
"Tuan!!!"
Bulir-bulir kesedihan gadis itu terjun bebas dari telaga bening miliknya tatkala melihat wajah laki-laki yang telah berhasil mengusik ketentraman batinnya ini, dihiasi oleh lebam-lebam. Meskipun lebam itu tidak terlihat begitu parah, namun sungguh tetap menampakkan sebuah luka yang terasa begitu menyakitkan.
"Ini sebenarnya ada apa Pak? Mengapa Bapak-bapak ini mengeroyok lelaki ini?"
Masih sambil menatap nanar seorang lelaki yang tengah pingsan ini, Mara mencoba mencari tahu duduk persoalan yang dihadapi oleh Dewa. Tidak mungkin para sopir angkot ini seperti berlomba-lomba ingin menonjok wajah Dewa jika memang tidak ada hal yang mendasarinya.
"Neng ini teman lelaki ini?" tanya salah satu sopir angkot yang terlihat begitu bersemangat dalam menonjok wajah Dewa.
Mara mengangguk pelan. "Iya Pak, saya teman lelaki ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa bisa sampai seperti ini?"
"Teman Neng ini tidak bisa membayar angkot. Maka dari itu kami gebugin seperti ini. Bisa ngelunjak Neng, kalau dibiarkan. Karena saat ini kerap kali terjadi modus penumpang angkot yang mencari geratisan dengan cara seperti ini."
Mara terperangah. Ucapan-ucapan yang keluar dari bibir sopir angkot ini sungguh membuat hatinya mencelos. Seorang bos besar tidak sanggup membayar angkot? Benar-benar di luar dugaan.
Mara mengambil satu lembar uang dua puluh ribu dari tas kecil yang ia bawa, kemudian ia serahkan kepada salah satu seorang supir yang ia yakini sebagai pengemudi angkot yang ditumpangi oleh Dewa.
"Ini untuk ongkos angkot lelaki ini Pak. Namun saat ini saya minta tolong Bapak-bapak semua untuk membawa lelaki ini ke kediaman saya."
"T-tapi Mbak..."
"Saya mohon dengan sangat ya Pak. Apa Bapak-bapak ini tidak kasihan terhadap lelaki ini? Lagipula, saya juga tidak bisa jika harus membawa laki-laki ini sendirian."
Para sopir angkot saling melempar pandangan. Pada akhirnya mereka mengangguk bersamaan. "Baiklah Neng!"
Pada akhirnya para sopir angkot ini mulai mulai membopong tubuh Dewa untuk mereka bawa ke kediaman Mara yang memang tidak begitu jauh dari tempat itu.
***
"M-Mara.... Siapa?"
Baskara yang tengah berada di ruang tamu dan duduk di atas kursi roda sedikit keheranan saat melihat ada kumpulan sopir angkot berbondong-bondong datang ke kontrakannya sembari menggotong seorang lelaki tampan yang tengah pingsan.
"Namanya tuan Dewa, Ayah. Lelaki ini yang pernah menolong Mara ketika Mara lari dari kejaran anak buah juragan Karta. Dan ternyata kami dipertemukan kembali di tempat ini."
"Kekasihmu?"
__ADS_1
Melihat sang putri yang nampak begitu panik melihat lelaki yang tengah pingsan dan terbaring di kursi ruang tamu ini, membuat Baskara beranggapan bahwa lelaki ini merupakan kekasih sang putri. Dan selama dua puluh tahun ia menjadi ayah dari Mara, baru kali ini ia melihat sang putri berhubungan dengan makhluk bernama laki-laki.
Mara hanya bisa tersenyum getir. Ucapan sang ayah hampir mendekati benar bahwa dirinya dan lelaki ini hampir menjadi sepasang kekasih. Namun, semua itu menguap begitu saja tatkala terjadi sebuah kesalahpahaman diantara keduanya.
"Bukan Yah. Kebetulan laki-laki ini juga merupakan bos di tempat Mara bekerja. Namun sepertinya hari ini merupakan hari pertama dan terakhir Mara bekerja, karena a..."
"Aaaaaahhh.. Sakit...."
Ucapan Mara terpangkas tatkala suara rintihan dari Dewa samar terdengar di telinga Mara. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara dan benar saja, Dewa sudah sadar dari pingsannya.
Kedua bola mata Dewa terbuka sempurna. Pandangan matanya menyapu seluruh penjuru ruangan ini, dahinya sedikit mengerut karena tempat ini terlihat begitu asing untuknya. Hingga pada akhirnya sorot matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya terbaring dan seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di atas kursi roda.
"Mara?"
Mara hanya tersenyum simpul. "Anda sudah sadar, tuan Dewa?"
Dewa mencoba bangkit dari posisi berbaringnya dan mengambil posisi duduk di kursi panjang yang ia tempati sembari ia sandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu.
"Aaaaaahhh...." pekik Dewa saat memegang pipinya yang terasa begitu nyeri.
"Tunggu sebentar, biar saya mintakan es batu untuk bisa mengompres lebam-lebam di pipi Anda."
"Es batunya untuk apa sih Neng? Kok tumben neng Mara membuat minuman dingin di siang hari seperti ini?" tanya ibu Eni yang sedikit keheranan karena tidak biasanya penghuni kontrakannya ini meminta es batu di siang hari seperti ini.
"Untuk mengompres lebam di wajah bos saya, Bu."
"Oh lelaki yang di gotong sama beberapa supir angkot tadi ya Neng?"
"Iya Bu." Mara menerima satu baskom kecil es batu yang diulurkan oleh ibu Eni Fuad. "Terimakasih banyak untuk bantuannya ya Bu. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya Neng sama-sama. Kalau butuh apa-apa, neng Mara jangan sungkan untuk bilang ke Ibu."
"Terimakasih Bu."
Mara kembali ke kontrakannya. Ia masuk ke dapur untuk mengambil serbet, dan kembali duduk di samping Dewa.
"Sebenarnya Anda mau kemana? Dan mengapa bisa sampai lupa membawa uang jika memang berniat untuk naik angkot?" tanya Mara sembari mengompres pipi sang bos dengan es batu itu.
"Aku buru-buru Ra, sampai tidak sadar bahwa aku tidak membawa uang sama sekali."
__ADS_1
Dahi Mara sedikit mengerut. "Sepenting apakah urusan Anda, sampai membuat Anda terburu-buru? Dan mengapa Anda menaiki angkot padahal biasanya Anda menaiki mobil pribadi Anda sendiri bukan?"
Dingin. Dewa merasakan nada dingin yang terlontar dari kata demi kata yang terucap dari bibir Mara. Namun, lelaki itu tidak mungkin berharap banyak Mara bisa kembali bersikap manis dan lemah lembut di hadapannya. Saat ini bisa memperoleh kata maaf dari gadis ini saja sudah harus ia syukuri.
"Aku terburu-buru untuk mencari jejakmu Ra."
"Untuk apa Anda mencari jejak saya? Bukankah semua urusan kita sudah selesai?" tanya Mara dengan nada sinis sambil menekan bagian lebam pipi Dewa dengan keras.
"Aaaahhhhh sakit Ra... Pelan-pelan!"
Dewa memekik kesakitan tatkala gadis di hadapannya ini menekan bagian lebam di pipinya dengan kuat.
"Ra... Aku minta maaf!"
"Untuk?"
"Untuk semua ucapan yang telah aku lontarkan di hadapanmu beberapa saat yang lalu. Aku bersalah Ra. Aku bersalah karena tidak mempercayaimu."
Mara hanya menatap heran wajah lelaki di hadapannya ini karena tiba-tiba ia ingin meminta maaf. "Apa yang membuat Anda yakin bahwa yang saya ucapkan memang benar adanya?"
Dewa menghela nafas panjang dan perlahan ia hembuskan. "Tak selang lama setelah kamu meninggalkan kantor, aku menerima sebuah paket dari resort. Dan paket itu berisikan semua pakaian yang sempat aku belikan untukmu ketika berada di Jogja."
"Saya sudah memaafkan Anda. Sekarang urusan kita sudah selesai bukan?"
Dewa meraih telapak tangan Mara yang masih intens mengompres pipinya. Perlakuan duda ini sontak membuat Mara sedikit terkejut. Dewa menatap lekat wajah dan manik mata gadis cantik yang hanya berjarak beberapa inchi saja dengan wajahnya. "Kembalilah bekerja di kantorku Ra. Kumohon, kembalilah bekerja di kantorku. Dengan begitu, aku bisa menebus semua rasa bersalahku."
Mara memutar kedua bola matanya. Seakan menimbang-nimbang apa yang menjadi permintaan lelaki di hadapannya ini. "S-Saya...."
"Mara... Aku bawakan makanan untukmu. Mari kita makan sam..."
Ucapan lelaki yang tiba-tiba masuk ke kediaman Mara tetiba terpangkas tatkala melihat ada tamu yang terlihat begitu asing di matanya. Kehadiran lelaki itu sontak membuat Mara dan Dewa gegas menoleh ke arah sumber suara. Dan...
"Mas Pram!"
.
.
. bersambung....
__ADS_1
Ayeyeeeyee... Dewa bertemu dengan Pramono secara langsung. Bagaimana? Apakah setelah ini Dewa akan tahu bahwa memang sebenarnya Mara dan Pramono tidak memiliki hubungan apapun? Atau malah membuat Dewa semakin percaya bahwa Mara dan Pramono memiliki sebuah hubungan? Penasaran? Penasaran? Hehehe heeehee tunggu episode selanjutnya ya kak 😘😘