Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 163 : Ketuban Pecah Dini


__ADS_3

"Sayang ... apa yang terjadi kepadamu?"


Dengan langkah kaki lebar, Dewa mencoba untuk dapat segera menjangkau tubuh Mara yang masih terduduk di kursi kayu panjang yang berada di luar ruang penyidik. Gegas, ia mendaratkan bokongnya di sisi sang istri, menautkan jemarinya di sela-sela jemari Mara seakan begitu cemas dengan keadaan istrinya ini.


"Lihatlah, Mas!" ucap Mara sembari menunjuk ke arah sela-sela betisnya yang sudah dialiri oleh air yang nampak sedikit bening.


"S-Sayang ... i-ini air apa? Apakah kamu tidak bisa menahan rasa kebelet pipismu, sehingga membuatmu mengompol seperti ini?"


Dengan raut wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar, Dewa mencoba mencari tahu air apa yang mengalir di sela-sela betis istrinya ini. Jika air ini yang dikatakan oleh mbok Darmi sebagai tanda bahwa Mara akan melahirkan, mengapa sama sekali tidak ada darah yang menyertainya? Hal itulah yang membuat Dewa yakin bahwa istrinya ini tengah mengompol.


Mara mendisis, perlahan. Gemas juga dia dengan suaminya ini. Perihal gaya-gaya bercinta saja ia sangat hafal di luar kepala, namun giliran perihal seperti ini dia sama sekali tidak mengetahuinya. Sedangkan mbok Darmi, hanya bisa terkikik geli.


"Ini air ketuban Mas. Pecahnya air ketuban ini menjadi tanda bahwa putra kita akan segera lahir."


Dahi Dewa sedikit mengernyit. Lelaki itu terlihat sejenak berpikir, mencoba untuk menyinkronkan isi yang ada di dalam otaknya dengan usia kehamilan sang istri. Jika dipikir matang, usia kandungan istrinya ini belum genap memasuki usia sembilan bulan.


"Tapi Sayang ... bukankah kehamilan kamu ini belum genap memasuki usia sembilan bulan? Tapi mengapa putra kita ini ingin segera lahir? Apakah dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan papanya yang sangat tampan ini?"


Mara hanya bisa berdecak lirih. Dalam keadaan seperti inipun suaminya ini masih saja menyempatkan diri untuk narsis. "Entahlah Mas, aku juga tidak tahu. Mungkin benar jika putra kita sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan papanya yang tampan."


Mengusap-usap perut sang istri sembari memberikan kecupan-kecupan intens, calon papa muda itu mencoba mengungkapkan rasa bahagianya. "Anak Papa yang tampan, jika kamu ingin segera lahir ke dunia, jangan membuat Mama kesakitan ya. Kasihan Mama jika harus menanggung rasa sakit di saat kamu akan lahir. Papa sungguh tidak tega melihatnya."


Wisnu yang berdiri di ambang pintu hanya bisa berdecak lirih melihat tingkah polah adiknya ini. Ia saja yang hanya sebagai kakak ipar begitu cemas dengan apa yang dialami oleh Mara, namun Dewa malah terlihat santai dan bersikap konyol yang sama sekali tidak berfaedah itu.

__ADS_1


"Wa, daripada kamu melakukan hal yang unfaedah seperti itu, lebih baik sekarang kamu bawa istrimu ke rumah sakit. Lihatlah air ketuban Mara, semakin deras mengalir."


Ucapan Wisnu sukses menarik paksa tautan pandangan mata Dewa ke arah betis sang istri. Benar saja, air ketuban itu terlihat semakin deras mengalir. "Ya Tuhan, mengapa dalam situasi seperti ini aku malah bersikap santai sih? Ayo Sayang, lekas kita ke rumah sakit!"


Dewa bangkit dari posisi duduknya. Gegas, ia mengayunkan kakinya untuk segera meninggalkan tempat ini. Namun....


"Mas Dewa!"


Dewa yang sudah melangkah beberapa meter dari ruang penyidik itu seketika ia hentikan ayunan kakinya tatkala suara sang istri terdengar nyaring memanggil namanya. Ia berbalik badan. "Ya Sayang?"


Mara mendengus kesal, bibirnya juga terlihat sedikit mengerucut melihat kelakuan suaminya ini. Sedangkan Wisnu dan mbok Darmi hanya bisa memijit-mijit pelipisnya.


"Mengapa kamu malah jalan sendirian sih Mas? Ini aku bagaimana, masa iya kamu tinggal? Aku tidak kuat untuk berjalan!"


"Hihihihihi hihihihi maaf ya Sayang ... aku benar-benar lupa ... lupa kalau punya istri!"


Wajah milik wanita yang akan melahirkan itu semakin kusut. "Ohhhh jadi kamu maunya bujangan terus Mas? Ya sudah, biar aku minta tolong ke mas Wisnu saja!"


Dewa terkekeh geli. Gegas ia membopong tubuh sang istri yang ia rasa sudah semakin berat itu namun tidak membuat Dewa keberatan sama sekali. "Bercanda Sayang. Ayo kita segera ke rumah sakit. Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putra kita!"


Dewa membopong tubuh Mara untuk keluar dari kantor polisi ini. Perlakuan lelaki itu sukses membuat orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya hanya bisa menatap kagum dengan apa yang dilakukan oleh Dewa. Mungkin di mata mereka perlakuan Dewa ini terlihat manis sekali.


"Mas, apa kamu tidak merasa berat membopong aku seperti ini?"

__ADS_1


Dewa menggelengkan kepalanya. "Tentu tidak Sayang. Aku justru merasa sangat bahagia!"


"Bahagia? Mengapa bisa seperti itu Mas?"


"Jika bukan saat-saat seperti ini, kapan lagi aku bisa menggendong istri dan juga anakku secara bersamaan?"


Hati Mara meleleh dong mendengar ucapan suaminya ini. Entah belajar dari mana Dewa, sehingga membuat setiap kata yang terucap dari bibir Dewa selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga dan raut wajahnya berseri-seri.


"Iiihhh ... kamu ini bisa saja Mas. Aku kan jadi malu," ucap Mara sembari membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Sedang Dewa hanya terkekeh lirih. "Mengapa harus malu Sayang? Tidak perlu malu, justru kamu seharusnya berbahagia karena hatimu akan selalu aku sirami dengan ucapan-ucapan manis seperti ini hingga menjadi padang kebahagiaan yang akan selalu menjadi warna dalam hidupmu!"


Dewa kembali mengecup pucuk kepala Mara dengan penuh sayang. Ia paham jika istrinya ini tengah menahan sensasi rasa mulas yang mendera.


"Semangat untuk kelahiran putra kita ya Sayang. Aku berjanji, akan selalu berada di sisimu. Pastinya untuk mendampingimu dan untuk menguatkanmu. Aku mencintaimu istriku!"


Rasa bahagia mendapatkan perlakuan manis seperti ini, nyatanya mampu meredam rasa sakit di area perut Mara. Tidak ada yang saat ini dirasakan oleh wanita itu selain rasa bahagia yang begitu membuncah memenuhi rongga dadanya. "Terimakasih banyak mas Dewa ... aku juga mencintaimu!"


.


.


. bersambung....

__ADS_1


__ADS_2