyarat jika ia ingin bersegera menyatukan raga.


Dewa melepaskan pagutan bibirnya, kembali menatap dengan teduh wajah istri cantiknya ini. "Boleh?"


Mara tersenyum manis. Bahkan wajahnya nampak seribu kali lebih manis di bawah sinar lampu kamar yang temaram ini. Ia raih lengan tangan sang suami dan mulai menyapunya dengan bibir dan lidahnya.


Perbuatan sang istri sukses membuat Dewa terkesiap. Lelaki itu nampaknya sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang istri yang ia rasa semakin lihai dalam aktivitas foreplay yang mereka lakukan.


"Eemmmmphhh... Sayang...."


Apa yang dilakukan oleh Mara seakan menjadi pemantik api hasrat dalam diri Dewa. Sepercik api hasrat itu semakin berkobar hebat layaknya kobaran api melahap habis benda-benda yang berada di sekelilingnya. Adrenalinnya semakin memuncak tatkala sang istri sudah membuka lilitan bathrobe yang ia kenakan dan memainkan lidahnya di dada bidangnya.


Lelaki itu sudah tidak bisa lagi menahan gejolak api hasrat yang ada di dalam tubuhnya. Tangannya juga terulur untuk membuka bathrobe yang membungkus tubuh sempurna istrinya ini. Dan ketika lilitan itu telah terlepas, Dewa menyibak bathrobe yang masih menghalangi pandangan matanya akan sesuatu yang indah yang tersembunyi dan kini apa yang telah ia cari telah nampak jelas di depan matanya.


"Aaaaaaahhhhh... Mas Dewa....!!"


Satu de*sahan lolos begitu saja dari bibir Mara tatkala bibir sang suami mulai menyesap kenikmatan yang ada di dalam dadanya. Sepasang kelopak mata wanita itu terpejam dan tangannya meremas rambut sang suami tatkala rasa nikmat itu mengaliri aliran darahnya. Membuat bulu-bulu halus yang ada di sekujur tubuhnya meremang seakan didekati oleh makhluk tak kasat mata.


"Aku begitu menyukai milikmu ini Sayang... Aaahhhh sungguh sangat menggoda di depan mataku..."


"Mas.... Aaahhhh...."

__ADS_1


Mara semakin meremas rambut Dewa dengan kuat. Tubuhnya sedikit menggelijang tatkala bibir sang suami semakin kuat menyesap kedua benda sintal miliknya tanpa ampun. Mara terbangun dari angannya yang sudah melambung jauh. Ia menggeser kepala sang suami untuk sedikit mendongak, hingga kini tatapan keduanya saling mengunci. Gegas, Mara mulai melahap habis bibir Dewa dengan rakus.


Dewa sedikit terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh istrinya ini. Tetiba Mara membangunkan tubuhnya dan kini ia dalam posisi berdiri sempurna di hadapan sang istri.


"Uuuhhhh.... Sayang....."


Dewa merasakan sebuah sensasi bercinta yang berbeda tatkala telapak tangan Mara mulai memegang, meremas, dan memberikan pijatan-pijatan sensual di pisang tanduk miliknya.


"Aaaaaahhh... Sayang.... Mengapa kamu semakin pandai memanjakan aku seperti ini? Aaaaaahhh.... Sayang....!"


Erangan Dewa semakin terdengar menggema memenuhi langit-langit kamar ini. Otot-otot betisnya seakan ikut menegang merasakan kenikmatan tatkala benda pusaka miliknya ini dimainkan oleh sang istri di dalam rongga mulutnya. Sungguh sebuah permainan yang begitu sensual yang tidak menyisakan sebuah rasa selain rasa nikmat tiada tara.


Tubuh Dewa terasa semakin panas meskipun pendingin ruangan ini sudah diatur dalam posisi paling dingin. Lelaki itu benar-benar sudah tidak sabar untuk menyatukan raganya dengan raga sang istri.


Perlahan, Dewa mendorong tubuh Mara. Hingga saat ini ia dalam posisi berbaring. Kaki Mara yang setengahnya masih terjuntai di lantai, Dewa benahi hingga kini tubuh sang istri terbaring sempurna di atas ranjang. Dewa mulai merangkak naik untuk mengungkung tubuh sang istri di bawah tubuhnya. Penuh cinta, Dewa mulai menghujani wajah Mara dengan kecupan-kecupan lembutnya sembari ia berikan sentuhan-sentuhan yang terasa begitu memabukkan.


Dewa menggesekkan benda pusakanya ke bibir lembah milik sang istri. Tatkala lembah itu sudah siap untuk menerima kunjungan benda pusaka itu, Dewa menekan sedikit tubuhnya dan....


Silakan bayangkan sendiri apa yang mereka lakukan ya Kak....😅😅😘😘😘


.


.


. bersambung....

__ADS_1


__ADS_2