
"Huhuhuu huhuhuu Mas.... Sakit!"
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit!"
"Sakit... Mas!"
"Pak, tolong lebih cepat lagi! Istri saya tengah kesakitan!"
"Baik Pak!"
Kahar, yang merupakan security kantor, kini untuk sementara waktu beralih profesi menjadi sopir pribadi Dewa. Suara Mara yang berkali-kali terdengar mengerang kesakitan, seakan semakin mengiris perih batin Dewa maupun Kahar. Sehingga tidak ada hal lain yang ingin mereka rengkuh saat ini selain bisa segera tiba di rumah sakit.
Dewa menatap nanar wajah sang istri yang kini tengah berbaring dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuannya. Air mata wanita itu tiada henti mengalir deras dari telaga beningnya. Berkali-kali ia mengerang kesakitan sembari memegangi bagian perutnya. Tidak hanya itu, darah segar yang mengalir di sela betis sang istri juga nampak begitu mengoyak hati dan membuatnya bergidik ngeri membayangkan apa yang sebenarnya tengah dialami oleh istrinya ini. Hal itulah yang tanpa Dewa sadari juga ikut membuat bulir-bulir bening mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Mas.... Sakit...."
Dewa sedikit membungkukkan badannya. Mencoba menjangkau bagian kening sang istri. Berkali-kali ia menghujani kening sang istri dengan kecupan-kecupan lembut penuh kasih sayang. Seakan mentransfer kekuatan dan mensugesti sebuah keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit Sayang. Kumohon bertahanlah!"
Sekuat tenaga Mara mencoba untuk tetap dalam keadaan sadar. Namun rasa sakit yang begitu hebat menyerang area perut, membuat wanita itu seakan sudah tidak mampu lagi untuk untuk membuka matanya. Perlahan, kelopak mata wanita itu tertutup. Dan wanita itu pun kini hilang kesadaran.
Dewa terkejut setengah mati. Melihat kelopak mata sang istri yang tiba-tiba terpejam seakan membuat Dewa kembali teringat masa-masa yang telah lalu. Di mana sang ayah yang meregang nyawa ketika berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit akibat sebuah kecelakaan.
"Sayang, kumohon jangan tutup matamu. Buka matamu Sayang! Buka!"
__ADS_1
Berkali-kali Dewa menepuk-nepuk pipi Mara. Berupaya untuk membangunkan istri tercintanya ini. Namun sayang, Mara tetap berada dalam posisinya. Wanita itu seakan merasakan sebuah kedamaian dengan memejamkan mata seperti ini.
***
"Astaga... Mengapa ada orang gila berkeliaran di kantor pak Dewa?!"
Kasak-kusuk orang yang tengah berlalu lalang di kantor milik Dewa, tiada berhenti keluar dari mulut mereka tatkala mereka berjalan berpapasan dengan Dita. Tidak hanya berbisik, mereka juga menahan tawa melihat penampilan Dita yang sudah seperti tempat sampah berjalan. Karena saat ini tubuh wanita itu benar-benar terlihat sangat kacau. Bahkan sangat mirip dengan orang gila yang baru saja selesai bermain-main dengan semua isi yang berada di dalam tong sampah.
"Heh, apa yang kalian tertawakan? Awas saja kalian jika berani mengolok-olok aku!"
Benar-benar seperti orang gila yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Tiada henti Dita berteriak-teriak sembari menyusuri lorong-lorong yang ada di kantor milik mantan suaminya ini. Setelah mengetahui bahwa apa yang ia lakukan di kamar pribadi milik Dewa beberapa saat lalu berakibat fatal, buru-buru Dita memunguti pakaian yang berserakan di lantai, memakainya dan hanya bisa berdiri terpaku melihat apa yang dialami oleh istri baru mantan suaminya ini.
Tidak ada yang dilakukan oleh Dewa saat itu selain bersegera keluar dari kamar pribadi miliknya dan membopong tubuh sang istri untuk dilarikannya ke rumah sakit. Sedangkan Dita, hanya bisa menatap punggung sang mantan suami dengan tatapan kosong. Dari cara sang mantan memperlakukan sang istri dan dari gurat-gurat kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya, semakin membuatnya mengerti akan cinta yang dimiliki oleh Dewa untuk Mara. Cinta yang jauh lebih besar dari apa yang pernah ia dapatkan dari Dewa.
Dita sedikit berlari melintasi lorong-lorong kantor Dewa dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa kesal, rasa marah, cemburu, bahkan rasa malu seakan memenuhi otak dan juga dadanya. Semua rasa itu seakan bergemuruh hebat layaknya sebuah gulungan ombak yang bergulung-gulung memecah karang. Tidak ada hal lain yang saat ini ia inginkan selain bisa segera tiba di rumah.
Vera terkejut setengah mati tatkala melihat sosok manusia aneh yang berkeliaran di tempat ia bekerja. Setelah ia tatap dengan lekat sembari berupaya mencari tahu sosok makhluk apa di hadapannya ini, ia pun mengenalinya. Ya, wanita ini adalah Dita. Mantan istri sang bos.
Dita mendekat ke meja kerja Vera dan berbisik lirih. "Ssstttt diam kamu Ver. Apakah kamu membawa sabun mandi? Atau shampoo? Badanku benar-benar lengket!"
Apa yang dikatakan oleh wanita itu memanglah begitu adanya. Semua jajanan yang dibeli oleh Mara tumpah ruah menjadi satu mengenai tubuh dan membuatnya begitu berantakan. Terlebih jus buah naga berwarna ungu yang mengenai wajahnya, seakan membuat wanita itu seperti makhluk jadi-jadian.
Vera menggeleng pelan. "Tidak Bu, saya tidak membawa sabun atau shampoo. Karena saya tidak pernah mandi di kantor."
Dita mendengkus kesal. "Sialan, ini semua gara-gara wanita bar-bar itu! Heran aku, mengapa mas Dewa bisa mendapatkan wanita seperti itu?!"
Dengan rahang sedikit mengeras dan tangannya yang mengepal, Dita menumpahkan seluruh luapan emosi yang ada di dalam dadanya. Sedangkan Vera hanya bisa menatap wanita ini dengan tatapan sinis. Ia berpikir jika mantan istri bos nya ini terlalu mengada-ada. Mara yang ia kenal tidak seperti apa yang diucapkan oleh Dita.
__ADS_1
"Sekarang aku harus bagaimana coba? Masa iya aku harus pulang dalam keadaan seperti ini?" ujar Dita kesal sembari mencoba mengusap-usap wajahnya dan sukses membuat wajahnya dipenuhi oleh warna ungu.
"Sepertinya di sini ada sabun Bu. Tapi milik penjaga malam kantor ini!" ucap Vera memberikan usul barangkali Dita mau memakai sabun milik penjaga malam kantor ini.
Bibir Dita mencebik, bisa-bisanya si resepsionis memberikan usulan seperti itu. "Usulan macam apa itu Ver? Mana mungkin aku memakai sabun yang sama dengan penjaga malam kantor ini?"
"Aaaaaahhh... Saya baru ingat bahwa di sini ada sabun, Bu!" tetiba Vera menimpali ucapan Dita setelah teringat akan sesuatu.
Wajah Dita nampak berbinar. Ucapan Vera seperti secercah jalan terang untuk dirinya bisa keluar dari keadaan yang begitu memalukan ini. "Di mana Ver?" Cepat katakan kepadaku!"
Vera hanya menanggapi pertanyaan Dita itu dengan seutas senyum simpul di bibirnya. "Ada di pantry, Bu. Ada sabun cuci piring di sana. Bahkan ada detergen pula. Saya rasa kedua sabun itu jika diaplikasikan secara bersamaan, bisa meluruhkan noda-noda dosa yang menempel di tubuh bu Dita!"
Dita seketika terperangah mendengar penuturan Vera. Wanita itu hanya dapat membelalakkan mata dengan mulut yang menganga lebar. "Sialan kamu Ver!"
Vera hanya tersenyum sinis dan bersikap acuh. Melihat Dita dalam keadaan kacau seperti ini, ia tahu bahwa Dita telah berulah dan menyisakan kerugian bagi orang lain. Tetiba ingatannya tertuju pada sang bos yang terlihat tergopoh-gopoh membopong tubuh sang istri dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kecemasan yang luar biasa.
Apakah mungkin keadaan bu Mara yang dibopong oleh pak Dewa tadi karena ulah bu Dita? Ya Tuhan, semoga bu Mara baik-baik saja. Dan tidak terjadi hal serius yang menimpanya.
.
.
. bersambung...
Hayooloohhhhh.... Kira-kira apa yang terjadi kepada Mara? Apakah ia hamil lalu keguguran? Ataukah apa? Sudah banyak yang menerka-nerka di komentar bab sebelumnya... Untuk lebih jelasnya tunggu episode selanjutnya ya kak...πππ
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..
__ADS_1