
"Aaaahhh ternyata kamu, gadis yang beberapa hari ini sukses membuat Krisna sering senyum-senyum sendiri seperti orang gila?"
Di sebuah kafe yang terletak di pusat kota, Dewa, Mara, Krisna dan Sekar terlihat sedang berkumpul bersama sembari menikmati suasana malam kota ini. Di hadapan mereka sudah tersaji beraneka rupa jenis minuman sesuai dengan selera masing-masing dan juga beberapa seperti potato wedges, sandwich, dan juga spaghetti.
Sekar hanya tersenyum kikuk. Tidak terbiasa berkumpul bersama, membuat gadis itu sedari tadi hanya menundukkan kepalanya.
"Aaaaaahhh iya nama kamu siapa? Sepertinya aku dan mas Dewa belum tahu namamu?" ucap Mara sembari mencomot sepotong potato wedges kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Nama saya Sekar, Mbak."
Mara hanya terkikik geli. "Jangan panggil aku mbak. Panggil saja aku Mara. Sepertinya kita seumuran."
Sekar hanya mengangguk samar. "Baik Ra!"
"Nah Wa, Ra, Sekar ini adalah gadis yang baru beberapa hari yang lalu aku temui. Tepatnya saat resepsi pernikahan kalian. Dan sepertinya, dia adalah gadis yang akan menjadi istriku."
Dengan wajah berbinar, Krisna mulai memperkenalkan Sekar di hadapan Mara dan juga Dewa. Gadis yang baru beberapa hari ia temui namun telah berhasil mengusik ketentraman batinnya.
Mendengar kata 'istriku' keluar dari bibir Krisna, lagi-lagi hanya bisa membuat Sekar tersipu malu. Ternyata lelaki itu benar-benar memiliki niat baik untuk menikahinya.
"Sekar, apa kamu menerima niatan baik mas Krisna untuk menikahimu?"
Mara bertanya kepada Sekar seakan ingin tahu keputusan apa yang telah dibuat oleh gadis belia di hadapannya ini. Sedangkan Sekar, sekilas menautkan pandangannya ke arah Krisna. Krisna menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia mempersilakan Sekar untuk menjawab pertanyaan Mara.
"Aku memutuskan untuk menerima lamaran mas Krisna, Ra. Karena aku menilai, mas Krisna adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab."
Sebelum bertemu dengan Dewa dan juga Mara, Sekar memang sudah mengatakan hal itu secara langsung di depan Krisna. Begitu bahagianya mendapatkan jawaban dari Sekar, Krisna berinisiatif untuk memberitahu akan hal ini kepada Dewa dan juga Mara. Oleh karenanya, ia mengajak sepasang pengantin baru itu untuk bertemu dan berkumpul bersama.
__ADS_1
Dewa hanya tersenyum tipis mendengarkan keputusan yang telah dibuat oleh Sekar. Ia menyeruput pelan secangkir cappuccino yang berada di dalam genggamannya. Setelah itu, ia pun mencoba untuk menatap lekat wajah gadis yang telah berhasil menaklukkan hati seorang Krisna itu.
"Apa kamu yakin untuk menerima pinangan Krisna?" Dewa bertanya seakan-akan tidak begitu yakin dengan keputusan yang telah diambil oleh gadis itu.
Sekar menganggukkan kepalanya. "Saya yakin, Mas. Karena hati saya mengatakan hal itu."
Dewa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kamu tahu bagaimana Krisna sebelum kalian bertemu?"
Sekar menggelengkan kepalanya karena pada dasarnya ia memang tidak tahu kehidupan Krisna selama ini seperti apa. "Tidak Mas, saya tidak tahu."
Senyum seringai terbit di bibir Dewa. "Apakah kamu tahu jika sebelumnya Krisna ini memiliki banyak kekasih? Sering bergonta-ganti pacar? Dan sering memberi harapan palsu ke banyak wanita?"
Krisna terkesiap mendengar penuturan Dewa. Ia benar-benar khawatir jika dengan Dewa membongkar masa lalunya di hadapan Sekar, gadis itu akan merubah keputusannya. Gegas, Krisna menginjak kaki Dewa dari bawah meja.
Dewa sedikit tersentak, ia tautkan pandangannya ke arah Krisna dan lelaki itu hanya mengedipkan matanya sebagai sebuah isyarat agar jangan sampai Dewa membongkar masa lalunya.
Dewa terkikik geli melihat raut wajah Krisna yang sudah berubah pias itu. Ia semakin bersemangat untuk menggoda asistennya ini. "Apakah kamu tahu jika Krisna ini adalah sang Casanova?"
"Maka dari itu sekarang aku beri tahu kamu. Krisna ini dulunya sering bergonta-ganti pasangan. Apakah setelah kamu mengetahui bagaimana Krisna di masa lalu, kamu masih mau menerima lamaran lelaki ini?" ujar Dewa seakan semakin mempersulit posisi Krisna sendiri.
Krisna benar-benar tidak menyangka jika Dewa akan menceritakan itu semua. Setelah Sekar mendengar apa yang diucapkan oleh Dewa, ia yakin bahwa gadis ini akan merubah keputusannya. Gegas, Krisna menautkan pandangannya ke arah Sekar dan menggenggam telapak tangan gadis itu.
"Sekar, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Sungguh, yang diucapkan Dewa ini hanyalah masa laluku yang sudah aku kubur dalam-dalam. Aku yang sekarang, jauh berbeda dari Krisna di masa lalu, Sekar."
Sekar bergeming, yang membuat Krisna semakin frustrasi. Ia merasa bahwa Sekar akan merubah keputusannya. "Sekar, percayalah kepadaku. Aku sedang belajar untuk bisa menjadi lelaki yang jauh lebih baik. Percayalah bahwa saat ini hanya ada namamu yang menghiasi relung hatiku."
Sekar masih terdiam. Hal itulah yang membuat Krisna semakin dilanda oleh kecemasan yang luar biasa. Tanpa membuang waktu, Krisna mulai bersimpuh di depan Sekar dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Sedangkan Dewa, lelaki itu terlihat begitu menikmati adegan dramatis yang tersaji di depan matanya ini.
"Mas, bangun lah. Jangan seperti ini. Tidak enak jika dilihat oleh banyak orang Mas!"
__ADS_1
Sekar memegang bahu Krisna untuk membuatnya berdiri. Namun, lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sekar. Aku hanya baru akan bangun jika kamu mau memaafkanku!"
"Mas, kamu tidak perlu meminta maaf. Bangunlah Mas. Jangan seperti ini."
Masih dalam posisi bersimpuh, Krisna menatap wajah Sekar dengan tatapan sendu. "Lalu bagaimana, Sekar? Apakah kamu tidak mau melanjutkan niat baikku untuk menikahimu?"
"Tidak usah lanjut, Sekar. Ingat, lelaki yang melamarmu itu sang Casanova, suatu saat nanti pasti ia akan kambuh lagi."
Mara melirik ke arah sang suami. Dia hanya bisa memelototi Dewa sebagai isyarat bahwa jangan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Krisna. Seketika lelaki itu terdiam dan menghentikan provokasinya terhadap sepasang kekasih itu.
Sekar hanya tersenyum simpul. "Tidak ada yang bisa merubah keputusan yang sudah aku ambil, Mas. Aku akan tetap menerimamu untuk menjadi istrimu."
Wajah yang sebelumnya sendu, kini berbinar seketika saat mendengarkan gadis impiannya sama sekali tidak merubah keputusannya. "Sungguh, Sekar? Apakah kamu tidak malu menikah dengan sang Casanova?"
Sekar menggelengkan kepalanya. "Itu hanya sekedar masa lalu Mas. Saat ini aku yakin bahwa kamu adalah lelaki yang dikirimkan oleh Tuhan untuk melengkapi ketidaksempurnaanku."
Hati Krisna menghangat. Ia genggam dengan erat telapak tangan Sekar kemudian ia kecup buku-buku jemarinya. "Terimakasih Sekar, terimakasih."
Gegas, Krisna melirik ke arah Dewa. "Lihatlah Wa, bahkan calon istriku ini tidak terpengaruh dengan apa yang kamu katakan. Itu artinya sebentar lagi aku akan menikah. Yeeaaaayy!!!"
Krisna berjingkrak kegirangan. Seakan memberitahu kepada dunia jika saat ini ia teramat bahagia. Mara dan juga Dewa pun juga ikut bahagia untuk kebahagiaan bujang lapuk itu.
.
.
. bersambung...
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.
__ADS_1
Bonus foto tetangga sebelah 😅