
Tubuh Dewa berdiri terpaku di depan loby kantor tatkala sapuan pandangannya menangkap sosok seorang gadis yang tengah berjalan keluar dari pelataran kantor. Tanpa membuang banyak waktu, lelaki itu mengikuti pergerakan sang gadis.
"Loh pak Bos mau kemana? Mengapa tidak membawa mobil?"
Kahar yang tak lain merupakan security kantor sedikit keheranan tatkala melihat sang bos besar yang keluar ruangan di siang hari yang begitu terik ini dengan langkah tergesa-gesa.
"Tidak ada apa-apa Pak. Aku hanya sedang ingin mencari angin sore," Dewa menjawab sembari sorot matanya masih mengincar keberadaan gadis itu.
Kahar mengernyitkan keningnya. "Sore? Ini masih siang pak Bos. Belum sore. Apa pak Bos sedang tidak baik-baik saja? Sampai lupa jika ini masih siang hari?"
Dewa membuang nafas kasar. Benar-benar kewarasannya sudah menguap begitu saja. Hanya karena permasalahan ini, ia sampai lupa akan perputaran waktu yang berganti.
"Ah iya... Maksudku mencari angin siang. Ya sudah, aku pergi dulu Pak. Ada hal penting yang harus segera aku selesaikan."
"Hati-hati pak Bos."
Dewa kembali melenggang pergi meninggalkan pelataran kantor. Tidak jauh dari kawasan kantor, ia melihat sang gadis yang menjadi incarannya itu tengah berdiri di tepi jalan raya. Ia terlihat celingak-celinguk seperti menunggu sesuatu.
Tak selang lama, sebuah angkot berwarna biru berhenti di depan sang gadis, dan ia mulai menaiki angkot berwarna itu. Dewa terkesiap, karena ternyata Mara menggunakan angkot sebagai alat transportasi kesehariannya. Dan perlahan, angkot itu mulai bergerak meninggalkan kawasan perkantoran milik Dewa.
"Astaga... Sekarang aku harus bagaimana? Jika aku kembali masuk dan mengambil mobil, pasti aku akan kehilangan jejak Mara. Tapi jika aku tidak naik mobil, bagaimana bisa aku me....."
Monolog lirih Dewa terpangkas saat ekor matanya menangkap bayangan angkot yang bergerak mendekat ke arahnya. Tanpa membuang banyak waktu, Dewa melambaikan tangan sebagai isyarat jika ia ingin menaiki angkot itu.
"Mau kemana Pak?" ucap sang supir tatkala sudah menghentikan laju angkotnya persis di hadapan Dewa.
"Ke sana Pak!"
Dewa hanya menunjuk ke arah angkot yang ditumpangi oleh Mara. Karena ia memang tidak tahu kemana tujuan gadis itu. Pada akhirnya, Dewa masuk ke dalam angkot dan duduk di antara anak-anak SMA yang kebetulan memenuhi angkot yang ia tumpangi.
"Waaaahhh... Abang ini ganteng sekali," bisik salah seorang gadis SMA yang diketahui bernama Desi Aryani.
"Iya, ganteng tapi mau berdesak-desakan di dalam angkot seperti ini," timpal salah seorang temannya yang bernama Candra Rahma.
__ADS_1
"Aku besok kalau punya suami pengen yang seperti ini," bisik seorang gadis yang bernama Dina Mardiana.
"Ckkkccckkk... Sudah, sudah, kalian ini ribut melulu hanya karena cowok ini. Memang sih dia ganteng. Tapi sepertinya dia sedikit ogeb," celetuk salah seorang gadis bernama Novi Aryani.
"Kok kamu bisa bilang seperti itu?" tanya seorang gadis lagi yang bernama Feni Mom's Sahwa.
"Iya, mengapa kamu bisa bilang seperti itu Nov?" ucap salah satu gadis bernama Ning Rina.
Gadis bernama Novi Aryani itu hanya menatap sinis wajah Dewa yang ada di hadapannya ini. "Dia pasti sedang bertengkar dengan pacarnya. Lihatlah, mana ada laki-laki dengan pakaian tiga potong seperti itu mau naik angkot. Pasti dia lagi ngejar pacarnya yang sedang ngambek. Dan pacarnya itu ada di angkot depan kita ini."
"Ah .. Kamu jangan sok tahu deh Nov," timpal salah seorang gadis bernama Andin Kirana.
"Iya Nov, jangan suka fitnah, dosa tahu," celetuk temannya yang bernama Ahmad Affa.
Gadis bernama Novi Aryani itu hanya mengendikkan bahunya. "Ya terserah kalau kalian tidak percaya. Aku ini punya ilmu batin, yang bisa tahu apa yang terjadi dengan lelaki ini."
"Ihhhhh serem amat kamu Nov!"'
Dewa hanya bisa membuang nafas kasar mendengar bahan pembicaraan gadis-gadis cantik penghuni angkot ini. Ingin rasanya ia marah. Tapi jika ia marah pasti akan merugikan dirinya sendiri karena akan menjadi bahan keroyokan.
"Pak, Pak stop Pak! Saya turun di sini!"
Ckiiittt.....
"Addudduduhhhh..!!! Hati-hati dong Mang!!".
Pekik gadis-gadis SMA itu saat sang sopir menginjak pedal rem secara mendadak yang membuat kepala mereka saling kejedot satu sama lain.
"Mas ini nih yang tiba-tiba minta turun mendadak," celetuk sang sopir tidak mau di salahkan.
Dewa turun dari angkot dan kemudian ia bermaksud mengejar Mara. Namun...
"Wooooiii Mas.... Bayar ongkosnya dulu!"
Dewa terkesiap tatkala mendengar teriakan sang sopir. Ia merogoh sakunya namun naas, dia tidak membawa uang sama sekali.
__ADS_1
"Aduh Pak maaf, saya tidak membawa uang sama sekali. Saya bayar besok ya Pak," ucap Dewa sedikit memelas.
"Tidak bisa! Cepat bayar!" sanggah sang sopir dengan wajah yang sudah memerah.
"Tapi benar saya tidak membawa uang sama sekali Pak. Besok pasti akan saya bayar."
"Halahhh alasan saja kamu." Sopir angkot itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang kebetulan banyak para sopir angkot lainnya yang sedang ngopi di warung pinggir jalan.
"Wooooiii teman-teman!!! Ayo kita keroyok orang ini. Dia salah satu penumpang yang selalu meminta geratisan!"
Teriakan sopir angkot itu sukses menarik perhatian sopir-sopir yang lain. Tanpa basa-basi, mereka mengerubungi Dewa dan mulai berancang-ancang untuk mengeroyok Dewa.
Bug... Bug... Bug....
Mara yang melihat ada keributan buru-buru mendekat ke arah kerumunan itu, dan....
"Hentikan!!" teriak Mara yang melihat Dewa sudah dikeroyok oleh kumpulan sopir angkot.
Mata gadis itu tetiba memanas. "Tuan Dewa..."
Dewa mendongakkan wajahnya. Seutas senyum manis terbit di bibirnya tatkala melihat siapa gerangan yang memanggil namanya. "M-Mara.....?"
Kepala duda itu terasa begitu berat. Pandangannya berkunang-kunang, gelap dan.....
Brukkkk!!!!
"Tuann!!!!"
.
.
. bersambung...
Hihihihihi hiihii hiiihii... Segini dulu ya Kak... Akhir bulan musti rekapan jadi benar-benar tidak bisa saya tinggalkan. Semoga yang sedikit ini bisa sedikit menghibur yah..😘😘😘
__ADS_1
Terimakasih untuk Kakak-kakak yang sudah mengizinkan namanya untuk saya masukkan di scene cerita. Untuk yang belum sempat masuk, mohon bersabar ya... Next di chapter-chapter selanjutnya inshaallah ada...❤️❤️❤️